Spirit NTT, 25-31 Mei 2009
KUPANG, SPIRIT-- Fraksi Partai Golkar DPRD NTT menilai, pemerintah telah berhasil dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tahun anggaran 2008 sebesar Rp 237.286.164,010,00 atau 113,98 persen dari target Rp 208.190.685.000,00. Ke depan prestasi ini diharapkan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Hal ini disampaikan fraksi ini terhadap laporan keterangan pertanggungjawaban Gubernur NTT atas pelaksanaan APBD NTT TA 2008 di Gedung DPRD NTT, tanggal 23 April 2009.
Menurut Juru Bicara (Jubir), Oscar Mandalangi, B.A, realisasi kinerja pendapatan daerah selama tahun anggaran 2007 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari target pendapatan sebesar Rp 938.932.000.000,00 pemerintah berhasil menunjukkan kerja kerasnya sehingga realisasi melampaui target sebesar Rp 946.026.751.848,00.
Meski demikian, menurut Oscar, dari segi pendapatan daerah masih terdapat ketergantungan fiskal yang tinggi pada APBN. Pasalnya dari total realisasi APBD hanya mampu membiayai 22,17 persen dari keseluruhan belanja daerah.
Tingginya ketergantungan fiskal ini seperti disinyalir pemerintah sangat membatasi
kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program dan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk itu menurut Oscar, perhatian pada upaya peningkatan penerimaan daerah lewat PAD harus menjadi tekat bersama sebagaimana telah digariskan dalam kebijakan umum anggaran (KUA) dan prioritas pembangunan daerah.
Fraksi ini juga menduga pemerintah tidak memiliki indikator yang pasti untuk menetapkan target penerimaan sehingga realisasinya sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Fraksi ini mengharapkan ke depan ada penetapan indikator yang jelas untuk penetapan target penerimaan dan terus mendorong upaya intensifikasi dan ekstensifikasi obyek pajak dan retribusi yang konvensional.
Pada pemandangan fraksi lainnya disebutkan bahwa laporan realisasi belanja daerah TA 2008 terlihat perbedaan antara realisasi dan rencana anggaran yang telah ditetapkan, yakni Rp 984.225,562.619,00 atau 86,38 persen dari anggaran yang direncanakan sebesar Rp 1.139.424.850.000,00. Kesenjangan ini terjadi pada semua pos belanja. Pada pos belanja tidak langsung telah direalisasi Rp 485.652.667.150,00 atau 84,68 persen dari rencana Rp 573.536.271.158,00. Selanjutnya pada pos belanja langsung telah direalisasi Rp 498.572.895.479 atau 88,10 persen dari rencana sebesar Rp 565.888.578.946,00.
Gejala ini menurut Fraksi Golkar, pada satu sisi merupakan prestasi keberhasilan pemerintah dalam pengelolaan keuangan daerah karena terjadi pengehematan atau efisiensi. Namun di sisi lain, sedikit banyak memperlihatkan kekurangcermatan dalam perencanaan. Kebiasaan pemerintah untuk menunda-nunda realisasi belanja merupakan salah satu penyebab yang menyumbang tidak terealisasinya sejumlah anggaran belanja pada TA 2008.
Fraksi ini juga menyambut baik itikat baik pemeirntah untuk menyajikan informasi tentang pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah yang menjadi tolak ukur kinerja dengan indikator seperti input,output, outcome, benefit dan impact. (*/pol)
KUPANG, SPIRIT-- Fraksi Partai Golkar DPRD NTT menilai, pemerintah telah berhasil dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tahun anggaran 2008 sebesar Rp 237.286.164,010,00 atau 113,98 persen dari target Rp 208.190.685.000,00. Ke depan prestasi ini diharapkan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Hal ini disampaikan fraksi ini terhadap laporan keterangan pertanggungjawaban Gubernur NTT atas pelaksanaan APBD NTT TA 2008 di Gedung DPRD NTT, tanggal 23 April 2009.
Menurut Juru Bicara (Jubir), Oscar Mandalangi, B.A, realisasi kinerja pendapatan daerah selama tahun anggaran 2007 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari target pendapatan sebesar Rp 938.932.000.000,00 pemerintah berhasil menunjukkan kerja kerasnya sehingga realisasi melampaui target sebesar Rp 946.026.751.848,00.
Meski demikian, menurut Oscar, dari segi pendapatan daerah masih terdapat ketergantungan fiskal yang tinggi pada APBN. Pasalnya dari total realisasi APBD hanya mampu membiayai 22,17 persen dari keseluruhan belanja daerah.
Tingginya ketergantungan fiskal ini seperti disinyalir pemerintah sangat membatasi
kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program dan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk itu menurut Oscar, perhatian pada upaya peningkatan penerimaan daerah lewat PAD harus menjadi tekat bersama sebagaimana telah digariskan dalam kebijakan umum anggaran (KUA) dan prioritas pembangunan daerah.
Fraksi ini juga menduga pemerintah tidak memiliki indikator yang pasti untuk menetapkan target penerimaan sehingga realisasinya sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Fraksi ini mengharapkan ke depan ada penetapan indikator yang jelas untuk penetapan target penerimaan dan terus mendorong upaya intensifikasi dan ekstensifikasi obyek pajak dan retribusi yang konvensional.
Pada pemandangan fraksi lainnya disebutkan bahwa laporan realisasi belanja daerah TA 2008 terlihat perbedaan antara realisasi dan rencana anggaran yang telah ditetapkan, yakni Rp 984.225,562.619,00 atau 86,38 persen dari anggaran yang direncanakan sebesar Rp 1.139.424.850.000,00. Kesenjangan ini terjadi pada semua pos belanja. Pada pos belanja tidak langsung telah direalisasi Rp 485.652.667.150,00 atau 84,68 persen dari rencana Rp 573.536.271.158,00. Selanjutnya pada pos belanja langsung telah direalisasi Rp 498.572.895.479 atau 88,10 persen dari rencana sebesar Rp 565.888.578.946,00.
Gejala ini menurut Fraksi Golkar, pada satu sisi merupakan prestasi keberhasilan pemerintah dalam pengelolaan keuangan daerah karena terjadi pengehematan atau efisiensi. Namun di sisi lain, sedikit banyak memperlihatkan kekurangcermatan dalam perencanaan. Kebiasaan pemerintah untuk menunda-nunda realisasi belanja merupakan salah satu penyebab yang menyumbang tidak terealisasinya sejumlah anggaran belanja pada TA 2008.
Fraksi ini juga menyambut baik itikat baik pemeirntah untuk menyajikan informasi tentang pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah yang menjadi tolak ukur kinerja dengan indikator seperti input,output, outcome, benefit dan impact. (*/pol)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar