Spirit NTT, 22-28 Desember 2008
KALABAHI, SPIRIT-- Sekretaris Kabupaten (Sekab) Alor, Drs. Seprianus Datemoly, bersama unsur muspida dan anggota korpri di daerah itu menanam anakan mangga alor, nimbal, dan jati manila di Lapai, Desa Taramana, Kecamatan Alor Timur Laut, Kamis (18/12/2008).
Penanaman itu dalam rangka Pekan Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKAN) tingkat Kabupaten Alor tahun 2008. Kegiatan penanaman ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Sekab Alor dan unsur pimpinan daerah menanam pohon mangga alor dan nimbal di depan Gereja GMIT Tarmana. Kelompok kedua terdiri dari anggota korpri dan masyarakat Desa Tarmana menanam pohon jati manila di Lapai.
PPKAN tingkat Kabupaten Alor tahun 2008 ini bertemakan, "Dengan penghijauan dan konservasi alam nasional sebagai upaya perlindungan sumber mata air demi kelangsungan hidup anak cucu kita." Upacara pembukaan berlangsung di Lapangan Desa Tarmana, Kecamatan Alor Timur Laut.
Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekab Seprianus Datemoly, mengatakan, masalah degradasi sumber daya alam (SDA) dan lahan di Kabupaten Alor, baik di darat mupun di pesisir dan laut sangat memrihatinkan akibat dari pemanfaatan secara tidak bertanggung jawab. Hal ini perlu penanganan serius dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat untuk memulihkan kembali SDA dan lahan kritis di wilayah Kabupaten Alor.
PPKAN, kata Takalapeta, merupakan salah satu pendekatan yang didasarkan pada upaya mendorong keterlibatan masyarakat sehingga pada gilirannya akan tumbuh motivasi, kreasi dan tanggung jawab dan kemampuan swadaya masyarakat sesuai dengan kearifan lokal menuju kesadaran arti pentingnya fungsi lingkungan hidup terutama ruang terbuka hijau.
Peran aktif masyarakat yang dimaksudkan, katanya, berkaitan dengan keberadaan, kemampuan dan kualitas organisasi sosial masyarakat serta tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup. Karena itu, pemerintah telah mengupayakan keterlibatan organisasi kemasyarakatan seperti organisasi keagamaan, adat, pemuda, wanita, pramuka dan pelajar baik formal maupun informal yang berada di kelurahan/desa melalui pembentukan kelompok pemuda cinta lingkungan dan kelompok siswa cinta lingkungan serta kelompok perguruan tinggi.
"Pola yang dilakukan adalah melalui pelatihan, penerangan, pendidikan serta pemberian penghargaan, rangsangan, dan dorongan kepada masyarakat maupun kelompok untuk terus berupaya melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan," ujar Takalapeta dikutip Datemoly.
Dikatakannya, berbagai kegiatan PPKAN yang telah dijalankan Pemkab Alor mendapat sambutan yang baik dan dukungan dari seluruh masyarakat Kabupaten Alor.
Hal ini menunjukkan bahwa masih ada orang dan kelompok yang memberikan perhatian secara penuh terhadap pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. Sikap ini diharapkan dapat membangun
kesamaan visi dan persepsi antar masyarakat atau stakeholder dan pemerintah tentang model atau pola pengelolaan SDA berbasis masyarakat yang bersumber pada kearifan lokal sehingga dapat terciptanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara pihak terkait dalam pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Alor.
Takalapeta mengatakan pendekatan pembangunan lingkungan hidup di daerah tersebut harus dilakukan melalui pendekatan etika dan moral, di mana setiap pelaksanaan pembangunan wajib untuk menghargai semua potensi kearifan lokal, sosial budaya yang berkembang di dalam masyarakat. Dengan demikian, penanganan masalah lingkungan hidup ke depan akan selalu mendapat dukungan dan partisipasi masyarakat secara utuh.
Hadir dalam kesempatan tersebut, utusan anggota Korpri dari setiap satker lingkup Pemkab Alor, Camat Alor Timur Laut, Stefanus Ouwpoly, S.Sos; Camat Lembur, Drs. Karel Karma; Kepala Desa Tarmana, Stefanus Frare, staf guru dan pelajar SD Inpres Tarmana, aparat desa Tarmana, tokoh masyarakat dan masyarakat Desa Tarmana. (eddy kaful/humas setda alor)
Read More...
Muspida Alor tanam mangga di Tarmana
Polisi terapkan pola tindakan tegas
Spirit NTT, 22-28 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Kapolres Alor, AKBP Edy Yudianto, menyatakan aparatnya menerapkan pola tindakan tegas dalam mengamankan perayaan hari raya Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 di wilayah itu. Semua kekuatan yang ada di Polres Alor akan dikerahkan untuk mengamankan jalannya hari raya tersebut.
Yudianto mengatakan hal itu ketika ditemui di kantornya, Kamis (18/12). Yudianto didampingi Wakapolres Alor, Kompol M Hari Mulyanto, SIK, Kasatserse, Iptu Taufig Igbal dan Kasat Intel, Ibrahim.
Saat itu mereka sedang mengamati ratusan liter minuman keras berupa sopi dan laru yang disita aparat Polres Alor. Operasi miras itu digelar dalam rangka menciptakan kondisi yang nyaman untuk Natal dan Tahun Baru.
Dia mengatakan, untuk kegiatan pengamanan hari raya Natal dan Tahun Baru di Alor, cara dan pola penangganannya sama seperti daerah lain. Namun karena Kabupaten Alor memiliki potensi tawuran antara kelompok pemuda, maka polisi menerapkan pola tindakan tegas. Salah satu langkah pencegahan yakni operasi penertiban miras. Sebab kebanyakan gangguan Kamtibmas di wilayah itu terjadi setelah orang minum miras.
Pantuan SPIRIT NTT di ruangan Reskim Polres Alor, polisi mengamankan sopi dan laru yang diisi dalam botol plastik bekas kemasan air mineral dan jerigen. Ada botol berisi miras dua liter dan jerigen berisi miras 5 liter sampai 30 liter.
Selain operasi penertiban miras, Kapolres mengatakan bahwa operasi lain yang digelar menjelang Natal dan Tahun Baru adalah penertiban masyarakat yang bermain petasan karena mengganggu ketenangan warga. "Apalagi Kota Kalabahi sering terjadi tawuran sehingga bunyi petasan terkadang membuat panik warga," katanya.
Mengenai potensi bentrok antarpemuda, dia menegaskan, awalnya polisi menggunakan tindakan persuasif terhadap beberapa kejadian sebelumnya. Namun kali ini polisi melakukan tindakan tegas terhadap oknum yang terlibat tawuran.
Menurutnya, dalam upaya penertiban sebelumnya, polisi sudah menyita sejumlah senjata tajam seperti parang dan anak panah.
Polisi juga, kata dia, telah berupaya memenuhi harapan masyarakat dengan membuka pos polisi di beberapa titik di Kalabahi yang rawan terjadi tawuran pemuda.*
Read More...
Waspadai banjir, tanah longsor dan angin
Spirit NTT, 22-28 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
PANTAR TENGAH, SPIRIT--Warga Desa Tama, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, harus mewaspadai banjir, tanah longsor dan angin menyusul yang terjadi hari Rabu (17/12/2008). Saat itu, 35 rumah warga setempat dan sebuah gereja terendam banjir.
Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Alor, Viktor Irianto Imang, yang dikonfirmasi, Kamis (18/12/2008), di Sekretariat Posko PBA Kabupaten Alor, menjelaskan, banjir merendam rumah penduduk dan sebuah gereja di desa itu.
Informasi yang diterima, kata Imang, yakni jumlah rumah dan fasilitas milik masyarakat di desa itu terendam banjir. Belum diperoleh laporan adanya korban dan kerusakan yang terjadi.
"Biasanya jika ada peristiwa seperti ini, masyarakat untuk sementara ditampung di tempat aman. Tetapi mungkin perabot rumah tangga masyarakat menjadi sasaran banjir," katanya
Imang menandaskan, Kamis (18/12/2008) petang, petugas dari Badan Kesbangpol dan Linmas Alor serta Dinas Sosial dan PMI turun sudah ke lokasi membawa bantuan emergency untuk masyarakat, sekaligus menghimpun data lengkap di lapangan.
"Data yang harus dicatat apakah ada korban dalam peristiwa ini, menyangkut kerusakan baik rumah dan harta benda termasuk lahan kebun milik masyarakat. Hal yang penting juga adalah bagaimana kondisi masyarakat yang jadi korban banjir. Kami ke sana tidak bisa gunakan speed boat karena kondisi laut. Kami carter perahu motor agak besar sehingga dapat muat barang bantuan," tandas Imang.
Ia menyebutkan bantuan yang dibawa antara lain beras 1, 5 ton, alat masak dan tenda. Selain itu, ada bantuan PMI berupa family kid 20 buah.
Menurutnya, dalam musim hujan saat ini daerah di Alor cukup rawan terjadi bencana. Diharapkan masyarakat waspada terhadap bencana seperti banjir, tanah longsor dan angin. Apabila terjadi bencana agar segera langsung lapor ke Posko PBA yang selalu aktif setiap hari.*
Read More...
Jalan Bukapiting-Apui hampir rampung
Spirit NTT, 22-28 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Pembangunan jalan Bukapiting-Apui yang didanai region transport project atau yang dikenal dikenal dengan EIRTP-2 itu sudah hampir rampung. Dengan demikian harapan masyarakat di wilayah Apui, Kecamatan Alor Selatan yang sudah bertahun-tahun ingin mendapatkan sarana jalan raya yang lebih bagus, terpenuhi.
Satker proyek EIRTP-2, Domi Salmau, S.T, kepada SPIRIT NTT di Kalabahi, Rabu (17/12/2008), mengatakan, pekerjaan ruas jalan sepanjang 16 km itu dimulai sejak Februari 2008 dan saat ini fisiknya sudah 83,83 persen. Dengan kemajuan fisik pekerjaan ini, katanya, maka proyek ini tinggal beberapa tahapan lagi dan selesai.
Aspal jalan ini, katanya, menggunakan aspal jenis super lasbutag. Selain itu, pekerjaan lain yang masih harus dilakukan adalah agregat dan membangun sejumlah bangunan pelengkap, seperti rel pengaman.
Apabila pekerjaan ini telah selesai, demikian Salmau, maka diperkirakan proyek ini rampung pada bulan Februari tahun 2009 sesuai dengan kontrak.
Berkaitan alokasi dana untuk proyek ini, Domi menyebutkan, total dana sebesar Rp 13.652.199.000 terdiri dari dana Bank Dunia Rp 8.191.319.400 dan sharing dana dari APBD Alor Rp 5.460.879.600. "Pekerjaan ruas jalan Bukapiting-Apui ditangani PT Adhi Karya dan dalam pelaksanaannya di lapangan berjalan dengan baik," tambahnya.
Dia mengaku dalam pelaksanaan proyek ini pengawasan oleh auditor BPKP cukup ketat dimana setelah proyek ini berjalan sudah tiga kali dilakukan pemeriksaan dengan spesifikasi masing-masing.
Ia menambahkan, untuk ruas jalan Bukapiting-Apui ini merupakan ruas jalan yang selama ini sangat dirindukan masyarakat di Kecamatan Alor Selatan. Pasalnya, selama ini untuk akses jalan ke daerah itu sangat memrihatinkan. Padahal kecamatan itu memiliki kekayaan sumber daya alam, seperti komodiri vanili yang sangat potensial. Dengan adanya akses jalan yang bagus ini maka akan sangat membantu masyarakat dalam menjual hasil perkebunan yang ada di Kecamatan Alor Selatan dan sekitarnya," tandasnya.
Selain ruas jalan itu, ia menyebutkan ruas jalan lain di Alor dengan proyek yang sama yakni ruas jalan Lelahomi-Mainang sepanjang 8,7 km. Pekerjaan fisik lintasan ini yang baru dimulai bulan Juli 2008 dan fisiknya baru mencapai 3 persen dimana pekerjaan fisiknya baru pada tahap galian. Namun dirinya optimis akan selesai sesuai masa kontrak yakni bulan Mei 2009.
Mengenai jumlah dana, ungkap Salmau, berdasarkan nilai kontrak yang ada Rp 9.388.598.000. Ruas jalan ini juga dikerjakan oleh PT Adhi Karya.*
Read More...
Bupati Alor-WWF tanda tangan MoU
KUPANG, SPIRIT-- Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, menandatangani nota kesepakatan dengan WWF untuk melestarikan dan mengamankan terumbu karang di perairan alor. Tanda tangan dilakukan di Hotel Sylvia-Kupang, Jumat (19/12/2008). Turut menyaksikan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, diwakili Kepala Bappedalda NTT.
Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, dalam sambutannya, mengatakan, tanggal 22 Novemver 2008 lalu masyarakat nelayan/pesisir di kepulauan di Kabupaten Alor sudah membangun kesepakatan terkait pemanfaatan hasil laut dengan membatasi pengambilan hasil laut. "Dengan adanya kesepakatan ini, maka hal itu sangat baik. Masyarakat nelayan di pulau membangun ikatan-ikatan dalam kesekapatan," tegasnya.
Direktur WWF Indonesia, Mubalik, dalam sambutannya mengatakan, kondisi terumbu karang di Indonesia umumnya banyak yang mengalami kerusakan berat hingga kerusakan sedang dan ringan.
"Karena itu, WWF berusaha memberi dukungan bagi pemeliharaan terumbu karang
yang menjadi tempat hidup habitat di laut melalui penetapan dan pengelolaan konservasi kawasan laut, serta mempromosi penangkapan ikan secara berkelanjutan. Ke depan ikan bisa dieksploitasi di wilayah tertentu, dan tidak boleh over eksploitasi, juga dilakukan penetapan zonasi. Ke depan perlu ada peraturan daerah untuk penetapan kawasan lindung dan pemanfaatan hasil laut secara berkelanjutan," kata Mubalik.
Kawasan perairan laut Flores, khususnya perairan Solor Lembata dan Alor, diakui Mubalik, merupakan salah satu dari tiga kawasan perairan laut yang menjadi pusat kehidupan terumbu karang, dan pusat ikan terbanyak di dunia.
Selain kawasan perairan Flores, juga kawasan perairan laut Sulawesi hingga kawasan perairan Kepulauan Burung-Pulau Papua menjadi pusat terumbu karang dan ikan dunia.*
SDM aparatur masih memiliki kelemahan
Spirit NTT, 15-21 Desember 2008, Laporan Beni Dasman
KALABAHI, SPIRIT--Pemerintah di berbagai negara memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kondisi sumber daya manusia (SDM). Begitu pula halnya di Indonesia, kondisi SDM aparatur masih memiliki berbagai kelemahan. Bahkan di Indonesia, kondisi SDM aparatur pemerintah yang diperlihatkan masih belum sebanding antara tuntutan dan tantangan tugas dengan kompetensi yang dimiliki aparatur pemerintah.
Hal ini dikemukakan Drs. P Pieter Djoka, MT, Widyaiswara dari Badan Diklat NTT, ketika melakukan evaluasi pasca diklat di Kalabahi, Selasa (9/12/2008).
Awal Desember 2008, Badan Diklat NTT secara serempak menerjunkan pejabat dan staf ke seluruh kabupaten/kota di Propinsi NT untuk melakukan evaluasi pasca diklat. Masing-masing petugas diberikan dokumen instrumen yang diisi oleh para mantan peserta Diklat NTT dari ketiga bidang, yakni penjenjangan, fungsional dan manajemen pemerintah.
Adapun evaluasi dimaksud, menurut Djoka, yang ditemui di Hotel Adhi Dharma- Kalabahi, setiap saat akan berupaya meningkatkan kualitas dan menyediakan kebutuhan peserta semakin sempurna. Selain menjaring data tentang manfaat diklat ketika peserta kembali bertugas.
Djoka menyebut manfaat diklat pada level individu, antara lain persepsi terhadap materi, tingkat penambahan pengetahuan, sikap terhadap pelatihan, pencapaian harapan dan pembahasan cara kerja. Sedangkan pada level organisasi, antara lain keuntungan bagi organisasi dan peningkatan semangat kerja PNS.
Menurut Djoka, ada berbagai faktor yang menyebabkan lemahnya SDM, salah satunya adalah pengembangan PNS melalui kediklatan tidak dilandaskan pada kebutuhan individual/organisasi. Selain itu, belum memiliki kerangka tentang standar kompetensi PNS (yang ada hanya bagi PNS yang memegang jabatan struktural), sedangkan yang sesuai dengan pangkat dan golongan belum dikembangkan.
Salah satu pendekatan dalam pelaksanaan analisis kebutuhan diklat (AKD), kata Djoka, selain sistematis, organisasi, kesejahteraan, administrasi, juga politik. Dalam hal ini AKD dilakukan dengan mempertimbangkan dampak politis dari diklat yang dilaksanakan. "Apakah diklat tersebut akan menambah pengaruh bagi pegawai tertentu di orgainisasinya, ataukah akan menambah prestise lembaga di mata para pengguna dan pesaing," katanya.
Menurut Djoka, hasil evaluasi diklat diharapkan akan memberikan dua hal besar, yaitu rekomendasi kebutuhan jenis dan jenjang diklat tertentu yang harus dilaksanakan untuk mengatasi kesenjangan kompetensi pegawai. Selain itu, rekomendasi upaya-upaya yang harus dilakukan manajemen (pimpinan organisasi) untuk mengatasi kesenjangan kompetensi dan kinerja di organisasi tersebut. Upaya- upaya ini bersifat langsung.*
Read More...
Ny. Dina Takalapeta buka rakerda PKK Alor
KALABAHI, SPIRIT-- Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor, Ny. Dina Takalapeta Meller, S.Th, membuka Rakerda Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor tahun 2008, di aula rumah jabatan Bupati Alor, Senin (15/12/2008).
Saat itu, Ny. Dina didampingi Sekretaris TP PKK Kabupaten Alor, Ny. S Makunimau. Rakerda diikuti 55 pengurus TP PKK kabupaten dan kecamatan.
Dalam sambutannya, Ny. Dina Takalapeta, mengatakan, untuk mendukung kegiatan PKK di kecamatan, perlu diperjuangkan dana tambahan dari pemerintah kabupaten, propinsi dan pusat.
Ny. Dina mengatakan, PKK dalam keterbatasannya telah berbuat untuk mendukung pembangunan di Alor. Ny. Dina mengatakan, belakangan ini ada beberapa kemajuan kegiatan PKK, yakni mengadvokasi kegiatan perempuan, khususnya pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan. PKK, kata dia, dalam setiap kegiatannya selalu mengkampanyekan antikekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, lanjut Ny. Dina, PKK tetap memotivasi anggotanya untuk terus menghidupkan posyandu-posyandu di Alor. Dengan cara ini, PKK ikut berpartisipasi dalam pembangunan sektor kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak-anak.
Dia mengingatkan semua pengurus PKK agar terus menjaga kesinambungan program. Meski PKK hanya merupakan sebuah gerakan moral dalam kegiatannya, kata Ny. Dina, namun dapat memberikan perubahan kehidupan bagi keluarga dan masyarakat.
Ny. Dina berharap rakerda tersebut dapat melahirkan rekomendasi yang dapat dimplementasikan di tingkat kecamatan. Dia kembali mengingatkan perlunya memperjuangkan dukungan dana dari pemerintah kabupaten/propinsi dan pusat guna membiayai kegiatan PKK di tingkat kecamatan.
"Kalau di kabupaten lain, untuk alokasi dana bagi PKK kabupaten sampai Rp 400 juta lebih. Kita di Alor baru Rp 100 juta lebih sehingga kita masih butuh dukungan, dan PKK di kecamatan-kecamatan perlu mendapat perhatian untuk hal ini," kata Dina.*
Mesin desalinasi air laut di Tereweng rusak
Spirit NTT, 15-21 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
TEREWENG, SPIRIT--Warga Pulau Tereweng, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, kembali minum air hujan karena mesin desalinasi yang mengolah air laut menjadi air tawar rusak.
Camat Pantar Timur, Soleman Blegur yang ditemui di Kalabahi, Minggu (14/12/2008), membenarkan terjadi kerusakan mesin desalinasi itu.
Blegur mengatakan, Rabu (10/12/2008), dia berkunjung ke desa itu untuk mengecek laporan kerusakan mesin desalinasi. Kata Blegur, kerusakan alat ini terjadi di saat musim hujan sehingga warga mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari. Kebetulan, kata dia, kebanyakan warga sudah membangun penampung air hujan PAH.
Wilayah setempat tidak ada sumber mata air. Sebelum ada mesin desalinasi ini warga biasanya menyeberangi lautan dengan ketinting (sampan) atau perahu motor untuk mengambil air di Desa Nulle, Pulau Pantar atau di Tanjung Gereja (Pulau Alor).
Berkaitan dengan kerusakan alat itu, lanjut Blegur, alatnya sudah dipesan dari Pulau Jawa dan sedang diangkut kapal ekspedisi. "Ini menyangkut kebutuhan masyarakat, jadi masyarakat dengan inisitiatifnya sendiri menggunakan jaringannya berupaya memesan alatnya. Kita berharap alat ini dalam waktu dekat sudah sampai di Tereweng sehingga dapat kembali dipasang untuk mesin penyulingan air laut," kata Blegur. Warga Tereweng yang ditemui di Kalabahi, mengatakan, kerusakan mesin desalinasi itu sangat menyulitkan warga memperoleh air bersih. *
Read More...
Warga Kabola ikut sosialisasi HIV/AIDS
Spirit NTT, 15-21 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KABOLA, SPIRIT--Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan para guru di Kecamatan Kabola mengikuti sosialisasi pencegahan HIV/AIDS di Kantor Kelurahan Kabola, Jumat (12/12/2008). Sosialisasi ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris KPAD Kabupaten Alor, Alberth N Ouwpoly, S.Pd.
Dalam sosialisasi ini, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Alor menghadirkan dua orang narasumber, yakni Endang Adang, SKM dari Dinas Kesehatan yang juga anggota KPAD Alor dan Silvester Nusa, Pemimpin Redaksi Tabloid Ombay News.
Dalam sosialisasi ini, KPAD menggarisbawahi bahwa alat kontrasepsi yang masih aman dari virus HIV/AIDS adalah kondom. Walau jaminan keamanannya tidak seratus persen, disarankan mereka yang suka gonta-ganti pasangan menggunakan kondom saat berhubungan seks.
KPAD dan jajaran Dinas Kesehatan tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat untuk melakukan hubungan seks secara sehat agar tidak terinfeksi HIV/AIDS. Saat ini, jumlah penderita atau pengidap HIV/AIDS di Alor mengalami peningkatan yang sangat tajam. Jika dua tahun lalu hanya 4 orang, tahun 2007 sebanyak 6 orang, maka di tahun 2008 meningkat menjadi 16 orang. Data ini diperoleh dari KPAD Kabupaten Alor.
Di hadapan para peserta, Endang Adang menjelaskan, cara yang paling aman untuk mencegah HIV/AIDS adalah tidak melakukan hubungan seksual. Kalau tidak bisa menahan gejolak, alangkah baiknya menggunakan kondom saat berhubungan seks. Hanya saja, kata dia, kondom sama sekali tak menjamin tidak terinfeksi virus. Cara yang ampuh sebenarnya adalah setia pada pasangan masing-masing.*
Read More...
Terumbu karang di Pantar rusak dibom
Spirit NTT, 1-6 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KABIR, SPIRIT--Terumbu karang dan ekosistem laut di perairan Pantar, terlebih di sekitar Pulau Batang dan Lapang, rusak dibom oleh nelayan dari luar yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak.
Kondisi ini dibenarkan Lurah Kabir, Kecamatan Pantar, Madyan Wahid, di Kalabahi, Jumat (21/11/2008). Dia mengakui nelayan yang menangkap ikan dengan bom di sekitar perairan Pulau Lapang dan Batang semakin semarak. Pelakunya berasal dari luar Kabupaten Alor sehingga polisi air perlu mengawasi wilayah perairan di sana.
Penangkapan ikan dengan bom, kata Wahid, merusak terumbu karang dan habitat bawah laut. Dia mengatakan sudah melaporkan itu ke Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Alor. Namun, kata dia, pengawasan dari dinas terkait masih kendor sehingga nelayan dari luar tetap leluasa membom ikan.
Warga setempat, kata Wahid, tidak berdaya mencegah ulah nelayan luar itu karena tidak memiliki fasilitas. Apalagi, lanjut Wahid, nelayan liar dari luar itu sudah berpengalaman. Mereka pandai menghindar jika diintai petugas atau warga setempat. Pengalaman pahit, lanjut Wahid, ada nelayan setempat berupaya mengejar dan menghalau dengan perahu biasa, tapi diladeni dengan kabel yang punya strum ke arah perahu milik nelayan setempat. Warga khawatir bom ikan dilempar ke perahu milik mereka sehingga mereka memilih kembali ke darat.
Wahid meminta dinas terkait dan aparat keamanan menyikapi kondisi tersebut agar ekosistem laut tidak rusak oleh ulah tidak bertanggung jawab nelayan asal luar Alor.*
Read More...
Seperti ayam mati di lumbung padi...
Spirit NTT, 1-6 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
MEMILIKI tambang batu hitam, warga Desa Kiraman, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, hanya menuai kebanggaan. Tak berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Karenanya, agar batu hitam itu meraup rupiah dan warga setempat hidup sejahtera, Pemerintah Desa Kiraman merancang peraturan desa (Perdes) tentang batu hitam.
"Perdes ini akan menjadi payung hukum bagi aparat desa dan masyarakat memperoleh manfaat yang pantas dari hasil tambang batu hitam di desa ini," ujar
Kepala Desa (Kdes) Kiraman, Lukas Awengkari di Kalabahi, Sabtu (22/11/2008).
Awengkari mengatakan, Desa Kiraman dan sejumlah desa lain di Alor sebagai daerah penghasil batu hitam. Namun masyarakat di desa itu diibaratkan seperti ayam mati di lumbung padi. Hal ini, kata Awengkari, karena potensi batu hitam yang terus ditambang oleh masyarakat dan dibeli pengusaha, dampaknya belum dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat, apalagi pemerintahan desa.
Padahal, kata Awengkari, di satu sisi harga dari batu hitam ini dikeluarkan dari Kabupaten Alor ke pulau Jawa sangat menggiurkan. Selama ini, kata dia, hasil dari tambang batu hitam tidak pernah dirasakan langsung oleh masyarakat dan pemerintah desa setempat. Hal ini, karena pengusaha yang melakukan penambangan di desa itu langsung membayarnya kepada pemerintah kabupaten.
Supaya masyarakat dan pemerintah desa juga menikmati kekayaan alam itu, pihak desa sedang menyusun peraturan desa sehingga ada retribusinya. Direncanakan, satu karung batu hitam dipungut Rp 2.500.*
Read More...
Warga Labuan Bajo agar waspadai gelombang
Spirit NTT, 1-12 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KABIR, SPIRIT--Warga Kelurahan Kabir, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, yang lokasi pemukimannya berada di pesisir pantai, diingatkan mewaspadai ancaman gelombang laut di musim hujan saat ini. Wilayah seperti Labuan Bajo yang sering diterjang gelombang ini harus mengantisipasi sebelum hal itu terjadi.
Imbauan ini disampaikan Lurah Kabir, Madyan Wahid, di Kalabahi, Jumat (21/11/2008).
Menurut Wahid, hampir setiap tahun pemukiman warga pesisir pantai selalu diterjang gelombang laut di saat peralihan musim. Tahun lalu, amukan gelombang menghantam warga saat ada kunjungan sejumlah anggota DPRD Alor, tapi Dewan masih tutup mata.
Saat itu, kata Wahid, rumah-rumah penduduk di pesisir pantai, seperti wilayah Labuan Bajo, dihantam gelombang tinggi sekitar 3-4 meter. Beberapa rumah warga rubuh. Untungnya, kata Wahid, tidak ada korban jiwa karena warga sudah mengantisipasi gejala itu dengan meninggalkan rumah dan berlindung ke tempat aman.
Selain di Labuan Bajo, di lokasi lainya di kelurahan itu yang menjadi wilayah rawan gelombang adalah Pasar Kabir. Para pengguna pasar diminta waspada karena air laut sering naik 20-30 meter.
Wahid menjelaskan, pihaknya sudah mengusulkan agar dibangun tembok penahan abrasi di pesisir pantai itu, khususnya untuk wilayah-wilayah pemukiman dan fasilitas umum lainnya. "Usulan abrasi ini selalu diangkat, mulai dari musrenbang, bahkan langsung ke Pemkab Alor. Namun hingga kini belum direalisasikan," kata Wahid. Untuk mengantisipasi musim barat, kata Wahid, pemerintah kelurahan terus mengimbau warga agar selalu waspada. *
Read More...
DPRD Alor hasilkan dua ranperda inisiatif
Spirit NTT, 1-6 Desember 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, PK-- DPRD dan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Alor mulai bersidang untuk membahas perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2008, Selasa (25/11/2008). Juga dibahas enam ranperda, dua di antaranya hasil inisiatif dewan.
Molornya sidang perubahan ini karena Dewan dan pemerintah disibukan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada).
Disaksikan SPIRIT NTT, rapat paripurna DPRD tentang perubahan dan penetapan Rancangan Perubahan APBD Kabupaten Alor TA 2008 dan enam buah Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kabupaten Alor Tahun 2008, ini dibuka Ketua DPRD Alor, John Th.Blegur, didampingi dua wakil ketua, Azer D Laoepada dan Usman Syarif serta dihadiri seluruh anggota dewan. Sidang ini dihadiri langsung Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta bersama seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Blegur memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah menyiapkan berbagai dokumen rancangan perubahan APBD untuk dibahas. Blegur mengharapkan, sidang dewan yang dijadwalkan berlangsung sejak 25 November 2008 hingga 10 Desember 2008 itu dapat terlaksana dengan baik demi terciptanya kesinambungan pembagunan, pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan. Seluruh anggota dewan diharapkan aktif menghadiri berbagai agenda sidangbersama-sama eksekutif.
Bupati Alor, Ir.Ans Takalapeta, mengatakan, kerja sama pemerintah dan Dewan perlu dipertahankan sehingga persidangan berjalan sesuai dengan agenda yang ditetapkan. "Kita akan membahas rancangan APBD Perubahan Tahun 2008 serta 4 buah Ranperda Kabupaten Alor yang diusulkan eksekutif dan dua Ranperda hak inisiatif dewan. Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas hak inisiatif dewan dalam menyampaikan dua buah Ranperda," ujar Takalapeta.
Takalapeta juga menyampaikan pengantar nota keuangan dan dokumen RAPBD Perubahan Kabupaten Alor TA 2008 untuk dibahas DPRD Alor.
Takalapeta juga berterima kasih kepada semua pihak yang sudah menyukseskan penyelenggaraan pilkada dalam suasana aman dan kondusif. Takalapeta menghimbau agar semua kandidat yang baru saja mengikuti pilkada memahami dengan benar seluruh proses demokrasi. Dalam berdemokrasi, ujar Takalapeta, perbedaan pendapat itu selalu ada.
Terkait indikasi-indikasi pelanggaran yang kalau ada, katanya, itu harus disikapi sesuai mekanisme yang berlaku dengan menjaga situasi tetap kondusif demi penyelenggaraan pembangunan, pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan di daerah ini.*
Read More...
Harus sepaham selamatkan alam
SPIRIT NTT/IST
PANTAR MEMESONA--Biota bawah laut di Selat Pantar-Alor memperlihatkan keindahan yang memesona. Sangat tepat Pemkab Alor melindungi kawasan ini agar tidak tercemar. Gambar dipotret belum lama ini.
Spirit NTT, 1-6 Desember 2008
KALABAHI, SPIRIT-- Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, meminta semua pihak di daerah itu agar sepaham dan sehati menyelamatkan alam khususnya kawasan selat Pantar dari berbagai kerusakan baik oleh alam maupun manusia.
Permintaan Bupati Ans ini disampaikan ketika membuka workshop tentang perluasan kawasan konservasi laut daerah (KKLD di wilayah itu, di Aula Hotel Nusa Kenari Kalabahi, Senin (24/11/2008). Workshop ini diselenggarakan World Wide Fund (WWF) Indonesia bekerja sama dengan WWF Denmark dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor.
Kegiatan dihadiri Ketua DPRD Alor, Drs. John Th Blegur, serta WWF Indonesia dan WWF Denmark, Mrs. Lene Topp. Workshop dihadiri para camat se-Kabupaten Alor, kalangan LSM dan tokoh masyarakat yang peduli lingkungan.
Menjaga kelestarian laut, kata Bupati Ans, membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Karena itu, katanya, workshop ini juga membicarakan tentang tindakan apa dari orang Alor untuk menyelamatkan alam. "Tindakan nyata sangat penting sebagai bagian dari kepedulian kita terhadap lingkungan," tegasnya.
Bupati Ans mengatakan, Alor merupakan wilayah kepulauan sehingga laut harus benar-benar dijaga demi kelangsungan hidup generasi di masa datang. "Kami sangat setuju dengan moto yang diusung WWF, yaitu 'Laut Rusak Tak Ada Masa Depan'. Itu artinya laut lestari maka masa depan lestari. Kawasan konservasi laut daerah harus kita perluas dan menjaga keutuhan hayatinya secara baik," kata Takalapeta.
Menurut dia, ancaman kerusakan akibat penangkapan ikan menggunakan bom rakitan harus dihentikan dan memantau pergerakan nelayan luar daerah yang melakukan pemboman ikan di kawasan koservasi laut di Selat Pantar dan sekitarnya. Takalapeta mencontohkan, taman laut yang indah di sekitar Pulau Buaya, saat ini rusak karena pemboman ikan.
"Saya melihat bahwa di kawasan laut yang arusnya kencang, maka taman lautnya makin indah. Lalu saya berkesimpulan bahwa alam sendiri pun menjaga keamanan lingkungannya. Tahun 2002 lalu, saya telah menerbitkan Surat Keputusan Bupati tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah di Selat Pantar dan sekitarnya sehingga ditindaklanjuti pemerintah pusat hingga saat ini. Oleh karena itu, kita patut memperluas dan menjaga kawasan konservasi laut yang ada," tegasnya.
Sementara John Th Blegur mengajak masyarakat memberikan penghargaan kepada Bupati Takalapeta yang sejak 2002 telah berpikir jauh ke depan sehingga mengeluarkan SK Bupati tentang kawasan konservasi laut daerah di Kabupaten Alor.
Menurut Blegur, seluruh warga Alor, terutama warga pesisir agar ikut melestasrikan KKLD di Selat Pantar. Selat Pantar, kata Blegur, merupakan kawasan laut yang masuk wilayah Kabupaten Lembata dan Flores Timur. Oleh karena itu perlu komunikasi dan kerja sama yang sinergis dalam ikut menjaga KKLD.
WWF Indonesia dan WWF-Denmark, Mrs. Lene Topp, dalam pemaparannya menampilkan kondisi KKLD di Kabupaten Alor. Perluasan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) selat Pantar, menurut WWF, akan meningkatkan keanekaragaman hayati. Strategi yang disosialisasikan dengan sistem one sea one planning akan memberi manfaat besar pada warga hari ini dan masa mendatang. (edy/humas alor)
Read More...
Tim penilai Adipura kagumi kebersihan di RSU Kalabahi
Spirit NTT, 24-30 November 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Tim penilai Adipura mengagumi penataan dan kebersihan di RSU Kalabahi, namun tidak cukup membantu ambisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor meraih tropi tersebut. Komponen lainnya seperti Pasar Inpres Lipa dan Pasar Kadelang masih terlihat semrawut.
Hal ini dikatakan Ketua Dewan Evaluasi Kota (DEK) Kabupaten Alor, Ruskie Bere, BA, kepada SPIRIT NTT di Kalabahi, Senin (17/11/2008). Pernyataan Ruskie ini setelah dirinya mendampingi tim penilai adipura tahun 2009 dari Bali yang datang ke Kalabahi pekan lalu.
Ruskie menjelaskan, berdasarkan format penilaian untuk sebuah kota meraih adipura adalah kebersihan dan kesejukan. Untuk konteks ini, kata Ruskie, Kota Kalabahi memang sejuk tapi kotor dan jorok pada areal pasar. Tim menilai Kalabahi sejuk karena banyak tanaman hijau yang menghiasi kota hingga pinggiran kota yang didukung dengan hutan-hutan penyangga, seperti hutan nostalgia.
Untuk itu, kata Ruskie, dari segi kesejukan dalam penilaian mendapat point yang baik. Namun dari DEK sendiri, ada beberapa saran yang harus diperhatikan pemerintah. Saran yang dimaksud antara lain tanaman yang telah dikembangkan di kota perlu diperhatikan secara baik, dan harus melakukan penertiban hewan yang berkeliaran dalam kota. Karena hewan seperti kambing dan sebagainya, biasanya merusakkan tanaman di kota.
Sementara masalah kebersihan, lanjut Ruskie, dari sejumlah tempat yang dikunjungi, seperti kompleks pertokoan, perkantoran, pemukiman, pelabuhan, sungai, jalan raya dan pasar hingga tempat pembuangan akhir (TPA) sampah mendapat penilaian plus-minusnya.
Untuk kompleks pertokoan dengan sampel di pertokoan Kalabahi, dan pemukiman yang dinilai di kompleks perumahan BTN di wilayah Bungawaru dan pemukiman di wilayah Mutiara mendapat apresiasi yang bagus. Demikian juga wilayah pelabuhan dan perkantoran dinilai oleh tim cukup baik.
Kantor-kantor yang dikunjungi antara lain Kantor Bupati, Dinas Perikanan dan Kelautan, Kodim dan DPRD serta RSUD.
Kantor-kantor ini sudah baik. Namun untuk kompleks Kantor Bupati perlu diperhatikan masalah kebersihannya. Karena di kantor itu masih ditemukan sampah yang berserakan, padahal fasilitas tempat sampah di kantor itu ada tapi tidak dimanfaatkan.
Tim sangat mengagumi penataan dan kebersihan yang ditemukan di RSUD Kalabahi. Untuk kawasan perkantoran, RSUD Kalabahi mendapat nilai yang paling tinggi.
Untuk sungai, Jembatan Hitam dan Buono yang berada di kota yang menjadi sasaran survai, kata Ruskie, dinilai bersih dan baik. Penilaian yang sama juga diberikan untuk kondisi jalan di kota. Jalan-jalannya cukup memenuhi syarat.*
Read More...
Sanitasi umum dibangun di delapan desa
Spirit NTT, 24-30 November 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Delapan desa dan satu kelurahan di Kabupaten Alor yang krisis air bersih mendapat program penyediaan air dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Penanggung jawab Program Pamsimas di Kabupaten Alor, Christina Ndolu Beli, ST, di Kalabahi, Kamis (20/11/2008), menjelaskan, pelaksanaan program ini di desa sasaran telah memasuki tahap rencana kegiatan masyarakat dan dilanjutkan dengan pembangunan fisik.
Air bersih ini untuk masyarakat dan anak sekolah. Selain sarana air bersih, juga dibangun sanitasi umum dan sekolah yang ada di desa sasaran. Dalam pelaksanaan program ini, kata Beli, setiap desa disiapkan dana Rp 275 juta. Dana ini terdiri dari dana APBN sebesar Rp 192.500.000, dana APBD Rp 27.500.000, dan kontribusi dari masyarakat berupa uang tunai Rp 11 juta dan penyiapan material yang kalau dikonversikan dengan uang sebesar Rp 44 juta.
Adanya kontribusi masyarakat ini, kata Beli, membuktikan bahwa partisipasi masyarakat sangat tinggi. Dan, strategi yang dibangun nantinya masyarakat dapat memanfaatkan dan menjaga sarana yang ada seperti miliknya sendiri. "Program ini masuk dengan pendekatan partisipasi masyarakat, bukan proyek. Kalau proyek masyarakat tidak merawatnya, tapi pamsimas pasti dirawat karena mereka ikut berpartisipasi," kata Beli.
Beli mengatakan, desa-desa yang menjadi sasaran dari program ini adalah desa yang memenuhi kriteria, antara lain rawan air bersih, indeks kemiskinan desa, wilayahnya terbatas akses sanitasi, dan penyakit diarenya tinggi.*
Read More...
Emas di Halerman dan Probur dieksplorasi
Spirit NTT, 24-30 November 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Potensi emas di Desa Halerman dan Probur, Kecamatan Alor Barat Daya (ABAD), Kabupaten Alor telah melewati tahap penyelidikan umum oleh PT Indonusa Inti Perkasa Tambang. Proses itu sudah berlangsung setahun dan saat ini telah memasuki tahapan eksplorasi selama tiga tahun ke depan.
Hal ini dijelaskan Kepala Seksi Geologi Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Alor, Mercy D Sumaa, kepada SPIRIT NTT, di Kalabahi, Selasa (18/11/2008). Sumaa menjelaskan, potensi emas di Kabupaten Alor terdapat di beberapa wilayah. Sejak 2004, salah satu perusahaan dari Jawa, PT Indonusa Inti Perkasa Tambang yang tertarik dengan potensi emas di Alor secara serius melakukan penyelidikan umum di Desa Halerman dan Probur.
Dalam penyelidikan itu, kata Sumaa, tahun 2007 perusahaan itu melanjutkan kegiatannya dengan memperpanjang waktu selama 1 tahun. Ini karena data yang kurang lengkap. Perpanjangan penelitian ini oleh pemerintah daerah sangat memungkinkan karena telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001.
Setelah penyelidikan, perusahaan itu menyampaikan ke pemkab hasil penyelidikan menunjukkan potensi yang ada memiliki nilai ekonomis. Perusahaan itu melanjutkan kegiatannya untuk tahapan eksplorasi. Untuk tahapan ini luas lahan yang ada semakin diperkecil, yaitu hanya 10.000 ha. Luas lahan ini beda saat tahapan penyelidikan umum, yakni 25.000 ha.
Menurut Sumaa, untuk kegiatan eksplorasi perusahaan cukup tertarik, meski kegiatannya baru pada tahap penyelidikan permukaan atau secara tekhnisnya disebut pengukuran todographis dan induction polaritation (IP), sehingga untuk tahapan ini akan dilanjutkan dengan kegiatan pengeboran eksplorasi.
Lebih lanjut Sumaa mengatakan, untuk kepastian kandungannya, tahun depan bisa didapat informasinya secara jelas. Perusahaan itu telah berada pada tahapan eksplorasi untuk mengetahui cadangan terukurnya. Apabila sudah ada cadangan tertambang, maka ekplorasi memasuki tahapan penambangan atau eksploitasi.
Kendati demikian, jelas Sumaa, perusahaan tersebut belum sampai pada tahap eksploitasi. Dua tahapan yang dijalani, yaitu penyelidikan dan eksplorasi telah membayar ratusan juta kepada pemerintah daerah. "Untuk pembayarannya dalam penyelidikan umum (PU) sekitar Rp 100 juta perusahaan telah membayarnya. Ini karena dalam tahun 2007 untuk kegiatan PU, satu hektar dibayar Rp 3.000. Sedangkan tahun 2008 ada perubahan aturan sehingga menjadi 1 ha Rp 5.000. Demikian pula untuk tahapan eksplorasi perusahaan bayar Rp 150 juta. Karena untuk per hektarnya dinilai dengan Rp 15.000," kata Sumaa.*
Read More...
Perempuan bahas anggaran responsif gender
SPIRIT NTT/OKTO MANEHAT
PENINGKATAN KUALITAS--Peningkatan kualitas perempuan NTT saat ini sangat penting dan mendesak dilakukan agar tidak saja menjalankan tugas-tugas domestik seperti menenun, tetapi juga berkiprah disemua arena pembangunan. Gambar diabadikan belum lama ini.
Spirit NTT, 20-26 Oktober 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT -- Perempuan dari berbagai organisasi di NTT mengikuti workshop penyusunan anggaran beresponsif gender di Aula Hotel Kenari Indah-Kalabahi, Rabu (15/10/2008). Juga dilakukan temu koordinasi tim pengelola program pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan perlindungan anak.
Kegiatan ini dibuka Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, dan pada saat itu Bupati Ans membacakan sambutan tertulis Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Ir. Esthon Foenay.
Menurut Wagub Foenay, kekerasan terhadap perempuan di NTT cenderung meningkat, baik jumlah maupun corak dan kualitasnya, termasuk masalah perdagangan orang (perempuan dan anak). Kondisi ini perlu diwaspadai dan diberi perhatian yang sungguh-sungguh oleh pemerintah daerah.
Menurut Wagub Foenay, mengacu pada UU Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka upaya dan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui strategi Pengarusutamaan Gender (PUG) perlu mendapat perhatian yang lebih besar. UU 32/2004 relevan dengan upaya pemberdayaan perempuan dan PUG, yakni peningkatan kualitas hidup masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, perwujudan keadilan dan pemerataan, peningkatan pelayanan dasar pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, peningkatan sistem jaminan sosial, pengembangan sumber daya produktif di daerah dan pelestarian nilai sosial budaya.
"Efektivitas pelaksanaan kebijakan dan program memerlukan kemampuan dari aparatur pengelola dalam menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan ketimpangan gender dalam pembangunan daerah serta merencanakan dan melaksanakan secara efektif program-program pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan perlindungan anak," ujarnya.
Dengan demikian, lanjunya, perlu dicermati kembali kebijakan dan program pemberdayaan perempuan. Hal ini perlu didiskusikan dalam kegiatan workshop tersebut dan menjadi perhatian serius dalam kegiatan tersebut.
"Kita perlu memberikan perhatian yang serius dan sungguh-sungguh pada upaya pembangunan pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. Hendaknya di setiap kabupaten dan kota perlu mencermati kembali prioritas yang telah ditetapkan dan mengembangkan lagi strategi yang lebih progresif walaupun dengan banyaknya keterbatasan dimiliki," katanya.*
Read More...
Pantar Barat fokus pendampingan rumput laut
SPIRIT NTT/IST
PESONA LAUT LAUT--Keindahan laut di Alor menjadikan wilayah itu sebagai salah satu pusat wisata bahari di NTT dan diminati banyak wisatawan.
Spirit NTT, 20-26 Oktober 2008, Laporan Okto Manehat
KALABAHI, SPIRIT--Bank NTT mendampingi petani rumput laut di wilayah Marica Keamatan Pantar Barat dan di Pante Dere Kecamatan Kaloba, Kabupaten Alor, dalam pengembangan rumput laut menjadi komoditas unggulan itu di dua wilayah itu. Bank NTT Cabang Alor mengucurkan dana pendamping berupa kredit usaha dengan bunga rendah kepada kelompok petani rumput laut di dua wilayah tersebut.
Demikian penjelasan Kepala Cabang Bank NTT Alor, Bastian Pello di Kalabahi, Jumat (10/10/2008). Pello menjelaskan, rencana pendampingan itu sudah lama namun baru dapat dilakukan setelah dilakukan survai diikuti perencanaan yang matang. Tahap awal pendampingan difokuskan di Pantar Barat. Bentuknya pendekatan terhadap tiga kelompok di Desa Pante Deere dan lima kelompok di Pantar Barat.
Lanjut Pello, Bank NTT link dengan Pemkab Alor melalui Dinas Perikanan dan Kelautan. Bank NTT akan masuk dengan bantuan kredit sedangkan pemkab masuk dari aspek penguatan pengembangan usaha. Untuk pendampingan berupa kredit, kata Pello, setiap petani rumput laut yang tergabung dalam sasaran diberikan Rp 5 juta. Pemberian dana tergantung pada berapa banyak orang dalam kelompok. Bank NTT siap melayani.
Pengembaliannya, kata Pello, dalam waktu satu tahun dengan bunga 15 persen.
"Kita tidak bisa mulai dalam jumlah wilayah dan kelompok sasaran yang banyak, karena saat ini harga rumput laut anjlok dari Rp 20.000/kg menjadi Rp 8.000/kg. Kita berikan kepada kelompok yang layak agar pengembalian tidak macet. Untuk kredit seperti ini pengalaman kita cukup berhasil," kata Pello.*
Read More...
Keindahan Pulau Alor dan kekentalan toleransi beragama
SPIRIT NTT/OKTO MANEHAT
SHOLAT IDUL FIITRI--Umat muslim melakukan sholat Idul Fitri di Lapangan Mini Kalabahi, Oktober lalu. Kerukunan antarumat beragama di daerah itu sangat tinggi dan patut dicontohi daerah lainnya di NTT.
Spirit NTT, 20-26 Oktober 2008
TIUPAN angin muson yang kencang membuat laut bergejolak lebih dahsyat ketimbang hari-hari sebelumnya. Perubahan alam itu menandakan angin musim Barat telah melanda Pulau Alor, sebuah pulau di ujung Timur Kepulauan Nusa Tenggara. Kedatangan musim Barat ini sekaligus menandai terhentinya hubungan Pulau ALor dengan daerah lain. Buktinya, sejumlah kapal penyeberangan yang biasanya membawa warga Alor ke sejumlah daerah tetangga terpaksa menghentikan aktivitasnya untuk sementara. Begitu pula halnya dengan para nelayan yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga sambil menunggu hingga tiupan angin tersebut berlalu.
Bukan hanya itu, angin musim Barat yang membawa serta curah hujan yang tinggi juga membuat napas kehidupan di dalam pulau ini sedikit tersendat. Akibatnya, perdagangan di sejumlah pasar pun turut sepi. Namun, kedatangan musim penghujan ini tak membuat komunikasi di dalam pulau terputus. Seolah tak mengenal hujan dan panas, Panser, kendaraan tradisional kreasi asli orang Alor--jip yang dimodifikasi--tetap setia menyusuri setiap ruas jalan di pulau kecil tersebut. Bahkan, ketangguhannya dapat menembus sejumlah wilayah yang sulit ditempuh kendaraan biasa.
Alor memang sebuah pulau yang penuh pesona. Wilayah yang terdiri dari gugusan gunung, pulau-pulau kecil, serta Selat Kalabahi yang menjorok jauh ke dalam daratan membuat pulau ini menawarkan pesona keindahan yang menawan. Begitu pula dengan alam yang terbentuk dari hasil perpaduan ekstrem antara daerah pesisir dan pegunungan terjal ini, membuat kehidupan di Pulau Alor menjadi beragam. Di wilayah pesisir, terutama di sekitar Teluk Kalabahi, misalnya. Daerah Ibu Kota Kabupaten Alor ini menjadi pusat perdagangan, birokrasi, dan tempat hidup masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari lautan. Bahkan, di wilayah ini hidup pula berbagai kelompok etnis dengan beragam latar belakang pekerjaan yang menjadi simbol modernisasi. Setidaknya daerah tersebut menjadi tempat pertumbuhan industri tradisional seperti kain tenun Alor yang terkenal.
Sedangkan penduduk asli Alor hidup sedikit menjauh dari pantai dalam berbagai kelompok. Sebagian besar kelompok tinggal di lereng-lereng pegunungan agar dapat mengawasi setiap orang yang datang. Kendati begitu, sebagian di antara mereka hidup dengan menjaga tradisi lama yang menjadi warisan nenek moyang. Kondisi alam yang berbukit-bukit dan jalur transportasi terbatas, membuat masing-masing kelompok hidup secara eksklusif dalam mengembangkan peradaban lokalnya.
Itulah sebabnya, mereka mempunyai puluhan bahasa lokal yang di setiap kampung atau kelompok sangat berbeda. Biasanya, sebuah perkampungan tradisional di Alor terdiri atas 10 hingga 50 rumah yang berjajar mengelilingi sebuah bangunan batu yang disebut Misbah. Menurut kepercayaan mereka, Misbah adalah pusat ritual pemujaan dan alat pemersatu sekaligus menjadi simbol kekuatan spiritual kelompok. Soalnya, di dalam Misbah terdapat arwah leluhur suku.
Buat masyarakat tradisional Alor, kebudayaan adalah suatu kebanggaan. Sebutlah Upacara Lego-Lego, sebuah acara ritual dalam memuja leluhur yang biasanya dilakukan untuk membangun solidaritas antarwarga. Terutama ketika mereka hendak berperang dengan suku lain. Namun, seiring dengan masuknya agama Kristen dan hilangnya perang antarklan, kini acara itu berubah menjadi tarian tradisi. Artinya, acara tersebut hanya sekadar untuk memperkuat identitas kelompok dan membangkitkan solidaritas sosial. Dalam acara itu, para penari tua dan muda bergabung bersama mengajak seluruh warga desa bersatu dalam membangun kampung halamannya dengan tetap menegakkan kewibawaan Misbah desa.
Tak hanya desiran angin yang menyemarakkan Pulau Alor. Lantunan bacaan ayat-ayat suci Alquran pun terdengar dari sebuah sudut desa di pulau ini. Sepintas suara ini agak janggal terdengar lantaran mengalun dari sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen. Kendati begitu, hal ini menjadi bukti adanya sebuah kebebasan dan solidaritas antara penganut keagamaan yang berbeda. Sebenarnya, masyarakat muslim di Alor tumbuh lebih tua ketimbang kehidupan modern saat ini. Pasalnya, Islam masuk ke Alor sejak Abad XVI yang dibawa lantaran pengaruh Kasultanan Ternate, Maluku. Hal ini dapat dibuktikan dari sosok seorang warga di sebuah sudut desa di Alor Besar, yakni Saleh Pangga Gogo dan sebuah kitab Alquran yang berumur lebih dari empat abad.
Saleh adalah keturunan ke-14 dari Iyang Gogo, seseorang yang pertama kali membawa Islam ke Alor dari Ternate. Dikisahkan dalam perjalannya dari Ternate, Iyang Gogo yang hidup pada masa Sultan Baabullah itu bersama empat saudaranya ke daerah Alor. Namun, ketika sampai di Alor Besar, Iyang Gogo memutuskan berpisah dari ketiga saudaranya untuk tetap menetap di wilayah sebuah kerajaan kuno. Saat menetap di daerah ini, Iyang Gogo hanya membawa sebuah Alquran yang terbuat dari kulit kayu. Kitab suci tersebut kini berada di tangan keturunan Saleh.
Kini, Alor Besar seolah dianggap sebagai pusat budaya Islam di kawasan tersebut. Bahkan, masyarakat kerap memperlakukan secara berlebihan dengan menjadikan daerah itu sebagai tempat ziarah dan mencari berkah. Namun, hal itu tak dapat dipungkiri mengingat selama empat abad setelah masa Iyang Gogo, Islam tumbuh besar dan menyebar, terutama di sejumlah wilayah pesisir Pantai Alor. Mereka menyatu dengan kehidupan para nelayan, petani, dan masyarakat yang tinggal di sekitar mulut Teluk Kalabahi. Selain itu, mereka pun bisa hidup berdampingan dengan penganut kepercayaan lain secara damai. (ors/tim potret)
Read More...






