Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

ADD bangun lumbung desa

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

KALABAHI, SPIRIT--Camat Pantar Timur, Drs. Soleman Blegur memrogramkan membangun lumbung desa di setiap desa di wilayah kecamatan setempat agar sebagian hasil panen tahun ini disimpan di lumbung desa tersebut. Dengan demikian pada musim tanam seperti ini masyarakat tidak kesulitan benih tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah. Pembangunan lumbung desa tersebut menggunakan anggaran alokasi dana desa (ADD).
Ditemui SPIRIT NTT di Kalabahi, Sabtu (30/9/2007), Soleman mengatakan, dari kondisi riil yang ada, persediaan bibit oleh masyarakat menyambut musim tanam tahun ini sangat terbatas. Seandainya di setiap desa sudah dibangun lumbung desa, katanya, keluhan kekurangan bibit bisa diminimalisir.
Terbatasnya bibit ini, kata Soleman, karena hasil panen tahun lalu kurang, bahkan gagal panen karena kemarau yang berkepanjangan dan angin kencang.
Ditanya soal lumbung desa yang telah dicanangkan pemerintah sebagai tempat untuk penyimpanan makanan dan pemanfaatannya, Soleman mengatakan, dari 11 desa di wilayah itu telah diupayakan untuk pembangunan lumbung desa di setiap desa. Dan, satu desa yaitu Desa Mawar pengelolaan lumbung desa telah jalan, namun karena hasil yang kurang bagus yang didapat masyarakat pada musim tanam kali lalu, maka pemanfaatannya belum efektif.
"Untuk tahun ini akan dikembangkan lumbung desa di semua desa yang ada. Untuk pengembangan ini akan menggunakan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD), agar hasil panen masyarakat dalam musim tanam kali ini separuhnya dapat disimpan di lumbung desa," ujar Soleman.*
Read More...

Petugas Puskesmas di Alor siaga

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

KALABAHI, SPIRIT -- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Drs. Nikodemus St Turwewi, meminta para petugas medis di puskesmas-puskesmas dan sarana kesehatan lainnya di daerah itu agar siaga menyusul meningkatnya kasus diare selama dua bulan terakhir, Agustus dan September 2007.
Meningkatnya kasus diara ini juga dibenarkan Direktur RSUD Kalabahi, Ny. Flora Lily-Gorangmau, di RSUD Kalabahi, Rabu (3/10/2007). Dia merincikan, selama Agustus sebanyak 14 kasus dan September 54 kasus. Total kasus diare mencapai 68 orang. Bahkan salah seorangnya meninggal dunia akhir bulan September atas nama Hary Supriyadi (7 bulan), karena saat dirujuk ke RSUD Kalabahi dalam keadaan kritis.
Flora meminta masyarakat harus waspada karena sekarang ini musim angin sehingga menimbulkan debu dan juga masalah air yang debitnya semakin menurun. Biasanya, kata Flora, musim-musim seperti ini cukup rentan terhadap diare.
Ada juga penyebab lainnya yaitu bisa juga karena bayi kurang mendapat ASI eksklusif sehingga daya tahan tubuhnya kurang. "Memang bukan atau tidak dikategorikan sebagai kejadian kuar biasa (KLB), karena terjadinya secara menyebar di sejumlah wilayah, bukan hanya terjadi di satu wilayah. Tetapi ini perlu diantisipasi dengan sanitasi lingkungan oleh masyarakat," tandas Flora.
Menyikapi meningkatnya kasus diare ini, Turwewi, yang dikonfitmasi pekan lalu, menjelaskan, pihaknya telah melakukan tindakan lapangan dengan meminta para kepala puskesmas dan pustu untuk secara gencar melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat mewaspadai wabah diare yang rentan dalam musim-musim seperti ini. *
Read More...

Alor kembangkan vanili secara massal

Laporan Gerardus Manyella, Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

KUPANG, SPIRIT -- Tanaman perdagangan vanili dikembangkan secara massal di seluruh Kabupaten Alor sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain vanili, juga dikembangkan tanaman perdagangan lainnya seperti rumput laut dan cengkeh.
Hal ini diutarakan Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta ketika berbicara sebagai alumni Undana pada lokakarya di aula Kampus Undana-Penfui, beberapa waktu lalu. Berbagai terobosan yang dilakukan, kata Takalapeta, untuk mewujudkan visi pembangunan kabupaten nusa kenari yang memgimpikan masyarakat yang sejahtera, beriman, adil,maju, mandiri melalui kepemerintahan yang baik dalam kerekatan hubungan sosial budaya dan berwawasan lingkungan.
Menyoal gerakan kembali ke desa, pertanian dan kelautan (Gerbadestan), katanya, hal itu sebagai strategi pembangunan daerah dioperasionalkan berbasiskan data dan ilmu pengetahuan.
Gerbadestan, kata Takalapeta, adalah upaya membangun daerah Kabupaten Alor dalam rangka memberdaulatkan rakyat, memberdayakan masyarakat dan merekatkan hubungan sosial budaya muali dari desa sebagai basis kehidupan masyarakat.
Komponen pelaksana Gerbadestan, kata Takalapeta, mencakup program pemerintah daerah, gerakan swadaya masyarakat dan pembangunan kemitraan di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat, peningkatan kualitas SDM, pembangunan prasarana dan sarana dan penguatan kelembagaan. Dalam pelaksanaannya menganut prinsip serentak (massal), selektif, sederhana, serius dan sukses.
Hasilnya, kata Takalapeta, perkembangan pertumbuhan ekonomi rakyat meningkat, pendapatan perkapita meningkat, PAD meningkat, antar pulau komoditi rakyat seperti kemiri, jambu mete, pinang, vanili, cengkeh, juga meningkat. *
Read More...

Profil Alor sekilas

Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

* PERUMAHAN/PERMUKIMAN
Kondisi bangunan perumahan penduduk di Kabupaten Alor yang dominan adalah darurat, permanen, semi permanen. Dan, dapat digolongkan kedalam dua bagian, yaitu perumahan di kawasan perkotaan (khususnya sekitar Kota Kalabahi dan ibukota kecamatan) dan perumahan di kawasan pedesaan (pedalaman).
Untuk perumahan di kawasan perkotaan, kondisi perumahan padat dikatakan sudah cukup baik, dimana jenis konstruksinya adalah permanen dan semi permanen. Selain hal itu dilihat dari bentuk rumah sudah cukup memenuhi syarat kesehatan sebagai tempat tinggal. Kawasan perumahan pada umumnya tersebar dalam berbagai lingkungan (site) di dalam kota.
Jenis dinding yang biasa dipakai adalah tembok batako, batu bata, kayu, dan bambu. Selain itu, pola penyebarannya berkelompok dengan jumlah rata-rata 12-20 rumah khususnya di daerah pedesaan. Pola penyebaran penduduk di perkotaaan (kegiatan jasa perdagangan) mengikuti pola jaringan jalan yang ada, serta mendekati pusat-pusat pelayanan terutama disektor jasa dan perdagangan.
Kawasan permukiman perkotaan terletak di sembilan kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Mutiara, Alor Barat Laut, Alor Barat Daya, Alor Selatan, Alor Timur, Pantar, Alor Tengah Utara, Alor Timur Laut dan Pantar Barat. Sedangkan kawasan permukiman pedesaan terletak di sembilan kecamatan yaitu Teluk Mutiara sembilan kelurahan, Alor Barat Laut empat desa, Alor Barat Daya sembilan desa, Alor Selatan enam desa, Alor Timur lima desa, Alor Timur Laut empat desa, Pantar tiga desa, dan Pantar Barat enam desa.
* INDUSTRI
Industri yang ada di Kabupaten Alor sebagian besar adalah industri kecil dan industri rumah tangga (kerajinan). Jenis industri yang ada lebih banyak berkaitan dengan sektor pertanian, namun ada pula yang berupa industri ekstratif.
Jenis-jenis industri tersebut adalah industri makanan seperti industri tahu, tempe, kerupuk dan sebagainya. Sedangkan industri yang berkaitan dengan sektor pertanian yaitu industri alat pertanian, pertukangan, alat-alat pemotong dan laian-lain.
Jenis industri lain adalah industri pengolahan pangan (256 unit); industri sandang dan kulit (416 unit); kimia dan dan bahan bangunan (312 unit); industri kerajinan dan umum (160 unit); logam dan jasa (12 unit).
* KEPENDUDUKAN
1. Jumlah, perkembangan dan penyebaran penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Alor sampai tahun 2001 berjumlah 166.277 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata 59 jiwa/km2 . Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Teluk Mutiara yakni sebesar 414 jiwa/km2. Diikuti oleh Kecamatan Alor Barat laut sebesar 138 jiwa/km2. Dan, kepadatan penduduk terendah terdapat pada Kecamatan Alor Timur sebesar 14 jiwa/km2.
Tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun adalah 1,57 persen. Kecamatan yang mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu Kota Kalabahi sebesar 3,785 persen per tahun, dan yang terendah adalah Kecamatan Alor Timur sebesar 0,011 persen per tahun.
2. Struktur penduduk
Struktur penduduk Kabupaten Alor menurut kelompok umur pada tahun 1990, penduduk yang berumur di bawah 15 tahun berjumlah 61.607 jiwa atau 42,69 persen, sedangkan jumlah penduduk yang berusia 15-54 tahun adalah 71.847 jiwa atau 49,68 persen, dan penduduk yang berusia di atas 55 tahun berjumlah 11.168 jiwa atau 7,72 persen.
Struktur penduduk Kabupaten Alor menurut jenis kelamin pada tahun 2001 yang terbesar adalah jenis kelamin perempuan yaitu 86.195 jiwa dan jenis kelamin laki-laki yaitu 82.082 jiwa
Dari jumlah penduduk pada tahun 2001 sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan yaitu sekitar 125.817 jiwa. Diikuti Islam (36.499 jiwa), Katolik (5.790 jiwa), Hindu (171 jiwa).
Struktur penduduk Kabupaten Alor menurut tingkat pendidikan pada tahun 2001 didominasi oleh penduduk yang tamat SD/MI sebanyak 51.347 jiwa, kemudian diikuti yang tidak/belum tamat SD/MI sebanyak 37.098 jiwa, tamat SLTP 16.262 jiwa, SLTA 9.800 jiwa, SMK 4.009 jiwa Diploma I/II 473 jiwa, Diploma III 882 jiwa dan Diploma IV/Sarjana 518 jiwa. * Read More...

Berbuka puasa dengan kaleso Airmata

Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

"MARI pak, bu, kaleso dengan satai masih hangat," kata ibu Sidin, pedagang makanan yang menempati bagian paling timur dari deretan gerobak pedagang bertuliskan "Jajan Airmata", di kilometer nol di jantung Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sambutan serupa kepada setiap orang yang melintas di Jalan Ir. Soekarno itu juga dilakukan puluhan penjaja makanan menggunakan gerobak dorong yang dijejer rapi.
Pemerintah Kota Kupang menempatkan pedagang makanan itu sejak 1994/1995. Pada mulanya, para pedagang hanya menjual makanan ringan, terutama berbagai jenis kue seperti wajik, kue lapis, dan serabi.
Berbagai jenis kue itu menjadi jajanan utama setiap petang hingga malam hari yang dijajakan para pedagang asal Kelurahan Airmata.
Airmata merupakan kelurahan dengan penduduknya sebagian keturunan Arab, yang masuk ke Timor sebagai pedagang pada abad 17, sekaligus awal masuknya Islam di Pulau Timor.
Ketika memasuki Ramadan, semua pedagang selalu menyediakan satu jenis makanan khas Airmata, yakni kaleso, yaitu makanan yang terbuat dari beras dengan kemasan dan pengolahan khas.
Menurut ibu Sidin, mengolah kaleso dimulai dengan membersihkan beras yang kemudian dimasukan ke dalam potongan janur yang telah ditekuk menjadi tiga bagian. Beras yang telah dicuci bersih, dicampur dengan bumbu atau juga dengan santan kelapa dan dimasukkan ke dalam janur.
Tekukan janur pertama dilipat ke tekukan kedua, sehingga membentuk penampang terbuka untuk menampung beras yang telah dicampur berbagai bumbu. Sementara tekukan ketiga dilipat sebagai penutup, sebelum diikat dengan benang atau tali.
Pada dua ujung potongan janur itu, lidinya dibiarkan lancip sebagai tempat melilit benang, untuk kemudian dilingkarkan pada seluruh badan kaleso. Beras yang telah dibungkus janur itu kemudian dimasak sekitar 45 menit untuk mendapatkan kaleso yang benar-benar matang.
Ketika kaleso siap dijajakan di pinggir jalan, maka satai kambing lah yang selalu disandingkannya sebagai lauk. Dua jenis makanan itu kemudian menjadi ciri Jajan Airmata setiap memasuki bulan puasa.
Karena itu, pengunjung wisata kuliner di Jajan Airmata pada bulan Ramadan, selalu menjadikan kaleso dan satai kambing sebagai utama.
Menurut Halima Binti Talib, pedagang yang menempati bagian tengah lokasi itu, kaleso memiliki cita rasa khas karena ketika direbus daun janur muda mengeluarkan sari daun kelapa dengan aromanya yang kental yang meresap ke bahan di dalamnya.
Apalagi, sebelum beras dimasukan ke dalam tekukan janur, terlebih dahulu direndam dengan santan kelapa, membuat rasa kaleso mirip nasi uduk.
Sementara untuk satai kambing, para pedagang Airmata lebih memilih racikan khas dengan rasa pedas sedang. Rasa seperti itu memancing setiap penikmat kaleso-satai selalu rindu ingin kembali ke Jajan Air mata.
Buka puasa
Demikian menariknya jajanan kaleso dengan lauk satai kambing, sehingga kawasan di depan Kantor Bupati Kabupaten Kupang itu menjadi tujuan wisata kuliner bukan hanya oleh mereka yang berpuasa.
Warga yang bukan beragama Islam pun berbondong-bondong membeli kaleso dan satai kambing, baik untuk disantap di tempat maupun untuk oleh-oleh.
"Kalau bulan Ramadan kita bikin kaleso yang banyak karena peminat juga banyak," kata Nurhayati sambil melayani serombongan orang yang berbiacara dalam dialek Jakarta.
Kaleso dijual dengan harga Rp 10.000 per ikat (satu ikat berisi tujuh kaleso), sementara satai kambing dijual dengan harga Rp 5.000 per tujuh tusuk.
Sebelum krisis moneter, kaleso dijual dengan harga Rp10.000 per 10 kaleso, namun peningkatan harga bahan baku memaksa para pedagang harus menyiasatinya dengan mengurangi jumlah kaleso dalam satu ikat. Mula-mula diturunkan dari 10 ke delapan dan kini jadi tujuh.
Daya tarik kaleso bisa dilihat dari deretan mobil berbagai merk yang diparkir tepat di depan deretan Jajan Airmata sejak pukul 16.00 wita. Ada yang hanya duduk-duduk menunggu beduk buka puasa, sementara yang lain memboyong kaleso untuk berbuka puasa di rumah.
Bagi para musafir, berbuka puasa dengan kaleso Airmata adalah pilihan yang tepat, karena tidak jauh dari lokasi itu terdapat Masjid Raya Nurusa'adah Kupang.
Sementara bagi mereka yang ingin berbelanja, bisa berjalan ke arah terminal Kota Kupang sekitar 60 meter untuk menjangkau pertokoan di Jalan Siliwangi yang menjadi tempat teramai di Kupang, atau sekadar duduk-duduk di pantai menyaksikan matahari terbenam dan lalu lalang perahu nelayan yang tengah melaut.
Keberhasilan pedagang Airmata menjajakan aneka kuliner di Jalan Soekarno, menurut seorang pengunjuung, karena letaknya sangat sttrategis. Jalan Soekarno dilalui semua angkutan kota di Kupang, sehingga semua warga kota dan para musafir mudah menjangkaunya dari berbagai arah.
Tempat di mana para pedagang Airmata membuka usaha kuliner memang minim fasilitas. Mereka hanya bernaung di bawah kemegahan langit Kupang sejak sore hingga malam hari, sementara para pembeli menikmati semua jenis makanan hanya dengan duduk pada bangku sederhana.
"Tempat ini sangat strategis untuk kita datangi, bisa untuk tempat santai keluarga sebelum sholat tarawih," kata Abdullah Landimuru, warga Kupang keturunan Bugis Sulawesi Selatan yang mengaku selalu membawa keluarga menikmati kaleso. (asis tokan/Antara)
Read More...

Atasi krisis pangan dengan penganekaragaman pangan

Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

KASUS rawan pangan mulai menggejala di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyusul musim kering yang berkepanjangan. Sebelumnya, pada bulan Mei 2006 13.000 kepala keluarga atau sekitar 65.000 jiwa di Kabupaten Sikka, dilanda kelaparan.
Ketika itu, Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT, Petrus Langoday, juga menjelaskan bahwa sebanyak tujuh dari 16 kabupaten/kota di NTT memang sering mengalami rawan pangan. Ketujuh wilayah itu adalah Ngada, Ende, Sikka, Lembata, Belu, Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara. Dari beberapa wilayah tersebut, sebanyak 145 desa berisiko tinggi, 192 desa berisiko sedang, dan 238 desa lainnya berisiko ringan (Suara Pembaruan, 10 Juni 2006).
Apa yang terjadi di NTT ini hanyalah satu dari puluhan kasus rawan pangan dan kelaparan yang melanda masyarakat kita. Sebelumnya warga di Yokohimo, Papua juga mengalami kejadian serupa dan entah di mana lagi warga masyarakat di seluruh Indonesia yang mengalami kelaparan ini.
Akibat kelaparan ini banyak warga khususnya anak-anak dan lansia yang menjadi korban, entah itu meninggal maupun terjangkit berbagai penyakit. Bagi anak-anak, ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga di masa mendatang dimana mereka yang hidup dengan sumber daya alam yang melimpah tetapi kehidupannya justru selalu terancam.
Krisis pangan yang melanda bangsa Indonesia tidak dapat lepas dari kesalahan kebijakan pemerintah pada masa Orde Baru (Orba). Pada masa tersebut, semua orang di seluruh Indonesia, tanpa memperhatikan keragaman suku dan budaya atau kearifan tradisional, diajarkan dan diharuskan mengkonsumsi beras (nasi) sebagai makanan pokok. Hal ini mengakibatkan tidak adanya diversifikasi pangan sehingga ketika produksi beras tidak lagi mencukupi untuk konsumsi ratusan juta jiwa rakyatnya, maka krisis pangan terus melanda rakyat Indonesia.
Bahkan pemerintah juga membuat kebijakan agar petani hanya menanam benih-benih padi varietas unggul. Padahal sebagai negara agraris, Indonesia memiliki lebih dari 8.000 varietas benih padi (Fox, 1991).
Sementara Seotomo (1992) menyebutkan bahwa di Pulau Jawa terdapat lebih dari 13.000 varietas padi lokal. Namun berdasarkan laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia (Anonim, 1996), penggunaan benih HYV dalam lima belas tahun sejak dilepaskannya program Bimas (Bimbingan Masal) tahun 1967, menyebabkan hilangnya 1.500 varietas dari padi lokal (Bumi, 2000).
Parahnya lagi, pemerintah ketika itu mengintervensi petani dengan peraturan mengenai sistem budidaya pertanian. Peraturan tersebut di satu sisi memang memberikan kebebasan pada petani untuk memilih benih dan cara budidaya pertaniannya. Tetapi di sisi lain, peraturan tersebut mendorong petani menanam benih HYV dan teknis pertanian modern (UU No. 12/1992). Di samping itu, pemerintah juga mempunyai hak untuk merencanakan dan mengatur semua aktivitas pertanian di lahan mereka sendiri, dengan alasan untuk mencapai target keamanan pangan dari pemerintah.
Program pemerintah inilah yang akhirnya dikenal dengan nama revolusi hijau (green revolution). Revolusi hijau tersebut tidak hanya menghancurkan ekosistem fisik alam tetapi juga mengubah mentalitas petani. Akhirnya petani sangat tergantung dengan pasar benih ajaib dari IRRI yang dimulai dari PB 5 pada tahun 1960-an. Akibatnya sistem perencanaan dan pengaturan tanam secara tradisional menjadi hilang sedikit demi sedikit sekaligus budaya pertanian yang menyertainya.
Program revolusi hijau ini pada awalnya memang berhasil, produksi meningkat, sehingga pada tahun 1984 Indonesia berhasil berswasembada beras. Namun kegembiraan ini tidak berlangsung lama, karena tahun-tahun selanjutnya produksi beras terus menurun.
Penyebabnya adalah lahan-lahan sudah mengalami degradasi akibat pemakaian bahan-bahan kimia berupa pupuk dan pembasmi hama penyakit yang dosisnya terus meningkat. Lahan menjadi jenuh, tercemar dan tidak subur atau produktif. Pemakaian bibit unggul yang sama di semua tempat juga menyebabkan kegagalan panen, karena tidak cocok dengan kondisi setempat.
Upaya pemerintah Orba menggenjot produksi padi atau beras melalui proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektar di Kalimantan Tengah untuk dijadikan lahan persawahan juga gagal. Kegagalan ini dikarenakan pemerintah tidak mau mendengar atau tutup telinga ketika banyak kalangan atau pakar yang memberikan masukan bahwa lahan tersebut secara teknis tidak dapat dijadikan lahan pertanian karena kondisi keasaman tanahnya yang tinggi. Bahkan aspek lingkungan juga tidak memungkinkan lahan tersebut dijadikan lahan pertanian.
Menghadapi kenyataan ini, pemberdayaan petani menuju ketahanan pangan mutlak dilakukan. Untuk memperkokoh ketahanan pangan sesungguhnya dapat dilakukan bukan hanya dengan mengupayakan peningkatan produksi atau pengadaan beras, tetapi juga mengupayakan agar bahan pangan non beras khususnya yang berkarbohidrat tinggi dapat dijadikan bahan pangan.
Untuk itu penganekaragaman pangan merupakan strategi yang sangat penting dalam memperkokoh ketahanan pangan. Ubi kayu, ubi jalar, sagu, talas, jagung, jagung, garut, dan sejenisnya adalah bahan potensial untuk dijadikan bahan pangan pokok. Tantangannya kini tinggal bagaimana membiasakan kembali masyarakat yang sebelumnya 'dipaksa' makan nasi untuk kembali mengonsumsi makanan pokok sesuai dengan potensi daerah masing-masing. (setyo raharjo/kcm)
Read More...

Kabarkan kepada dunia, NTT aman dan damai

Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007

HATI terasa sangat lega begitu roda pesawat Lion Air menyentuh halus landasan Bandara El Tari, Kupang. Lega, karena kami sampai dengan selamat meskipun saat hendak terbang di Bandara Soekarno-Hatta, pesawat sempat kembali ke tempat parkir untuk menurunkan seorang penumpang yang mengalami gangguan kejiwaan dan membuat khawatir para penumpang lainnya.
Di Bandara El Tari, sayup-sayup terdengar alunan musik petik Sasando, salah satu warisan seni budaya yang sangat terkenal dimiliki masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Merdunya alunan musik Sasando itu cukup mujarap untuk melupakan sejenak rasa penat dan sedikit lapar setelah menempuh penerbangan Jakarta-Surabaya (transit)-Kupang yang hanya disuguhi air mineral. Sayangnya, alunan Sasando yang merdu itu tidak diperdengarkan di dalam pesawat yang sudah mendarat.
Kunjungan ke Kupang, selain untuk menyaksikan kegiatan ratusan peserta Sail Indonesia 2007 selama berada di Kupang (24-31 Juli 2007), sekaligus menyaksikan Expo NTT 1 (East Nusa Tenggara Expo/Entex).
Titik keberangkatan peserta Sail Indonesia Ke-7 ini adalah dari Darwin-Northem Territory sebagai pusat perkumpulan pelayar-pelayar dunia. Rally layar ini menyinggahi Kupang, Alor, Lewoleba (Lembata), Maumere (Sikka), Ende (destinasi baru), Riung (Ngada), dan Labuan Bajo (Manggarai Barat). Sedangkan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai daerah pendukung mendapat kunjungan peserta.
Sekitar 120 kapal layar (yacth) yang membawa ratusan pelayar dari 20 negara itu datang dan merapat di Pantai Koepan, Kupang. Kedatangan tamu asing dari berbagai negara itu oleh pemerintah daerah sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang mempromosikan kekayaan objek wisata alam dan seni budaya masyarakat NTT yang menjadi andalan pembangunan kepariwisataan daerah ini.
Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika menjamu makan malam peserta Sail Indonesia 2007 di Flobamora Mall, Kupang, berharap kedatangan ratusan peserta layar internasional itu akan membuat NTT yang kaya objek wisata lebih dikenal lagi oleh dunia luar.
"Layar yang telah saudara kembangkan merupakan tali persahabatan yang utuh dengan masyarakat NTT. Kabarkan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya NTT, adalah wilayah yang aman, damai, dan penuh dengan persahabatan," kata Lebu Raya, seraya meminta para tamu asing itu untuk mengajak para sahabatnya datang berwisata ke NTT.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Sambudjo Parikesit, mengingatkan, dengan ditetapkannya NTT sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia tahun 2007 ini, maka komponen kepariwisataan di sini harus menyiapkan infrastruktur dan obyek-obyek wisata yang layak dikunjungi wisatawan.
"Saya menyambut gembira kegiatan ini (Sail Indonesia 2007 dan Entex) yang diisi pula dengan berbagai pertunjukan seni budaya dari suku-suku yang ada di NTT. Kegiatan ini akan memicu kemajuan pariwisata daerah NTT," katanya.
Letak NTT sangat strategis, dekat dengan Australia, sehingga menjadikan daerah ini sebagai pintu masuk wisatawan. Terutama Kota Kupang, yang tiap tahun dijadikan titik awal kegiatan rali layar internasional, diharapkan mampu memacu komitmen masyarakat di sini untuk lebih giat mengembangkan industri kreatif.
"Di berbagai daerah sudah kita bentuk wadah untuk ajang promosi produk-produk kerajinan rakyat. Ini kesempatan mendorong daerah untuk menampilkan potensi kepariwisataannya," kata Titien Soekarya, Direktur Promosi Dalam Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang ditemui di arena Entex.
Menurut Titien, sekarang ini wisatawan Nusantara (wisnus) masih terfokus berlibur ke Pulau Jawa dan Bali. Padahal, banyak daerah lain, seperti NTT, yang memiliki obyek wisata serta produk kerajinan dan seni budaya yang sangat menarik. Karena itu, menurut dia, daerah-daerah perlu melakukan promosi bersama agar wisatawan mengetahui potensi daerah lainnya. (laurentius chen)
Read More...