SPIRIT NTT/OBY LEWANMERU
HUTANG MBELING--Kawasan hutan Mbeling di Manggarai Barat selalu dijahili--ditebang, dibabat-- oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Gambar dipotret belum lama ini.
HUTANG MBELING--Kawasan hutan Mbeling di Manggarai Barat selalu dijahili--ditebang, dibabat-- oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Gambar dipotret belum lama ini.
Spirit NTT, 06-12 April 2009
APA jadinya bila hutan sebagai tandon air hancur centang-perenang dan ribuan pohon meranggas mendekati ajal? Jelas persediaan air akan berkurang. Padahal air adalah kebutuhan mendasar bagi umat manusia. Apa jadinya bila lingkungan di sekitar terancam kekeringan tanpa air? Rentetan pertanyaan tersebut membayangi-bayangi masyarakat dan kondisi hutan dataran rendah Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.
Beberapa waktu lalu, penulis bersama beberapa staf Burung Indonesia dan kolega dari DOF, Denmark, melakukan perjalanan di kawasan hutan Mbeliling. Sebuah pemandangan cukup tragis terjadi di kawasan Puarlolo, bagian hutan Mbeliling yang berdekatan dengan pemancar relay Telkom Labuan Bajo serta paling mudah diakses dari jalan raya Trans Flores. Pepohonan rindang yang seharusnya menjadi rumah nyaman bagi tiga jenis burung endemik Flores, terlihat mulai dirambah dan ditebangi secara ilegal oleh beberapa oknum warga sekitar. Ketiga jenis burung endemik Flores yang terancam punah dan bisa dijumpai di Puarlolo adalah Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), Serindit Flores (Loriculus flosculus) dan Gagak flores (Corvus florensis).
"Hutan Mbeliling di bagian Puarlolo ini seharusnya dijaga masyarakat bukannya ditebangi, karena menjadi sumber mata air bagi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat. Kalau pembabatan liar dibiarkan terus menerus hilanglah hutan dan air di sini," kata Karell, warga Desa Liang Dara yang menyertai rombongan Burung Indonesia.
Kawasan Puarlolo bila diamati dari luar memang terlihat masih rimbun kehijauan. Namun kondisi tersebut jauh berbeda bila melangkahkan kaki masuki hutan lebih dalam. Tim Burung Indonesia sempat menjumpai, beberapa perambah hutan sambil menenteng parang hilir mudik di wilayah lindung tersebut. Pada sebuah jalan setapak menuju mata air Woval yang kiri kanannya masih ditumbuhi rumput, tergeletak potongan-potongan kayu hasil tebangan.
Ancaman perambahan dan kerusakan hutan Mbeliling juga dikhawatirkan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai Barat, Drs. Edward, SE, MM. "Kondisi hutan Mbeliling saat ini cukup mencemaskan. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat sekitar yang tak segan merambah hutan mereka sendiri. Problem ini semakin bertambah karena belum ada ketegasan dari aparat keamanan untuk menindak para pencuri kayu," katanya.
Edward mengakui, bila hanya mengandalkan instansi yang dia komandoi untuk menjaga hutan terasa cukup sulit. Apa pasalnya, Dinas Kehutanan Manggarai Barat belum memiliki Polisi Hutan (Polhut) serta minimnya sarana dan prasarana. Baru tahun 2008 ini, Dinas Kehutanan berencana merekrut 20 orang Polhut dan akan ditempatkan di daerah strategis serta rawan pembalakan hutan.
"Sebelum terbentuk satuan Polisi Hutan, saat ini butuh law enforcement kuat dari aparat keamanan yang ada. Agar timbul efek jera bagi perambah hutan," tegas Edward.
Kawasan Konservasi
Kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang berperan sebagai tempat perlindungan bagi tumbuh-tumbuhan endemik dan spesies-spesies burung yang khas. Beberapa spesies diketahui memiliki hubungan dengan spesies di Kalimantan, Filipina, dan Irian di masa lalu. Lebih dari 20 spesies tumbuhan baru telah dideskripsikan berdasarkan koleksi dari Mbeliling.
Hingga saat ini spesies-spesies tumbuhan tersebut hanya dijumpai di kawasan ini, termasuk perwakilan dari marga-marga baru untuk Nusa Tenggara (Urobotrya florensis) dan Sympetalandra schmutzii) dan beberapa spesies pohon (Helicia sp. dan Ternstroemia sp.) serta beberapa spesies anggrek (Corybas sp. dan Coelogyme sp.) yang belum dapat dideskripsikan.
Beragam spesies tumbuhan ini menggambarkan beberapa pengetahuan yang unik mengenai proses evolusi dan biogeografi di Asia Tenggara, diantaranya merupakan bukti adanya hubungan dengan Kalimantan, Filipina, dan Irian di masa lalu.
Di Flores ada hubungan antara pola endemisitas tumbuhan dan kekhasan burung, contoh terbaik dijumpai di hutan Mbeliling. Dibandingkan kawasan konservasi lainnya di Flores, Mbeliling memiliki jumlah tertinggi untuk spesies burung yang memiliki arti penting bagi konservasi. Jumlah ini mencakup tiga dari empat spesies endemik dan 17 dari 20 spesies burung penting lainnya.
Saat ini status hutan dataran rendah Mbeliling (600-1.000 m) meliputi Hutan Lindung (72,4 km2), Hutan Konversi (41,8 km2), dan Hutan Produksi terbatas (120 km2). Mbeliling merupakan 'rumah' terpenting bagi burung-burung yang menjadi perhatian konservasi di Flores. Hutan yang luasnya semakin berkurang atau terdegradasi mengancam sebagian besar jenis burung-burung sebaran terbatas.
Ular buta (Typhlops schmutzii) diketahui hanya terdapat di Pulau Komodo, Flores barat termasuk hutan Mbeliling. Sungai Wai Tiunga mendukung beberapa populasi buaya muara yang secara global terancam punah. Daerah hulu sungai ini berada di pegunungan Mbeliling. Gua-gua di sekitar Dhalong mendukung beberapa populasi besar kelelawar pemakan serangga. Satu dari tikus endemik Flores, yaitu tikus raksasa Flores hidup di kawasan Mbeliling.
Mbeliling dan Sano Nggoang memiliki sejarah penelitian yang penting dengan banyak informasi dasar mengenai tumbuh-tumbuhan, status dan kelimpahan relatif burung, penelitian malaria, dan pemanfaatan tradisional terhadap tumbuh-tumbuhan.
Beberapa ancaman terhadap hutan adalah rencana konversi dari habitat hutan bertajuk rapat beralih fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri, menjadi perkebunan, pembangunan jalan, penebangan kayu liar serta perambahan hutan. Saat ini tidak ada izin pengambilan kayu di kawasan hutan Mbeliling. (praminto moehayat/burung indonesia/www.burung.org/bersambung)
APA jadinya bila hutan sebagai tandon air hancur centang-perenang dan ribuan pohon meranggas mendekati ajal? Jelas persediaan air akan berkurang. Padahal air adalah kebutuhan mendasar bagi umat manusia. Apa jadinya bila lingkungan di sekitar terancam kekeringan tanpa air? Rentetan pertanyaan tersebut membayangi-bayangi masyarakat dan kondisi hutan dataran rendah Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.
Beberapa waktu lalu, penulis bersama beberapa staf Burung Indonesia dan kolega dari DOF, Denmark, melakukan perjalanan di kawasan hutan Mbeliling. Sebuah pemandangan cukup tragis terjadi di kawasan Puarlolo, bagian hutan Mbeliling yang berdekatan dengan pemancar relay Telkom Labuan Bajo serta paling mudah diakses dari jalan raya Trans Flores. Pepohonan rindang yang seharusnya menjadi rumah nyaman bagi tiga jenis burung endemik Flores, terlihat mulai dirambah dan ditebangi secara ilegal oleh beberapa oknum warga sekitar. Ketiga jenis burung endemik Flores yang terancam punah dan bisa dijumpai di Puarlolo adalah Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), Serindit Flores (Loriculus flosculus) dan Gagak flores (Corvus florensis).
"Hutan Mbeliling di bagian Puarlolo ini seharusnya dijaga masyarakat bukannya ditebangi, karena menjadi sumber mata air bagi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat. Kalau pembabatan liar dibiarkan terus menerus hilanglah hutan dan air di sini," kata Karell, warga Desa Liang Dara yang menyertai rombongan Burung Indonesia.
Kawasan Puarlolo bila diamati dari luar memang terlihat masih rimbun kehijauan. Namun kondisi tersebut jauh berbeda bila melangkahkan kaki masuki hutan lebih dalam. Tim Burung Indonesia sempat menjumpai, beberapa perambah hutan sambil menenteng parang hilir mudik di wilayah lindung tersebut. Pada sebuah jalan setapak menuju mata air Woval yang kiri kanannya masih ditumbuhi rumput, tergeletak potongan-potongan kayu hasil tebangan.
Ancaman perambahan dan kerusakan hutan Mbeliling juga dikhawatirkan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai Barat, Drs. Edward, SE, MM. "Kondisi hutan Mbeliling saat ini cukup mencemaskan. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat sekitar yang tak segan merambah hutan mereka sendiri. Problem ini semakin bertambah karena belum ada ketegasan dari aparat keamanan untuk menindak para pencuri kayu," katanya.
Edward mengakui, bila hanya mengandalkan instansi yang dia komandoi untuk menjaga hutan terasa cukup sulit. Apa pasalnya, Dinas Kehutanan Manggarai Barat belum memiliki Polisi Hutan (Polhut) serta minimnya sarana dan prasarana. Baru tahun 2008 ini, Dinas Kehutanan berencana merekrut 20 orang Polhut dan akan ditempatkan di daerah strategis serta rawan pembalakan hutan.
"Sebelum terbentuk satuan Polisi Hutan, saat ini butuh law enforcement kuat dari aparat keamanan yang ada. Agar timbul efek jera bagi perambah hutan," tegas Edward.
Kawasan Konservasi
Kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang berperan sebagai tempat perlindungan bagi tumbuh-tumbuhan endemik dan spesies-spesies burung yang khas. Beberapa spesies diketahui memiliki hubungan dengan spesies di Kalimantan, Filipina, dan Irian di masa lalu. Lebih dari 20 spesies tumbuhan baru telah dideskripsikan berdasarkan koleksi dari Mbeliling.
Hingga saat ini spesies-spesies tumbuhan tersebut hanya dijumpai di kawasan ini, termasuk perwakilan dari marga-marga baru untuk Nusa Tenggara (Urobotrya florensis) dan Sympetalandra schmutzii) dan beberapa spesies pohon (Helicia sp. dan Ternstroemia sp.) serta beberapa spesies anggrek (Corybas sp. dan Coelogyme sp.) yang belum dapat dideskripsikan.
Beragam spesies tumbuhan ini menggambarkan beberapa pengetahuan yang unik mengenai proses evolusi dan biogeografi di Asia Tenggara, diantaranya merupakan bukti adanya hubungan dengan Kalimantan, Filipina, dan Irian di masa lalu.
Di Flores ada hubungan antara pola endemisitas tumbuhan dan kekhasan burung, contoh terbaik dijumpai di hutan Mbeliling. Dibandingkan kawasan konservasi lainnya di Flores, Mbeliling memiliki jumlah tertinggi untuk spesies burung yang memiliki arti penting bagi konservasi. Jumlah ini mencakup tiga dari empat spesies endemik dan 17 dari 20 spesies burung penting lainnya.
Saat ini status hutan dataran rendah Mbeliling (600-1.000 m) meliputi Hutan Lindung (72,4 km2), Hutan Konversi (41,8 km2), dan Hutan Produksi terbatas (120 km2). Mbeliling merupakan 'rumah' terpenting bagi burung-burung yang menjadi perhatian konservasi di Flores. Hutan yang luasnya semakin berkurang atau terdegradasi mengancam sebagian besar jenis burung-burung sebaran terbatas.
Ular buta (Typhlops schmutzii) diketahui hanya terdapat di Pulau Komodo, Flores barat termasuk hutan Mbeliling. Sungai Wai Tiunga mendukung beberapa populasi buaya muara yang secara global terancam punah. Daerah hulu sungai ini berada di pegunungan Mbeliling. Gua-gua di sekitar Dhalong mendukung beberapa populasi besar kelelawar pemakan serangga. Satu dari tikus endemik Flores, yaitu tikus raksasa Flores hidup di kawasan Mbeliling.
Mbeliling dan Sano Nggoang memiliki sejarah penelitian yang penting dengan banyak informasi dasar mengenai tumbuh-tumbuhan, status dan kelimpahan relatif burung, penelitian malaria, dan pemanfaatan tradisional terhadap tumbuh-tumbuhan.
Beberapa ancaman terhadap hutan adalah rencana konversi dari habitat hutan bertajuk rapat beralih fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri, menjadi perkebunan, pembangunan jalan, penebangan kayu liar serta perambahan hutan. Saat ini tidak ada izin pengambilan kayu di kawasan hutan Mbeliling. (praminto moehayat/burung indonesia/www.burung.org/bersambung)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar