Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Ibu dan Bahaya si Nyamuk Belang


Edisi: 25 - 31 Oktober 2010
No. 240 Tahun V, Hal: 6


MUSIM kemarau yang malah hujan seperti sekarang ini menjadikan si nyamuk belang (aedes aegypti) berkeliaran di mana-mana. Padahal, nyamuk itu bukan sembarang nyamuk. Gigitan nyamuk itu menyebabkan demam berdarah dengue (DBD) yang bisa mengakibatkan kematian. Dan, anak-anak adalah sasaran empuk sang nyamuk.

Ibu rumah tangga seyogianya menyadari benar bahaya akibat nyamuk aedes aegypti terhadap anak. Tak cukup bagi ibu hanya membuatkan makanan, mengajari membaca, dan mengantar anak ke sekolah. Tak kalah penting dari itu adalah memperhatikan kesehatan sang anak, karena bagaimanapun kesehatan adalah modal utama bagi anak untuk beraktivitas.

Jadi, selain mengetahui metode pemberantasan nyamuk Aedes aegypti dengan menguras, menutup, dan mengubur (M3), seorang ibu mesti mengetahui berbagai hal membahayakan kesehatan anak.

Kenali tanda-tanda jamak diketahui khalayak, demam, apa pun jenisnya, adalah sakit panas. DBD pun diindikasikan dengan panas. Ketika anak panas, ibu mesti memberikan perhatian penuh. Seorang ibu harus tanggap atas penderitaan anak. Jika anak hanya deman biasa, tentu bukan hal yang menghawatirkan. Namun jika panas itu disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti, ibu harus segera memberikan fasilitas kesehatan untuk mengklarifikasi dan menangani si anak.

Namun hingga saat ini banyak ibu rumah tangga kesulitan mengenali tanda-tanda gejala DBD. Secara umum, gejala klinis DBD ditandai oleh demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam, dan perdarahan. Pertama, demam akibat DBD sangat tinggi dan mendadak. Ketinggian suhu panas akibat nyamuk aedes aegypti itu bisa 39-40 derajat celcius.

Kemendadakan penyakit DBD sering dapat ditengarai oleh ibu rumah tangga pada anak yang sehat mendadak panas tinggi. Karena itulah ibu rumah tangga perlu mencermati anak yang berangkat bermain dengan teman-teman dalam kondisi sehat, tetapi ketika pulang dalam keadaan demam cukup tinggi.

Biasanya demam itu hanya sepekan. Penurunan suhu pun sering terjadi secara mendadak. Saat demam menurun, anak sering pucat lemas. Selain itu, demam yang diderita juga acap kali berhenti sebentar dan kambuh kembali hingga turun kembali saat sudah sembuh.

Kedua, nyeri seluruh tubuh atau bagi orang awam biasa disebut flu tulang. Kenyerian timbul akibat gejala panas pada penderita infeksi virus dengue, sehingga akan segera diikuti rasa nyeri pada seluruh tubuh. Rasa nyeri itu umumnya dirasakan dengan nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata. Seseorang yang terkena DBD makin banyak bergerak kian terasa nyeri. Untuk menghilangkan nyeri tidak mudah.
Namun saat DBD sudah hilang, rasa nyeri yang dirasakan pun segera hilang.

Ketiga, ruam. Ruam pada orang yang terkena DBD berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Ruam itu diketahui setelah empat hari menderita DBD. Tanda-tandanya berupa kemerahan di leher, muka, dada, kaki, dan tangan.

Keempat, perdarahan. Tanda terkena DBD berupa perdarahan tak semua bisa diketahui. Bahkan beberapa pasien DBD tak mengalami perdarahan. Jika seseorang yang terkena DBD mengalami perdarahan, kesehatannya harus diwaspadai dan diperhatikan secara intensif. Perdarahan akibat DBD bisa menyebabkan kematian. Jenis perdarahan akibat DBD sangat beragam. Bisa berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung, dan perdarahan masif.

Perdarahan yang terakhir itulah yang sering dapat berakhir pada kematian. Nah, ibu rumah tangga yang mendapati salah satu gejala klinis DBD pada anak, harus waspada dan bertindak cepat. Jangan sampai karena ketidaktahuan akan tanda-tanda itu dan kekurangcepatan mengambil tindakan, menyebabkan nyawa sang anak melayang.

Tidur pagi sebagai pencegahan, sejak awal ibu harus mencegah anak terkena DBD. Pepatah menyatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Namun tanpa pengetahuan, ibu pun kebingungan melakukan upaya pencegahan. Alhasil, ada keinginan mencegah tetapi malah anak makin parah.

Ada banyak macam pencegahan yang bisa dilakukan ibu rumah tangga. Misalnya, melaksanakan 3M dan mengusulkan pengasapan (fogging). Hal lain yang sangat penting dan sering tak dimengerti ibu rumah tangga adalah memperhatikan tidur sang anak.

Para ibu hendaknya dapat mengendalikan anak agar tak tidur pada pagi dan sore hari. Sebab, nyamuk aedes aegypti berkeliaran dan menggigit pada pukul 08.00-12.00 dan sore menjelang magrib. (endaryati/alumnus SITY Yogyakarta)

Tidak ada komentar: