SPIRIT NTT/DION DB PUTRA
LEMBOR-- Sebagian areal persawahan di Lembor, Manggarai Barat. Para petani setempat kini kesulitan pupuk untuk menyuburkan lahan agar memperoleh hasil maksimal. Gambar dipotret belum lama ini.
* Permintaan Petani Lembor
Spirit NTT, 06-12 April 2009, Laporan Oby Lewanmeru
LABUAN BAJO, SPIRIT--Sejumlah petani penggarap lahan sawah di areal persawahan Lembor atau di Daerah Irigasi (DI) Lembor, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), mengeluhkan kelangkaan pupuk. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk NPK dan SP untuk tanaman padi mereka. Pemerintah diminta turun tangan melakukan operasi pasar sehingga pedagang tidak seenaknya memperdagangkan pupuk kepada petani.
Sejumlah petani penggarap yang ditemui SPIRIT NTT di sejumlah areal persawahan Lembor, Senin (23/3/2009), mengeluhkan kelangkaan pupuk NPK dan SP. Hermanus, Petrus Hambur dan Stefanus kepada SPIRIT NTT mengungkapkan, akhir 2008 lalu, pupuk NPK dan SP mulai langkah di pasaran. Cuma pupuk urea yang tersedia di pasaran. Namun kelangkaan pupuk itu bisa diatasi saat itu meski belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan petani di Lembor.
"Terus terang, sampai saat ini kami masih kekurangan pupuk. Memang saat ni ada sebagian petani yang sudah panen atau mengetam, tapi ada juga petani yang saat ini sementara membajak sawah, bahkan ada yang baru mau tanam. Karena itu pupuk masih dibutuhkan," kata Hermanus.
Hermanus berharap pemerintah melakukan operasi pasar untuk mengontrol penjualan pupuk oleh pedagang. Karena terkadang pupuk langkah di pasaran, kemudian muncul lagi dan langkah lagi. Hermanus juga berharap pemerintah bisa kembali memberikan pupuk bersubsidi kepada petani.
Petani lain, Petrus Hambur, mengakui saat ini sebagian areal persawahan sudah masuk dalam fase generatif dan rata-rata tanaman padi sudah berbulir, bahkan sebagian kecil ada petani yang sementara panen. "Sekarang keluhan berkurang karena rata-rata tanaman padi sudah besar dan ada yang mulai panen, sedangkan sebagian kecil saja yang masih menyiapkan lahan untuk tanam," kata Hambur.
Menurut Hambur, tidak semua petani mengeluh tentang kelangkaan pupuk, karena petani menanam sawahnya dalam waktu berbeda sehingga kebutuhan pupuk juga akan berbeda waktu.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Mabar, John Kitu. Kitu mengatakan, kesulitan pupuk yang dialami petani beberapa waktu lalu sudah bisa diatasi dengan pasokan pupuk bersubsidi. "Kelangkaan yang terjadi beberapa waktu lalu itu telah diatasi. Kalau saat ini ada yang masih mengeluh, itu hanya beberapa saja, tidak seluruhnya," kata Kitu. (*)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar