Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Warga Pulau Semau diserang ispa

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Perubahan cuaca dari musim panas ke musim hujan sering berdampak pada mewabahnya penyakit seperti yang dialami oleh masyarakat Kecamatan Sulamu.
Selama bulan Januari dan Februari 2008 dari total 1.888 perkunjungan warga Semau ke puskesmas setempat tercatat berbagai keluhan penyakit. Namun yang dominan menyerang warga setempat adalah penyakit infeksi penapasan akut (ispa) atau 60 persen ari total perkunjungan atau 1.133 orang adalah pasien ispa.
Hal ini diungkapkan salah seorang staf Puskesmas Sulamu, Siprianus Klau, saat diwawancarai SPIRIT NTT di Puskesmas Sulamu, 19 Februari 2008.
Dalam kehidupan, katanya, masyarakat menginginkan suatu kehidupan yang penuh damai tanpa diganggu oleh sesuatu hal yang menghambat aktifvitas setiap hari, termasuk perubahan musim atau cuaca.
Untuk mencegah penyakit yang sering dialami dan diderita oleh masyarakat Sulamu, kata Klau,
petugas kesehatan bersama dengan masyarakat secara terpadu mengadakan penyuluhan kepada masyarakat untuk selalu membersihkan lingkungan tempat tinggal sehingga mengurangi tempat bagi nyamuk untuk bersarang.
Klau meminta masyarakat agar selalu waspada terhadap segala kondisi yang dapat menimbulkan penyakit, terutama pada musim hujan seperti saat ini.
Dia mengimbau masyarakat agar selalu melindungi diri dan keluarga dari segala situasi, kondisi dan penyakit. (humas Kab. Kupang)
Read More...

Ponu jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi TTU

Laporan Julianus Akoit, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KEFAMENANU, SPIRIT-- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Utara (TTU) akan menjadikan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. Hal ini direalisasikan pada tahun anggaran 2008-2017 dengan membangun Ponu menjadi Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan pantai utara, pada tahun anggaran 2008-2017.
Program ini sudah disetujui dan dicanangkan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) di Jakarta, Senin (18/2/2008) lalu.
Demikian dijelaskan Kadis Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Nakertransduk) Kabupaten TTU, Drs. Fredy Meol, kepada wartawan di Kantor Bupati TTU, Selasa (26/2/2008). "Secara prinsipiil Departemen Nakertrans di Jakarta sudah menyetujui, bahkan mencanangkan untuk membangun Kota Terpadu Mandiri Ponu di Kecamatan Biboki Anleu," jelas Meol.
Sebelum membuat keputusan menyetujui dan mencanangkan dimulainya pembangunan KTM Ponu, lanjut Meol, Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, melakukan presentasi rencana program ini di hadapan Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat Kawasan Transmigrasi (P2MKT), Ir. Joko Sidik Pramono serta para staf ahli, di Kantor Departemen Nakertrans di Jakarta, Senin (18/2/2008) lalu.
Presentasi program ini dihadiri Dirjen P2MKT, staf ahli menteri pengembangan bidang otonomi daerah, staf ahli menteri Nakertrans, staf ahli dari departemen terkait, seperti Kesehatan, Pertanian, Peternakan, Pendidikan, Industri, Koperasi dan UKM. Sedangkan dari daerah hadir utusan pejabat Pemkab TTU dan DPRD TTU serta pejabat Pemprop NTT di Kupang.
Ditanya wartawan tentang program KTM Ponu, Meol menjelaskan bahwa KTM Ponu adalah program untuk membangun sebuah kota mandiri yang merupakan pusat kegiatan dan pengembangan perikanan, pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan dan pariwisata bahari. "Kelak KTM Ponu menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi industri baru di kawasan pantai utara didukung Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) yang berkembang pesat. Kelak menjadi satu aset yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan di Kabupaten TTU yang ditandai dengan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar," jelas Meol.
Dikatakannya, wilayah pusat KTM Ponu di Kelurahan Ponu mencapai luasan 2.000 hektar. Sedangkan wilayah pengaruh KTM Ponu mencakup daerah hiterland sejumlah desa dan kelurahan dengan luasan sekitar 662.220 hektar.*
Tiga Kawasan Pengembangan KTM Ponu
* Satuan Kawasan Pemukiman (SKP) I Ponu sebagai pusat KTM didukung kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, pariwisata, industri, dan fasilitas penunjang KTM
* Satuan Kawasan Pemukiman (SKP) II Mena sebagai pusat pengembangan pertanian (agropolitan) peternakan, perikanan, pengembangan pemukiman transmigrasi serta kehutanan
* Satuan Kawasab Pemukiman (SKP) III Wini sebagai fungsi utama kota satelit untuk pemukiman perkotaan, pelabuhan, pegembangan perikanan, industri, peternakan dan lahan kering. Read More...

Jelang UN, Dikbud Flotim sosialisasikan Permendiknas 342

Laporan Martin Lau, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008
LARANTUKA, SPIRIT-- Menyukseskan ujian nasional (UN) tahun ajaran 2008, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Flores Timur (Flotim) menggelar sosialisasi Permendiknas No. 342.2007 tentang Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMP dan SMA/MA/SMK dan Permendiknas No. 9/2007 tentang ujian akhir berstandar nasional untuk tingkat SD. Sosialisasi ini dilakukan sejak awal Januari 2008.
Sementara itu, sebanyak 4.561 siswa kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Flores Timur (Flotim) telah mendaftar sebagai peserta tetap, dan mereka siap mengikuti ujian nasional (UN) tahun 2008.
Kepala Bidang (Kabid) Kurikulum dan Bina Prrogam PLS Dinas Dikbud Flotim, Plasisus Fernandes, S.E, membenarkan hal ini ketika dihubungi SPIRIT NTT di ruang kerjanya, Rabu (27/2/2007).
Menyoal persiapan sekolah SD, SMP dan SMA yang siswanya menjadi peserta UN 2008, Plasidus antara lain melaksanakan les ekstra pelajaran pada sore hari di luar jam sekolah. Materi pelajaran yang disajikan, yakni penyelesaian soal yang berfokus pada sistem kompetensi yang ditentukan badan standar nasional pendidikan/BSNP.
"Sebab materi ujian diambil dari kurikulum 1994, 2004 dan kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006. Flotim optimis UN tahun ini akan lebih baik," ujar Diston.
Selain itu, kata Diston, sekolah di Flotim juga melakukan latihan menghitamkan lembaran jawaban komputer. "Peserta UN 2008 dinyatakan lulus bila mempunyai rata-rata minimal 5,25 untuk nilai rata-rata pelajaran UN yang ditunjukkan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Untuk SMK rata-rata pelajaran kompetensi keahlian minimal 7,000. Sedangkan syarat untuk tamat/lulus satuan pendidikan siswa SMP dan SMA harus lulus UN dan juga lulus ujian sekolah yang ditentukan pihak sekolah dengan mengacu pada ketentuan standar nilai kelulusan tidak boleh lebih rendah dari nilai UN," jelasnya.
Kepala SMK Lamaholot, Rofinus B Doren, ditemui di Dinas Dikbud Flotim, menjelaskan, siswa di sekolahnya saat ini 252 orang. Siswa kelas tiga peserta UN tahun 2008 sebanyak 68 orang pada jurusan administrasi perkantoran dan akutansi. "Kami pakai strategi para guru membuat rangkuman bahan pelajaran baik untuk ujian sekolah maupun UN, serta melaksanakan les sore secara ketat dengan kontrol orangtua," tegasnya. *
Peserta UN di Flotim
* SMP 2.984 siswa (58 sekolah)
* SMA 1.240 siswa (15 sekolah)
* SMK 328 siswa (4 sekolah)


Kelas VI ikut USBN

KEPALA Bidang (Kabid) Kurikulum dan Bina Program Pendidikan Luar sekolah (PLS) Dinas Dikbud Kabupaten Flores Timur (Flotim), Plasidus Fernandez, S.E, Selasa (26/2/2008) mengatakan, untuk tahun ajaran 2008 siswa kelas enam sekolah dasar (SD) dan madrasah Ibtidayah (MI) di Flotim akan mengikuti ujian sekolah berstandar nasional (US/BN) membut beban dan memberatkan tanggung jawab Dinas Dibud Kabupaten Flotim.
Untuk itu, peserta US/BN untuk 279 SD/MI termasuk sekolah dasar luar biasa/SDLB dengan jumlah 4.661 siswa dengan rincian 260 sekolah dengan siswa peserta US/BN 4.449 siswa 18 MI dengan jumlah siswa US/BN 203 dan SDLB satu sekolah dengan 9 siswa. *
Read More...

Perempuan minta perlindungan hukum

Laporan Martin Lau, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LARANTUKA, SPIRIT--Sejak beroperasinya Bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Bagian Reskrim Polres Flotim pada bulan Januari 2008 lalu, banyak perempuan dan anak-anak di Flotim meminta perlindungan hukum di lembaga ini. Hal ini mengindikasikan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masuk ke bagian ini terus meningkat. Selain itu, perempuan dan anak di Flotim mulai menyadari hak-haknya yang tertindas dan meminta perlindungan yang adil untuk diselesaikan secara hukum.
Kapolres Flotim, AKBP Abdul Syukur, melalui Kepala Unit PPA, Aiptu Erna Romakia, mengatakan hal ini di ruang kerjanya, Selasa (26/2/2008). Dia ditemui terkait ramainya aktivitas pemeriksaan di Bagian PPP yang setiap hari dikunjungi 5-10 perempuan dan anak dengan berbagai kasus yang menimpa mereka.
"Sejak sosialisasi adanya Bagian PPA, terdaftar jumlah kasus yang ditangani meningkat. Namun karena belum ada ruang khusus sehingga masih ditangani bersama-sama kasus kriminal lainnya. Namun sejak Januari 2008 setelah ada Bagian PPA dan ada ruangan khusus, maka banyak laporan kasus KDRT yang masuk. Delapan puluh lima persen kasus yang ditangani umumnya suami menganiaya istri, suami tidak nafkahi istri dan anak, kasus menelantarkan istri dan anak karena ada perempuan simpanan dan kasus perkosaan. Selebihnya 15 persen kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua dan masyarakat," jelas Erna.
Menurutnya, untuk menegakkan secara hukum kasus KDRT, pihaknya menjalin kerja sama dengan organisasi perempuan yang ada di Kabupaten Flotim, termasuk Forkom Pemerhati dan Pemberdayaan Hak Perempuan serta Bagian Pemberdayaan Perempuan.
Pantauan SPIRIT NTT, ibu rumah tangga dan puluhan gadis serta anak memenuhi halaman dan ruang PPA Polres Flotim mengadukan kasus yang menimpa dan merampas hak mereka. Pengaduan kasus KDRT ditangani tiga anggota Polwan.
"Ini ruang darurat. Kami sedang bangun ruangan PPA dengan dana Rp 50 juta dibantu Pak Bupati Flotim dan akan dimanfaatkan pada bulan Mei nanti," kata Erna. *
Read More...

Mengenal tradisi kontas gabungan di Flores Timur

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SEBAGAI daerah Katolik, dengan devosi Katolik sangat kuat, orang Flores mengisi bulan Oktober ini dengan KONTAS GABUNGAN keliling. KONTAS itu sebutan khas Flores untuk ROSARIO, butir-butir tasbih yang dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria, dalam doa rosario.
Bagi orang Flores Timur, Oktober dan Mei adalah BULAN MARIA yang tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Kontas alias rosario ini bahkan sering dijadikan kalung di leher. Padahal, belum tentu pemakai kalung rosario itu berdoa rosario tiap hari.
Selain berkunjung dan berdoa di tempat-tempat ziarah, doa rosario berkeliling dari rumah ke rumah tak boleh tak ada. Tradisi ini sudah berjalan puluhan, bahkan ratusan tahun, sehingga orang Flores umumnya merasa 'kering' jika tiap bulan Mei dan Oktober tidak ada acara KONTAS GABUNGAN atau doa rosario keliling.
Di Jawa, sembahyangan rosario juga digelar di lingkungan-lingkungan, tapi tidak seintensif di Flores. Karena umat Katolik di Jawa sangat sedikit, tinggal di antara umat Islam, sibuk kerja siang malam, doa rosario tiap hari selama Oktober dan Mei sulit ditradisikan. Tapi pastor selalu mengimbau agar umat setidaknya berdoa rosario sendiri-sendiri di rumahnya.
Saat menjadi pengurus lingkungan di Paroki Santo Paulus Jember, saya mencoba mentradisikan doa rosario tiap hari selama Mei/Oktober. Bisa jalan, tapi yang datang tidak sampai 10 persen. Hanya pasangan suami/istri saja yang nongol. Anak-anak, remaja, pemuda, orang tua, tidak kelihatan. Saya akhirnya sadar bahwa tradisi devosi di Flores sangat sulit diterapkan di Jawa atau tempat lain di Indonesia di mana Katolik sangat minoritas.
Doa rosario bersama atau kontas gabungan di kampung saya, pelosok Flores Timur, menjadi momentum yang tak dilalui begitu saja. Tiap GABUNGAN (umat Katolik di Jawa Timur menyebutnya 'lingkungan' atau 'kring') berlomba-lomba mengemas sembahyangan rosario sebagus mungkin. Tiap GABUNGAN punya PANJI dengan slogan yang khas.
PANJI itu lukisan Bunda Maria di kayu yang diusung dari rumah ke rumah. Kalau doa rosario digelar di rumah A, maka PANJI diantar ramai-ramai ke rumah A malam sebelumnya. Keluarga A berkewajiban menyiapkan bunga, salib, lilin, serta peralatan liturgi. Setelah KONTAS GABUNGAN di rumah A, umat ramai-ramai membawa PANJI Bunda Maria ke rumah B yang akan ketempatan besok malam. Dan seterusnya... sampai 30 hari.
Rumah orang kampung yang sederhana, kecil, atapnya alang-alang, bukan masalah untuk KONTAS GABUNGAN. Toh, umat bisa duduk lesehan di tikar, bahkan di atas batu, di halaman. Suasana remang-remang karena listrik tidak ada. Penerangan pakai lampu minyak tanah (oncor) atau lilin yang dibawa masing-masing. Pada 1980-an hingga 1990-an, ketika masyarakat masih sangat tradisional, tiap malam hampir semua umat ikut KONTAS GABUNGAN. Cuek bebek atau acuh tak acuh di rumah bisa jadi gunjingan warga lain.
Doa rosario sendiri sama saja dengan di Jawa dan tempat-tempat lain di Indonesia. Diawali Credo (Aku Percaya), tiga kali Salam Maria, kemudian merenungkan peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus Kristus: peristiwa gembira, sedih, mulia. Mendiang Paus Yohanes Paulus II menambahkan satu peristiwa lagi: peristiwa cahaya.
Kemudian, mendaraskan 50 kali doa Salam Maria sesuai dengan jumlah KONTAS alias tasbih katolik. Doa Salam Maria diucapkan secara bergantian. Bagian awal diucapkan satu orang (Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus). Lalu, semua umat menjawab: "Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin."
Salam Maria atau bahasa Latinnya AVE MARIA merupakan doa yang sangat sederhana, diulang-ulang, bisa dibawakan kapan saja sesuai kebutuhan. Tak harus bulan Mei/Oktober, umat Katolik di kampung saya sejatinya tiap hari mendaraskannya. Doa ini bahkan sering dipakai untuk mengusir setan atau hantu di kampung. Hehehe....
Jika orang kampung saya melintas di tempat-tempat angker, pohon besar, dia akan bikin tanda salib, kemudian berdoa rosario sambil jalan. Orang pun beroleh keberanian karena merasa sedang dilindungi oleh Tuhan. "Tuhan terang dan selamatku, aku tak gentar...," begitu lagu rohani yang sangat populer di kampung.
Apa yang menonjol dari KONTAS GABUNGAN di Flores Timur. Pertama, doa didaraskan secara melodius. Doa-doa hafalan utama (Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan, Yesus yang Baik, Doa Malam, dan sebagainya) diucapkan dengan nada yang khas. Ada semacam 'kesepakatan' harus memenggal di bagian mana, tidak cepat-cepat, kompak, serempak. Suara tidak terlalu keras, tidak terlalu lemah. Jangan berbisik atau doa dalam hati karena ini KONTAS GABUNGAN.
Di Jawa, saya lihat banyak yang hanya komat-kamit alias doa dalam hati. Juga belum ada pakem macam di Flores sehingga ada umat yang doanya cepat sekali, ada yang lambat sekali. Maklumlah, umat Katolik di Jawa yang minoritas belum bisa menciptakan tradisi katolik.
Kedua, diselingi banyak lagu. Umat Katolik di kampung senang menyanyi dan menciptakan harmoni sendiri. Secara spontan umat bikin suara satu, dua, tiga, sehingga tercipta paduan suara alamiah. Padahal, tidak ada dirigen, tidak ada latihan.
Biasanya, lagu-lagu devosi Maria diambil dari buku JUBILATE, SYUKUR KEPADA BAPA, EXULTATE, atau lagu-lagu rohani populer yang jumlahnya banyak sekali. Umat paling senang menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah Lamaholot, misalnya INA MARIA (Bunda Maria).
Ketiga, langsung ditutup dengan SEMBAHYANG MALAM atau completorium.
Tradisi Katolik ini jarang saya temui di Pulau Jawa. Umat di kampung hafal sembahyang malam di luar kepala, periksa batin, refleksi, kemudian menyanyikan Salve Regina atau Alma Redemptoris Mater sebelum tidur. Nah, doa-doa pribadi ini disatukan di KONTAS GABUNGAN.
Keempat, tidak pakai konsumsi. Di Jawa Timur, umat yang ketempatan doa diam-diam keberatan karena harus menyediakan konsumsi (makan, minum) untuk peserta doa. Ini juga yang saya kira membuat tradisi doa bersama kurang berkembang di Jawa. Umat yang kaya menyediakan makanan enak, lezat, mahal, umat miskin hanya bisa kacang goreng atau air putih. Perbedaan kelas sosial ini menimbulkan rasa rendah diri di kalangan si miskin.
Di Flores mustahil menyediakan konsumsi. Kenapa? Selain umatnya miskin, peserta KONTAS GABUNGAN itu separo rukun tetangga (RT), bahkan penduduk seluruh RT. Bagaimana kita menyediakan makanan dan minuman sebanyak itu. Biasanya, anak-anak membawa bekal sendiri.
Kelima, perarakan PANJI gabungan. PANJI atau simbol GABUNGAN (lingkungan/kring) bergambar Bunda Maria dengan tulisan salah satu gelar Maria, misalnya Ratu Para Rasul, Bunda Penolong, Pelindung Orang Miskin... diarak setelah doa rosario dan doa malam (completorium) kelar.
Umat ramai-ramai mengantar PANJI itu sambil menyanyikan 'Ave, Ave, Ave Maria...'. Lalu, tuan rumah menerima PANJI itu sebagai tanda bahwa besok malam KONTAS GABUNGAN diadakan di rumahnya. Lalu, umat kembali ke rumahnya masing-masing.
Karena KONTAS GABUNGAN hanya diadakan 30 hari, sementara jumlah keluarga di satu GABUNGAN lebih dari itu, ketua gabungan/stasi sudah mengatur sedemikian rupa agar semuanya kebagian. Mereka yang belum ketempatan akan dapar giliran bulan Mei atau Oktober mendatang. Jangan khawatir, semua keluarga akan didatangi PANJI Bunda Maria.
Umat akan sangat sedih jika rumahnya tidak dijadikan tempat KONTAS GABUNGAN atau doa bersama bulan Mei/Oktober. Karena itu, pengurus gabungan harus benar-benar teliti agar tidak ada yang kelewatan.
Keenam, penutupan Bulan Maria bersama-sama.
Tanggal 31 Oktober (atau 31 Mei) adalah penutupan Bulan Maria. KONTAS GABUNGAN ditiadakan. Sebagai gantinya, digelar kebaktian bersama di gereja. Semua GABUNGAN bersekutu di gereja untuk melepaskan bulan rosario bersama-sama. Karena pastor sangat sedikit, sementara umat sangat banyak (rasio pastor sangat rendah), penutupan bulan rosario dilakukan dengan ibadat sabda tanpa imam. Meriah sekali! Apalagi, stasi yang kebetulan saat itu ada pastornya.
Devosi Katolik yang sangat kental di Flores Timur terus membekas dalam diri kami, orang-orang kampung. Ketika tiba di Jawa, di lingkungan baru yang orang Katoliknya nyaris tidak ada, kami sering kehilangan orientasi. Ada teman yang mengalami gegar budaya, cultural shock, karena tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada yang ikut arus, dan sebagainya.
Para perantau Flores di Pulau Jawa, yang kebetulan banyak menjadi pengurus paroki atau lingkungan, membawa tradisi KONTAS GABUNGAN di gerejanya. Contohnya di Surabaya bagian Selatan. Kebetulan paroki-parokinya dipimpin pastor-pastor SVD (Societas Verbi Divini) yang sebagian besar orang Flores dengan tradisi devosi sangat kuat. (lambert hurek)
Read More...

Mati Ketawa ala Maumere (1)

Oleh Even Edomeko

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SEMALAM di Sadangbui
SEKELOMPOK pemuda bersama dua turis asing menikmati malam minggu di Pelabuhan Sadangbui Maumere. Di tengah mereka ada moke, ada lurun magewair, ada rumpu-rampe. Makin malam, mereka makin mabuk. Saat hendak kencing, seorang turis terpeleset dan tercebur ke air. Sialnya, dia tak bisa berenang. Dia kebe-lemer setengah mati.
Turis: Help me! Help me!
Lukat: Hoi bodoh-Ngangan, belajar berenang sudah! Jangan lagi belajar omong Inggris!


Pemimpin tradisional
GURU: Di Flores ini setiap kampung punya pemimpin tradisional. Di Ende dan di Lio ada Mosalaki-Riabewa, di PaluE ada Lakimosa, di Maumere ada Moan Tana Puan. Siapakah contoh Moan Tana Puan di Sikka??? Coba kau Jose.
Jose: Sentus Botha. *

Barata MALL
DUA sahabat karib, yang sudah lama berpisah karena tinggal di kampung yang berbeda, baku ketemu di Barata Mall Maumere, di suatu hari Minggu yang ramai. Mereka sama-sama tercengang akan keramaian mall, tapi sama-sama tidak mau omong duluan, takut diejek. Tapi akhirnya seorang dari mereka tak tahan.
Wokowula: Eja, mall itu artinya apa?
Jose: Mall itu pasar.
Wokowula: Iya ka? Tapi kenapa mereka tidak kasih nama 'Pasar Barata'?
Jose: Mereka takut.
Wokowula: Takut apa na? Takut sama siapa na?
Jose: Takut kau pikul kau pu ubi, pisang, kambing, babi, datang jual juga di sini.

MARI Pak, Mari
HARI sudah hampir jam satu siang, tapi kambing yang dijual Bapak Wokowula belum laku. Saat memutuskan hendak pulang, datanglah seorang Jawa menawar kambing itu. Sayangnya mereka belum ketemu harga yang cocok. Mas Jawa itu lalu pamit.
Mas Jawa: Mari, pak. Mari
Wokowula: (Melongo sejenak lalu menyeret kambingnya mengikuti Mas Jawa dari belakang)
Tak lama berjalan, Mas Jawa masuk di sebuah warung dan makan. Wokowula ikut masuk dan juga makan. Usai makan, sebelum pergi, Wokowula mendekati pemilik warung.
Wokowula: Soto satu, sate satu, uang minta sama dia (ditunjuknya Mas Jawa).
Mas Jawa : Lho, emangnya siapa yang nraktir Bapak?
Wokowula: Aduh, kau to yang ajak saya 'mari, mari, mari' tadi?
Mas Jawa: Astaga. Itu saya pamit sama Bapak.
Wokowula: Astaga kau pu telor. Nama saya Wokowula, bukan Astaga! Saya ni rambut su putih. Jangan main gila dengan saya e?!

Kecuali SAYA
PULANG dari kunjungan ke desa bersama rombongan bupati, Niko cerita ke Niki:
Niko: Oi, tadi, pas naik jalan kaki di tanjakan, tiba-tiba ada yang jatuh terguling. Semua orang tertawa ngeri-ngeri, kecuali saya.
Niki: Kenapa? Kau kasian dengan yang jatuh ko?
Niko: Tida, teman... Yang jatuh tu saya.

Moan jaga UWOK
SAAT diketahui ada aktivitas vulkanologis di Gunung Api Egon dan Gunung Api Rokatenda, Pemda memanggil dua orang penjaga gunung atau moan jaga uwok (= uap/asap) dari masing-masing gunung dan Moan Wokowula sebagai tokoh masyarakat untuk diskusi bersama vulkanolog dari ITB Bandung. Usai diskusi, ketiganya minum moke sampai mabuk di sebuah warung RW.
Moan Egon: Supaya kamu tahu, saya ini Moan Jaga Uwok di Egon. Egon meletus tapi manusia selamat, karena sudah saya pagar.
Moan Rokatenda: Supaya kamu tahu, saya juga Moan Jaga Uwok di Rokatenda. Tapi dia tidak akan meletus karena sudah saya jampi-jampi.
Moan Wokowula: Supaya kamu dua tahu, sayalah tukang buat uwok itu. Kamu enak, karena saya lagi malas.

DUDUK di aspal
NAIK oto sore-sore dari desa ke kota, Si Kecil Lado terheran-heran lihat di sepanjang jalan ada orang-orang duduk rame-rame di badan jalan aspal. Terdorong rasa ingin tahu, dia tanya ke bapaknya Jose.
Lado: Baba we, kenapa orang senang duduk di aspal?
Jose: Sore begini udara dingin.
Lado: Pake jeket to? Kenapa harus duduk di aspal macam mereka punya bale-bale?
Jose: Anak, kalau sore aspalnya panas. Mereka kasi hangat mereka punya 'barang.'

BULOK (bule lokal)
SAMBIL menyusuri trotoar dari Patung Tekaiku ke Stasiun Radio Suara Sikka, Moat Wokowula dan Moalaki Jose ngobrol asyik matipunya. Tiba depan Kantor Pos, Jose diam menganga heran sambil liat seseorang sedang isi surat di kotak pos.
Jose: Teman, kau bisa Inggris sedikit to, coba kau ajak itu turis omong ka...
Wokowula : (memandang heran ke Jose) 'Mana turisnya?'
Jose: Itu tu, yang putih tinggi gaga-gaga tu... Nah itu pas dia ketawa tu...
Wokowula : 'Gila kau Jose, itu tu bura wulan dari Wolomude. Albino, tau?'


Ayam dari MAMA
NIKO diam-diam telan air liur waktu dengar teman-temannya cerita bagaimana mereka dijamu oleh warga desa, saat dampingi bupati berkunjung ke desa.
Besoknya ada kunjungan lagi. Niko ikut.
Sayangnya, desa yang dikunjungi saat itu adalah desa yang tertimpa bencana, sehingga tak ada 'perjamuan istimewa.'
Sore-sore, saat rombongan bupati mau pulang, Niko ke belakang mau pipis. Saat itu, di dekat dapur yang apinya menyala bagus, dilihatnya seorang Mama Tua sedang menangkap seekor ayam jantan besar. Niko spontan bertindak.
Niko: Mama jangan potong! Mama jangan potong!! Kami su mau pulang...
Mama Tua: Tida, Nak. Mama hanya mau kasi nae ini ayam ke kandang ka...
(bersambung ke MATI KETAWA SARA SIKKA) Read More...

Koalisi wartawan dan ornop datangi DPRD Mabar

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Wartawan dan Organisasi Non Pemerintah (Ornop) Se-Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi damai di halaman Kantor DPRD Manggarai Barat (Mabar), pekan lalu.
Aksi damai itu sebagai reaksi atas kekerasan yang dialami Wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru, yang dilakukan oleh empat pemuda di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2008).
Koalisi Perhimpunan Wartawan dan Ornop yang melakukan aksi damai itu, antara lain Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB), Aliansi Wartawan Manggarai atau AWAM, Perhimpunan Wartawan Flores atau PWF, Yayasan Komodo Indonesia atau Yakomindo, Lembaga Diaspora, Lira dan Lembaga Pemberdayaan dan Advokasi Masyarakat atau LPAM.
Mereka tiba di Kantor DPRD Mabar sekitar pukul 11.00 wita. Selanjutnya para wartawan secara bergantian melakukan orasi. Dalam orasinya, para wartawan mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Robert Perkasa, wartawan Komodo FM Labuan Bajo, dalam orasinya dengan tegas mengatakan fenomena kekerasan yang kian merajalela dan kekerasan dalam bentuk apapun harus dilawan. Sebab, kekerasan merupakan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan sekaligus ancaman serius bagi martabat manusia.
Dikatakannya, perilaku premanisme terhadap pers maupun insan pers yang dialami Wartawan Pos Kupang merupakan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena itu, mereka meminta kasus kekerasan tersebut harus dijadikan sebagai musuh bersama yang harus dilawan.
"Kekerasan merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus dilawan. Ini tidak bisa ditolerir. Dan, kami berharap kasus ini dijadikan persoalan bersama yang harus segera dihentikan," tandasnya.
Selain Perkasa, Kanis Lina Bana, Wartawan Pos Kupang Biro Riteng, dalam orasinya meminta kepada seluruh komponen, baik aparat keamanan, pemerintah, aparat penegak hukum maupun masyarakat harus proaktif menyelesaikan kasus ini dalam waktu yang singkat. Karena jika tidak, dikhawatirkan kekerasan terhadap wartawan akan terus dan terus berlanjut.
"Kami minta kasus ini harus segera diatasi dalam waktu singkat. Jangan biarkan kasus ini berlarut-larut," tegas Lina Bana, yang diamini rekan-rekan wartawan lainnya.
Kanis Lina Bana pun membacakan pernyataan sikap para wartawan. Sedikitnya ada lima pernyataan sikap yang mereka sampaikan. Pertama, mendesak seluruh jajaran kepolisian, baik tingkat lokal, regional dan nasional untuk senantiasa memberi rasa aman dengan melindungi, mengayomi warga negara.
Kedua, mendesak aparat kepolisian Manggarai Barat agar mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami Wartawan Pos Kupang serta menangkap aktor intelektual di balik kasus kekerasan tersebut.
Ketiga, mendesak aparat penegak hukum, polisi, jaksa dan hakim agar menjalankan tugas dan kewenangannya dalam rangka penegakan supremasi hukum di wilayah ini tanpa diskriminatif.
Keempat, mendesak DPRD Manggarai Barat untuk ikut menyikapi berbagai fenomena sosial seperti perilaku premanisme dan kekerasan yang semakin berkembang di daerah ini.
Kelima, mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat agar memperhatikan secara serius berbagai kebijakan pembangunan di wilayah itu agar mampu mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan terutama masalah sosial kamtibmas demi terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera.
"Kami juga minta agar Pemkab Mabar memperhatikan secara serius berbagai kebijakan pembangunan di wilayah ini," kata Kornelis Rahalaka, wartawan Majalah Diaspora terbitan Labuan Bajo.
Harus disikapi
Sementara itu, Perhimpunan Wartawan Flores/PWF dalam surat dengan No. 03/PWF/E-II.2008 yang ditandatangani Ketua Umum, Hieronimus Bokila dan Sekretaris Umum, Bernadus Barat Daya, antara lain menambahkan, jika pernyataan sikap ini tidak ditanggapi dan disikapi, PWT dan organisasi wartawan seluruh Flores akan melakukan perlawanan keras hingga pernyataan sikap ini disikapi dan dituntaskan.
Usai berorasi di halaman Kantor DPRD Mabar, para wartawan meminta DPRD untuk menerima kedatangan mereka. Dan, tidak lama berselang, Wakil Ketua DPRD Mabar, Yohanes Suherman, menemuai para wartawan yang menggelar aksi damai.
Suherman mempersilakan para wartawan untuk masuk ke dalam ruangan sidang utama DPRD Mabar. Mereka diterima Ketua DPRD Mabar, Matheus Hamsi; Wakil Ketua, Ambros Janggat dan Yohanes Suherman serta anggota Dewan lainnya seperti Thobias Wanus, Safrudin, Edi Endi, Lambert Landing, Frans Sukmaniara, Karolus Kapu, Blasius Jeramun dan Agustinus Jiik.
Untuk diketahui, aksi wartawan ini diawali doa peneguhan dipimpin wartawan Pos Kupang, Kanis Lina Bana, yang berlangsung di Clinik St. Yoseph, tempat Obby dirawat. Dalam doa peneguhan itu mereka mengharapkan agar Obby mendapat kekuatan dan segera sembuh. Dari Clinik St. Yoseph, wartawan bergerak menuju Mapolres Manggarai Barat menggelar orasi sambil mengangkat spanduk, satu dari sekian spanduk bertuliskan, "STOP KEKERASAN TERHADAP WARTAWAN."
Dari Mapolres mereka menuju Kantor DPRD Mabar. Dari kantor DPRD, koalisi wartawan dan Ornop ini juga mendatangi Kantor Bupati Manggarai Barat. Mereka diterima Wakil Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch Dula; Sekab, Drs. Benediktus Ngete; dan Kepala Kesbang Linmas, Drs. Valens Gampur, M.Si.
Di hadapan Wabup Mabar, Gusti Dula, para wartawan menyampaikan tuntutan dan pernyataan sikap seperti yang mereka sampaikan di DPRD Mabar. Baik di Mapolres, Kantor DPRD maupun di Kantor Bupati Mabar, koalisi wartawan dan ornop menyerahkan pernyataan sikap. Pernyataan sikap itu ditandatangani oleh semua wartawan dan ornop yang bergabung. Mereka antara lain Kanis Lina Bana (Wartawan Pos Kupang Biro Ruteng); Petrus Nasarani (Radio El Sintha untuk wilayah peliputan Manggarai dan Manggarai Barat); Valens Blikololong (Metro TV daratan Flores); Enok Tanggur (RCTI wilayah Flores); Jo Kenaru (ANTV wilayah Flores); Paul Bataona, Andre Durung dan Kristo Lawudin (Flores Pos); Bernadus Barat Daya, Robert Perkasa dan Yos da Putra (Komodo FM Labuan Bajo); Ferdinandus Jemaun, Frumen Amas dan Marcel Pahun (HU Media Rakyat); John Lewar, Plasidus Masdi (HU Patroli Post); Kornelis Rahalaka (Diaspora); Titus Untung (Demokratik); Sofiandi (LPAM) dan Vinsen Burhamanse (Yakomindo Labuan Bajo). (infokom manggarai barat)
Read More...

Semua komponen bersatu membangun Mabar

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

LABUAN BAJO, SPIRIT--Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Barat, Matheus Hamsi, mengajak masyarakat dan segenap komponen lainnya di daerah itu untuk bersatu membangun Manggarai Barat (Mabar).
Sebab, untuk mendorong percepatan pelaksanaan pembangunan yang ada di Manggarai Barat tidak bisa dengan cara sendiri-sendiri tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak terutama media massa.
Ajakan Matheus Hamsi ini disampaikan ketika menerima Koalisi Wartawan dan Ornop sedaratan Flores di Ruang Sidang Utama DPRD Manggarai Barat, Selasa (19/2/2008). Koalisi wartawan mendatangi Kantor DPRD Mabar untuk melakukan aksi damai mengutuk kasus kekerasan yang dialami Wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru.
"Saya mengajak masyarakat dan seluruh komponen yang ada di Manggarai Barat agar secara bersama-sama membangun daerah ini ke arah yang lebih baik," katanya.
Menurutnya, peran menyebarluaskan informasi untuk pembangunan telah dijalankan oleh teman-teman wartawan. Jika demikian, mestinya para wartawan hendaknya dipandang sebagai mitra kerja yang strategis, bukan sebaliknya.
=======pol out==========
"Jika kita sepakat kalau wartawan sebagai mitra kerja, mengapa kita melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka? Sebagai pribadi saya mengutuk tindakan kekerasan tersebut."
==Matheus Hamsi==
=================================

Di hadapan seluruh wartawan, Ketua DPRD Matheus Hamsi, menegaskan, tindakan kekerasan yang dialami oleh Wartawan Pos Kupang atas nama Oby Lewanmeru sebagai bukti bahwa memang di daerah ini ada masalah yang serius. Karena itu, dirinya sepakat untuk menghentikan kekerasan terhadap wartawan dengan cara apapun dan mengutuk keras tindakan kekerasan oleh oknum-oknum preman itu. "Ini bahaya, jangan sampai gaya-gaya premanisme berkembang di Manggarai Barat," tegasnya.
Target narasumber
Sementara itu, anggota Dewan, Tobhias Wanus, yang turut hadir menerima kehadiran aksi damai wartawan tersebut, meminta aparat kepolisian meningkatkan kewaspadaan di massa yang akan datang. Bahwa aktivitas premanisme sudah ada dan berkembang di Labuan Bajo. "Saya minta aparat kepolisian segera meningkatkan kewaspadaan pada masa yang akan datang," pintanya.
Jika ada pihak yang sudah berani melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan, katanya, berarti masalah berikutnya adalah muncul tindakan kekerasan terhadap nara sumber. Pasalnya, wartawan hanya menulis pernyataan dari seorang narasumber yang berusaha mengungkapkan kebenaran, bukan pernyataan sendiri.
"Karena itu, jika wartawan saja sudah dipukul, dianiaya, lantaran menulis apa yang orang lain omong, maka dapat disimpulkan bahwa target berikutnya adalah narasumber. Hal ini berarti melarang orang lain untuk berbicara soal kebenaran. Dan, lembaga DPRD ini tidak mungkin melakukannya, sebab yang pasti kita akan mengatakan sesuai fakta dan yang terjadi sebenarnya," tutur Thobias.
Anggota DPRD Mabar lainnya seperti Edi Endi, Frans Sukmaniara, Lambert Landing, Blasius Jeramun dan Agustinus Jik juga menyampaikan keprihatinan yang sama. Merekapun sepakat menjadikan kasus ini sebagai prioritas utama yang harus disikapi oleh lembaga DPRD.
Sebagai tindak lanjut dari pernyataan itu, DPRD Mabar berjanji menggelar pleno khusus untuk mengambil sikap lembaga hingga direkomendasikan kepada pihak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas atas kejadian yang menimpa Wartawan Pos Kupang, Oby Lewanmeru.
Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat saat menerima kehadiran para wartawan juga akan menyampaikan dukungan yang sama. Dukungan tersebut intinya mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus kekerasan tersebut. (infokom manggarai barat)
Read More...

DPRD NTT seleksi Panwas Pilgub

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) segera melakukan seleksi calon anggota panitia pengawas (panwas) untuk melaksanakan tugas pengawasan selama proses pemilihan gubernur NTT berlangsung.
"Kita segera mengumumkan pendaftaran calon untuk seleksi. Paling lambat pekan depan sudah ada penetapan keanggotaan panwas karena waktu pembentukannya hanya sampai 10 Maret mendatang," kata Wakil Ketua DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin, di Kupang, Senin (25/2/2008), terkait rencana pembentukan Panwas Pilgub NTT.
Semua orang yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota panwas akan mengikuti uji kelayakan dan kepantasan untuk menetapkan salah satu dari semua calon yang mendaftar.
Dia mengatakan keanggotaan Panwas Pilgub NTT tanpa kaum profesional yakni akademisi dan pers. Panwas hanya beranggotakan tiga orang, dari unsur kejaksaan, kepolisian dan tokoh masyarakat.
Asisten Tata Praja Setda NTT, Drs. Yos Mamulak, yang dihubungi terpisah mengatakan, KPU, DPRD dan Pemerintah NTT telah sepakat bahwa keanggotaan Panwas hanya tiga orang.
Dia mengatakan kesepakatan itu dibuat berlandaskan pada UU Nomor 22 Tahun 2007. Undang-undang tersebut menegaskan bahwa dalam hal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung sebelum terbentuknya Bada Pengawas Pemilu (Banwaslu) berdasarkan UU 22/2007, maka pembentukan panwas berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum UU 22/2007 diundangkan.
Artinya, jumlah keanggotaan Panwas Pilgub berbeda dari jumlah anggota panwas sebelumnya yang berjumlah lima orang yakni unsur kejaksaan, kepolisian, akademisi, pers dan tokoh masyarakat dengan merujuk pada UU Nomor 32/2003, katanya.
Kesepakatan ini menimbulkan pro dan kontra karena karena mekanisme proses rekruitmen anggota panwas menggunakan regulasi sebelumnya yakni UU Nomor 32/2003 dan PP 6 Tahun 2005, tetapi jumlah anggota mengacu pada UU No: 22 Tahun 2007.
"Mekanisme perekrutan memang mengacu pada regulasi sebelumnya yakni UU 32/2003, tetapi jumlah keanggotaan mengacu pada UU 22/2007. Ini selaras dengan rujukan finansial Permendagri No 44 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah," kata Mamulak.
Jika keanggotaan panwas berjumlah lima orang, maka tidak ada sumber dana yang bisa digunakan untuk membayar dua anggota lain karena Permendagri hanya memberi ruang bagi daerah untuk mengeluarkan biaya bagi tiga anggota panwas, katanya.
"Kalau kita rekrut lima orang dengan merujuk pada UU 32/2003, lalu dari mana uangnya untuk membayar honor mereka," katanya. (antara)
Read More...

Penghapusan tanah-bangunan harus disetujui Dewan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan, Kornelis Soi, S.H, mengatakan, penghapusan tanah dan bangunan harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan.
Soi mengemukakan hal ini ketika membacakan pemandangan umum Fraksi PDIP terhadap Ranperda Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah, di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD NTT, Senin (25/2/2008).
Rapat paripurna ini dipimpin Ketua Dewan, Drs. Melkianus Adoe, didampingi Wakil Ketua, Drs. Kristo Blasin, dihadiri Sekda NTT, Dr. Ir. Djamin Habib, MM serta seluruh jajaran eksekutif lainnya.
Fraksi PDI Perjuangan yang dikomandoi Drs. John Umbu Deta, seperti yang disampaikan Sekretaris Fraksi, Kornelis Soi, S.H, bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pengelolaan Barang Milik Daerah adalah Ranperda yang strategis dan mendasar bagi pelaksanaan pembangunan di daerah ini.
Mengapa? Tak dapat dipungkiri bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan, keuangan daerah dan barang milik daerah adalah dua instrumen yang menentukan keberhasilan atau kegagalan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya, selain instrumen lainnya.
"Indikator kinerja pemerintah daerah, antara lain sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola keuangan daerah dan barang milik daerah yang dibingkai dalam prinsip transparasi, akuntabilitas, dan partisipatif," kata Soi.
Menyoroti ranperda tentang pengelolaan barang milik daerah, Kornelis Soi, S.H, menegaskan, meskipun ranperda ini secara keseluruhannya mengacu pada peraturan yang sudah ada, yakni PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, namun "muatan" pasal-pasal dan ayat-ayat dalam ranperda ini berkaitan langsung dengan "kepentingan" dan "kondisi" lokal di daerah ini, yang mesti disikapi dengan kebijakan "lokal". Kebijakan lokal yang disebutkan ini, katanya, tidak bisa serta merta dikatakan bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi.
"Kebijakan lokal demi kepentingan dan kondisi lokal daerah bisa diputuskan sejauh masih dalam bingkai ketentuan yang lebih tinggi," tegasnya.
Seperti disaksikan SPIRIT NTT di ruang sidang utama gedung DPRD NTT, Kornelis Soi, S.H dengan nada tinggi menegaskan bahwa penghapusan barang milik daerah berupa tanah atau bangunan "tanpa kecuali" harus mendapat persetujuan DPRD sebagaimana sudah diatur dalam poin a ayat (1) pasal 61, yang berbunyi: pemindahtanganan tanah atau bangunan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur setelah mendapat persetujuan dari DPRD. Penegasan tersebut tentunya mempunyai alasan-alasan mendasar. Pertama, sebagai representasi rakyat, DPRD dapat melihat dari berbagai aspek dan dimensi terhadap tanah atau bangunan yang dihapus itu.
Kedua, secara prinsip, tanah tidak akan berkembang atau bertambah, sementara jumlah penduduk terus berkembang atau bertambah. Adalah sebuah "kebijakan lokal" apabila tanah atau bangunan tidak boleh dipermudah untuk dihapus.
Ketiga, agar proses penghapusan tanah atau bangunan tidak mudah dimanipulasi secara sepihak oleh Eksekutif dengan berbagai macam alasan sekedar alibi. Masih segar dalam ingatan kita masalah penghapusan Rumah Jabatan Wali Kota Kupang yang kontroversial itu beberapa waktu yang lalu. (gaa/humas dprd ntt)
Read More...

Ranperda keuangan perhatikan kekhasan lokal

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Fraksi Partai Golkar DPRD NTT menyarankan agar Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengelolaan Keuangan Daerah agar memperhatikan kekhasan lokal meskipun penyusunannya bersifat mutatis mutandis.
Saran Fraksi Golkar ini disampaikan melalui Juru Bicara, Ny. E Bolang Malingara, dalam Rapat Paripurna di Ruang Sidang Utama DPRD NTT, Senin (25/2/2008).
Rapat pariurna ini dipimpin Ketua Dewan, Drs. Melkianus Adoe, didampingi Wakil Ketua Dewan, Drs. Kristo Blasin, dihadiri Sekda NTT, Dr. Ir. Djamin Habib, MM.
Mengawali pemandangan umumnya, Ny. Bolang Malingara, menyatakan penghargaan kepada pemerintah dan DPRD NTT yang bersepakat melakukan pembahasan peraturan daerah, memanfaatkan waktu di antara masa sidang. Dengan demikian program legislasi, baik yang dirancang oleh pemerintah maupun yang diprakarsai oleh DPRD dapat dibahas dengan lebih baik dan mengikuti secara baik mekanisme perancangan peraturan daerah sesuai dengan undang-undang dan ketentuan yang berlaku.
Kekhasan lokal yang perlu mendapat perhatian dalam menyusun ranperda keuangan daerah adalah kondisi geografis sebagai sebuah wilayah kepulauan, kondisi infrastruktur yang belum memadai sehingga sampai saat ini belum menarik investasi secara signifikan, stigma kemiskinan dan ketertinggalan, dan pendapat asli dareh yang masih didominasi oleh pajak dan retribusi daerah.
Partai Golkar, katanya, mengharapkan berbagai keluhan masyarakat seperti yang dikemukakan ini bisa dieliminir. Peraturan daerah ini, katanya, hendaknya menghilangkan kesan ada institusi dalam perangkat daerah yang menjadi institusi 'super' yang menjadi penentu segala-galanya dengan kewenangan yang berlebihan.
Jangan ulangi kesalahan
Menyoal Ranperda Penglolaan Barang Milik Daerah, Fraksi Golkar sependapat dengan pertimbangan pemerintah bahwa barang milik daerah yang merupakan unsur penting dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat perlu dikelola secara baik.
"Kita hendaknya tidak mengulangi lagi kekeliruan yang dibuat oleh PD Flobamor dimana diminta untuk memanfaatkan tanah milik daerah di depan Hotel Sylvia yang sudah disetujui oleh DPRD disertai biaya perencanaan untuk membangun rumah toko, tetapi dalam pelaksanaannya membeli tanah baru dengan harga yang melampaui NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) dan membangun perumahan tanpa melalui persetujuan DPRD," tegasnya. (gaa/humas dprd ntt)
Read More...

Mahasiswa peduli Alor datangi DPRD NTT

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT-- Wakil Ketua DPRD Propinsi NTT, Drs. Kristo Blasin, didampingi Ketua Komisi D dan Wakil Ketua Komisi D, Victor Mado Watun, S.H, dan Adrianus Ndu Ufi, S.Sos, M.Si, menerima Forum Mahasiswa Peduli Alor (FMPA) di halaman depan Kantor DPRD NTT, Senin (18/2/2008).
FMPA yang berjumlah 50 orang terdiri dari elemen-elemen mahasiswa
yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang, Ikatan Mahasiswa Alor Barat Daya (IKMAS-ABAD) dan Persekutuan Mahasiswa Mataru (PERMATAR).
Dalam membacakan tuntutannya di hadapan Dewan, para demonstran meminta agar Kapolda NTT segera menyelesaikan ragedi berdarah, 28 Juli 2007 di Kabupaten Alor, yaitu:
Pertama, meminta Kapolda NTT menjelaskan kepada publik atas penyelesaian Tragedi Berdarah 28 Juli 2007 terhadap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kedua, menjelaskan kepada publik sejauhmana pemeriksaan terhadap empat orang anggota Polres Alor yang diperiksa terkait kasus 28 Juli 2007.
Ketiga, segera mencopot Kapores Alor dari jabatannya, karena tidak berhasil dalam menyelesaikan semua persoalan/penyakit sosial yang terjadi di Kabupaten Alor.
Keempat, meminta Kapolres Alor untuk segera menjelaskan proses penyelesaian kasus perjudian (bola guling, kupon putih dan sabung ayam) yang kian marak di Kabupaten Alor.
Kelima, meminta Kapolres Alor segera mencopot Jabatan Kapolsek Alor Barat Daya dari jabatannya karena selalu melindungi para bandar judi di Kecamatan Alor Barat Daya.
Keenam, menjelaskan kepada publik terkait hasil uji balistik di Laboratorium Forensik Bali.
Ketujuh, semua surat pemeriksaan harus tembusannya melalui Forum Mahasiswa Peduli Alor.
Kedelapan, apabila dalam waktu 3 x 720 jam persoalan-persoalan ini tidak dapat diselesaikan, forum akan melaporkan semua persoalan ini ke Kapolri di Jakarta.
Selesai membacakan tutuntan oleh Koordinator Lapangan, Paulus Taenglote, Wakil Ketua Dewan, Drs. Kristo Blasin, menyatakan
bangga dan sesuai kewenangan Dewan menerima dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat kepada pemerintah. (baky/humas dprd ntt)
Read More...

Revitalisasi pariwisata Indonesia

Oleh Ade Zaif Rachman*

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

INDONESIA adalah sebuah negara yang sangat luas dan membentang dengan megahnya dari ujung Sabang sampai ujung Merauke. Indonesia terdiri atas 13.000 lebih pulau,yang berarti memiliki jutaan lokasi wisata eksotis dan sangat indah yang beraneka ragam. Sebagai sebuah negara yang sangat menarik sebagai sebuah tujuan wisata, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, asalkan bisa dikemas dengan baik dengan berbagai konsep promosi yang menarik. Potensi pariwisata yang sangat besar ini memerlukan sebuah pengemasan dan promosi yang jelas.
Menilik Malaysia, Indonesia kini membuat sebuah program promosi Visit Indonesia 2008. Ini merupakan sebuah langkah maju bagi pariwisata Indonesia. Selama ini, promosi pariwisata yang dilakukan memang masih terkesan sporadis dan kurang terkontrol, selain juga hanya berisikan Bali,Lombok dan sekitarnya.
Padahal, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk merevitalisasi pariwisata negeri zamrud khatulistiwa kita ini. Program promosi yang terpusat ini adalah satu langkah yang bisa dijalankan dan sudah terbukti berhasil untuk Malaysia.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah program promosi yang dilakukan pemerintah lokal ke luar negeri. Ini biasa dilakukan di luar negeri di mana kebebasan kebijakan daerah dan otonomi sangat kuat. Dengan cara ini, masing-masing daerah bebas mengirim dan membiayai sendiri utusan untuk mempromosikan pariwisata di daerahnya sendiri.
Program ini bahkan dijalankan juga oleh China di mana sering kali Pemerintah Kota Shanghai, Beijing dan kotakota besar lainnya mengirim delegasi sendiri ke berbagai pameran turisme di berbagai negara untuk mempromosikan pariwisata daerah dan kota mereka.
Yang perlu juga diperhatikan adalah perbaikan terhadap seluruh sarana dan prasarana pariwisata, dan pelestarian terhadap kekayaan budaya tradisional sebagai sebuah sajian wisata yang sangat menarik. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hal ini prestasi Indonesia sangat buruk.Sarana dan prasarana pariwisata hanya diperbaiki di daerah wisata yang sudah terkenal, sehingga membatasi potensi pariwisata di daerah lain.
Swasta seharusnya dilibatkan dalam pembangunan sarana dan prasarana pariwisata sehingga bisa optimal. Upaya pelestarian terhadap kekayaan budaya tradisional Indonesia juga perlu diperhatikan. Jangan sampai terjadi lagi kasus-kasus seperti klaim asing terhadap kesenian tradisional Indonesia, ataupun pencurian terhadap barang- barang arkeologi dan bersejarah.
Reservasi terhadap budaya tradisional Indonesia harus diberikan perhatian khusus sehingga budaya asli kita tidak hilang. Indonesia harus mulai berbenah untuk mengejar ketertinggalannya. Potensi pariwisata semua daerah harus dimasukkan dalam proyek Visit Indonesia 2008 tersebut.Perbaikan dan pelestarian juga harus dilakukan agar keindahan negeri ini bisa dinikmati seluruh dunia dan memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat di sekitarnya. *
* Penulis, Mahasiswa Prodi China FIB UI
Read More...

SMA Gabriel Maumere ujicoba UN

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

MAUMERE, SPIRIT--SMAK Sint Gabriel Maumere menggelar ujicoba ujian nasional (UN) tahap pertama, belum lama ini. Ujicoba ini untuk menguji kesiapan para pelajar dan guru bidang studi menjelang ujian akhir nasional.
Demikian Kepala SMAK Sint Gabriel Maumere, Emilianus Pedor, S.Pd, saat melakukan Sosialisasi Persiapan Menghadapi UN Tahun Ajaran 2007/2008 di Aula SMAK Sint Gabriel, Jalan Soekarno- Hatta, Maumere, Sabtu (16/2/2008). Sosialisasi ini dihadiri para siswa kelas III dan para orangtua.
Menurut Pedor, pelaksanaan ujicoba UN dilakukan tiga tahap. Tahap pertama dilakukan 1-8 Januari 2008, hasil cukup baik, walau masih jauh dari harapan dan syarat kelulusan yang ditentukan departemen pendidikan. "Hasil yang diperoleh 242 siswa/i ini akan dievaluasi oleh para guru dan seluruh peserta UN," katanya.
Materi ujicoba tahap pertama, katanya, disusun para guru bidang studi. Ujicoba tahap II dilaksanakan 25-28 Februari 2008, materi ujian disusun tim guru bidang studi di Kabupaten Sikka. Ujicoba UN tahap III dilakukan Dinas Pendidikan Sikka, 3 April 2008.
Menyoal penyelenggaraan UN 2008, kata Pedor, diselenggarakan dalam dua sesi. UN utama diselenggarakan tanggal 22-24 April 2008 mendatang. UN tahap dua yang merupakan ujian susulan dimulai tanggal 28-30 April 2008. Hasil UN diumumkan bulan Juni 2008.
"Hasil uji coba tahap pertama ini akan kita evaluasi agar para guru bidang studi dan pelajar lebih mempersiapkan diri dalam membimbing dan memotivasi diri para pelajar supaya lebih giat lagi belajar dan mematangkan diri sebelum menempuh ujian nasional," ujar Pedor.
Pedor juga menjelaskan bahwa UN tahun ini berbeda dengan UN tahun sebelumnya. Tahun ini para pelajar kelas III harus mengerjakan enam mata pelajaran, sementara tahun sebelumnya hanya tiga mata pelajaran.
Dia menyebut enam mata pelajaran UN untuk kelas dengan program studi IPA adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Program Studi Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Matematika, Antropologi dan Sastra. Program Studi IPS: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Sosiologi, Geografi dan Matematika.
Di SMA Katolik Sint Gabriel saat ini, dikauinya, terdapat 242 siswa/i yang tersebar di tiga program studi, yakni IPA, Bahasa dan IPS. Untuk program studi IPA terdapat 31 orang pelajar, Bahasa 92 orang dan IPS 119 orang pelajar.
Orangtua harus dukung
Emilianus Pedor mengatakan, untuk mencapai hasil yang baik, seperti yang diharapkan orang tua, sekolah dan para pelajar kelas III, semua pihak termausk orangtua harus memberi dukungan.
"Dukungan dan perhatian orang tua sangat dibutuhkan anak didik, terutama pada masalah pembagian waktu belajar anak harus lebih ditingkatkan. Untuk memperoleh persentasi kelulusan secara baik, semua pihak termasuk orangtua harus bertanggung jawab dan ikut terlibat, dengan meningkatkan perhatian terhadap waktu dan pola belajar anak. Ini sebagai langkah persiapan anak menghadapi ujian nasional," harap Emil Pedor.
Peran orang tua dalam memberikan perhatian, tambahnya, sangat dibutuhkan anak. Dan, yang terpenting bahwa perhatian dan pendidikan dalam rumah adalah yang pertama diperoleh anak didik, dengan orang tua/wali sebagai guru.
Untuk dikatahui orang tua bahwa selain harus menempuh enam mata pelajaran pada UN, angka kelulusan terendah dari setiap mata pelajaran adalah 04.25, dengan jumlah nilai keseluruhan dari enam mata pelajaran yang diujikan adalah 31.50, dengan perolehan rata- rata 5.25 baru seseorang dikatakan lulus.
"Jadi, kalau ada satu mata pelajaran saja yang tidak mencapai angka 04.25 dan tidak mencapai nilai rata-rata yang disyaratkan terendah 05.25 dari jumlah keseluruhan nilai 31.50, maka anak tersebut dinyatakan tidak lulus," jelas Pedor kepada ratusan orang tua wali yang mengadiri sosialisasi tersebut.
Pedor menjelaskan bahwa perlu peningkatkan mutu pendidikan dan perbaikan prrsentase kelulusan yang lebih baik dari tahun sebelumnya, seperti di tahun ajaran 2005/2006 yang hanya mencapai 37.45 persen dan di tahun ajaran 2006/2007 meningkat menjadi 54.42 persen.
Pihak sekolah, katanya, telah mengupayakan pengadaan buku mata pelajaran UN, melakukan penambahan waktu belajar mengajar untuk mata pelajaran UN serta terus melakukan disiplin waktu belajar bagi siswa kelas III. (djo/humas Sikka)
Read More...

7.480 Guru di NTT belum mampu tulis karya ilmiah

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUPANG, SPIRIT--Sebanyak 7.480 orang guru dengan pangkat IVa (Golongan Ruang Pembina) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) belum mampu menulis karya ilmiah sesuai dengan tuntutan syarat kompetensi jabatan menuju pangkat IVb (Golongan Ruang Pembina Tingkat I).
Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Dr. Jamin Habib, MM, mengemukakan hal itu saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Karya Tulis Ilmiah bagi guru di NTT, yang diselenggarakan Biro Kepegawaian Setda NTT bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), di Kupang, Selasa (26/2/2008).
"Menyikapi realitas ini sejak tahun 2006 Pemerintah Propinsi NTT sudah melakukan terobosan agar para guru mampu mengembangkan profesi dan dapat meraih angka kredit. Bimtek penulisan karya tulis ilmiah ini merupakan upaya nyata dalam mendidik para guru agar mampu menulis karya ilmiah," ujarnya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTT itu, mengatakan para guru diharuskan menulis karya ilmiah karena pemerintah telah mencanangkan profesi guru disejajarkan dengan profesi lainnya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan.
Pemerintah juga telah mengeluarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
"Kedua aturan itu mensyaratkan kenaikan pangkat atau jabatan fungsional guru harus menggunakan angka kredit sehingga mempercepat limit waktu kenaikan pangkat. Khusus untuk kenaikan pangkat dari golongan IVa ke IVb diwajibkan mengumpulkan sekurang-kurangnya 12 angka kredit," ujarnya.
Habib mengatakan dalam tahun 2008 Pemerintah Provinsi NTT bekerja sama dengan Depdiknas menyelenggerakan bimtek di 10 lokasi dalam wilayah NTT yang akan melibatkan 440 orang guru yang teridentifikasi belum mampu menulis karya ilmiah.
Bimtek yang diselenggarakan di Kupang itu merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para guru tentang teknik penulisan karya tulis ilmiah.
"Bimtek penulisan karya ilmiah ini akan terus berkelanjutan setiap tahun anggaran hingga mencakup seluruh sasaran. Guru yang belum mampu menulis karya ilmiah terdata sebanyak 7.480 orang. Tahun ini baru mencakup 440 orang, masih ada tujuh ribu lebih yang juga harus menjadi peserta bimtek," ujarnya.
Kepala Biro Kepegawaian Setda NTT, Ir. Frederik Tielman, mengatakan pada umumnya 7.480 orang guru yang terdata belum mampu menulis karya ilmiah itu lebih disebabkan oleh kebiasaan mengandalkan bahas tutur dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik.
Ribuan orang guru itu belum pernah menghasilkan karya tulis ilmiah sehingga menemui kendala serius saat diwajibkan menulis karya ilmiah sebagai tuntutan syarat kompetensi jabatan.
"Kalau mereka tidak mau menulis karya ilmiah maka akan kesulitan meraih angka kredit. Tentu saja 'mentok' di golongan IVa meskipun masih ada kesempatan naik pangkat," ujar Tielman.
Ia menambahkan, kondisi tersebut mengharuskan Pemerintah Propinsi NTT mencanangkan program bimtek penulisan karya tulis ilmiah setiap tahun anggaran dan selalu melibatkan fasilitator yang berkompeten.
Tielman mencontohkan, bimtek penulisan karya tulis ilmiah bagi para guru di Kupang itu, yang menghadirkan tiga orang Tim Penilai Karya Tulis Ilmiah untuk guru dan dosen pada Depdiknas, masing-masing Prof. Suharsimi Arikunto (Guru Besar pada UNJ Yogyakarta), Prof. Supardi (Guru Besar pada UNES Semarang) dan Prof. Dr. Ir Suhardjono (Guru Besar pada Unbraw Malang).
"Selain pembinaan karier guru, tiga orang profesor itu juga mengajarkan para peserta Bimtek, sistematika penulisan karya tulis ilmiah, besaran angka kredit, penelitian tindakan kelas dan sistematika proposal dan laporannya," ujarnya. (antara)
Read More...

Sertifikasi guru, antara harapan dan tantangan

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KUALITAS sistem pendidikan secara keseluruhan berkaitan dengan kualitas guru. Hal ini dikarenakan guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, khususnya dalam membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal.
Guru sebagai sebuah profesi yang sangat strategis dalam pembentukan dan pemberdayaan anak-anak penerus bangsa, memiliki fungsi yang semakin signifikan di masa yang akan datang. Oleh karenanya, pemberdayaan dan peningkatan kualitas guru sebagai tenaga pendidik, merupakan sebuah keharusan yang memerlukan penanganan yang lebih serius. Untuk itu pemerintah secara resmi telah mencanangkan bahwa profesi guru disejajarkan dengan profesi lainya sebagai tenaga profesional. Sebagai tenaga profesional, guru diharapkan dapat melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis dan berakhlak, serta menjadi teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan persyaratan memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, seorang guru harus memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
Kenyataan di lapangan, pandangan guru dalam menyikapi program sertifikasi terpecah menjadi dua kelompok, yaitu pertama kelompok yang pesimis dan kedua kelompok yang optimis. Kelompok pertama adalah mereka yang telah terlanjur terkonstruksi dalam mitos yang serba buruk dalam profesinya sebagai pendidik. Mereka adalah guru-guru yang stagnan, yang sejak mendapatkan Nomor Induk Pegawai (NIP) tidak mau lagi untuk berpikir, membaca atau bahkan belajar untuk meng-upgrade dirinya sendiri, sehingga selalu serba tertinggal baik informasi maupun teknologi terbaru khususnya dalam bidangnya.
Bahkan, ketika guru ditunjuk sebagai peserta pelatihan atau sejenisnya, mereka tidak menyambutnya dengan suka cita, jauh dari konteks atau motivasi untuk mengembangkan diri menjadi sumber daya manusia (guru) yang berkualitas. Pertanyaan yang justru sering dilontarkan adalah "Apakah ada uang sakunya?" Padalah jika mau jujur dan berpikir secara positif, kalaupun guru tersebut tidak mendapatkan uang saku ia sudah beruntung karena telah mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri secara gratis sebagai investasi di masa yang akan datang. Ironisnya, kelompok ini adalah yang terbanyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kelompok kedua adalah guru-guru yang selalu optimis, selalu ingin maju, berfikir, membaca dan selalu belajar (dengan cara mengikuti kursus, pelatihan atau seminar) meskipun dengan cara swadana.
Mereka sangat menyadari bahwa dengan terus belajar untuk dirinya sendiri, akan memberikan kontribusi yang sangat besar kepada siswa. Sayangnya jumlah mereka sangat sedikit. Akankah sertifikat pendidik yang didapat oleh guru kelompok pertama mengubah mind set mereka menjadi guru kelompok kedua yaitu kelompok guru yang selalu optimis dan ingin selalu mengembangkan diri? Atau justru sebaliknya, menjadikan mereka lupa diri dan mabuk kepayang dengan penghasilan yang lebih baik daripada sebeleumnya sehingga mereka lebih senang pergi ke diskotik untuk bersenang-senang atau membelanjakan pendapatan yang besar tersebut untuk hal-hal yang bersifat konsumtif? Hanya sang waktu yang dapat menjawabnya.
Mutu guru dan mutu pendidikan
Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru sehingga pembelajaran di sekolah juga akan berkualitas. Hal ini dengan asumsi, peningkatan mutu guru akan dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Peningkatan kesejahteraan guru dalam bentuk tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang telah memiliki sertifikat pendidik ini, berlaku untuk guru baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau guru swasta.
Tujuan sertifikasi adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; meningkatkan martabat guru; dan meningkatkan profesionalimse guru. Untuk tujuan yang terakhir ini guru dituntut agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. Artinya, dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik guru harus dapat memenuhi keinginan/harapan masyarakat dalam hal ini siswa dan orang tua; memiliki landasan pengetahuan yang kuat dan terkini khususnya dalam bidang yang menjadi tanggung jawabnya; dan dalam proses untuk mendapatkan profesionalisme itu hendaknya dilakukan atas dasar kompetensi individu, bukan hasil KKN.
Sertifikasi sebagai proses ilmiah sangat memerlukan pertanggungjawaban moral dan akademis bagi pemilik sertifikat. Maka sangatlah tidak terpuji jika dalam proses mendapatkan sertifikat itu seorang guru melakukan segala cara, atau ketika telah mendapatkan sertifikat wawasan dan gaya mengajarnya masih biasa-biasa saja. Disinilah perlunya kesadaran dan pemahaman bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas, sehingga apapun yang dilakukan guru adalah semata-mata untuk meningkatkan kualitas. Bila pemahaman semacam ini dimiliki oleh setiap guru, maka cita-cita untuk meningkatkan mutu pendidikan akan menjadi kenyataan.
Sebuah tantangan
Profesionalisme adalah sebuah kata yang tidak dapat dihindari di era globalisasi dan internasionalisasi yang semakin menguat dewasa ini. Persaingan yang semakin kuat dan proses transparansi di segala bidang merupakan salah satu ciri utamanya. Guru yang profesional harus mampu melakukan terobosan dan perubahan, tak terkecuali perubahan paradigma dalam mengajar.
Sudah saatnya seorang guru tidak menempatkan anak didik sebagai obyek pembelajaran, akan tetapi harus mengaktifkan mereka untuk berperan dan menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Guru tidak lagi memposisikan diri lebih tinggi daripada anak didik atau sebagai tokoh sentral, tetapi berperan sebagai fasilitator atau konsultator yang bersifat saling melengkapi. Dalam hal ini maka seorang guru dituntut untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif secara dinamis dan demokratis.
Bagi sekolah, memiliki guru yang profesional merupakan kunci keberhasilan bagi pembelajaran, karena ia akan selalu melakukan pembelajaran yang efektif. Ciri-ciri guru yang melakukan pembelajaran secara efektif menurut Gary A Davis dan Margareth A Thomas ada empat.
Pertama, memiliki kemampuan yang berhubungan dengan iklim belajar di kelas. Termasuk dalam komponen ini adalah kemampuan interpersonal guru khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa dan ketulusan, memiliki hubungan yang baik dengan siswa, dan mampu menerima, mengakui dan memperhatikan siswa secara tulus.
Kedua, memiliki kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran meliputi kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka mencela, mengalihkan pembicaraan; dan mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkat berpikir yang berbeda untuk semua siswa.
Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan penguatan (reinforcement), meliputi mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; mampu memberikan respons yang bersifat membantu bagi siswa yang lamban belajar; dan mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan.
Keempat, memiliki kemampuan yang berhubungan dengan peningkatan diri meliputi mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; mampu menambah dan memperluas pengetahuan baik yang bersifat umum maupun pengetahuan mengenai metode-metode pembelajaran; dan mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan. (bambang riadi)
Read More...

Koperasi, berdiri di garis depan penciptaan lapangan kerja

Oleh Dyah Sulistyorini

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

BILA Anda memperhatikan perjalanan pagi dari arah Kebon Jeruk ke Tanah Abang, hampir selalu ada motor yang membawa baju bordiran berbungus plastik per potong yang tersusun rapi di boncengan. Bukan hanya baju namun celana panjang, pakaian tidur, dan kerudung bermanik-manik. Dari arah sebaliknya, bila sore hari tiba, sering ada motor yang membawa gulungan kain atau kain batik, ke arah Kebon Jeruk Raya. Rupanya ada banyak usaha rumahan bergerak di bidang konfeksi di sekitar Kebon Jeruk Raya.
Ibu-ibu teman sekolah anak saya juga banyak yang mengerjakan 'payetan' di waktu senggangnya. Payetan adalah istilah untuk menyebut seni merangkai benda berbentuk butiran yang diberi lubang, biasanya disusun berbentuk pola tertentu di atas sehelai kain. Semakin rumit dan besar payetan, makin menambah harga jualnya.
Biasanya ibu-ibu mengambil satu kodi kerudung beserta bahan baku berupa manik-manik dari pemilik konfeksi, mengerjakan di rumah sesuai pola dan pesanan untuk kemudian ditukar dengan uang sekitar Rp 12.000 hingga Rp 20.000 per kodi, tergantung banyak sedikitnya payetan, tingkat kesulitan dan kualitas bahan. Untuk yang sudah trampil, bisa menyelesaikan satu kodi per hari.
Kaum ibu dan remaja putri merasa senang dengan pekerjaannya karena bisa menghasilkan uang tanpa mengorbankan waktu di luar rumah. Mereka bisa mengerjakan pekerjaan itu sambil menunggu anaknya sekolah, sambil menunggu cucian kering atau melakukan aktivitas rumah tangga yang lain, meski upah yang didapat tidak bisa dikatakan besar.
Tidak bisa dipungkiri bahwa industri konfeksi adalah industri padat karya. Dan semua pasti sefaham bahwa melimpahnya tenaga kerja lepas adalah keunggulan tersendiri bagi perusahaan. Namun yang saya tahu, ternyata kaum ibu itu hanya pekerja lepas, bukan anggota koperasi. Dan belum ada data yang mendukung apakah pemilik-pemilik konfeksi itu adalah anggota koperasi. Di situs Kementerian Negara Koperasi dan UKM memang cuma ada beberapa buah UKM fashion, garment, embroidery dan pashmina di Kebon Jeruk.
Mungkin perlu studi yang lebih mendalam untuk memperoleh gambaran tentang seberapa besar kesadaran ibu rumah tangga untuk bergabung membentuk koperasi. Dan mungkin perlu pula publikasi hasil-hasil penelitian yang pernah ada tentang bagaimana persepsi masyarakat melihat koperasi 'sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan.'
Definisi koperasi
Koperasi, seperti yang lazim kita diketahui, memiliki tujuannya yang mulia yakni untuk mensejahterakan anggotanya. Mengutip Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 27 Revisi 1998, disebutkan bahwa karakteristik utama koperasi yang membedakannya dengan badan usaha lain adalah, anggota koperasi memiliki identitas ganda, sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.
Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil. Pembagian keuntungan -- disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU-- biasanya dihitung berdasarkan andil anggota. Sebagai misal pembagian dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh si anggota.
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Perkoperasian, pengelompokan koperasi secara umum ada tiga yakni koperasi konsumen, produsen dan koperasi kredit (jasa keuangan). Namun koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya. Dalam hal ini koperasi dapat dibagi menjadi 5 jenis yakni Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Konsumen, Koperasi Produsen, Koperasi Pemasaran dan Koperasi Jasa
Koperasi Simpan Pinjam sesuai dengan namanya adalah koperasi yang bergerak di bidang usaha simpanan dan pinjaman. Koperasi Konsumen adalah koperasi yang beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatan jual beli, menjual barang konsumsi.
Definisi Koperasi Pemasaran adalah koperasi yang melakukan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya. Sedangkan Koperasi Jasa, adalah koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.
Selanjutnya adalah Koperasi Produsen, koperasi yang beranggotakan para pengusaha kecil (UKM = Usaha Kecil Menengah) dengan menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.
UKM
Seberapa besar peran UKM membuka lapangan kerja sebagai upaya mengentaskan kemiskinan? Rupanya masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk membuktikan peran koperasi dalam memberi kontribusi mereduksi angka kemiskinan.
Sebenarnya program-program pemberdayaan Usaha Skala Mikro sudah tersusun rapi di Rencana Kerja Jangka Menengah Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop & UKM). Bahkan program pemberdayaan Usaha Skala Mikro adalah satu dari lima program Menegkop & UKM yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Periode tahun 2004-2009.
Di situs http://www.depkop.go.id tertulis bahwa tujuan program Pemberdayaan Usaha Skala Mikro ini adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala usaha mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin dalam rangka memperoleh pendapatan yang tetap, melalui upaya peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan bersaing. Program ini akan memfasilitasi peningkatan kapasitas usaha mikro dan keterampilan pengelolaan usaha serta sekaligus mendorong adanya kepastian, perlindungan dan pembinaan usaha.
Jadi jelaslah bahwa UKM memang diharapkan berdiri di garda depan program pengetasan kemiskinan. UKM seharusnya mampu menyerap banyak tenaga kerja, yang pada gilirannya sanggup mengentaskan kemiskinan anggotanya. Dan memang kita sadar bahwa jumlah orang miskin makin membengkak tiap tahunnya.
Menurut data versi Bank Dunia, yang menggunakan indikator kemiskinan moderat, yaitu pendapatan kurang dari dua dolar AS per hari, maka penduduk miskin Indonesia mencapai 49 persen atau separuh total jumlah penduduk (sekitar sekitar 108,7 juta orang )
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2007 sebesar 37,17 juta jiwa atau turun 2,13 juta (5,4 persen) dibanding kondisi pada Maret 2006 sebesar 39,30 juta.
Perbedaan angka tersebut dikarenakan parameter yang digunakan berbeda, masing-masing memiliki alasan yang dapat diterima. Namun semuanya berbicara masalah jumlah orang miskin yang tidak bisa dikatakan kecil jumlahnya.
Dalam laporan BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM yang dirilis 16 September 2005, tentang perkembangan indikator makro UKM tahun 2005 disebutkan bahwa, 'Seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian Indonesia tahun 2004, sumbangan Usaha Kecil Menengah semakin jelas pangsanya terhadap penciptaan nilai tambah nasional, karena lebih dari separuhnya diciptakan oleh UKM (55,88 persen) sekaligus mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar sehingga dapat menekan tingkat pengangguran.'
Pada bagian selanjutnya disebutkan bahwa jumlah unit usaha UKM tahun 2004 sebesar 43,22 juta naik 1,61 persen terhadap tahun sebelumnya, sementara jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor UKM pada tahun yang sama sebesar 79,06 juta pekerja yang ternyata lebih rendah 337.332 pekerja dibandingkan tahun 2003 sebanyak 79,40 juta pekerja.
Data-data diatas hanyalah angka-angka yang masih perlu dikaji dan masih perlu tindakan nyata untuk benar-benar mewujudkan peran UKM membuka lapangan kerja.
Penyerapan tenaga kerja
Namun kita patut bersyukur dan tetap berharap bahwa UKM mampu menyerap tenaga kerja. UKM haruslah mendapat prioritas dan perhatian penentu kebijakan. Dan yang lebih penting kontrol sosial dari kalangan akademisi maupun politisi terhadap program-program pemerintah harus diperhatikan, agar sasaran tercapai dengan efisien dan efektif serta jauh dari aroma korupsi, kolusi dan nepotisme.
Kiranya kritik dari sejumlah pengamat perkoperasian harus kita cermati, bahwa fungsi utama Kementerian Negara Koperasi dan UKM harusnya mampu memfasilitasi tiga hal. Pertama harus mampu memfasilitasi kiprah koperasi dan UKM dari sisi managemen. Kedua berkomitmen membantu koperasi dan UKM untuk mengakses permodalan dan yang ketiga harus mampu menjembatani para pelaku ekonomi sektor riil untuk memasarkan produk mereka.
Sangat diharapkan optimalisasi kinerja kementerian termasuk penyederhanaan struktur birokrasi, sehingga program mulia penciptaan 6 juta pelaku wirausaha baru dan pembentukan 70 ribu koperasi sehat akan segera terwujud.
Melihat koperasi tetangga
Mungkin kita patut melihat perkembangan koperasi di negeri Gajah Putih, Thailand. Menurut data yang kami peroleh, Thailand membentuk Departemen Promosi Koperasi yang memiliki visi mempromosikan dan mengembangkan koperasi atau kelompok-kelompok petani dengan tujuan agar mereka mencapai ketahanan dan kemandirian.
Seluruh kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan anggotanya. Mereka menjabarkan tanggungjawab operasionalnya dengan mempopulerkan idiologi dan prinsip-prinsip koperasi. Sementara dari segi kelembagaan pemerintah mendukung peningkatan proses pembelajaran, peningkatan kapasitas bisnis yang bermuara pada efisiensi operasional.
Dan yang lebih penting adalah mendorong penguatan jaringan bisnis koperasi pada tingkat internasional. Namun secara konsepsional, setiap praktek bisnis harus sesuai dengan undang-undang dan ketentuan yang berlaku. (Disini pemerintah memfasilitasi setiap kajian dan penelitian yang dibutuhkan).
Thailand terkenal dengan produk-produk pertaniannya. Rupanya pemerintahnya mendorong penguatan di sisi hulu dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama peningkatan kapasitas produksi berstandar mutu tinggi. Kedua departemen koperasi melakukan pendampingan penanganan standar manajemen pasca panen untuk menambah nilai dari proses produksi. Yang ketiga pemerintah terlibat dalam merehabilitasi pengelolaan administrasi dan mengefisienkan peran kelompok tani.
Kegiatan tersebut mempermudah tugas pemerintah mengklasifikasi koperasi yang sehat yang perlu dikembangkan secara berkesinambungan. Dari klasifikasi yang bagus maka Thailand dapat merumuskan database koperasi maupun kelompok-kelompok tani.
Thailand senantiasa mendorong pendirian jaringan di antara koperasi dan petani. Yang tak kalah penting, adalah dukungan pemberian suku bunga rendah, khusus bagi koperasi dengan kelompok-kelompok tani yang aktif.
Itu semua adalah gambaran sekilas kondisi perkoperasian di negara tetangga. Masih banyak referensi keberhasilan koperasi di berbagai belahan dunia. Koperasi kita, harus berbenah diri agar benar-benar mampu menjadi soko guru perekonomian bangsa. Semoga kita bangsa Indonesia bisa menemukan formula yang pas untuk kemajuan perkoperasian di tanah air.
Sebagai penutup, kemajuan koperasi juga adalah tangungjawab kita semua, komponen bangsa, peran serta masyarakat, media dan lembaga swadaya masyarakat mutlak dibutuhkan.
Semoga lapangan kerja kian terbuka, kesempatan berkarya senantiasa ada dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia.
*Tulisan ini memenangi juara 2 "Lomba Karya Tulis Perkoperasian 2007" yang diselenggarakan oleh Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)
Read More...

Pemkab TTS targetkan kelulusan 80 persen

Laporan Muhlis al Alawi, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SOE, SPIRIT-- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Selatan (TTS) menargetkan kelulusan ujian nasional bagi siswa SD, SMP dan SMA tahun ini mencapai 80 persen. Capaian target itu akan dijadikan sebagai barometer maju mundurnya mutu pendidikan di TTS.
Penegasan ini disampaikan Bupati TTS, Drs. Daniel A Banunaek, dalam arahannya menghadapi ujian nasional di hadapan ratusan kepala sekolah di Aula Efata SoE, Kamis (28/2/2008) pagi. Banunaek minta kepada seluruh kepala sekolah untuk berupaya semaksimal mungkin mencapai target kelulusan yang sudah dipatok Dikbud TTS.
"Target kelulusan sebesar 80 persen yang dipakai bukan menggunakan angka standar minimal kelulusan dengan nilai 5,25, tapi TTS menggunakan standar nilai minimal 6,0. Dengan demikian, seluruh kepala sekolah harus bekerja keras untuk mencapai target tersebut," pintanya.
Menurut Bupati Banunaek, patokan kelulusan sebesar 80 persen patut bagi TTS lantaran pemerintah telah memberikan banyak hal untuk kemajuan pendidikan bagi kabupaten ini. Ia mencontohkan anggaran pendidikan di TTS melebihi 20 persen dari APBD TTS 2008.
Tidak hanya itu, TTS mendapatkan banyak bantuan untuk pengembangan mutu pendidikan seperti dana DPEB, BOS dan DAK yang disuplai setiap tahun. Dana itu diperuntukan untuk pembangunan fisik serta memajukan mutu pendidikan di TTS.
Dengan demikian, lanjutnya, berbagai sarana dan fasilitas yang ada harus dimanfaatkan dan diserap sebaik-baiknya oleh masing-masing sekolah. Pemanfaatan yang maksimal akan menghasilkan majunya mutu pendidikan di TTS.
"Kalau tahun 2004 TTS hasil ujian masuk rangking 13 dari enam belas kabupaten di NTT, tahun 2007 kita berhasil naik ke rangking empat untuk tingkat kelulusan siswa yang mengikuti ujian nasional. Untuk ujian tahun ini, TTS harus lebih baik lagi," tambahnya.
Ia menegaskan, bila hasil ujian nasional tahun ini lebih jeblok dibandingkan tahun 2007, maka kinerja kepala sekolah patut dipertanyakan. "Berbagai bantuan dan fasilitas dari pemerintah yang diberikan kepada sekolah sudah menjadikan TTS layak naik peringkat terhadap hasil ujian nasional," katanya. *
Read More...

Menulis dan meneliti dianggap beban berat

Laporan Muhlis al Alawi, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

SOE, SPIRIT-- Budaya menulis dan meneliti diwilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dianggap sesuatu yang memberatkan. Persoalan itu terjadi lantaran masyarakat NTT masih mengutamakan budaya tutur secara turun-menurun.
Hal tersebut disampaikan Sekda NTT, Dr. Ir Jamin Habid, MM dalam sambutannya yang dibacakan Sekab TTS, Drs. Alfred M Kase, M.Si, saat membuka acara bimbingan teknis (bimtek) penulisan karya tulis ilmiah guru, di Aula Suka Jadi-SoE, Senin (3/3/2008). Acara yang digelar Biro Kepegawain Setda NTT diikuti 55 guru dari berbagai wilayah di TTS.
Menurut Sekda Jamin, belum membudayanya kegiatan menulis dan meneliti juga terjadi di dunia pendidikan NTT. Persoalan muncul tatkala para guru tidak dapat memenuhi syarat kompetensi jabatannya lantaran belum adanya kegiatan penulisan karya ilmiah.
Kegiatan bimtek yang diikuti guru selama tiga hari itu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para guru tentang cara penulisan karya tulis ilmiah. Dengan demikian, kegiatan ini dapat bermanfaat memberikan kemampuan bagi guru untuk memenuhi tuntutan pengembangan profesinya dan mendapatkan angka kredit melalui kegiatan karya tulis.
Dikatakannya, guru merupakan ujung tombak dalam pembangunan pendidikan nasional. Untuk itu, guru yang profesional dan bermartabat harus dilakukan dengan peningkatan kualitas SDM-nya.
Kualitas SDM itu dapat dibuktikan dengan sebuah sertifikat guru yang diperoleh melalui uji sertifikasi. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan sebagai guru profesional
Menurutnya, kebijakan kenaikan pangkat melalui jalur jabatan fungsioanl guru dengan menggunakan angka kredit sangat memudahkan guru untuk mutasi kenaikkan pangkat. Dengan demikian, guru diharapkan semakin profesional dalam pemahaman dan pelaksanaan tugasnya.
Persoalannya, lanjut Sekda Jamin, sampai saat ini terdapat 7.480 guru yang mengalami kesulitan kenaikkan pangkat lantaran kekurangan angka kredit. Salah satu kegiatan pengembangan profesi yang dapat memberikan angka kredit bagi guru dengan kegiatan karya tulis.
Terhadap persoalan itu, sejak tahun 2006 Pemda NTT telah menyelenggarakan bimtek penulisan karya tulis ilmiah kerjasama dengan Dikbud dan pemerintah kabupaten. Kegiatan itu dilakukan dengan mendatangkan narasumber berkompeten di bidang pendidikan. "Khusus tahun ini bimtek diberikan kepada 440 guru yang terbagi di sepuluh kabupaten, yakni Kupang, TTS, Sumba Timur, Sumba Barat, Alor, Rote Ndao, Flores Timur, Lembata, Ende dan Manggarai,"ujar Jamin.
Sementara Kepala Biro Kepegawaian Setda NTT, Ir. Frederik J.W Tielman, M.Si mengatakan, tiga narasumber akan mengisi kegiatan bimtek penulisan karya tulis ilmiah bagi guru. *
Read More...

Belu dapat jatah 105 unit PLTS

Laporan Edy Hayong, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Masyarakat Kabupaten Belu dalam tahun 2008 akan mendapat jatah 105 unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari Kementerian Percepatan Daerah Tertinggal (PDT). Jatah PLTS ini sebagai kelanjutan dari bantuan yang sudah diberikan sejak tahun 2004 hingga saat ini.
Asisten Deputi Khusus Infrastruktur Energi Kementerian PDT, Charli Simanjuntak mengatakan itu kepada wartawan di sela-sela pembukaan pelatihan bagi 139 tenaga teknis PLTS angkatan III di Hotel Nusantara II-Atambua, Selasa (4/3/2008). Hadir saat itu Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, Wakil Bupati, drg. Gregorius Mau Bili, Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan dan sejumlah pejabat pemerintah.
Simanjuntak menjelaskan, pemerintah pusat melalui Kementerian PDT sejak empat tahun lalu memperhatikan persoalan kelistrikan di wilayah tertinggal di seluruh Indonesia. Hampir di setiap daerah keluhan soal listrik menjadi permasalahan serius.
Terhadap kondisi ini, kata Simanjuntak, Kementrian PDT mencoba memberikan solusi agar dipikirkan menghadirkan program PLTS. Untuk itu, lanjutnya, sejak tahun 2004 ada program PLTS bagi masyarakat di wilayah tertinggal di seluruh Indonesia. Dari 109 kabupaten di Indonesia, salah satu wilayah yang mendapatkan program PLTS adalah Kabupaten Belu.
"Kabupaten Belu merupakan daerah yang menjadi titik perhatian Kementrian PDT apalagi letaknya di daerah perbatasan. Makanya selama beberapa tahun belakangan ini wilayah ini terus mendapatkan jatah program PLTS. Untuk tahun 2008 kita rencanakan akan mengalokasikan 105 unit PLTS bagi wilayah ini," jelasnya.
Simanjuntak berharap program yang sudah diturunkan untuk membantu masyarakat hendaknya dijaga dan dirawat. Program PLTS ini akan terus berlanjut manakala antara masyarakat dan pemerintah saling mendukung dengan merawat secara baik PLTS.
Perhatikan Belu
Sementara Bupati Belu, Joachim Lopez mengatakan, Pemerintah Kabupaten Belu berterima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian PDT yang terus memperhatikan wilayah Belu dengan bantuan program PLTS. Ke depan pemerintah masih terus mengharapkan program ini terus berlanjut karena wilayah pedesaan sangat membutuhkan PLTS.
"Kami sambut baik program PLTS ini. Sejak tahun 2004-2007 sudah 2.378 unit PLTS yang kita pasang di beberapa wilayah pedesaan yang tersebar di sejumlah kecamatan. Kita sudah mendapat sinyal dari pusat bahwa dalam tahun 2008 akan ada lagi bantuan PLTS," ujarnya.
Joachim Lopez mengimbau para teknisi yang mendapat pelatihan dari tim teknis pemasangan PLTS untuk mengikuti secara serius segala petunjuk termasuk melakukan perawatan rutin di lapangan. Dengan begitu, program PLTS ini kedepan terus masuk ke wilayah Belu. *
Read More...

Dagalais

Oleh Even Edomeko

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

KIBOK sudah siap. Muu Toter juga su ada. Salak. Semangka. Rambutan. Durian. Advokat. Semua-semua sudah. "Apa yang belum?" tanya Ina Pero sambil lihat berbagai buah dan bunga yang digeletakkan di tedang depan rumah. Beberapa mama melihat lagi satu per satu benda-benda yang disebut Ina Pero. Dia terus bertanya, "Kurang apa e?"
Hari itu, semua mama di desa Remin-Reong bahu-membahu mencari berbagai buah dan bunga yang ada di kebun mereka. Mereka diminta oleh Ibu Camat agar mewakili Kecamatan TO POI MORO EON untuk mengikuti Lomba Merangkai Buah dan Bunga yang diselenggarakan oleh Panitia Kabupaten guna merayakan HUT ke-35 PKK di Maumere.
"Yang jadi Panitia di Maumere tu Mama Etty Longginus dan Mama Irma Ansar Rera. Yang minta kita adalah Mama Camat. Jadi, kita semua ini harus periksa lagi, jangan ada yang kurang memang." Begitu kata Ibu Kades sambil tarik-tarik dia pu rambut kribo.
"Kita mungkin kalah dengan mama-mama dari kota, tapi asal jangan sampe kalah bodoh-bodoh to?" sambung Ibu Sekdes.
"Oiii, yang kurang itu buah tomat. Ia to? Dagalais to?" pekik Ina Pero keras.
"Itu sudah dia yang kita pikir dari tadi!" sambut serempak para mama.
"Sssssttttt!!!" Ina Pero sein pake palang dia pu telunjuk di mulut. Semua terdiam! Pero bisik, "Bile-bile.Odi Moat rena."
Tak jauh dari situ, persis di balik dinding halar, Wokowula kaget mati punya waktu dengar dia pu istri ---Ina Pero--- sebut-sebut 'dagalais.' Di desa ini hanya dia satu-satunya petani yang menanam buah tomat-dagalais, dan dia baru saja pulang siram itu benda sampe punggung mau patah. Waktu para mama omong pake bisik, Wokowula langsung curiga keras. "Kalu bayar, saya kasih persen. Kalu Pero ambil saja, saya ngamuk besar."
Besok paginya, Wokowula bagun lat. Ina Pero dan rombongan su pigi Maumere. Wokowula langsung lari ilang ke kebun tomat. Dan dia menganga! Semua tomat Bangkok besar-besar yang dia biarkan masak enak-enak, yang sengaja dia taden, hilang semua! "Mati dia! Mati dia!" Wokowula langsung nae oto, ikut pigi Maumere.
Acara HUT ke-35 PKK itu diselenggarakan di Aula Biara Karmel Wairklau. Ke situlah Wokowula pergi. Pas masuk di gerbang Biara, sebuah suara menegurnya.
"Bega kau Eja Woko!"
"Jose puki-ayam. Kau di sini ka?" Rupanya Wokowula pu teman Jose dari Lio.
"Sa antar maitua ni ka. Kita para suami harus mendukung istri. Jangan hanya istri yang dukung suami. Dema ka iwa?? Eh, Eja, kau ju antar kau pu fai-nggaE ko, Eja?" tanya Jose.
Wokowula senyum-senyum. Mau jujur, dia malu. Mau tipu, dia sakit hati. Eh, pas senyum-senyum tida jelas begitu, dia liat Ina Pero lewat. Langsung dia mendekat.
"Pero! Hoe Peroin! Saya pu dagalais kau ambil ko?"
Ina Pero tidak jawab tapi langsung pasang muka galak, lengkap dengan dia pu mata eber ganu gong matan.
"Pero! Saya yang marah ka, bukan kau. Kau yang salah ko stel marah saya?!"
Persis saat itu, suara di pengeras suara mengumumkan: "Juara I Lomba Merangkai Buah dan Bunga adalah Kecamatan TO POI MORO EON, dengan satu karya cantik yang berjudul: Tomato for Life, Dagalais untuk Kehidupan." Suara gemuruh tepuk-tangan menyambutnya.
Wokowula langsung roba wujud jadi senang. "Oi, kamu juara ka, Pero??? Kamu juara ka??? Itu pasti karena saya punya dagalais kaà. Hahaha, memang sa pu dagalais tu hebatàö
Jose yang berdiri di dekat situ langsung jabat tangan sama Wokowula sambil bilang, "Eja, dagalais kau hebat."
Wokowula jawab, "Teng Yu, eja..."
Jose lagi, "Dagalais kau hebat, Eja."
Wokowula bilang, "Epang gawang, Frend."
Jose omong terus, "Dagalais kau hebat,"
Wokowula terdiam, tampak berpikir.
Jose tetap saja omong, "Dagalais kau hebat. Dagalais kau hebat!"
Wokowula baru sadar, "Puki-ayam! Saya tau kau pu maksud. Kurangajarrrr."
Jose su menghindar jauh.*
Read More...

Profil Desa Tanaduen Sikka

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

* Keadaan umum
Desa Tanaduen, Kecamatan Kangae, merupakan wilayah desa yang terletak di sebelah timur Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka. Tanaduen meliputi tiga dusun, yakni Dusun Habigete, Dusun Blatat dan Dusun Bolawolon, dengan 09 RW dan 19 RT.
Luas permukiman umum Desa Tanaduen adalah 244.15 hektar (ha) yang dihuni 2.002 jiwa, terdiri dari 945 laki-laki dan 1.057 perempuan serta terdiri atas 390 KK laki-laki dan 73 KK perempuan. Penghuni tiap dusunnya, Dusun Habigete (410 jiwa), Dusun Blatat (701 jiwa) dan Dusun Bolawolon (891 jiwa).
Jarak tempuh masyarakat ke Ibu kota Kecamatan Kangae, sejauh empat kilometer dengan lama perjalanan mencapai 20 menit. Sementara ke Ibu kota Kabupaten berjarak 10 kilometer dengan menghabiskan waktu perjalanan sedikitnya 45 menit hingga 60 menit.
Desa Tanaduen yang berstatus hukum SK Gubernur KDH TK I NTT Nomor 20 Tahun 1999 ini, memiliki batas-batas wilayah desa sebagai berikut: Utara berbatasan dengan Laut Flores, Selatan berbatasan dengan Desa Mekendetung, Barat berbatasan dengan Desa Watuliwung dan Timur berbatasan dengan Desa Kokowahor Watumilok.
Mayoritas penduduk Desa Tanaduen adalah pemeluk agama Katolik Roma (1.950 orang). Selain itu, juga terdapat pemeluk agama Islam (6 orang) dan Kristen (4 orang). Pada umumnya masyarakat Tanaduen berprofesi sebagai petani yang mengolah lahan kering. Selain sebagai petani lahan kering, sumber ekonomi juga diperoleh dari menangkap ikan (nelayan), beternak dan membuka usaha kecil lainnya.
Wilayah desa yang terletak nol hingga 450 meter di atas permukaan, ini memiliki curah hujan rata- rata pertahunnya berada di antara 1.000 sampai 1.500 mm/tahun dengan keadaan suhu rata-rata 210c hingga 230c.
* Potensi alam
Sebagai wilayah yang memiliki keadaan suhu rata-rata 210c hingga 230c, masyarakat cenderung menggantungkan diri pada hujan dalam mengolah lahan pertaniannya. Dengan demikian dapatlah diukur seberapa banyak tanaman perkebunan yang diolah masyarakat, tentunya tidak seperti yang dimiliki daerah lain baik yang ada di Kabupaten Sikka maupun daerah lain di NTT.
Hingga kini hanya beberapa tanaman perkebunan seperti kelapa (7.75 ha) dan jambu mente (18.81 ha) yang dibudidayakan, sementara tanaman perkebunan lainnya yakni kopi, cengkeh, vanili, kakao, lada, pala sudah pernah diupayakan oleh masyarakat untuk dibudidayakan, namun tanaman perkebunan jenis ini tidak dapat tumbuh dan bertahan hidup karena kondisi dan suhu iklim yang tidak begitu mendukung dan cenderung panas.
Walau demikian, tanaman perkebunan seperti kelapa dan jambu mente bukan menjadi jenis tanaman andalan. Karenanya para petani di wilayah ini juga mengembangkan beragam tanaman palawija, sayur dan buah-buahan. Dalam satu kali panen, tanaman kelapa bisa memberi hasil sedikitnya 2,09 ton/ha dan jambu mente 18.81 ton/ha.
Adapun tanaman palawija yang dikembangkan, di antaranya adalah kacang tanah, kacang hijau, jagung, singkong dan jenis kacang-kacangan lainnya. Dengan perolehan hasil tanaman pertanian ini pun masih bergantung pada alam dan curah hujan, namun berdasarkan data yang diperoleh dari Desa Tanaduen, kacang tanah dalam satu musim tanam bisa menghasilkan 6 ton/lima hektar, sedangkan kacang hijau 8 ton/10-ha, sementara jagung dan jenis kacang-kacang lainnya bisa mencapai sedikitnya 100 ton/ha dan ubi singkong 0.50 hingga 2 ton/ha.
Selain mengembangkan lahan pertanian, masyarakat juga melakukan aktivitas beternak. Adapun hewan ternak yang dibudidayakan adalah sapi (15 ekor/5 KK), kuda (16 ekor/6 KK), babi (783 ekor/463 KK), kambing (420 ekor/230 KK), ayam (1.500 ekor/463 KK), itik (25 ekor/4 KK) dan anjing (25 ekor/15 KK).
Hingga saat teknologi pengolahan lahan pertanian dan sistem beternak, oleh masyarakat masih menggunakan cara lama yang masih tradisional. Untuk itu, kepada pemerintah masyarakat berharap agar ke depan mendapat pendidikan akan pengolahan dan beternak dengan cara modern. Terutama teknologi modern dalam mengolah pertanian pada lahan kering. (djo/cipto/nn/bersambung)
Read More...

Pramuka membentuk karakter bangsa

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

MAUMERE, SPIRIT--Pramuka merupakan salah satu kegiatan yang berperan membentuk karakter bangsa. Sikap dan perilaku anggotanya harus terus dibina ke arah yang lebih baik, demi terjaganya moral bangsa di mata negara-negara lain.
Implikasinya agar anggota pramuka di Kabupaten Sikka harus memberi contoh yang baik untuk sesamanya, baik di masyarakat maupun di lingkungan sosial tempat tinggal.
Hal ini disampaikan Dandim 1603 Sikka, Agus Abdulrauf, dalam amanatnya saat menjadi Pembina Upacara pada Apel Siaga Gugus Depan Pramuka Teretorial Kwartir Ranting Kecamatan Nita, di Lapangan Apel SMP Negeri 1 Nita, Jumat (15/2/2008).
Saat ini, kata Agus Abdulrauf, telah banyak terjadi penyimpangan perilaku yang merusak moral dan masa depan bangsa. Antara lain seperti tidak adanya rasa saling menghargai satu sama lain. Terjadinya pembunuhan terhadap orang tua oleh anak kandung, pembunuhan terhadap guru, atau sebaliknya orangtua membunuh anaknya.
"Karena alasan-alasan inilah, pendidikan pramuka perlu diberikan kepada para pelajar saat ini. Sebab, selain melalui pendidikan formal, pembinaan etika, sikap dan perilaku seorang pelajar juga dibina melalui pramuka, sebab generasi muda adalah generasi penerus pembangunan dan cita-cita bangsa. Mudah-mudahan melalui pramuka, perilaku, pemikiran dan tindak tanduk kita selalu di bina. Tujuannya untuk menjaga moral dan martabat bangsa," ujar Agus Abdulrauf
Melalui pramuka, lanjutnya, anggota pramuka juga dibina untuk mandiri, berpikir kreatif dan penuh gagasan membangun ke depan. Dengan demikian, ke depan melalui pramuka akan terbentuk generasi muda yang mampu menjaga moral bangsa dan memiliki kemauan untuk berbakti bagi negara.
Menurut Agus, minimal bhakti dan perilaku yang baik dapat ditunjukkan seorang anggota pramuka di lingkungan keluarganya. Dengan harapan kelak anggota pramuka yang ada dapat menjadi seorang pemimpin, dengan semangat membangun dan bermoral.
Untuk itu, katanya, seorang pramuka harus menunjukkan yang perilaku dan moral yang baik di hadapan teman-temannya, dengan tidak menegak minuman keras, punya rasa hormat terhadap orang tua dan berbagai aktivitas positif lainnya.
Usai memberikan amanat, Agus Abdulrauf, mengukuhkan Kepengurusan Gugus Depan Pramuka Teretorial Kwartir Ranting Kecamatan Nita. Turut hadir para camat se-Kabupaten Sikka, para komandan koramil kecamatan, para kepala sekolah se-Kecamatan Nita dan seluruh anggota pramuka, dari tingkat SD-SMA di Nita.
Sementara itu, Danramil Kota, Ida Bagus Wiryawan, kepada SPIRIT NTT mengajak seluruh pelajar di Sikka untuk tekun dan aktif sebagai anggota pramuka. Menurutnya, menjadi anggota pramuka berdampak besar terhadap kepribadian dan perubahan perilaku. (djo/humas Sikka)
Read More...

Ruang rawat inap Puskesmas Bola terlantar

Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

MAUMERE, SPIRIT-- Pada tahun anggaran 2007, Puskesmas Bola mendapat jatah rehabilitasi dua ruang rawat inap. Namun dalam pelaksanaannya, pengerjaan dua ruang rawat nginap tersebut ditelantarkan CV Jebao sebagai kontraktor pelaksana.
Demikian ungkapkan Kepala Puskesmas Bola, Rofinus Nining, kepada Tim V DPRD Kabupaten Sikka, di Kantor Canat Bola, Senin (18/2/2008). Tim DPRD Sikka terdiri dari
Petrus Jelalu, Arnoldus Donde Conterius, Gabriela Mako dan Patric da Silva.
Kunjungan kerja anggota DPRD Sikka ke Bola dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat terkait Laporan Akhir Masa Jabatan Bupati Sikka periode 2003/2008 dan Laporan Pertanggung Jawaban (LKPj) Bupati Sikka Tahun Anggaran 2007.
Dikatakan Rofinus, terhentinya pengerjaan rehap ruang rawat nginap di puskesmas tersebut sudah berlangsung selama dua bulan, sejak akhir November 2007 lalu. Sedangkan hasil pengerjaannya baru mencapai sekitar 25 persen.
Menurutnya, selama beberapa bulan terakhir jumlah pasien yang membutuhkan rawat inap, seperti ibu hamil, terus mengalami peningkatan. Rofinus berharap agar pelaksanaan pengerjaan dua ruang rawat inap ini secepatnya diselesaikan, mengingat kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan semakin meningkat.
"Saya berharap Dewan dan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan rehabilitasi dua ruang rawat inap di Puskesmas Bola. Karena jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan rawat inap terus bertambah," ujar Rofinus.
Kepada Tim V DPRD Sikka yang berkunjung, Rofinus menjelaskan bahwa pelayanan rawat inap terhadap pasien untuk sementara waktu meminjam bangunan milik Dinas Kehutanan yang ada di Kecamatan Bola.
"Untuk sementara pelayanan rawat inap kami lakukan dengan meminjam bangunan milik dinas kehutanan yang jaraknya tak jauh dari puskesmas. Saat ini baru satu ruangan yang terpakai dan disiapkan empat tempat tidur bagi pasien rawat inap," jelas Rofinus Nining.
Pihak Dinas Kesehatan kepada DPRD Sikka menjelaskan bahwa besarnya anggaran untuk merehab dua ruangan tersebut senilai Rp 48 juta lebih. Namun informasi terakhir yang diterima Dinas Kesehatan dari CV Jebao bahwa dana yang dianggarkan telah habis terpakai sehingga pelaksanaan rehap ruangan tidak dapat dilanjutkan. Sebelumnya, Dinas Kesehatan sudah melakukan konfirmasi dan menyurati CV Jebao terkait terhentinya pelaksanaan rehap ruang rawat inap tersebut.
Disaksikan SPIRIT NTT, pengerjaan yang dimulai September 2007 ini terlihat belum tuntas. Tampak dua unit WC/kamar mandi baru diplester dan lantainya belum dipasang jubin. Sementara lantai disalah ruang rawat inap baru dipasangi sebagian jubin, sementara langit-langit ruangan yang sudah terpasang tripleks belum dilaburi cet. Sedangkan daun pintu dan jendela belum terpasang, sehingga terlihat dibiarkan terbuka.
Gabriela Mako, salah seorang anggota DPRD Sikka saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pelaksanaan proyek ini perlu dilanjutkan, karena kebutuhan masyarakat akan pelayanan rawat inap di wilayah Kecamatan Bola cukup tinggi. "Jika pelaksanaan proyek ini tidak dilanjutkan, pelaksanaannya dapat dikategorikan sebagai proyek yang gagal," ujarnya.
Diswakelola
Kepala DPRD Sikka, selain mengemukakan masalah kesehatan, para tokoh masyarakat Kecamatan Bola menyampaikan masalah lain antara jalan yang rusak dan pendidikan.
Masalah pendidikan misalnya, sejauh ini hasil pelaksanaan proyek bangunan ruang belajar maupun pengadaan meubel yang dilaksanakan kontraktor melalui pola penunjukan langsung (PL) tidak membuahkan hasil yang maksimal dan jauh dari harapan. Banyak meja kursi yang belum seminggu pasca dikerjakan sudah dimakan rayap, sementara bahan bangunan yang digunakan tidak sesuai jenis kayu yang dianggarkan.
Untuk itu, sangat diharapkan agar pengelolaan dana yang ada digunakan pola swakelola, baik oleh pihak sekolah maupun komite diawasi secara ketat. Selain akan menghemat biaya juga hasil yang diperoleh lebih dari yang ada saat ini.
Seperti yang dikemukakan seorang tokoh nasyarakat Bola, Gonde, saat ini perabot dan fasilitas belajar di sejumlah SD yang ada di Bola seperti di SD Hokor dan SD Kopor telah mengalami kerusakan dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.
Untuk itu, Gonde berharap agar ke depan pemerintah dan Dewan berkoordinasi untuk menetapkan anggaran pengadaaan meubel sekolah, sebaiknya dilakukan secara swakelola yang dipercayakan kepada pihak sekolah atau komite sekolah dan masyarakat.
Dia juga berharap agar sejumlah bangunan mubazir yang ada di Kecamatan Bola, seperti kantor milik pengadilan dan sisa bangunan KUD, sebaiknya dihibahkan ke desa untuk dimanfaatkan.
Usai bertatap muka dan dialog, Tim V DPRD Sikka didampingi pihak eksekutif meninjau hasil proyek yang dilaksanakan sejak 2003 hingga 2007. Hal yang sama juga dilakukan Tim V di Kecamatan Mapitara dan Doreng. (djo/humas Sikka)
Read More...