Edisi: 07 - 13 Maret 2011
No. 259 Tahun V, Hal: 1
WAINGAPU, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B, menegaskan, jika ada riak-riak kecil di masyarakat yang mengarah kepada isu sara pasti bukan orang Sumba Timur.
Karena itu, Wabup Matius meminta seluruh masyarakat Sumba Timur mewaspadai orang baru yang masuk ke Sumba Timur. "Jika di lingkungan Anda ada orang baru, segera laporkan kepada RT setempat. Jika ada isu atau informasi sesat yang bersifat propaganda, segera laporkan ke polisi. Jangan lagi disebarkan kepada orang lain," imbau Matius di sela-sela kerja bakti di Pura Cendana Waingapu, Selasa (1/3/2011).
Matius kembali menegaskan bahwa sesungguhnya damai adalah kebutuhan setiap manusia dan sangat mahal harganya. Menurut Matius, ada sembilan kebutuhan dasar manusia, antara lain makan, air, pakaian, rumah, keamanan, rekreasi dan aktualisasi diri.
"Kegiatan ini (kerja bakti) suatu tindakan nyata untuk memelihara perdamaian karena damai itu mahal. Coba lihat Afghanistan, hanya untuk mencari kedamaian mereka lari meninggalkan tanah kelahirannya dan bersabung nyawa. Lihatlah mereka yang negaranya tidak damai. Hidup tidak aman. Karena itu, kita yang ada di daerah ini patut bersyukur karena kita masih diberi kedamaian oleh Tuhan," kata Matius.
Untuk diketahui, menjelang tahun baru Saka itu, para pemuda lintas agama di Sumba Timur, Selasa (1/3/2011), berkumpul di Pura Cendana Waingapu. Mereka berbaur sambil membersihkan lingkungan dan mempercantik pura.
Kegiatan yang disponsori Polres Sumba Timur dan Panitia Hari Raya Nyepi Kabupaten Sumba Timur itu dimulai pada pukul 07.30 dan berakhir sekitar pukul 09.30 Wita. Ikut hadir Wakil Bupati Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B, Kapolres Sumba Timur, AKBP I Made Darmadi Giri, SIK, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sumba Timur, Ustadz Baco Suman HI, pendeta dari GKS dan tokoh pemuda dari Gereja Katolik Wara.
Kapolres Sumba Timur, I Made Giri, SIK di sela kerja bakti tersebut mengungkapkan, kegiatan menjelang perayaan Nyepi tersebut sengaja melibatkan para pemuda dari berbagai kelompok dan agama dalam rangka silaturahmi sekaligus memupuk rasa persaudaraan guna menangkal berbagai isu atau konflik bernuansa sara yang datang dari luar Sumba Timur.
Made mengatakan, Sumba Timur sudah lama dikenal sebagai ikon kerukunan di NTT bahkan Indonesia. Kondisi ini, kata Made, perlu dipelihara. Dengan memperkuat kerukunan, kata Made, kita bisa menangkal berbagai isu dari luar yang berpotensi memecah-belah masyarakat di daerah itu. Made mengaku kagum dengan respons positif para pemuda di daerah itu karena hanya dengan undangan lisan, mereka mau terlibat dalam kerja bakti tersebut.
Made mengatakan, semua agama mengajarkan kebaikan. Tidak ada umat yang lebih hebat karena kehebatan hanya milik Tuhan. "Damai itu mahal karena itu harus dijaga. Keamanan itu kebutuhan dan milik semua orang. Saya berharap seluruh masyarakat di daerah ini saling protek atau saling melindungi keluarga masing-masing, lingkungan. Saling bekerja sama dan memupuk rasa kebersamaan sehingga kerukunan tetap terjaga," kata Made.
Baik Matius maupun Made berharap agar kegiatan seperti itu tidak berhenti pada hari itu, tetapi bisa berlanjut ketika ada hari raya keagamaan yang lain seperti Natal, Paskah dan Lebaran. (dea)
Read More...
Waspadai Orang Baru
MENJILAT KE ATAS
Edisi: 07 - 13 Maret 2011
No. 259 Tahun V. Hal: 1
"JANGAN menjilat ke atas dan menendang yang di bawah. Rangkul dan laksanakan tugas sesuai dengan tupoksi."
Pesan moral ini disampaikan Bupati Sumba Timur (Sumtim), Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, ketika melantik dan mengambil sumpah 76 pejabat eselon III lingkup Setda Sumtim di Waingapu, Jumat (25/2/2011).
Sebanyak 76 jabatan eselon III itu mengisi kekosongan akibat ditinggal pejabat sebelumnya karena promosi atau pensiun. Dalam acara pelantikan pejabat eselon III yang dihadiri para pimpinan muspida setempat, pimpinan SKPD di daerah itu, Gidion mengatakan, dalam struktur organisasi dan managemen pemerintahan, posisi pejabat eselon III sebagai middle management sangat strategis karena dapat memberikan pertimbangan kepada pimpinan dalam proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Juga dituntut untuk mampu mengartikulasi dan menjabarkan ide, gagasan serta kebijakan organisasi secara teknis.
"Bagi pejabat eselon III diharapkan selain memberikan pertimbangan kepada atasan juga harus memperhatikan bawahan. Bukan sebaliknya menjilat ke atas dan menendang di bawah," kata Gidion.
Gidion menegaskan, dalam diri pejabat eselon III melekat sejumlah kewenangan yang harus dijalankan berkaitan dengan tugas pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan organisasi.
Pertautan tugas dan fungsi dalam menggerakkan organisasi, demikian Gidion, ditentukan sejauhmana para pejabat struktural memahami tugas pokok dan fungsinya, bekerja dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai serta mampu bekerja sama dalam tim. Pejabat eselon III, lanjut Gidion, harus mampu mengemban peran sebagai inisiator dan dinamisator dalam mendukung pimpinan dan memberdayakan staf. "Jangan berperan sebagai penunggu perintah atau menanti order pekerjaan dari atasan," tegas Gidion.
Gidion mengatakan, perubahan terus berlanjut. Karena itu, menuntut tata kelola pemerintahan yang baik. Perubahan peraturan, demikian Gidion, selalu diikuti dengan perubahan sistem dan prosedur dalam bekerja. Kondisi ini menimbulkan resiko-resiko baru yang harus diidentifikasi dan diantisipasi oleh seluruh jajaran pemerintahan.
"Kita semua berada dalam era persaingan yang mengedepankan keunggulan dan kualitas. Belajar dan terus belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang menjadi pintu masuk dalam berkompetisi secara sehat. Efisiensi dan profesionalisme dalam bekerja dengan pelayanan yang cepat, terpadu, persyaratan yang jelas, target, waktu dan biaya yang pasti merupakan bagian dari keuanggulan kualitas pelayanan sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah," jelas Gidion.
Gidion menegaskan, mutasi atau pergeseran pejabat merupakan kepercayaan dan penghargaan terhadap prestasi, kompetensi dan dedikasi yang telah ditunjukkan dalam tugas sekaligus untuk penyegaran dan perluasan pengalaman dalam rangka penguasaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Gidion meminta para pejabat yang dilantik memelihara penghargaan dan kepercayaan yang diberikan tersebut dengan menunjukkan prestasi dan perbaikan kinerja.
Dikatakan Gidion, setiap pejabat harus memiliki keterikatan secara fungsional, struktural dan emosional terhadap organisasi serta pemahaman, komitmen dan kemauan yang sama untuk bersinergi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab pelayanan. (dea)
Read More...
Lapor Informasi SARA Kepada Pemerintah

Edisi: 07 - 13 Maret 2011
No. 259 Tahun V, Hal: 6
WAINGAPU, SPIRIT--Masyarakat Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) diimbau tidak terpancing isu-isu sesat dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jika ada informasi berbau SARA segera melaporkan kepada aparat kepolisian atau pejabat pemerintah terdekat.
Imbauan itu dikeluarkan tokoh agama, tokoh masyarakat, Pimpinan Muspida Kabupaten Sumba Timur, Sabtu (26/2/2011). Imbauan bersama itu merupakan hasil keputusan dalam rapat para tokoh agama, tokoh masyarakat dan Pimpinan Muspida Sumba Timur di rumah jabatan Wakil Bupati Sumba Timur, Sabtu (26/2/2011).
Tokoh agama, tokoh masyarakat dan muspida mengeluarkan imbauan itu untuk mengantisipasi konflik sosial akibat maraknya aliran baru yang masuk ke Sumba Timur serta aksi kekerasan bernuansa sara di daerah lain beberapa waktu lalu. Apalagi beredar pesan singkat yang bersifat provokasi terkait kasus perusakan rumah ibadah di Temanggung, Jawa Tengah.
Dalam dua bulan terakhir ada tiga kejadian bernuansa sara yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan di daerah itu. Pertama, pada 7 Januari 2011 ada laporan dari Camat Pahunga Lodu tentang adanya Kelompok Doa Bethesda di Kurukawikit, Kecamatan Pahunga Lodu yang ajarannya dan perilaku pengurusnya tidak sesuai dengan ajaran Kristen pada umumnya.
Kelompok Doa yang menurut informasi dibentuk oleh orang bernama Posma Siregar dan Paun Tang tersebut bahkan sudah diikuti PNS (guru dan bidan desa), pengurus gereja setempat dan mulai masuk ke sekolah dasar yang ada di desa tersebut. Hadirnya ajaran baru yang dibawakan kelompok doa tersebut meresahkan masyarakat, tokoh agama termasuk kepala desa.
Namun belum sampai terjadi konflik, pemerintah daerah bersama aparat Kuruwaki dan Kecamatan Pahunga Lodu bergerak cepat melokalisir penyebaran ajaran dari kelompok doa tersebut. Para pengikutnya dipanggil dan diberikan pemahaman hingga mereka menyatakan kembali ke ajaran Kristen yang sebenarnya dan membubarkan diri.
Kedua, munculnya aliran baru/dedonasi baru GBT Tuhan Beserta Kita pada tanggal 1 Februari 2011 di Kecamatan Pahunga Lodu. Aliran tersebut disebarkan oleh penginjil bernama Daud Panda Bandjal yang mendapat tugas dari Pdt. Daniel Filemon dari Jakarta. Pimpinan Gereja di Sumba Timur menilai aliran ini menyimpang dari ajaran Kristen karena Al Kitab yang digunakan hasil terjemahan Yayasan Lentera Bangsa pimpinan Pdt. Yahya Iskandar bukan terjemahan LAI.
Aliran ini juga mengganti kata Allah dengan Yahwe sesuai dengan nama aslinya dalam bahasa Ibrani. Ajaran ini meyakini Yahwe Elohim dan tidak mengakui Tritunggal Allah. Jemaat aliran ini sebagian besar berada di Kapoku, Desa Laihau, Kecamatan Lewa dan Desa Praibakul Kecamatan Haharu. Para pengikut dan penginjil dari ajaran ini bahkan sudah berencana membangun Gereja Bethel Tabernakel Tuhan Beserta Kita di Laihau, Desa Tanarara, Kecamatan Lewa.
Terakhir 17 Pebruari 2011, sekitar pukul 19.00 dan 23 Pebruari lalu, di depan MIS Maujawa nyaris terjadi tawuran antara permuda Kampung Barat sekitar GBI dan pemuda Kampung Baru sekitar jalan menunju Dermaga Pelabuhan Waingapu. Kejadian tersebut berawal dari perebutan lahan di Pelabuhan Waingapu. Namun fenomena ini bisa diredam oleh aparat keamanan melalui pendekatan dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda kedua belah pihak.
Mencegah terjadi konflik, Badan Kesbangpol Sumba Timur mengarahkan para pengurus dan penginjilnya untuk berkoordinasi dengan Departemen Agama Sumba Timur.
Wakil Bupati Sumba Timur, dr. Matius Kitu langsung memanggil penginjil, Daud Panda Banjal dan memberikan pemahaman dan pencerahan kepada yang bersangkutan, Kamis (17/2/2011). Terhadap aliran/ dedonasi baru yang masuk ke Sumba Timur, forum bersama Muspida, tokoh agama dan tokoh masyarakat Sumba Timur mengimbau agar melaporkan diri dan mendaftar ke Kantor Kementerian Agama setempat. Sementara menunggu legalitas dari Kementerian Agama, seluruh kegiatan berkaitan dengan penyebaran aliran tersebut akan tetap dipantau.
Bagi warga masyarakat diimbau melaporkan setiap potensi kerawanan sosial yang bernuansa sara kepada aparat terdekat. Kepada forum pemuda, organisasi kemasyarakatan seperti Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FKB) dan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) di daerah itu diminta melakukan deteksi dini, pemantauan potensi-potensi yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban serta kerukunan sosial. (dea)
Read More...
Kades Mulut Besar, Dana PNPM Besar

Edisi: 07 - 13 Maret 2011
No. 259 Tahun V, Hal: 1
WAINGAPU, SPIRIT-- Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si menyoroti `ketidakadilan' pengalokasian dana PNPM Mandiri ke desa-desa yang ada di daerah itu. Jangan karena kepala desanya mulut besar, dapat dana PNPM juga besar.
"Ada desa yang tidak dapat PNPM. Ada juga yang dapat PNPM tapi jumlahnya sangat kecil. Ada desa yang hanya dapat Rp 20 juta atau Rp 50 juta hanya karena kalah suara dalam rapat pengambil keputusan di kecamatan. Sementara ada desa yang mendapat dana besar karena kepala desanya berbicara banyak. Saya minta diatur kembali. Fasilitator dan para camat harus turun ke desa-desa, dan cermati kondisi yang ada di desa. Jangan hanya mendengar laporan kepala desa," kata Gidion dalam Rapat Kerja (raker) Pamong Praja Kabupaten Sumba Timur, belum lama ini.
Gidion mengatakan, PNPM memiliki aturan sendiri namun disesuaikan juga dengan kondisi yang ada di desa karena masing-masing desa memiliki kebutuhan prioritas.
Menurutnya, penentuan besaran dana untuk setiap desa hanya berdasarkan laporan kepala desa (kades), tanpa ada survai lokasi atau desa sasaran. Akibatnya, desa yang kepala desanya banyak bicara mendapat dana lebih besar daripada desa yang kepala desanya cuma diam atau tidak hadir dalam pertemuan penentuan alokasi.
Gidion mengatakan, tahun ini total dana PNPM untuk Kabupaten Sumba Timur termasuk dana pendampingan dari APBD II Sumba Timur total sebesar Rp 60 miliar. Namun dalam pembagian ke desa-desa sasaran, kata Gidion terjadi ketimpangan yang cukup tajam antara desa-desa sasaran.
Gidion juga minta agar pelaksanaan program terutama yang berkaitan dengan pekerjaan fisik melibatkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) sehingga bisa menjamin kualitas pekerjaan. "Saya minta PU dilibatkan khususnya untuk pekerjaan fisik sehingga tidak asal bangun lalu dalam satu dua bulan sarana prasarana tersebut sudah hancur," tegas Gidion.
Hentikan Lobi-lobi
Menanggapi permintaan Bupati Sumtim, Gidion Mbilijora, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Sumtim, Yakobus Yiwa, mengatakan, penentuan alokasi dana PNPM untuk masing-masing desa sasaran diputuskan dalam rapat bersama di tingkat kecamatan.
Pengambilan keputusan, katanya, tidak harus dihadiri oleh semua kepala desa. Keputusan sudah bisa diambil jika peserta rapat yang hadir mencapai 3/2 dari jumlah kepala desa di satu kecamatan. Akibatnya, kata Yiwa, di desa-desa yang kepala desanya tidak hadir, maka dapat alokasi dana kecil.
Untuk menghindari ketimpangan alokasi ke desa-desa sasaran, kata Yiwa, ke depan rapat pengambilan keputusan di kecamatan harus dihadiri semua kepala desa dari desa-desa sasaran. "Kalau masih ada kepala desa yang belum hadir sebaiknya rapat ditunda. Jangan langsung ambil keputusan," saran Yiwa.
Dia juga menyoroti perilaku para kepala desa yang terlibat terlalu jauh dalam penentuan supplier bahan bangunan untuk pekerjaan fisik Program PNPM di desa.
"Tarik menarik kepentingan kepala desa dalam penentuan supplier berdampak pada kualitas pekerjaan. Sebenarnya sudah sering terjadi masalah di desa. Hanya belum diangkat ke permukaan. Karena itu, ke depan praktik lobi-lobi mencari supplier segera dihentikan," katanya. (dea)
Read More...
* Manusia Raksasa Sumba, Mungkinkah Pernah Hidup?
Edisi: 07 - 13 Maret 2011
No. 259 Tahun V
DARI tiga puluh cerita rakyat Sumba Timur yang berhasil dihimpun, sebagian besar bercerita tentang mulimongga (manusia raksasa), tentang meurumba (singa dan harimau). Di Sumba Barat ada cerita tentang gajah.
Dalam image orang Sumba diyakini bahwa manusia raksasa itu memiliki tinggi badan 4 meter, dan sekali melangkah bisa mencapai beberapa ratus meter. Ini sebuah hiperbolisme tentunya, mengingat Homo Neanderthal yang ditemukan di Dusseldorf, Jerman Barat, pada 1856 mempunyai tinggi badan hanya 210 cm, berat badan 150 kg, serta volume otak 2000cc (orang Eropa modern 1480-1550 cc).
Manusia raksasa Sumba Barat disebut maghurumba atau meurumba, sedangkan di Sumba Timur disebut mulimongga dengan ciri-ciri bulu panjang, gigi sebesar kapak, sekali melangkah beberapa ratus meter, karena itu suku Kambera menyebutnya "punggu pala" yang artinya potong kompas.
Sifat-sifat manusia raksasa Sumba, yakni bodoh, takut anjing, takut mendengar suara tokek, kanibalistis. Hal ini mengingatkan kita pada Homo Soloensis yang hidup 429.000 - 236.000 tahun yang lalu, yang menurut Dr. Frans Dahler dalam bukunya Asal dan Tujuan Manusia juga kanibalis. Kecuali itu tutur kata manusia raksasa Sumba dikatakan belum sempurna sama seperti anak-anak yang baru belajar berbicara, mengingatkan kita pada Homo Neanderthal yang hidup 250.000 tahun yang lalu juga halnya sama.
Beberapa cerita burung Sumba Timur menyebutkan, sekitar tahun 1927 masih ditemukan satu mulimongga di Desa Komba Pari, Kecamatan Lewa, kemudian juga di Kecamatan Mangili, bahkan ada marga Mangili menyebutkan bahwa mereka turunan mulimongga. Sekitar 25 tahun yang lalu di Desa Watumbelar, Kecamatan Lewa, dikabarkan ditemukan rangka manusia yang tinggi badannya 4 meter.
Di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, dekat tanjung Keroso, ada nama tempat Maghurumba. Diyakini di sinilah kuburan manusia raksasa yang angker, kerena itu kalau liwat ke situ tidak boleh menyebut-nyebut namanya agar tidak mendapat bencana. Di Sumba Timur ada juga tempat yang disebut Meurumba, namun secara etimologis/etiologis nama itu mengandung arti kucing hutan raksasa yang merupakan gambaran singa dan harimau, sehingga besar kemungkinan di Sumba pernah hidup singa, harimau dan gajah. (Baca: Belum Saatnyakah Teori Wallace Itu Ditinjau Kembali?/Frans W Hebi, Dian No.5 Th XI, 10-8-1984).
Ada jenis raksasa lain dalam cerita Kodi yang disebut lengga ghughu (kuku panjang dan lengkung) yang ada kesamaannya dengan raksasa Jawa 600.000 tahun yang lalu. Lengga Ghughu sudah bisa bertutur kata secara sempurna tetapi masih bodoh sehingga diperdaya oleh dua anak kecil yang ibunya dibunuh raksasa itu. Lengga Ghughu membakar ubi di bawah pahon, sementara dua anak malang berada di atas pohon. Semua ubi yang kecil dimakan lebih dahulu oleh raksasa tadi, yang besar ditaruh di belakang. Anak-anak menjolok semua ubi yang di belakang. Ketika raksasa berpaling ke belakang untuk mengambil ubi-ubi yang besar, ternyata tidak ada satupun yang tersisa.
Raksasa yang bodoh mencurigai semua anggota tubuhnya kalau-kalau mereka yang berbuat curang. Ditanyainya satu per satu kemudian dijawab sendiri olehnya. Misalnya, "belakang, kaukah yang mencuri ubi saya?". "Tidak, saya malaham berkorban ditimpa matahari ketika kau menggali ubi", sendiri menjawab. Setelah semua anggota tubuh ditanyai, kecuali pantat, Lengga Ghughu berkesimpulan bahwa pantatlah yang berbuat curang, dan karenanya tidak perlu ditanyai lagi. Dia meruncing batang tamiang yang ujungnya dimasukkan ke pantat seraya menusuk-nusukkannya hingga tewas.
Masih banyak cerita raksasa Sumba. Dari mana makhluk-makhluk itu? Sebenarnya bukan hanya Sumba yang memiliki mitos tentang manusia raksasa. Hampir di seluruh dunia. Di India namanya Yeti, di Cina Meh-The, Kaptar dari Rusia, Alma dari Mongolia, dan Bigfoot dari Amerika Utara.
Menurut para ahli purbakala, empat kali bumi mengalami pencairan es. Zaman es pertama dimulai 600.000 hingga 500.000 tahun yang lalu. Jaman es kedua, 480.000 hingga 420.000. Jaman es ketiga dan keempat (terakhir) berlangsung antara 230.000 - 180.000, dan 180.000 - 10.000 tahun yang lalu. Dalam keadaan es manusia purba cenderung mencari daerah yang lebih panas antara lain ke Indonesia yang kerika itu masih sedaratan dengan benua asia. Dapat dimengerti mengapa begitu banyak fosil manusia purba di Indonesia, khususnya di Jawa seperti Manusia Solo (Homo Soloensis), Manusia Trinil, Manusia Sangiran, dan Manusia Majokerto.
Kiranya manusia-manusia inilah yang dimitoskan dan dijelmakan dalam dongeng-dongeng orang Sumba. Raksasa Jawa, misalnya, ditafsirkan hidup antara 600.000 - 543.000 tahun yang lalu (zaman es pertama), ternyata seumur dengan manusia Australopithecus Boisei di Tanzania Afrika Selatan hasil temuan Dr. Leaky.
Contoh lain, gajah yang disebut-sebut dalam dongeng Sumba, ternyata bukan sekadar dongeng. Pada 26-8-1978 tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkheologi Nasional Jakarta yang terdiri dari Dr. RP Soejono Rokhus Due Awe, Agung Sukardjo, Suroso, serta Dr. Sartono dari Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung, menemukan mandibula (rahang) gajah. Stegedon ini ditemukan di Watumbaka 14 km dari Waingapu.
Oleh Sartono dalam artikelnya, "Penemuan Fosil Stegedon di Pulau Sumba (NTT)" dinamakannya Stegedon Sumbaensis. Itu merupakan rentetan penemuan stegedon Sompoensis Sulawasi (1964), Stegedon Timorensis dari Timor (1969), Stegedon Trigonocephalus Florensis dari Flores (1975), dan Stegedon Mindanensis dari Mindanau Filipina (Amerta Berkala Arkheologi Nasional Jakarta 1981, hl. 54).
Mendahului penemuan di Watumbaka, pada tahun 1977 di Kecamatan Lewa, ketika Kornelis Ng. Bani menggali sumur, dia menemukan fosil gajah pada kedalaman 4,64 meter. Begitu pula ketika menggali sumur yang dekat sumur lama pada tahun1981 dan 1982 lagi-lagi dia menemukan fosil yang sama dengan gadingnya dalam bentuk mini. Fosil-fosil ini dikirim ke Jakarta untuk diteliti. Kornelis menyimpan satu gigi geraham dengan ukuran 75 mm, tinggi 80 mm dan lebar 30 mm.
Dari Jakara lewat Kepala Bagian Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur, Panji Manu, diperoleh berita bahwa fosil di Lewa menunjukkan jenis gajah kerdil yang hidup 45.000 tahun yang lalu, dan di tempat penemuan itu dulunya rawa-rawa. Hasil temuan fosil gajah baik di Watumbaka maupun di Lewa, termasuk stegedon-stegedon di Indonesia Timur lainnya, sebenarnya membuktikan bahwa teori Wallace yang dikenal dengan garis khayalnya yang membagi dunia fauna Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur tidak berlaku lagi.
Jika temuan rangka purba di Kecamatan Rindi Kabupaten Sumba Timur tahun 2005 lalu membawa hasil, berarti Homo Sumbaensis akan menambah khazana perfosilan di Indonesia. Selain itu apa yang menjadi mitos selama ini akan menjadi kenyataan seperti halnya dengan dongeng tentang gajah. Tapi, hingga saat ini belum ada berita balik, baik dari Bandung maupun dari Jakarta tentang hasil penelitian tersebut.
(http://www.waingapu.com)
Read More...
Mengakrabi Pesona Tana Humba...

Edisi: 08 - 14 November 2010
No. 242 Tahun V, Hal: 1
WAKTU menunjukkan pukul 13.42 Wib ketika saya masih terbang di antara gumpalan-gumpalan awan. Sesaat lagi, pesawat Merpati Fokker 100 yang saya tumpangi mendarat di Bandara Umbu Mehang Kunda-Waingapu.
Selama ini saya hanya mengetahui wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui buku atau percakapan teman-teman. Dalam percakapan itu, semuanya menggambarkan tentang keindahan alam NTT dan penduduknya yang masih memegang teguh adat istiadat. Dan, saya berharap perjalanan ini akan membuktikannya.
Bandara Umbu Mehang Kunda adalah bandara kecil kedua yang saya datangi setelah Bandara Raden Inten di Lampung. Dan, bandara yang ini benar-benar kecil. Maskapai penerbangan yang melayani ke Kota Waingapu, selain Merpati Airlines,
sejenis pesawat perintis, Fokker 100, juga ada Batavia dan TransNusa. Melangkah ke dalam ruang kedatangan, saya disambut dengan keramaian orang-orang Sumba, entah itu penjemput atau porter.
Di bawah jendela kedatangan, saya melihat satu buah converyor belt yang panjangnya tidak lebih dari dua meter. Saya kira, conveyor belt itu sudah tidak berfungsi dan djadikan tempat duduk. Tetapi saya salah. Dan, inilah keunikan pertama yang saya jumpai. Saat trolley bagasi sudah mendekat ke depan ruang kedatangan, saya lihat petugas bagasi sibuk melemparkan bagasi-bagasi penumpang dari luar jendela ke dalam ruang kedatangan, tepat di atas conveyor belt! Astaga! Antara kengerian dan rasa ingin tertawa, saya bilang pada penjemput saya bahwa saya akan ambil sendiri bagasinya di luar. Tidak perlu menunggu kopernya di lempar ke dalam.
Udara di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur ini, kering dan terik. Sesaat sebelum mendarat, saya sempat melihat topografi Sumba Timur ini yang lapang dan berbukit-bukit, kering (lihat Meneroka Papua dan Sumba Timur). Saya sudah menduga bahwa wilayah ini pasti sering mengalami kekeringan. Sempat terpikir bahwa dengan kondisi curah hujan yang sedikit, bagaimana caranya para petani bertani? Padahal sepengetahuan saya, sebagian besar mata pencaharian penduduk di Sumba adalah petani, selain beternak dan bercocok tanam. Pertanyaan tersebut saya simpan untuk nanti.
Barangkali akan saya temukan jawabannya saat bertemu dengan mitra kerja saya atau saat ngobrol langsung dengan masyarakat.
Kedatangan saya disambut oleh penjemput yang sudah siap dengan mobil sewaan. "Selamat datang, Ibu. Mari kita langsung menuju ke kantor," sambutnya dengan logat khas masyarakat Sumba.
"Terima kasih, mari. Omong-omong, di mana lokasi kantornya? Tidak jauhkah dari bandara?" Saya berharap dapat beristirahat sejenak di kantor mitra. "Oh, tidak ibu. Kantor kami ada di Waikabubak. Sekitar enam jam perjalanan dari sini," jawabnya dengan ekspresi datar.
Hmm, sepertinya penjelajahan saya hari itu tidak berhenti di Bandara Umbu Mehang Kunda saja. Tapi tidak apa, pikir saya. Hari belum gelap, dan saya masih punya kesempatan melihat-lihat pemandangan selama perjalanan. Waingapu merupakan kota terbesar di Pulau Sumba yang menjadi bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur. Orang seringkali tertukar antara "Sumba" dan "Sumbawa". Pulau Sumba merupakan salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur yang memiliki empat kabupaten, yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah. Sementara Sumbawa, merupakan salah satu kabupaten di NTB.
Kata "Sumba" berasal dari "Humba" atau "Hubba" yang berarti asli. Masyarakat Sumba sering menyebut pulau mereka sebagai "Tana Humba" atau Tanah Asli, dan memanggil diri mereka dengan sebutan "Tau Humba" atau Orang Asli.
Mayoritas masyarakat Sumba beragama Kristen atau Katolik yang diperkenalkan oleh misionaris Belanda. Namun, bukan berarti masyarakat telah meninggalkan kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur mereka. Tercatat sekitar 39 persen penduduknya masih mempertahankan kepercayaan animisme yang disebut "Marapu". Fakta yang membuat saya terkagum-kagum adalah kepercayaan Marapu dan agama Kristen di Sumba dapat berjalan berdampingan tanpa menimbulkan konflik. Pada beberapa desa, kepercayaan Marapu ini justru dapat mendorong terjadinya perlindungan alam, seperti di Desa Watumbelar yang saya kunjungi.
Kuda Sumba
Kekhasan lain dari Sumba ini adalah kuda. Jika di Jakarta saya seringkali mendengar orang-orang meperbincangkan susu kuda liar yang katanya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, maka di sini saya melihat dengan jelas kuda-kuda tersebut hidup liar di alam bebas. Saya perhatikan sepanjang jalan, pada bukit-bukit hijau, kuda-kuda tersebut merumput dengan tenang.
Kuda memang memiliki ikatan historis yang kuat bagi masyarakat Sumba. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak pertengahan abad ke-18, yang awalnya lebih banyak digunakan sebagai alat transportasi. Daerah ini kemudian dikenal sebagai tempat penangkaran kuda pada abad ke-19, ketika Belanda mulai melakukan perbaikan kualitas dengan cara mengawinkan antara kuda Arab dengan kuda lokal. Kuda baru hasil dari kawin silang inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kuda Sumba hingga saat ini, dan dikenal dengan istilah Kuda Sandel (Sandelwood). Kuda-kuda ini juga terkenal sebagai kuda pacuan, yang konon kabarnya harganya dapat berkisar antara 40 -100 juta rupiah, bahkan lebih.
Kuda sebagai bagian dari adat Sumba terlihat dari berbagai macam fungsinya. Di antaranya adalah sebagai bentuk persembahan dalam acara pernikahan dan kematian masyarakat. Kuda juga merupakan simbol harga diri dan kebanggaan. Oleh karena itu, kuda juga dijadikan maskot dan dimasukkan dalam lambang daerah.
Tradisi yang terkenal berkaitan dengan kuda ini adalah pasola. Pasola adalah salah satu upacara tradisional bagi masyarakat penganut kepercayaan Marapu untuk meminta berkah kepada para dewa. Tujuannya agar hasil panen tahun itu berhasil baik. Di Sumba Barat, ritual ini diadakan setiap tahunnya, antara bulan Februari dan Maret.
Pasola dilaksanakan dengan mengadakan acara "perang-perangan" yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda. Masing-masing kelompok terdiri dari 100 pemuda yang bersenjatakan tombak berujung tumpul. Dalam permainan ini, terkadang terjadi korban jiwa yang diartikan sebagai hukuman para dewa bagi korban tersebut. Sayang, karena berkunjung saat November, alhasil saya tak sempat menyaksikan acara ini berlangsung.
Rumah Adat
Sepanjang perjalanan, saya hanya melihat sabana yang terhampar luas, sambil sesekali melihat rumah-rumah penduduk pada kampung yang dilewati. Rumah-rumah penduduk bergaya khas Sumba dengan dinding kayu dan beratap rumbia. Ada yang beratap tinggi, namun ada juga yang beratap pendek.
Rumah adat ini merupakan hasil penggabunan aliran Polinesia dan Indochina yang dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu Lei Bangun (kolong rumah) yang digunakan sebagai tempat memelihara ternak; Rongu Uma (tingkat kedua) yang berfungsi sebagai tempat tinggal; dan Uma Daluku (menara atau loteng) yang digunakan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan penyimpanan barang-barang pusaka. Membangun rumah adat tidaklah sembarang. Ada berbagai macam filosofi dan aturan yang harus dipahami. Umumnya, di sekitar rumah juga terdapat kuburan megalitik, dengan batu-batu besar.
Sangat menarik melihat kehidupan masyarakat Sumba yang masih mempertahankan adat kebudayaan aslinya, sekalipun zaman di sekitarnya kini mulai berubah seiring dengan masuknya teknologi dan informasi. Atau barangkali kondisi yang membuatnya lambat melakukan transformasi menjadi masyarakat modern?
Saya pun tidak begitu paham. Yang jelas, masih ada wilayah-wilayah di Sumba yang belum memiliki listrik. Belum lagi permasalahan air yang sulit sekali mereka atasi ketika musim kering. Saat saya berbicara dengan salah satu petani Sumba, beliau hanya mengatakan bahwa selama musim kemarau, sawahnya hanya mengandalkan sistem tadah hujan. Dan, jika hujan tak kunjung datang, mereka bercocok tanam palawija agar dapat menyambung hidup.
Saya menyadari bahwa sebetulnya Nusa Tenggara Timur kaya akan obyek wisata, baik dari segi alam maupun kebudayaannya. Saya barangkali tidak sempat mampir ke tempat-tempat wisata untuk menikmati indahnya alam Sumba. Namun, melihat budaya dan masyarakatnya secara lebih dekat saja sudah cukup membuat saya melihat dunia lain yang sama sekali baru dari bumi Indonesia ini. Dan, saya bangga dengan warisan budaya yang dipegang teguh ini.
Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Pulau Sumba. Di Sumba Timur, terdapat Pantai Kalala, Tarimbang, Purukambera, dan Walakiri yang diminati wisatawan sebagai tempat surfing. Begitu juga dengan pesona alam di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Sementara untuk Sumba Barat, terdapat Pantai Rua/Wanokaka, Pantai Nihi Watu, Pantai Konda Maloba, dan Pantai Marosi. Masing-masing obyek wisata ini memiliki jarak yang cukup jauh. Untuk mencapainya, kita harus menggunakan kendaraan bermotor.
Sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk membeli selembar tenun ikat khas Sumba Timur. Ada perbedaan pola tenun ikat antara Sumba Timur dan Barat. Di Sumba Barat, motif tenun didominasi dengan simbol-simbol sederhana, seperti bunga atau garis.
Sementara di Sumba Timur, motif bisa bervariasi antara naga, singa, burung, atau pohon andung (untuk perbandingan, lihat juga Tenun Ikat Perempuan Sasak di Nusa Tenggara Barat).
Awalnya harga yang ditawarkan adalah Rp 250 ribu. Namun saya tawar saja menjadi Rp 125 ribu. Harga tenun ikat ini memang bervariasi. Jika lama pengerjaannya memakan waktu hingga setahun lebih dan menggunakan pewarna alam, harga jual bisa diatas Rp 1 juta.
Desa-desa yang terkenal dengan tenun ikatnya yang berkualitas, di antaranya, adalah Desa Kaliuda, Kecamatan Pahungalodu; Desa Rindi dan Watuhadang, Kecamatan Rindiumalulu; Desa Rambangaru di Kecamatan Pandawai, dan Kelurahan Prailulu.
Perjalanan saya di Sumba tidak lebih dari empat hari dengan sebagian besar didominasi oleh urusan pekerjaan. Namun dalam waktu yang sempit itu, saya terkesima dengan Sumba: keindahan alam, keramahan dan kesederhanaan penduduk, dan keagungan adat budayanya. Di sini, waktu seakan berhenti.
Di Desa Watumbelar, saya diperkenalkan dengan budaya masyarakat Sumba sebenarnya. Saya merasakan tidur di atas rumah panggung tanpa listrik. Dan kamar mandi pun berada di luar rumah. Masyarakat mungkin masih menunggu hingga modernitas benar-benar menyentuh mereka. Namun yang jelas, keteguhan untuk menjaga nilai dan adat warisan leluhur tidak akan sirna ditelan peradaban yang disebut modernitas. Mari kita lihat, akan seperti apakah Sumba dalam 10 tahun mendatang! (spirit ntt/asyma sianipar)
Read More...
Sumba Timur Jadi Lumbung Pangan Lokal

Edisi: 01 - 07 November 2010
No. 241 Tahun V, Hal: 11
WAINGAPU, SPIRIT--Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, mengatakan, selama lima tahun masa kepemimpinannya ke depan, dirinya bersama wakil bupati akan menjadikan Sumba Timur sebagai lumbung pangan lokal, lumbung ternak dan kabupaten rumput laut. Tiga komoditi ini paling cocok dengan iklim Sumba Timur.
Dia mengungkapkan, pangan lokal merupakan keunggulan lokal Sumba Timur. Karena itu, Gidion minta seluruh komponen di daerah ini ikut berpartisipasi mengembangkan pangan lokal untukmemenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.
"Kita perlu mengubah perilaku dari sekarang sehingga stigma negatif itu tidak lagi melekat dengan daerah ini. Program diversifikasi dengan pangan lokal terus kita advokasi ke masyarakat. Alam menyediakan makanan untuk kita. Kita saja yang terlalu jauh bergantung pada beras. Seolah-olah ubi, kacang-kacangan bukan makanan sehingga orang baru merasa sudah makan jika makan nasi. Banyak orang merasa rendah jika konsumsi pangan lokal. Padahal pangan non beras ini memiliki nilai gizi yang tinggi jika diolah secara baik," kata Gidion pada Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-30 di Asrama Pewarta Injil (API) Paradita, Senin (25/10/2010).
Pada kesempatan itu, Bupati Gidion meminta para camat, kepala desa, lurah, Kepala BPP bersama penyuluh terus mendorong masyarakat menanam pangan lokal, memanfaatkan secara optimal curah hujan yang ada.
Kepada semua instansi pemerintah dan dunia usaha, perbankan, Gidion mengimbau agar ikut berpartisipasi menyukseskan program pengembangan pangan lokal dengan menggunakan pangan lokal sebagai menu utama dalam setiap kegiatan.
Kegiatan HPS, menurut Bupati Gidion, sangat penting karena pemerintah daerah kembali menggaungkan pangan lokal sebagai kekuatan daerah untuk mengatasi bencana kelaparan yang sering dialami masyarakat di daerah ini.
Peringatan HPS di Sumba Timur kali ini memang fokus mengusung tema pengembangan pangan lokal untuk memerangi kelaparan di daerah itu. Sejalan dengan tema yang ada, menu makanan yang disajikan dalam acara tersebut semuanya serba lokal. Tidak ada nasi dari beras. Yang ada hanya nasi jagung, nasih singkong, iwi, nasi jagun rote, ubi-ubian dan lauk serba ikan. Tanpa nasi beras, semua makanan yang disajikan tetap habis. (dea)
Read More...
Bunga untuk Wajib Pajak
Edisi: 01 - 07 November 2010
No. 241 Tahun V, Hal: 1
"Kita siap jadi agen perubahan untuk menumpas Gayus-Gayus di lingkungan pajak di daerah. Karyawan selalu saya tegaskan untuk ingat Tuhan."
-Ignatius Tadeus-
WAINGAPU, SPIRIT--Wajib pajak yang datang ke Kantor Pajak Pratama Waingapu, Kamis (28/10/2010), diberi bunga. Puluhan karyawan Kantor Pajak juga melakukan aksi simpatik ke gedung DPRD Sumba Timur pada hari itu.
Aksi simpatik ini dalam rangka mempertegas komitmen karyawan Kantor Pajak terhadap perubahan perilaku, mental dan perubahan manajemen pelayanan.
Para karyawan ke gedung DPRD Sumba Timur dipimpin Kepala Kantor Pajak Pratama Waingapu, Ignatius Tadeus. Mereka diterima Ketua DPRD Sumtim, Drs. Palulu Pabundu Ndima. Di gedung Dewan, karyawan pajak juga membagi-bagi bunga kepada anggota Dewan serta staf Setwan.
Saat dialog dengan dengan Dewan, Ignatius Tadeus mengatakan, aksi simpatik sebagai bentuk penolakan karyawan pajak terhadap berbagai tindakan penyalahgunaan tugas yang menyakiti hati rakyat. Aksi ini juga untuk menarik kembali kepercayaan wajib pajak terhadap Kantor Pajak.
Anggota DPRD Sumtim, Stefen Gella, mempertanyakan komitmen kantor pajak membersihkan diri dari perbuatan seperti yang dilakukan Gayus Tambunan, dan apakah pejabat pajak di daerah berani menjamin tidak ada Gayus-Gayus lain di Kantor Pajak di daerah.
Ignatius mengaku sejak skandal Gayus, Kantor Pajak dari pusat hingga daerah melakukan pembenahan. Pada tanggal 20 Juli lalu, para pejabat pajak dari pusat sampai daerah dipanggil ke istana oleh Presiden SBY untuk menegaskan kembali sikap dan komitmen Kantor Pajak melakukan perubahan.
"Pengawasan intern sangat ketat. Karyawan yang menyalahgunakan tugas langsung ditindak tegas. Kita siap jadi agen perubahan untuk menumpas Gayus-Gayus di lingkungan pajak di daerah. Karyawan selalu saya tegaskan untuk ingat Tuhan," tambah Ignatius.
Dia juga membeberkan peroleh pajak KPP Pratama Waingapu dalam dua tahun terakhir dengan perolehan pajak terbesar kedua untuk Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kantor Wilayah Nusa Tenggara.
Pada tahun 2009, perolehan pajak KPP Pratama Waingapu mencapai Rp 142 miliar lebih, dan tahun ini ditargetkan Rp 161 miliar. Dari target ini sudah terealisasi 70 persen lebih atau Rp 112 miliar. Dari pendapatan pajak yang ada, pajak bumi dan bangunan (PBB) hanya Rp 1,6 miliar.
Mulai tahun 2011 pihaknya akan meningkatkan pendapatan PBB dengan mempercepat sistem informasi pajak (Sismiop) dan untuk Sumba Timur dari target 62 desa Sismiop baru selesai 31 desa. (dea)
Read More...
Menelusuri Potensi Wisata di Pulau Sumba
.jpg)
Edisi: 01 - 07 November 2010
No. 241 Tahun V, Hal: 1
PULAU Sumba, salah satu dari gugusan pulau di Propinsi Nusa Tenggara Timur, berada pada busur luar kepulauan Nusa Tenggara, antara Pulau Sumbawa dan Pulau Timor.
Lebih tepatnya lagi, pulau yang merupakan salah satu wilayah kerajaan Majapahit pada abad ke XIV dan saat ini telah memiliki empat daerah otonom itu, terletak persis di barat daya propinsi NTT. Tepatnya berjarak sekitar 96 km di sebelah selatan Pulau Flores, 295 km di sebelah barat daya Pulau Timor dan 1.125 km di sebelah barat laut Darwin Australia.
Pulau yang terkenal dengan pohon cendana pada abad ke-18 ini, telah memancing orang Belanda untuk datang dan mulai mendudukinya pada tahun 1906 itu. Selain karena Pulau Sumba memiliki sejumlah panorama dan potensi wisata, yaitu wisata bahari, wisata budaya serta wisata atraktif. "Kami memiliki sejumlah pesona wisata di antaranya, pesona wisata bahari, wisata budaya serta wisata atraktif," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Antonius Umbu Zaza.
Umbu Zaza mengatakan, untuk wisata bahari, Kabupaten SBD yang baru mekar pada tahun 2007 silam dari Kabupaten Sumba Barat sebagai kabupaten induknya tersebut, memiliki sejumlah lokasi pantai, yaitu Pantai Mananga Aba, Pantai Weekurri di Kecamatan Kodi Utara yang cocok untuk selancar angin dan ski air.
Ada pantai Rate Garo di Kecamatan Kodi Bangedo, dengan hamparan pasir putih yang luas serta dihiasi sejumlah kuburan tua berbentuk menhir bak zaman megalitik, serta danau laut Mandorat di Kecamatan Kodi Utara.
Ia menjelaskan pantai Mananga Aba, menawarkan bentangan garis pantai sepanjang 10 km dengan hamparan pasir putih yang bersih serta jernihnya air laut. Bukan hanya itu, pantai yang berada di bagian utara Kecamatan Loura, dengan menempuh 30 menit menggunakan kendaraan bermotor itu, juga menawarkan pesona indahnya kemilau jingga matahari yang hendak redup di kala senja.
Untuk wisata budaya, terdapat sejumlah perkampungan situs, dimana masyarakat yang mendiami kampung adat tersebut dipagari dengan tataan rapih bebatuan di atas puncak perbukitan berbentuk lingkaran. Di dalam kampung budaya itu juga kata Umbu Zaza, dilengkapi dengan jajaran kemegahan batu kubur megalitik yang terkesan angker namun sakral, dan merupakan sumber keyakinan penganut merapu, yang meyakini bahwa rumah adat dan kubur batu merupakan simbol kehidupan dan kematian.
Dijelaskannya, merapu adalah suatu kepercayaan yang pada hakekatnya, manusia akan mengalami kematian sebagai akhir kehidupan dunia nyata dan beralih kepada dunia yang tidak nyata atau merapu atau dunia arwah. "Dalam kehidupan tidak nyata inilah, manusia masih terus berhubungan dengan manusia yang hidup melalui ritual adat," kata Umbu Zaza.
Khusus di wilayah Sumba Barat Daya, kata dia, tercatat 11 perkampungan situs, di antaranya, situs Wainyapu di Kecamatan Kodi Bangedo, dengan jarak sekitar 45 km arah barat Kota Tambolaka.
Untuk wisata atraktif, dia menyebut Pasola, sebuah permainan rakyat yang berisiko, dengan masing-masing orang menunggang kudanya dan saling menghajar dan melempar dengan kayu (sola) dengan keras ke arah tubuh lawannya. "Jika ada yang cidera bahkan hingga tewas pun, tidak ada yang dipersoalkan apalagi diperkarakan, karena dinilai sebagai tanda kesuburan dan kesejahteraan atau berkah dari sang maha dewi," kata dia.
Pelaksanaan pasola, lanjut dia, selalu dibarengi dengan kemunculan nyale (cacing laut), yang menurut kepercayaan, jika munculnya dalam jumlah banyak dan bersih, pertanda hasil panen yang akan dilakukan pada tahun itu akan berlimpah.
Pasola, dilaksanakan pada bulan Februari atau Maret, yang ditetapkan oleh Rato adat (imam atau kepala suku), berdasarkan perhitungan bulan purnama. Wisata atraktif lainnya, adalah ritual kematian dengan seremoni kepercayaan merapu, dimana seorang yang meninggal dikremasi dan dibungkus dengan kain hasil tenunan dan disemayamkan beberapa hari dengan cara didudukkan, sebelum dikuburkan dalam kubur batu megalitik.
Seremoni penguburan, disertai pembantaian sejumlah hewan (kerbau dan babi) dalam jumlah banyak, setara dengan strata sosial orang yang meninggal tersebut.
Sejumlah pesona wisata bahari, budaya dan atraktif termasuk tarian adat ini, hampir merata di tiga kabupaten lainnya, masing-masing Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur yang tentunya telah dipengaruhi oleh perkembangan zaman kekinian yang terjadi.
Pergeseran Budaya
Seiring degan perkembangan zaman di era modernisasi saat ini, telah banyak memberikan pengaruh terhadap cara serta pola hidup masyarakat merapu di pulau Sumba. Semakin ke arah timur pulau tersebut, pengaruh modernisasi terhadap budaya juga semakin kuat dan nampak.
Sebagai contoh, rumah-rumah adat kepercayaan merapu berarsitektur menjulang menggunakan atap alang-alang dengan tiga lapisan, masing-masing bagian bawah untuk hewan, tengah untuk manusia dan atas untuk lumbung makanan serta barang-barang berharga, mulai berubah.
Ditemukan sejumlah rumah menjulang berarsitektur rumah khas adat Sumba di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur, yang semestinya menggunakan atap alang-alang, tetapi sudah menggunakan atap seng dan berdinding papan berpelitur, yang semestinya hanya dengan belahan bambu hutan. "Karena di zaman ini masyarakat kesulitan mendapatkan alang-alang untuk mengganti atap yang sudah rusak, maka digunakan seng sebagai penggantinya," kata Sekda Sumba Tengah, Umbu Puda.
Selain itu, kata dia, semua ritual adat yang dulunya selalu menggunakan puluhan ekor hewan (kerbau dan babi) yang dibantai untuk dimakan bersama, juga sudah mengalami pengurangan yaitu hanya tiga ekor saja, dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah otonomi, demi penghematan.
Semakin ke wilayah timur di Kabupaten Sumba Timur, tidak lagi ditemukan hamparan kampung adat yang memiliki jajaran pekuburan megalitik. Perkampungan adat yang memiliki nilai sejarah di Kabupaten Sumba Timur dan pekuburan megalitik mulai bergeser ke pedalaman. Bahkan di Kabupaten Sumba Timur sudah terlihat lokasi kuburan umum, layaknya di daerah lain dan tidak ada di tiga kabupaten lainnya, yaitu di Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah.
Di Kabupaten Sumba Timur, tidak lagi mengenal wisata atraktif pasola sebagaimana yang masih ada di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. "Kami di sini hanya mengenal pacuan kuda," kata Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora.
Yang unik di Sumba Timur, khususnya di kampung adat Prai Yawang ialah budaya kremasi jenazah yang meninggal hingga bertahun-tahun hanya dengan ramuan bunga serta bungkusan kain hasil tenunan tanpa menyebar bau mayat, sebelum mendapatkan kata sepakat dari keluarga besar untuk dikebumikan dalam kubur batu megalitik. "Jika keluarga besar belum memiliki kesempatan untuk duduk bersama menentukan waktu penguburan kerabat yang meninggal, maka jenazah tetap disimpan dalam rumah dengan posisi duduk," kata Rambu Ana Intan.
Untuk menghindari bau dari jenazah yang akan dibiarkan selama bertahun-tahun sebelum dikuburkan, secara ritual adat, jenazah dimandikan dengan sebuah bunga yang disebut bunga Walahanggi.
Pasca dimandikan dan jenazah dipakaikan pakaiannya, bagian tempat duduk jenazah berbentuk kotak yang pinggirannya dibuat dengan kulit kerbau, ditaburi kembang yang sama yang sudah dihaluskan, sebelum jenazah didudukkan di atasnya. "Itulah yang membuat jenazah tetap awet dan tidak bau, disamping keluarga terus melakukan pembalutan dengan kain adat setiap bulannya selama belum dikubur," kata dia.
Yang meninggal, kata dia, terus dijaga oleh warga yang ditunjuk dan terus diberikan makan tiga kali sehari, pada saat orang hidup melakukannya. "Jadi di setiap jam makan orang hidup, bagian orang yang meninggal disisihkan dan ditaruh di dekat jenazahnya," kata Rambu Ana Intan.
Perlu Perbaikan Infrastruktur
Berbagai fasilitas mulai dibangun di seluruh kabupaten di pulau Sandalwood (kayu cendana) itu, seperti pelabuhan, akses jalan ke lokasi wisata, hotel dan restoran, sarana lain pendukung di lokasi wisata serta keamanannya. "Pembangunan di sektor lain terus kita lakukan, pembangunan dan perhatian untuk perbaikan infrastruktur ke lokasi wisata juga menjadi perhatian serius," kata Sekda Sumba Barat Daya, Antonius Umbu Zaza.
Menurut dia, potensi pariwisata wilayahnya bisa menjadi peluang bagi pemasukan dan pertumbuhan PAD di daerah yang baru mekar tersebut, sehingga pembangunan infrastruktur khusus jalan ke lokasi wisata terus dilakukan setiap tahunnya. Hal yang sama diakui oleh kepala daerah di tiga kabupaten lainnya.
"Pariwisata adalah merupakan primadona pelaksanaan pembangunan di daerah ini. Karena itu kita sedang dorong percepatan pembangunan infrastruktur untuk bisa memudahkan akses kepariwisataan di daerah ini," kata Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora.
Selain itu, keamanan juga terus ditingkatkan, untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung ke setiap obyek wisata yang ada. "Saya jamin keamanan di Sumba Timur sangat kondusif, sehingga bisa mendukung pariwisata di daerah ini," kata Kapolres Sumba Timur, AKBP IMD Giri. Menurut dia, semakin kondusifnya keamanan dan ketertiban di ujung timur pulau Sumba tersebut, karena kesadaran masyarakat sudah mulai tinggi terhadap pentingnya kehidupan yang aman dan damai di daerah tersebut.
Dengan sejumlah sentuhan infrastruktur dan peningkatan kualitas keamanan di pulau Sumba yang kian baik dan kondusif, diharapkan bisa menjadi tambahan daya tarik para penikmat wisata bahari, budaya dan atraktif di Sumba untuk berbondong-bondong ke pulau tersebut. Dengan begitu upaya pemerintah Propinsi NTT untuk menggelar Visit Flobamora Year 2011, dengan mendatangkan 1.000 orang wisatawan ke NTT, bisa terlaksana. (adrianus rianghepat/ant)
Read More...
Canangkan Gerakan Konsumsi Garam Yodium
.jpg)
Edisi: 25 - 31 Oktober 2010
No. 240 Tahun V, Hal: 11
WAINGAPU, SPIRIT--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur (Sumtim) harus membuat sebuah gerakan agar masyarakat mengonsumsi garam beryodium. Gerakan dimulai dari rumah tangga yang ada di desa-desa.
Pemerintah daerah juga diharapkan bersikap tegas terhadap penjual garam tidak beryodium karena hal itu melanggar aturan. Pemerintah harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa menjual garam untuk dikonsumsi manusia tidak seperti menjual tahu atau tempe. Ada aturannya.
Saran ini disampaikan Konsultan Unicef untuk akselerasi konsumsi garam beryodium, Sunawang, dalam pertemuan Pembaharuan Penguatan Strategi Percepatan USI (Universal Salt Iodization) di Waingapu, Jumat (15/10/2010). Pertemuan itu berupakan wujud kerja sama Unicef dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumba Timur.
Pentingnya gerakan mengonsumsi garan yodium karena saat ini Sumba Timur menghadapi keadaan darurat penurunan kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini terjadi akibat tingkat konsumsi garam beryodium di daerah ini masih rendah.
Sunawang memaparkan bahwa hasil survai interaktif tahun 2007 di Sumba Timur menunjukkan konsumsi garam beryodium di daerah ini masih sangat rendah. Sebagian besar masyarakat Sumba Timur masih mengonsumsi garam tradisional yang diproduksi masyarakat dengan cara memasak.
Survai ini mengidentifikasi wilayah-wilayah di Sumba Timur yang masuk dalam kategori endemik berat dan ringan karena kekurangan garam beryodium. Wilayah yang masuk dalam endemi berat, yaitu Kecamatan Lewa, Nggaha Ori Angu, Tabundung, Pinupahar, Karera, Paberiwai, Matawai Lapawu, Kahaungu Eti dan Kecamatan Umalulu. Sedangkan daerah yang masuk dalam endemik ringan, yaitu Rindi, Pahunga Lodu, Wulawaijelu, Pandawai, Kota dan Hahar.
Daerah yang masuk dalam kategori endemik berat merupakan daerah yang jauh dari pantai. Sedangkan daerah endemik sedang berada di pesisir pantai. Sunawang mengatakan, garam yang dijual masyarakat sebenarnya untuk makanan ternak tapi dikonsumsi manusia. Garam yang dijual masyarakat itu tidak mengandung yodium. Yodium sangat dibutuhkan tubuh manusia terutama ibu hamil untuk perkembangan otak janin dan balita untuk merangsang perkembangan syaraf.
Percuma pemerintah membuat kebijakan pendidikan gratis dan kesehatan gratis tapi tidak memperhatikan pola konsumsi masyarakat terhadap garam yodium. "Tidak ada gunanya sekolah gratis dan kesehatan gratis kalau kualitas manusianya yaitu kemampuan berpikirnya rendah," ujarnya.
Dia mengatakan, alasan masyarakat tidak mengkonsumsi garam beryodium karena mahal. Padahal harga 3 kg garam (standar kebutuhan garam/orang/tahun) jauh lebih rendah dibanding harga rokok. Dari segi produksi, kata Sunawang memang masih lebih kecil dibanding kebutuhan garam di daerah ini.
"Kalau penduduk Sumba Timur 200.000 orang kali 3 kg berarti 600.000 kg (600 ton) kebutuhan garam untuk Sumba Timur setiap tahun. Sedangkan produksi normal rata-rata 100 ton per tahun. Kekurangan ini terpaksa didatangkan dari luar," katanya.
Industri garam
Strategi untuk memenuhi kebutuhan garam di kabupaten ini, kata dia, bisa dilakukan dengan mendorong pertumbuhan industri garam beryodium skala rumah tangga. Pemerintah daerah harus mengeluarkan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang untuk yodiosasi langsung terhadap seluruh garam yang ada di daerah itu, melaksanakan dan menetapkan peraturan daerah Sumba Timur tentang pengawasan dan pengendalian peredaran garam non yodium.
Pemerintah juga diharapkan bisa mengembangkan kapasitas pengendalian mutu garam beryodium, mengeluarkan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang untuk memecahkan masalah yang dihadapi perajin garam rebus. Juga, memberikan pendidikan kepada masyarakat dan pendidikan usia dini tentang pentingnya mengonsumsi garam beryodium.
Strategi itu, kata Sunawang, harus sesegera mungkin dilakukan agar target Sumba Timur bebas garam `bodoh' 2012 bisa tercapai.
DAMPAK KEKURANGAN YODIUM
* Pada ibu hamil menyebabkan keguguran
* Pada janin menyebabkan lahir mati, cacat bawaan, kematian perinatal, meningkatnya jumlah kematian bayi, kretin neurology (keterbelakangan mental, tuli, juling, lumpuh) cebol dan kelainan fungsi psikomotor.
* Pada remaja mengakibatkan gangguan mental, gangguan pertumbuhan, gangguan fisik.
* Pada orang dewasa mengakibatkan gangguan produktivitas, gangguan fungsi mental, kesuburan, gangguan libido dan lain-lain.
* Gondok. (dea)
Read More...
Palulu: Putuskan Jaringan Mafia Ternak
Edisi: 11 - 17 Oktober 2010
No. 238 Tahun V, Hal: 11
WAINGAPU, SPIRIT--Ketua DPRD Sumba Timur, drh. Palulu Pabundu Ndima, M.Si, menegaskan, pengiriman ternak betina masih terus berlangsung ke luar daerah tidak lepas dari mental aparat yang bertugas menyeleksi ternak antar pulau.
Ia mensinyalir ada mafia dalam proses pengangantarpulauan ternak mulai dari seleksi sampai dokumen. "Kondisi ini tidak lepas dari mental aparat. Di situ ada mafia. Jaringan mafia ini harus diputuskan," tegas Palulu di Waingapu, Senin (20/9/2010).
Kini, pengiriman ternak betina produktif ke luar daerah melalui Pelabuhan Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, masih terus berlangsung. Padahal Pemerintah Propinsi NTT telah melarang pengiriman ternak betina ke luar NTT. Jika tidak segera dihentikan maka populasi ternak di Sumtim terancam serius.
Informasi ini disampaikan Pdt. Andreas Hani, S.Th, dalam pertemuan dengan Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora dan wakilnya, dr. Matius Kitu di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi, Senin (20/9/2010).
Pendeta Andreas mengatakan, informasi yang diterima dari masyarakat, pengiriman ternak betina produktif dari Pelabuhan Waingapu masih terus berlangsung. Kondisi ini mengancam kelangsungan populasi ternak di Sumba Timur, dan menghambat upaya pemda setempat mewujudkan Sumba Timur sebagai kabupaten ternak. "Informasi yang kita terima di Karantina masih ditemukan ternak betina produktif. Bahkan ada hewan betina yang beranak di Karantina. Kita minta pemerintah daerah memperhatikan hal ini," kata Andreas.
Permintaan yang sama disampaikan anggota DPRD Sumtim dari Fraksi PDK, Arnold Lala Tana yang meminta pemerintah daerah menghindari pengiriman ternak betina produktif.
Arnold mengatakan, masyarakat tidak bisa disalahkan karena menjual hewan betina produktif demi tuntutan kebutuhan. Namun pemerintah daerah terutama petugas Dinas Peternakan harus menyeleksi hewan yang akan dikirim ke luar NTT secara selektif.
Mengatasi pengiriman ternak betina produktif ke luar Sumba Timur dan NTT, Arnold menyarankan agar Pemda Sumtim menyediakan dana talangan untuk membeli hewan betina produktif yang dijual masyarakat karena terdesak kebutuhan hidup. Hewan yang dibeli pemerintah dari masyarakat disalurkan lagi kepada masyarakat.
Mengenai tekad pemda setempat menjadikan Sumba Timur sebagai gudang ternak, Arnold menyarankan agar dimulai dari perbaikan populasi. Perbaikan populasi dimulai dari bibit.
Bupati Sumba Timur, Drs.Gidion Mbilijora, M.Si juga mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi ini. Kondisi ini dinilai ironis ditengah upaya pemerintah menjadikan Sumba Timur sebagai kabupaten ternak. "Kita tidak melarang masyarakat jual ternak betina produktif. Yang kita larang mengantarpulaukan ternak betina produktif. Saya minta petugas yang seleksi ternak untuk diantarpulaukan harus selektif dan tegas. Jangan karena uang lalu mengorbankan daerah ini. Petugas seperti ini kita tindak tegas," tegas Gidion. (dea)
Read More...
Anak-anak PPA Bakal Jadi Pemimpin
WAINGAPU, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B, mengaku bangga melihat kreativitas anak PPA (Pusat Pengembangan Anak) karena keberanian mereka untuk maju.
"Dengan modal yang ada, anak-anak PPA bakal jadi pemimpin Sumba Timur dan orang hebat di Sumba, Indonesia, bahkan di dunia," kata Matius ketika menutup pesta kreasi anak PPA se-Cluster Sumba I, Sabtu (11/9/2010). Pesta kreasi anak ini meliputi pentas seni dan pameran karya anak. Kegiatan ini dipusatkan di Stadion Rihi Ety Sumba Timur untuk memberi kesempatan kepada anak-anak PPA mengekspresikan dirinya, dan berkreasi mengembangkan talenta yang dimilikinya.
Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak PPA dari 13 PPA se-Cluster Sumba 1 plus dua PPA dari Lewa, yaitu PPA Lewa Pameti Karata dan PPA Lewa Tanggamadita dari Cluster Sumba 2, mulai kategori usia 3 - 18 tahun yang berjumlah sekitar 2.900 anak.
Pentas seni dan pameran kreasi anak dikemas dalam kegiatan pameran hasil karya anak yang dibuat masing-masing PPA berupa PPA Idol 2010, lomba busana tradisional Sumba, lomba membaca puisi, lomba melukis, dan lomba pidato bahasa Inggris.
Kegiatan Pesta Kreasi Anak PPA diawali ibadat dipimpin Pdt. Robert Mangi, MA dari GKS Kambaniru. Sementara ibadat penutupan dipimpin Pdt. Yulis Djara, Sth dari GKS Waingapu. Kegiatan ini sesuai rencana akan diprogramkan setahun sekali dan dimasukkan dalam IRK/RAB (Informasi Rencana Kegiatan/Rencana Anggaran Belanja) PPA setiap tahun fiskal.
Panggung Kreasi dan Pagelaran Seni Anak-anak PPA dikemas dalam bentuk pameran hasil karya anak seperti kain meja dan kain penutup telepon bentuk smok, bunga dari pita jepang, bunga dari sedotan, patung ukir dari batu, piring rotan, bingkai foto berbahan lokal, topi rotan, makanan kecil khas Sumba, boneka dari kaos kaki, boneka dari benang wol, rumah-rumahan dari tripleks, lampion, tudung saji dari gelas aqua, lampu teras yang terbuat dari stick ice cream, souvenir bunga dari sabun mandi, pupuk kompos, hiasan dari kerang laut, profil masing-masing PPA dan foto kegiatan 4 bidang pelayanan PPA.
Lomba baca puisi dengan tema puisi yang disarankan : Kepahlawanan, Untukmu Negeriku tetap mengacu pada empat bidang pelayanan PPA. Puisi yang dibacakan harus karya sendiri. Khusus lomba melukis dengan tema Alamku, Rumahku dengan acuan empat bidang pelayanan PPA. Juga dilombakan pidato bahasa Inggris dengan tema Generasi Anti Narkoba, Bahaya Merokok, Pariwisata, Bahaya HIV/AIDS dan Pergaulan Bebas. (dea)
Read More...
Petani Sumtim Diimbau Siapkan Lahan
.jpg)
WAINGAPU, SPIRIT--Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur, Ir. Josis Djawa Gigy, mengimbau petani di daerah itu menyiapkan lahan lebih awal untuk mengantisipasi jika musim hujan kali ini datang lebih awal. Khusus untuk lahan dengan program bantuan pemerintah, sudah dipersiapkan dengan baik.
"Seluruh dana yang berkaitan dengan bantuan sosial dari pemerintah sudah stand by di rekening kelompok. Demikian juga benih dan jaringan irigasi. Seluruh program perbaikan maupun pembangunan jaringan irigasi sudah 100 persen baik fisik maupun keuangan. Sedangkan benih pengadaannya ditenderkan langsung pemerintah pusat. Kita di sini hanya penyalur. Saat sudah dalam posisi siap di kelompok," kata Josis di ruang kerjanya, Jumat (17/9/2010) siang.
Josis mengatakan, hujan yang turun beberapa kali di beberapa wilayah Kabupaten Sumba Timur hanya bersifat sesaat. Musim hujan tetap pada November atau Desember.
Meski demikian, Josis mengatakan, wilayah yang memiliki sumber air masyarakat bisa mulai menanam karena hujan hanya menambah debit air. Namun untuk wilayah tadah hujan yang hanya mengharapkan air hujan disarankan sebaiknya ditunda sambil menunggu perkembangan iklim lebih lanjut.
Picu Hama Belalang
Cuaca ekstrim di beberapa wilayah Kabupaten Sumba Timur beberapa waktu terakhir memicu munculnya kembali hama belalang kumbara. Sejak 1 Juli lalu hama belalang muncul di beberapa lokasi di daerah itu.
Josis mengatakan, hama belalang kumbara muncul kembali pertama kali di Kayuri dan Haikatapu tapi langsung dicegah penyebarannya oleh petugas lapangan. Satu minggu kemudian, hama belalang muncul di Patawang dan Wanga, Kecamatan Rindi, juga di Desa Matawai Maringu, Kecamatan Kahaunga Ety. Di Desa Wanga sempat masuk ke lahan persawahan masyarakat. Juga, berhasil dihadang penyebarannya oleh petugas lapangan Distan Tanaman Pangan dan Hortikultura bersama masyarakat.
Pada Agustus, demikian Josis, muncul kembali di Desa Kadumbul sampai di Ngohung, Kecamatan Pandawai dan Periode Septemberkembali muncul di Matawai Maringu dan Kataka, Kecamatan Kahaunga Ety.
Dengan kondisi cuaca ekstrim sekarang ini, kata Josis, memicu meledaknya hama belalang di Sumba Timur. Sementara persediaan pestisida pembasmi belalang kumbara (confidor) di Dinas Pertanian sangat terbatas. "Kita sudah ajukan usulan ke pemda untuk tambah dana pengadaan confidor. Terakhir kita dapat informasi DPRD sudah setuju. Kita dapat bantuan 500 liter pestisida serta bantuan peralatan semprot empat unit dari pak gubernur," demikian Josis. (dea)
Read More...
Lumpuh, Transportasi Wulawaijelu-Ngadungala
WAINGAPU, SPIRIT--Transportasi dari Kecamatan Wulawaijelu ke Kecamatan Ngadungala sampai Karera lumpuh menyusul rubuhnya sebuah jembatan yang menghubungkan kedua daerah itu akibat hujan yang mengguyur, Kamis (16/9/2010).
Selain itu, dua desa terendam banjir yaitu Desa Lumbumanggit dan Desa Laijanji. Sementara jembatan yang rubuh diterpa banjir yaitu jembatan yang menghubungkan Kecamatan Wulawaijelu dengan Kecamatan Ngadungala dan sekitarnya.
Ratusan ternak besar dan kecil hanyut dan puluhan hektar tanaman jagung siap panen rusak akibat banjir yang melanda Kecamatan Wulawaijelu itu.
Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, yang mendapat laporan tentang banjir di kedua desa tersebut langsung turun ke lokasi memantau langsung kondisi warga dan pemukiman warga yang dilanda banjir, Jumat (17/9/2010). Gidion turun dengan tim lengkap membawa bantuan awal berupa ikan kaleng 30 dos, beras 205 kg, air mineral 30 dos, gula 30 kg.
Butuh Rp 2 Miliar
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sumba Timur, Ir. Komang Adnyana yang dikonfirmasi di sela-sela acara pembukaan Pacuan Kuda di Kecamatan Lewa, Sabtu (18/9/2010), mengatakan, untuk pembangunan kembali jembatan yang rubuh saja membutuhkan dana sekitar Rp 2 miliar. Belum lagi kerugian masyarakat dari lahan tanaman pangan, ternak, dan barang-barang rumah tangga, elektronik, kendaraan bermotor yang hanyut atau rusak terbawa banjir. Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa.
Demikian juga jumlah rumah yang terendam. Banjir juga merendam Mapolsek yang ada di sekitar lokasi serta merusak berbagai peralatan yang ada di Mapolsek tersebut.
Pada saat banjir, tinggi air mencapai setengah meter lebih atau setinggi pinggang orang dewasa.
Informasi yang diperoleh di lokasi, banjir akibat hujan deras yang melanda sebagian wilayah Sumba Timur, Kamis pagi hingga sore hari, juga menyapu ternak warga yang ada di sekitar daerah aliran sungai dan rumah-rumah warga yang bermukim tidak jauh dari sungai yang meluap. Ternak yang hanyut terbawa banjir terdiri dari kerbau, sapi, babi, kuda, ayam yang mencapai ratusan ekor.
Komang Adnyana mengatakan, jembatan yang rubuh tersebut panjangnya 12 meter dibangun dengan dana APBN tahun 1995. Menurut Komang, karena jembatan tersebut rubuh, maka harus dibangun ulang di lokasi yang baru. Biaya bangun baru jembatan di lokasi tersebut mencapai Rp 2 miliar dengan panjang 20 meter.
Rubuhnya jembatan tersebut juga menyebabkan anak-anak yang bermukim di sebelah jembatan (daerah Ngadu Ngala) yang bersekolah di wilayah Wulawaijelu tidak bisa ke sekolah. Selama banjir, mereka terpaksa libur.
Dua hari pasca banjir, masyarakat di dua desa itu juga kesulitan air bersih karena sumber air di kedua desa itu keruh dan tertutup lumpur. Pemerintah Daerah harus mendatangkan mesin pompa air untuk menguras lumpur dan air kotor dari sumur-sumur yang ada di kedua desa tersebut. Untuk kebutuhan air bersih warga diambil dari desa sekitar yang tidak terkena banjir. (dea)
Read More...
Pasola Tanpa Panenan, Apalah Artinya...
.jpg)
PASOLA yang berlangsung di Waingapu berakhir rusuh. Penonton dari tiap-tiap kubu saling melempar batu. Darah bercucuran. Ratusan penonton yang hadir, termasuk sejumlah wisatawan mancanegara, pun lari tunggang langgang.
Aparat kepolisian sempat mengeluarkan tiga kali tembakan peringatan, tetapi tidak diindahkan penonton yang mengamuk. Bahkan, ada yang mengangkat parang. Polisi pun langsung menciduk yang bersangkutan.
Agner W Dijkhof dari Tele Pictures International yang asyik mengabadikan foto Pasola pun langsung menyingkir ke pinggir. Namun, dia tidak terkejut karena sudah berkali-kali menyaksikan peristiwa serupa. "Ini biasa dalam pasola," ucapnya sambil tersenyum.
Kepala Desa Wainyapu, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Oktavianus Ndari merasa malu akan kejadian itu. "Ini bikin malu saja, membuat adat rusak," ucapnya kecewa. Banyak warga juga menggerutu. "Karena ulah beberapa orang, adat jadi rusak," ujarnya.
Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete, yang berada di lokasi saat kerusuhan terjadi pun geram melihat perilaku rakyatnya yang brutal itu. "Ini menyimpang dari warisan leluhur. Akan ada hukuman. Leluhur yang akan menghukum," ujarnya.
Namun, Kornelis tetap optimistis. "Setiap Pasola itu pasti ada warna. Sama seperti sepak bola, pasti juga ada keributan. Ini seninya," ujarnya sambil tersenyum.
Kerusuhan terjadi tidak lama setelah Bupati SBD turun dari podium. Kerusuhan dipicu salah seorang pemain yang melempar lembing ke arah lawan, padahal yang bersangkutan sudah berbalik badan. Terbawa emosi, penunggang itu langsung turun dari kudanya dan menantang lawan. Setelah itu, pendukung masing-masing langsung saling mengejek, masuk ke arena, dan kemudian saling lempar batu.
Kerusuhan hampir serupa terjadi pada Pasola di Waiha yang diadakan sehari sebelumnya. Pasola baru digelar beberapa menit, kerusuhan antarpendukung terjadi. Akibatnya, Pasola pun hanya digelar beberapa menit. Lagi-lagi, penonton berulah, bukan pemain.
Pasola sesungguhnya bisa menjadi andalan kemajuan pariwisata Sumba karena atraksi budaya ini sudah diketahui banyak wisatawan mancanegara. Terbukti, dalam setiap acara Pasola selalu ada turis asing datang. Terlebih, saat Pasola di Wanokaka.
Warisan budaya ini tentu bisa menjadi aset untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Namun, bila kerusuhan selalu terjadi, bukan tak mungkin Pasola justru menimbulkan persoalan.
Kemiskinan Akar Masalah
Tradisi Pasola muncul di Sumba sesungguhnya menggambarkan suburnya daerah itu. Pada masa lalu, Sumba dikenal sebagai savana yang subur dan tempat kuda-kuda liar banyak berkeliaran. Pasola sendiri menggambarkan rasa syukur dan ekspresi kegembiraan masyarakat setempat terhadap hasil panen yang melimpah.
Namun, seiring dengan perubahan zaman, kemiskinan melanda Sumba. Di Desa Wainyapu, misalnya, dari jumlah penduduk 533 kepala keluarga (KK) atau 2.493 jiwa, sekitar 431 KK merupakan keluarga miskin. Dari 533 KK tersebut, hanya 51 KK yang memiliki jamban.
Kesulitan air bersih di desa itu membuat rumah-rumah tidak sesuai dengan standar sanitasi yang sehat dan bersih. Mereka yang tidak memiliki jamban keluarga terpaksa membuang hajat di semak belukar, sekitar 50-70 meter dari rumah.
Kebutuhan akan air minum dilayani lima tangki air milik pengusaha Tionghoa setempat. Satu tangki air dihargai Rp 200.000. Air itu diambil dari Tambolaka. Menurut Kepala Desa Wainyapu, Oktovianus Ndari, warga yang tidak memiliki uang bahkan harus berjalan kaki sepanjang 6 kilometer untuk mengambil air dari sungai untuk kebutuhan minum, memasak, dan mencuci.
"Memasuki musim kemarau, April-November, warga Wainyapu dan desa-desa sekitarnya terpaksa mengonsumsi air dari batang pisang. Batang pisang dilukai, kemudian dipasang bambu untuk mengalirkan tetesan air dari batang pisang untuk diminum," katanya.
Hampir 80 persen penduduk desa ini juga tak tamat sekolah dasar atau sekolah menengah. Keterbelakangan Desa Wainyapu merupakan cerminan dari 94 desa miskin yang ada di SBD. Sekretaris Daerah SBD Tony Umbu Sasa mengatakan, jumlah penduduk miskin sampai 60 persen atau 168.000 jiwa dari 280.000 penduduk SBD, yang merupakan asal-muasal ritual Nyale dan berpuncak pada Pasola.
Tingginya angka kemiskinan dan kebodohan ini juga yang mendorong tingginya angka kriminalitas. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka perampokan dalam tahun-tahun belakangan. Perampokan yang sudah menahun di daerah ini juga sulit diatasi.
Barang yang dirampok kebanyakan bernilai status sosial dan adat istiadat. Motif perampokan, selain memperkaya diri, untuk melunasi utang mas kawin, terkadang juga untuk menghambat orang lain naik status sosial dalam masyarakat. Dalam masyarakat Sumba, semakin seseorang memiliki banyak hewan peliharaan, status sosial orang bersangkutan semakin tinggi.
Bupati Sumba Tengah Umbu Pateduk mengatakan, sejak Januari-Februari 2010 sekitar 97 kerbau milik peternak dicuri kawanan perampok. Kerbau itu digiring keluar kandang menuju padang penggembalaan. Namun, sekitar 70 ekor sudah dipulangkan aparat kepolisian setempat, sisanya masih dalam pencarian.
Kasus perampokan ternak di Kabupaten Sumba Timur, SBD, Sumba Tengah, dan Sumba Barat terus mengusik rasa nyaman dan tenang warga. Populasi ternak di Sumba memang ada kecenderungan menurun.
Menurut Kepala Dinas Peternakan SBD Thimotius Bulu, data pengeluaran ternak di SBD menurun. Tahun 2008, kerbau yang keluar 34 ekor, sapi (74), kuda (1.160), total (1.268). Adapun tahun 2009, kerbau (16 ekor), sapi (0), kuda (864), total (880). Populasi ternak di Kecamatan Kodi dan Kodi Bangedo, tempat Pasola diadakan, relatif sedikit. Populasi di Kodi, sapi (557 ekor), kerbau (3.123), kuda (1.112), kambing (456), dan babi (12.800). Di Kecamatan Kodi Bangedo, sapi (382 ekor), kerbau (1.654), kuda (775), kambing (726), dan babi (15.689).
Kemajuan hasil pertanian di Pulau Sumba juga belum menunjukkan hal yang terlalu menggembirakan. Luas panen padi sawah di SBD, misalnya, meningkat dari 3.829 hektar tahun 2008 menjadi 4.340 hektar tahun 2009. Namun, luas panen padi ladang di SBD justru menurun dari 8.390 hektar menjadi 8.368 hektar karena banyak yang puso. Luas panen jagung dari 20.457 hektar turun menjadi 19.050 hektar. Kacang tanah dari 492 hektar menjadi 468 hektar.
Pemerintah Kabupaten SBD bertekad, sampai tahun 2013 status sekitar 80 persen atau 134.400 penduduk miskin sudah naik menjadi warga sejahtera.
Bupati SBD, dr. Kornelis Kodi Mete, mencanangkan empat program pokok, yakni desa cukup makan, desa berair, desa bercahaya, dan desa tenang/tertib. Ditargetkan, sampai 2013 program ini sudah dirasakan 80 persen penduduk SBD.
Masyarakat Sumba menghadapi tantangan tidak ringan untuk mempertahankan, apalagi mengembangkan, Pasola yang menjadi warisan budaya mereka.
Pasola tanpa hasil panen melimpah dan kuda, apalah artinya. Pasola hanya akan menjadi sebuah atraksi belaka tanpa rasa sukacita. Ditambah lagi dengan kebrutalan penonton yang menyertainya, pasti bukan menjadi atraksi yang menyenangkan, melainkan menjadi atraksi mengerikan. (kornelis kewa ama/sutta dharmasaputra/kompas.com)
Read More...
Pantainya Masih Perawan dan Bersih...
.jpg)
BUPATI Sumba Timur mengerahkan upayanya untuk mengembangkan Sumba Timur terutama melalui potensi pariwisatanya. Ada beberapa jenis pariwisata yang ditawarkan, yaitu wisata olahraga air seperti surfing di Pantai Kalala Sumba, wisata sejarah ke sarkofagus di Praiawang, dan wisata alam di pantai-pantai sepanjang Sumba Timur seperti Tarimbang, Purukambera, dan Wula Wajelu dan air terjun di Tabundung.
Ada juga wisata fauna yaitu kakatua Sumba yang konon sudah sangat langka yang kini dipelihara di Taman Nasional Lai Wanggi Wanggameti dan sebagian Tanadaru Manupeu.
Pantai-pantai di Sumba Timur memang masih sangat perawan dan bersih. Saya berkesempatan untuk mengunjungi Londalima dan Purukambera yang cukup dekat dengan Waingapu, hanya setengah jam perjalanan darat. Di sana saya menyaksikan suatu alam yang luar biasa indah dan mengingatkan saya pada foto-foto di National Geographic.
Ketika sedang merenungi keindahannya, saya menyadari bahwa tiba-tiba sekumpulan burung laut sedang berputar-putar di satu titik. Saya buru-buru memfokuskan pandangan ke titik tersebut dan berhasil menangkap kilasan-kilasan berupa ikan-ikan yang sedang melompat-lompat. Hati saya terbang dan berharap di situ ada perahu motor yang dapat dengan segera membawa ke sana untuk melihat pemandangan seumur hidup itu dengan lebih dekat. Sayangnya harapan tinggal harapan karena walaupun potensinya masih besar, namun investasi yang disalurkan masih kecil sampai-sampai perahu wisata pun tak nampak di sana.
Dengan statusnya sebagai pulau, maka orang akan menduga bahwa orang Sumba adalah nelayan, makanan pokoknya ikan, dan berperahu adalah keahliannya. Nyatanya orang Sumba Timur jarang makan ikan, jarang bisa berenang, dan pekerjaan utamanya adalah peternak. Sumba Timur sudah sejak zaman Belanda ditetapkan sebagai kawasan peternakan sapi brahmana (ongole) yang terisolasi. Tidak boleh ada sapi bali yang diternak di Sumba Timur karena dikhawatirkan akan mencemarkan keaslian sapi ongole dan menularkan penyakit khas sapi bali. Akibatnya, demam sapi gila dan penyakit kaki mulut yang memusnahkan banyak sapi-sapi di dunia tidak menyentuh Sumba Timur.
Budaya orang Sumba Timur pun mendukung budaya peternakan. Semua upacara adat di Sumba Timur - kelahiran, pernikahan, dan kematian, serta upacara-upacara lainnya - selalu bersentuhan dengan penyembelihan hewan. Dari pembicaraan saya dan para narasumber, diketahui bahwa pernikahan dan kematian adalah upacara yang cukup mendominasi dalam masyarakat, baik secara sosial maupun finansial.
Mas kawin pada upacara adat pernikahan Sumba Timur disebut dengan "Belis". Belis dapat berupa uang, kain tenun ikat, dan hewan ternak. Hewan ternak yang biasa digunakan adalah babi, kerbau, kuda, dan sapi. Jumlah belis yang dipertukarkan pada adat perkawinan sangat ditentukan oleh strata sosial yang dimiliki pihak-pihak yang menikah. Tambah tinggi seseorang memegang peranan sosial di masyarakat, maka jumlah belis pun harus bertambah tinggi.
(rowenan suryobroto/rowenasuryobroto.multiply.com/bersambung)
Read More...
Target Rp 98 Miliar Bisa Tercapai
WAINGAPU, SPIRIT--Pemimpin Cabang Pegadaian-Waingapu, I Wayan Putu Suarsana, S.E, menjelaskan, pada tahun ini Pegadaian Cabang Waingapu diberi target Rp 98 miliar. Ia optimistis target itu bisa tercapai karena masih ada empat bulan ke depan.
Dari kredit yang disalurkan hingga Agustus 2010, demikian Wayan, sekitar Rp 18 miliar tertunggak. Namun tunggakan itu akan ditutup dengan lelang. "Mnjelang hari raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru cukup berpengaruh terhadap permintaan kredit di Pegadaian Cabang Waingapu," kata Wayan belum lama ini.
Wayan mengungkapkan, khusus pelayanan di Kantor Cabang Waingapu, ada peningkatan penyaluran rata-rata Rp 1 miliar sejak Juni hingga Agustus 2010. Pada Juni lalu tersalur Rp 4,2 miliar, Juli naik menjadi Rp 4,3 miliar dan Agustus Rp 4,4 miliar dengan penyaluran terbesar pada kredit KCA (agunan perhiasan emas).
Sedangkan kredit kreasi dengan jaminan BPKB, terang Wayan, masih kecil. Rendahnya permintaan kredit ini karena syaratnya sedikit ketat dan mirip perbankan. "Selain BPKP harus memiliki usaha dan surat izin usaha yang didahului survei. Khusus kredit Kreasi dari target Rp 5 miliar baru dicapai Rp 1 miliar," jelasnya. Wayan mengungkapkan, pengaruh hari raya terhadap permintaan kredit pegadaian diperkirakan lebih terlihat satu minggu menjelang Idul Fitri. (dea)
Read More...
Diresmikan, Gedung Baru RSK Lindimara
.jpg)
WAINGAPU, SPIRIT--Wakil Bupati (Wabup) Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B, menggunting pita menandai peresmian tiga bangunan baru Rumah Sakit Kristen (RSK) Lindimara, Jumat (3/9/2010). Bangunan yang menghabiskan dana Rp 960 juta itu adalah gedung untuk ruang rawat inap VIP, ruang kebidanan dan perinatologi (ilmu tentang kesehatan janin).
Direktur RSK Lindimara, dr. Rien Tamu Ina Tipa, dalam sambutannya, mengatakan, tambahan bangunan tersebut semata-mata untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Rien menggambarkan, delapan ruang VIP yang baru dibangun mempunyai kelebihan, antara lain menyediakan ruang khusus untuk keluarga pasien, terpisah dengan ruang perawatan pasien, ada alat komunikasi khusus yang dipasang di samping tempat tidur pasien dan kamar mandi. Alat ini digunakan pasien untuk memanggil perawat ketika membutuhkan bantuan medis.
Ruang VIP yang baru dibangun ini dilengkapi AC, televisi 14 inch dan tempat tidur buatan Jerman yang dijamin memberikan kenyamanan bagi pasien seperti di rumah sendiri.
Rien mengungkapkan, di samping fasilitas ini, pihaknya terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama yang berkaitan dengan pelayanan.
"Jadi kenyamanan pasien benar-benar dijamin mulai dari fasilitas hingga keramahtamahan petugas medis. Khusus pelayanan, setiap bulan kita selalu evaluasi dengan menyebarkan kuesioner kepada pasien atau keluarga pasien," kata Rien.
Menjawab tuntutan perkembangan teknologi dan pelayanan prima, demikian Rien, secara bertahap pihaknya meningkatkan SDM tenaga medis, misalnya tahun ini 11 orang tenaga medis di rumah sakit ini dibiayai mengambil pendidikan lanjutan. "Percuma kita beli alat canggih, tapi tidak bisa dioperasikan karena sumber daya manusia belum siap," uajrnya.
Dia mengungkapkan, sekitar Rp 175 juta dana untuk pembangunan gedung baru merupakan sumbangan Pemda Sumba Timur. Meskipun rumah sakit swasta, 65 persen pasien dirawat di rumah sakit itu peserta Jamkesmas dan Askes Sosial.
Rien mengungkapkan, dari Januari sampai Juli 2010, rumah sakit ini merawat 37 pasien gizi buruk dan 67 pasien gizi kurang berasal dari keluarga kurang mampu.
RSK Lindimara, lanjut Rien, juga menyediakan ruang khusus untuk terapi akupuntur dengan petugas bersertifikasi nasional. Pengobatan ini tidak ditemukan di rumah sakit lain.
Wabup Sumba Timur, dr. Matius Kitu, Sp.B mengatakan, kesehatan merupakan salah satu indikator mencapai masyarakat sejahtera, di samping ekonomi dan pendidikan. Rumah Sakit Lindimara turut mengambil peran dalam membangun sektor kesehatan di daerah itu.
Matius menekankan pentingnya pelayanan kepada pasien. "Pelayanan yang baik, penampilan menarik, ramah kepada pasien membantu mempercepat proses penyembuhan pasien. Intinya, selalu akrabkan diri dengan Tuhan dan melayani dengan hati," katanya. (dea)
Read More...
Gidion: "Saya Tunggu dari Gubernur"
KUPANG, SPIRIT--Bupati Sumba Timur (Sumtim), Gidion Mbilijora, mengatakan, pihaknya tidak bisa membatalkan SK Gubernur NTT untuk mencabut izin tambang di Wanggameti.
"Kita selesaikan sesuai aturan. Saya sudah laporkan kepada gubernur. Proses selanjutnya saya tunggu dari gubernur," ujar Gidion di Kupang, Selasa (2/8/2010), menyusul desakan sejumlah organisasi masyarakat sipil di NTT yang meminta Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, mencabut izin tambang di kawasan hutan Wanggameti, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim).
Menurut Gidion, saat bertemu pengunjuk rasa, pihaknya sudah menjelaskan soal kewenangan gubernur dan bupati.
Gidion juga masih menunggu peta kawasan taman nasional Wanggameti. Setahunya, lokasi tambang emas itu berada di luar kawasan Taman Nasional. Tapi, katanya, semua itu tergantung peta oleh kehutanan. Jika petanya menunjukkan tambang berada dalam kawasan Taman Nasional akan diproses lagi.
Menurutnya, saat ini investor tambang emas baru melakukan eksplorasi, bukan eksploitasi. "Jadi tolong diluruskan bahwa investor itu baru melakukan eksplorasi bukan eksploitasi. Untuk proses selanjutnya saya tunggu dari gubernur," kata Mbilijora.
Untuk diketahui, permintaan mencabut izin tambang Wanggameti ini dilakukan beberapa LSM, antara lain Pikul, CIS Timor, KontraS NTT, PIAR, Bengkel APPEK, Koalisi Akar Rumput, NTT-Policy Forum, Yayasan Cemara, Blok Politik Masyarakat Sipil NTT, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrat dan Partai Rakyat Demokratik.
Dalam siaran pers yang dikirim ke SPIRIT NTT, Sabtu (31/7/2010), Torry Kuswardono dari Pikul mengatakan, Gubernur NTT harus menolak pertambangan di kawasan Wanggameti. Pencabutan izin oleh Gubernur NTT adalah tindakan terbaik karena seluruh aspirasi, baik oleh masyarakat maupun DPRD Sumtim sudah begitu jelas menolak pertambangan di Wanggameti. (yel/gem)
Read More...
Gubernur Serahkan 50 Ekor Sapi Betina
WAINGAPU, SPIRIT-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, menyerahkan 50 ekor sapi betina kepada empat kelompok tani (Poktan) peternak di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Sumba Timur. Empat kelompok itu, yakni Kelompok Harapan, Kelompok Sumber Berkat, Kelompok Hamu Li dan Kelompok Sinar Kasih.
Penyerahan dilakukan usai melantik dan mengambil sumpah Drs. Gidion Mbilijora, M.Si dan dr. Matius Kitu, Sp.B sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur di Waingapu, Selasa (31/8/2010).
Penyerahan sapi bantuan Pemerintah Propinsi NTT tersebut dilakukan secara simbolis kepada dua perwakilan kelompok penerima yaitu Hapu Mbai dari Kelomok Harapan dan Ignasius K Windi dari Kelompok Hamu Li. Bantuan sapi bibit tersebut berasal dari UPT Pembibitan Ternak dan Produksi Pakan Ternak Dinas Peternakan Propinsi NTT.
Penyerahan sapi bantuan tersebut, diakui Lebu Raya, sebagai bentuk dukungan untuk menjadikan Sumba Timur sebagai lumbung ternak dan pusat pengembangan rumput laut karena potensi sabana dan laut terseia sangat luas.
Agar tekad ini bisa terwujud, Lebu Raya menyarankan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menyiapkan sumber daya manusia yang profesional dalam bidang peternakan dan kelautan baik melalui sekolah maupun pendidikan dan pelatihan lainnya.
Untuk diketahui, pelantikan pasangan Drs. Gidion Mbilijora, M.Si dan dr. Matius Kitu, Sp.B menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur, Selasa (31/8/2010), merupakan pelantikan termeriah dalam sejarah Kabupaten Sumba Timur. Baru kali ini pelantikan bupati dan wakil bupati 'dikawal' dan dihadiri puluhan ribu massa.
Menariknya, massa yang datang itu atas inisiatif sendiri dengan biaya dari kantong sendiri, meskipun sampai di Waingapu panitia melalui para camat menyediakan makan dan minum untuk mereka.
Mereka datang menggunakan angkutan umum seperti bus. Ada juga yang menggunakan truk-truk bak terbuka, sepeda motor menempuh perjalanan yang begitu jauh hanya untuk menyaksikan pemimpin pilihannya dilantik. (dea)
Read More...




