Spirit NTT, 30-5 April 2009
GUNUNG Egon, tegak angkuh. Ia menancap kokoh di Pulau Flores. Dari lereng gunung yang dalam kurun dua tahun, sudah tiga kali meletus itu, pesona keindahan alam menakjubkan. Sejauh mata memandang, terbentang lautan biru tak bertepi. Di balik pesonanya, Gunung Egon ternyata juga menyimpan bahaya.
Jika Egon meledak dahsyat, ke mana penghuni pulau ini lari. Menuju gunung, berhadapan dengan lahar panas dan hujan debu. Turun ke pesisir, terhadang samudra. Bayangan ini mungkin terlalu dramatis, tapi melihat Egon, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Waspada dan siaga, pada akhirnya hal penting yang harus dilakukan masyarakat setempat.
Seperti gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Kelud di Kediri, masyarakat di sekitar Gunung Egon, juga memiliki kearifan lokal sendiri. Mereka seakan tahu, kapan gunung berbahaya dan kapan ia bersahabat. Pada zaman yang telah lahir teknologi pembaca aktivitas gunung api, idealnya bisa dipadukan antara kearifan lokal dengan kecanggihan teknologi.
Meski pada realitanya, masyarakat di sekitar daerah rawan bencana, kerap mengabaikan ramalan teknologi itu. Seperti di Desa Baokrengat yang berjarak kurang dari tiga kilometer dari bibir kawah Egon. Meski pada 2004, para ahli volcanologi telah merekomendasikan desa ini dikosongkan, masyarakat bergeming.
Adeo Datus Dewa, Kepala Desa Baokrengat, menolak untuk mengosongkan desa itu. Sebuah desa bak surga, di gugusan kepulauan Flores yang kering dan tandus. Desa ini penghasil sayuran dan beras. Tempat subur bercocok tanam dan jauh dari paceklik yang selalu menghantui masyarakat NTT, umumnya.
"Ini tanah kami, warisan dari nenek moyang kami. Di sini tanahnya subur. Kami tidak takut gunung meletus," tandas Adeo Datus Dewa, kukuh.
Tatkala gunung Egon meletus, Selasa malam (15/4/2008), Adeo dan warga desanya hanya panik sesaat. Mereka menghambur ke luar rumah, cari tempat perlindungan. Setelah fajar menyingsing, mereka kembali ke desa lagi. Meski debu tebal menutup desa dan bau belerang menyengat, warga Baokrengat seperti sudah terbiasa.
Padahal, letusan Gunung Egon, April lalu cukup dahsyat. Semburan debunya mencapai radius puluhan kilometer, dengan ketebalan mencapai 0,5 cm. Desa desa di lereng Gunung Egon yang terkena dampak parah letusan ini, meliputi Egon Gahar, Hale dan Hedi, Nangatobong, dan Bahukrenge. Bahkan, debu Egon sampai di sepanjang trans Maumere-Larantuka.
Sebelum hujan turun, bau belerang dan debu, amat mengganggu kesehatan warga Desa Baokrengat. Tapi mereka enggan mengungsi, karena menganggap letusan ini sudah biasa terjadi. Mereka bertahan di dalam rumah. Setelah air hujan mengendapkan debu, warga Baokrengat kembali aktif bercocok tanam.
Masyarakat desa ini, sebenarnya pernah direlokasi. Tapi gagal, mereka kembali ke Baokrengat lagi. Seperti diakui Adeo, kesuburan lahan menjadi alasan kuat penolakan itu. Setiap Rabu, Baokrengat diramaikan para pendatang dari desa-desa bawah dan pesisir. Seperti dari Kota Maumere. Baokrengat, tiap Rabu jadi pasar sayur. Mobil pick up berdatangan ke desa itu, mengangkut hasil bumi lereng Egon. Pada hari biasa, ganti warga Baokrengat yang turun ke kota menjual hasil pertaniaannya.
Menurut Adeo Datus Dewa, hasil pertanian Desa Baokrengat, dapat mencukupi kebutuhan sayur-mayur masyarakat se-Flores. Namun, meski daerah subur, masyarakat desa ini tak sesejahtera petani di Lembang, Bandung, dan petani di Pulau Jawa. Kehidupan mereka, masih mentok di bawah garis kemiskinan.
Tingkat pendidikan masyarakat Baokrengat, juga rendah. Sejak letusan Egon 2004, di desa ini tidak ada lagi sarana pendidikan dan fasilitas umum lainnya. Gedung sekolah dasar yang semula ada, sudah ditutup, pindah ke desa Egon Gahar. Anak- anak Baokrengat, harus menempuh jarak 3,5 km, menuju desa paling bawah, jika ingin sekolah.
Medan menuju Baokrengat cukup sulit. Selain jalannya sempit, juga berliku, dengan aspal yang mulai hancur. Pasca letusan itu, akses jalan raya juga terputus oleh debu tebal. Dua pekan kemudian, baru bisa dibuka dengan pengeruk traktor.
"Kami tak dapat menjangkau Baokrengat. Bantuan hanya bisa sampai di desa bawah," terang Iman Surahman, koordinator lapangan Dompet Dhuafa Republika (DD) yang terjun membantu korban letusan gunung Egon.
Menurut Iman, distribusi air bersih yang dilakukan relawan DD, hanya sampai di Desa Nangatobong, Egon, dan Egon Gahar. Desa Baokrengat tidak dapat ditembus dengan truk tangki air.
"Baokrengat memang paling rawan bahaya. Tapi kelihatannya, masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali harus menetap," kata Iman yang selama satu pekan berada di lokasi.
Tak mudah memang, menerapkan teori dan standar keselamatan jiwa secara ideal. Saat menyentuh urusan perut dan kelangsungan hidup, marabahaya seakan tidak menakutkan. Mereka telah mengakrabi ancaman bencana, dengan kearifan lokal, berdasarkan keyakinan mereka.
Jika keyakinan itu salah? Entahlah, yang pasti cara hidup menantang maut seperti itu, kerap kita jumpai di masyarakat kecil negeri ini. Mereka yang berada dekat dengan daerah rawan bencana, maupun mereka yang terjerat akar kemiskinan.
Satu hal bisa kita pelajari, mereka tak menjalani hidup ini, dengan cara cara mudah, seperti korupsi. Mereka punya semangat, keberanian, dan harga diri, untuk hidup bermartabat. (sunaryo adhiatmoko/komunitas lirih)
Read More...
Di Balik Pesona Gunung Egon
Masa Migrasi, musim berburu paus...
JALUR MIGRASI--Laut Sawu, jalur migrasi 14 jenis ikan paus. Pada saat seperti inilah para lamafa dan matros Lamalera memperlihatkan keterampilan mereka berburu ikan paus menggunakan peralatan tradisional.
Spirit NTT, 30-5 April 2009
PERBURUAN koteklema apalagi seguni, penuh risiko, perahu terbalik, tali dan lamafa terseret paus ke kedalaman laut atau ke perairan yang jauh antara beberapa jam hingga beberapa hari.
Namun para lamafa dan matros Lamalera menunjukkan keterampilan mereka. Dengan peralatan tradisional berupa tombak besi bertangkai bambu yang disebut tempuling, seorang lamafa akan terjun untuk menikamkan tombaknya ke tubuh paus yang bergerak di depan perahu.
Penikaman akan dilakukan beberapa kali oleh lamafa yang lain, termasuk penyembelihan untuk mencabut nyawa sang mamalia. Pada proses ini adakalanya hewan buruan itu tidak segera mati, ada yang menyeret pledang sampai jauh atau ada yang mengamuk dan menggulingkan pledang.
Koteklema dikenal memiliki badan yang besar, ukuran panjangnya berkisar 15 meter hingga 20 meter. Hewan itu berpunggung lebar, mempunyai mulut dengan rahang bawah yang kecil serta bergigi, berbeda dengan paus balin yang tidak bergigi.
Pada buku serial Pustaka Alam, Life seri Laut disebutkan, peneliti di Inggris pernah mengukur, pada paus berbadan besar, bobotnya bisa mencapai sekitar lima ton untuk tiap meter, dan mampu berenang dengan kecepatan sekitar 18 km/jam atau 10 knot selama seharian penuh di depan perahu atau kapal yang akan menangkapnya.
***
DALAM perburuan Rabu itu, suatu hari di tahun 2007, seekor koteklema yang dihadang tiga pledang sempat membuat satu perahu terguling meskipun seluruh matros bisa selamat.
Para matros bahkan berjuang membinasakan buruan mereka terlebih dulu sebelum membalikkan kembali posisi pledang yang terguling itu. Ketika koteklema tangkapan sudah berhasil ditaklukkan, badannya yang besar itu diikat di samping pledang, siap ditarik ke darat, dan jika belum juga mati, ia akan disembelih agar darahnya cepat terkuras.
Para nelayan hari itu menangkap tiga koteklema dan dengan mudah menaklukkan dua koteklema, salah satunya berukuran lebih dari 20 meter. Namun, ada seekor yang cukup ulet sehingga ketika hari sudah menjelang sore baru tertangani dan para nelayan tidak mempunyai waktu untuk mengarungi laut menuju kampung halaman karena air surut.
Mereka terpaksa mendaratkan di pantai terdekat di Kampung Luki, Pulau Lembata dan menunggu air pasang untuk pulang, kata nelayan bernama Eman.
Pledang dan koteklema itu masuk ke Kampung Lamalera ketika air laut sedang naik, lewat tengah malam. Selama proses penangkapan berlangsung, para perempuan, istri, ibu atau saudari para matros menyiapkan bekal makanan, umumnya nasi dan ikan goreng atau bakar serta sambal serta air tawar untuk dikirim ke lokasi perburuan dengan perahu motor bermesin.
Bekal-bekal dikemas dalam kotak makanan terbuat dari plastik atau kaleng, dibungkus kain dan diselipi daun lontar bertuliskan nama masing-masing.
"Ini nasi merah dan ikan goreng untuk kakak saya dan bapak," kata Ina Beding yang menyiapkan dua bekal. Ina merasa yakin perahu bapaknya mendapatkan tangkapan karena pagi harinya ada nelayan yang memukat ikan terbang, melihat pledang yang dinaiki bapaknya sudah dekat dengan hewan buruannya.
Para matros akan menyantap hidangan itu dalam perjalanan penuh kemenangan menuju kampung mereka, tempat anak-anak dan para istri menunggu sambil bercanda di pantai.
Apabila masa penantian itu berlangsung hingga malam hari, bahkan keesokan harinya, para istri dan anak-anak banyak yang menginap di pantai di bawah naungan hanggar pledang dan menggunakan obor sebagai penerang.
Sekitar sore hari, dua koteklema buruan sudah masuk, anak-anak langsung berlairan terjun ke laut dan berenang, menunggangi punggung paus dan bermain-main, sementara para matros mengikat tubuh mamalia raksasa itu ke bebatuan pantai agar tidak hanyut tersapu ombak.
Darah segar terus mengucur dari tubuh paus yang biasanya akan dipotong-potong untuk dibagi dagingnya pada keesokan harinya. "Tubuhnya terlalu besar, hari sudah segera gelap, jadi besok pagi-pagi mulai di potong," kata Yohanes, pemuda yang ikut mengirim bekal makanan bagi nelayan.
Malam itu pantai terus ramai, penduduk bersuka ria membincangkan ketegangan dan proses penangkapan koteklema hari itu, sambil merokok dan minum tuak.
Ada sekitar 10 pledang yang memburu kawanan kotklema pagi itu, dan mereka berhasil menangkap tiga, jumlah yang cukup besar yang diperoleh pada hari kedua musim lefa. (www.nusacendanaBIZ.com)
Jangan Korbankan Nelayan Lamalera
POTONG IKAN PAUS--Nelayan Lamalera berjubel di pantai untuk memotong ikan paus hasil perburuan secara tradisional. Dagingnya dibarter dengan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Spirit NTT, 30-5 April 2009
KUPANG, SPIRIT--Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, mendukung sepenuhnya rencana pendeklarasian Laut Sawu menjadi kawasan konservasi nasional untuk perlindungan mamalia laut, khususnya ikan paus.
"Saya setuju dan mendukung langkah tersebut, namun saya berharap agar konservasi laut untuk melindungi ikan paus itu jangan sampai mengorbankan masyarakat nelayan Lamalera di Pulau Lembata yang sudah ratusan tahun berburu ikan paus dengan cara tradisional," katanya di Kupang, Selasa (17/3/2009).
Deklarasi Laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan "World Ocean Confrence and Coral Triangle Initiative Summit" di Manado, Sulawesi Utara, pada Mei mendatang.
"Tujuan konservasi Laut Sawu itu sangat bagus karena melindungi mamalia laut, terutama ikan paus dari kepunahan. Tetapi, saya harapkan jangan sampai melarang aktivitas nelayan Lamalera berburu ikan paus. Jika ini yang terjadi maka akan kita bicarakan di Manado nanti," tegasnya.
Gubernur Lebu Raya mengatakan, tradisi berburu ikan paus yang dilakukan nelayan asal Desa Lamalera di Pulau Lembata, sama sekali tidak akan membuat mamalia laut itu jadi punah, karena cara yang dilakukan amat sangat tradisional.
"Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun yang tidak dengan mudah dilarang hanya karena sebuah konservasi perlindungan terhadap mamalia laut. Konservasi boleh, tetapi jangan sampai melarang aktivitas nelayan Lamalera berburu ikan paus," katanya menegaskan.
Laut Sawu dengan luas sekitar 4,5 juta hektare itu dinilai sangat cocok dan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional khusus untuk melindungi ikan paus.
Sebelumnya, Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Agus Dermawan mengatakan, rencana konservasi Laut Sawu untuk melindungi mamalia laut itu masih dalam pembahasan, menyusul diterbitkannya UU No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil.
Laut Sawu dipilih menjadi kawasan konservasi nasional karena wilayah laut yang letaknya antara Propinsi NTT dan Australia itu merupakan habitat terbesar ikan paus.
Laut Sawu, kata Agus Dermawan, merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk jenis langka, yakni ikan paus biru (Balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (Physeter macrocephalus). (ant)
Bupati Lopez Sidak ke Atambua Barat
Spirit NTT, 30-5 April 2009, Laporan Ferdinandus Dole Hayong
ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kecamatan Atambua Barat, Kamis (19/3/2009), untuk melihat dari dekat kinerja aparat di kecamatan maupun kelurahan setempat.
Camat Atambua Barat, Matilde Seran, menyampaikan penghargaan terhadap Bupati Belu, Joachim Lopez, yang melakukan kunjungan tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu. Seran menggambarkan kunjungan itu sebagai sidak untuk memantau dan melihat dari dekat kondisi wilayah, termasuk mengevaluasi kinerja aparatur di tingkat kecamatan dan kelurahan. Dalam laporannya kepada Bupati Lopez, Matilde Seran mengatakan, sebanyak 1.500 kepala keluarga (KK) dari total 4.085 KK di Kecamatan Atambua Barat, masuk kategori keluarga miskin. Warga miskin ini tersebar di Kelurahan Umanen, Birafu, Berdao dan Tulamalae.
Dari jumlah penduduk tersebut, jelas Seran, sekitar 1.500 KK tergolong keluarga miskin yang membutuhkan sentuhan pelayanan pembangunan yang intensif. "Kami perlu melaporkan kepada Pak Bupati bahwa di wilayah kami masih sekitar 1.500 KK dari total 4.085 KK terkategori miskin. Kami terus berusaha memberikan pendampingan melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti, PNPM," katanya.
Seran juga menyampaikan beberapa persoalan lain seperti sarana prasarana di wilayah ini yang masih kurang, termasuk di kantor camat seperti listrik, jalan masuk ke kantor camat yang rusak berat, dan permasalahan lain, terutama pembangunan SMP Kelas Jauh, dan pelestarian situs budaya di Matabesi.
Lihat Kinerja Bawahan
Bupati Belu, Joachim Lopez menjelaskan, kehadirannya secara tiba-tiba sebagai upaya melihat sendiri kinerja bawahannya. Hal ini agar ia dapat melihat sendiri, mendapatkan laporan yang bukan disiapkan jauh hari sebelumnya. Pola ini akan terus dilakukan dengan cara berkunjung tanpa menyampaikan seminggu sebelumnya untuk turun ke satu wilayah.
Terhadap persoalan yang disampaikan camat, Lopez mengatakan, saat ini ada banyak program pemberdayaan masyarakat yang perlu dioptimalkan secara baik. Masyarakat diberi peran memanfaatkan program yang ada demi peningkatan kesejahteraannya.
Yang terpenting, tegas Lopez, seluruh program yang bersentuhan dengan pemberdayaaan masyarakat tidak boleh ada intervensi dari aparat pemerintah. "Ada program P2DTK, program PNPM, KUBE, ini semua diberikan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. Sekarang yang terpenting adalah mengelola dana sesuai juknis dan juklak. Tugas seorang camat sebagai fasilitator, masyarakat sendiri yang membuat program dan melaksanakan di lapangan," ujarnya. (*)
Read More...
Pengawasan Lemah, Dana Koperasi untuk Judi
ATAMBUA, SPIRIT-- Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, meminta agar pemberian kredit kepada anggota maupun bukan anggota harus melalui seleksi terutama kejujuran soal pemanfaatan pinjaman. Lemahnya pengawasan membuat pinjamn di koperasi sekadar untuk konsumtif seperti acara keluarga, pesta, acara adat, bahkan untuk berjudi.
"Seharusnya setiap pinjaman itu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota seperti, modal kerja, sebagai investasi yaitu membangun rumah, beli tanah, dan sebagainya," kata Bupati Lopez dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekab Belu, Drs. Ati Hendrikus, saat RAT
Koperasi Pegawai Negeri Sekretariat Daerah (Kopensetda) Belu, belum lama ini.
Sementara Ketua Kopensetda Belu, Drs. Silverius Mau, di ruang kerjanya, Senin (16/3/2009), mengatakan, perputaran modal sampai tutup tahun buku per 31 Desember 2008 berkisar Rp 3.239.160.000 (Rp 3,2 miliar). Sementara aset saat ini mencapai Rp 10 miliar lebih dengan sisa hasil usaha (SHU) rapat anggota tahunan (RAT) 2008 mencapai Rp 396 juta. "Pengurus akan meminta para anggota untuk segera melunasi tunggakan guna menunjang pengembangan koperasi ini," katanya.
Mau menjelaskan, keberadaan Kopensetda Belu sejak tahun 1989 dengan total anggota saat ini 579 orang yang tersebar di 30 instansi, dan 24 kecamatan dan kelurahan. Koperasi ini sangat membantu PNS di Belu. Dan, saat ini pihaknya sudah menggelar RAT 2008 pada, Jumat (13/3/2009) dihadiri semua anggota untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan program kerja pada tahun 2009.
Dari kegiatan ini, demikian Mau, pengurus sudah melaporkan mengenai pengelolaan koperasi, baik sisa hasil usaha (SHU) maupun perputaran modal. "SHU tahun 2008 sebesar Rp 396 juta, sementara perputaran modal koperasi yang masih ada di tangan anggota Rp 3.239.160.000. Jumlah ini sangat besar sehingga kami akan berusaha agar anggota memenuhi kewajibannya mengembalikan pinjamannya," katanya.
Tentang kendala selama ini, Mau menjelaskan, anggota yang karena urusan kebutuhan rumah tangga lalu berdampak pada nihilnya dana pengembalian. Juga, sulitnya penagihan karena anggota tersebar di hampir seluruh wilayah Belu. Sementara tenaga penagih hanya satu orang (bendahara).
"Kami berharap pemerintah memberikan dua tenaga PNS untuk dilatih sebagai bendahara di Kopensetda. Karena kesulitan yang kami hadapi sekarang ini soal tenaga bendahara dimana yang ada akan pensiun. Kita berharap PNS yang akan ditunjuk adalah bendahara yang jujur, penuh tanggung jawab dan siap kerja keras," jelasnya. (*)
Pemkot Gelar Pelatihan Sanitasi Sekolah
Spirit NTT, 23-29 Maret 2009, Laporan Reddy Ngera
KUPANG, SPIRIT -- Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang bekerja sama dengan UNICEF menggelar pelatihan sanitasi sekolah dan pendidikan hygiene (SSPH) di Aula Kantor Bappeda Kota Kupang, Senin (16/3/2009). Peserta pelatihan adalah kepala sekolah, guru-guru dan komite dari 10 sekolah dasar (SD) dari enam kelurahan di Kota Kupang. Ke-10 SD tersebut berasal dari Kelurahan Oesapa, Fatubesi, Solor, Namosain, Kelapa Lima dan Kelurahan Naikoten.
Kepala Bappeda Kota Kupang, Victor Umbu Mana, S.E, mengatakan, pelatihan ini memberikan pemahaman tentang program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) khususnya sanitasi sekolah dan pendidikan hygiene bagi SD yang menjadi sasaran program.
Menurut Umbu Mana, salah satu manfaat pelatihan SSPH bagi para guru adalah untuk memberikan informasi serta meningkatkan pemahaman tentang sanitasi dan promosi kesehatan di kawasan kumuh perkotaan di lingkungan sekolah.
Umbu Mana mengharapkan, peserta pelatihan ini nantinya dapat menjadi fasilitator yang mampu mendampingi komunitas sekolah untuk mensukseskan program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BL) di Kota Kupang, khususnya sanitasi sekolah.
Kepala Perwakilan UNICEF NTT, Dr. Virginia Kadarsan mengatakan, buruknya kondisi air bersih dan sanitasi pada pemukiman kumuh membuat masyarakat menjadi rentan pada penyakit berbasis lingkungan yang proses penularannya melalui air. Salah satunya, kata Kadarsan, adalah penyakit diare.
Melalui penyediaan sarana air dan sanitasi yang layak, jelas Kadarsan, diharapkan dapat membantu meningkatkan status kesehatan dan akhirnya memutus mata rantai penyebaran penyakit diare.
Ketua panitia pelaksana, Densie F Dethan, ST.MT, dalam laporannya mengatakan, tujuan pelatihan ini agar peserta mampu menjelaskan alur penularan penyakit dan cara menghambatnya, melakukan penataan bangunan, sarana air bersih dan sarana sanitasi di sekolah dan lingkungannya, serta mampu mengelola murid agar dapat merencanakan dan menjaga kebersihan sarana air bersih dan sanitasi. (*)
Read More...
Penghuni Jalur Hijau Dianjurkan Pindah
Spirit NTT, 23-29 Maret 2009, Laporan Hermina Pello
KELAPA LIMA, SPIRIT--Camat Kelapa Lima, Noce Nus Loa, S.H, M.Si, mengajurkan kepada 159 kepala keluarga yang bermukim di jalur hijau mulai dari daerah patung Ina Boi hingga perbatasan Kelurahan Kelapa Lima agar pindah dari lokasi tersebut.
"Pemerintah kecamatan terus melakukan pendekatan persuasif agar warga pindah dari lokasi jalur hijau," kata Nus Loa di ruang kerjanya, Selasa (17/3/2009).
Menurut Nus Loa, pemerintah selalu melakukan pengawasan terhadap mereka yang berdomisili di jalur hijau agar tidak ada penambahan rumah lagi meskipun hanya bangunan darurat.
"Tahun 2008 lalu, kami membongkar dua bangunan yang baru dibangun karena pemerintah tidak akan mentolerir terhadap mereka yang baru membangun di daerah tersebut. Kalau dibiarkan akan semakin banyak yang membangun di jalur hijau. Karena itu pemerintah harus bertindak tegas," ujar Nus Loa yang tidak lama lagi akan melakukan serah terima jabatan Camat Kelapa Lima kepada pejabat baru ini.
Nus Loa menjelaskan, terhadap 159 kepala keluarga (KK) itu, pemerintah selalu melakukan pendekatan agar mereka mau meninggalkan daerah jalur hijau karena tidak sesuai dengan peraturan daerah.
"Pada umumnya mereka mengerti dan tahu bahwa tanah yang ditempati sekarang ini bukan milik mereka tetapi karena mereka sudah cukup lama berada di daerah tersebut sebelum peraturan daerah itu ada. Pada awalnya mereka meminta untuk berdomisili di tempat tersebut dan disuruh untuk membuat surat pernyataan bahwa mereka bersedia pindah tetapi setelah masuk di daerah itu, sulit sekali memindahkan mereka dari jalur tersebut. Karena itu pemerintah masih melakukan pendekatan persuasif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat pemerintah bisa bertindak lebih tegas," katanya.
Nus Loa mengatakan, pada saat pemerintah meminta mereka pindah dari jalur hijau masyarakat akan bertanya lagi kepada pemerintah dan meminta tempat untuk mereka tinggal.
Pihak kecamatan, lanjutnya, selalu berkoordinasi dengan kelurahan untuk bisa mendapatkan data mengenai pembangunan di sekitar jalur hijau. Karena itu biasanya masyarakat itu dipanggil untuk bertatap muka dengan dinas tata kota karena mereka yang tahu pasti mengenai jalur hijau tersebut.
"Sebagai antisipasi agar tidak membangun di kawasan jalur hijau, pemerintah menanamkan papan yang memberitahukan bahwa daerah tersebut adalah jalur hijau," ujarnya. (*)
Read More...







