KUPANG, SPIRIT--Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Surabaya Multi Kelas Kupang mendadak dikunjungi Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/4/2009).
Anggota legislatif yang membidangi masalah pendidikan itu hendak melihat secara langsung penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di lembaga ini karena selama ini penyelenggaraan pendidikan jarak jauh mengalami banyak kendala yang akhirnya merugikan para lulusannya.
Pelaksana Harian STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang, Rudizon Doko Patty, kepada SPIRIT NTT di kampus tersebut, Rabu (1/4/2009), mengatakan, kunjungan ini dipimpin Ketua Komisi D DPRD NTT, Markus Hendrik, dan diterima Pelaksana Harian STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang, Rudizon Doko Patty, para pembantu ketua, ketua program studi, dan sejumlah dosen dan karyawan.
Dalam kunjungan ini, katanya, Komisi D DPRD meninjau berbagai sarana- prasarana dan fasilitas yang digunakan di lembaga ini, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang kelas dan sarana-prasarana lainnya.
Selain itu, katanya, Komisi D melakukan tatap muka dengan para mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.
Dikatakannya, setelah meninjau berbagai fasilitas, sarana dan prasarana di lembaga ini, Ketua Komisi D DPRD NTT, Markus Hendrik memberikan apresiasi dan dukungan sepenuhnya terhadap penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di lembaga ini.
Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh harus memenuhi persyaratan, seperti sarana-prasarana yang mendukung KBM, fasilitas informasi, komunikasi dan teknologi (ICT) yang lengkap, para dosen yang memadai dan jam tatap muka yang sesuai standar.
Berdasarkan pantauan ini, katanya, Komisi D mendukung karena lembaga ini memenuhi syarat-syarat yang ditentukan untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh.
Pada kesempatan ini, katanya, Komisi D juga berharap agar lulusan STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang kembali membangun kesehatan di desanya jika sudah selesai kuliah. Menurutnya, saat ini banyak sekali tenaga kesehatan yang menetap di kota setelah selesai kuliah sehingga berdampak pada langkanya tenaga kesehatan di desa-desa.
Ia mengatakan, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di STIKES Surabaya memberikan pendidikan yang terjangkau dan murah kepada mahasiswanya, namun tetap menekankan mutu sesuai dengan standar pendidikan nasional. (*)
Anggota legislatif yang membidangi masalah pendidikan itu hendak melihat secara langsung penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di lembaga ini karena selama ini penyelenggaraan pendidikan jarak jauh mengalami banyak kendala yang akhirnya merugikan para lulusannya.
Pelaksana Harian STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang, Rudizon Doko Patty, kepada SPIRIT NTT di kampus tersebut, Rabu (1/4/2009), mengatakan, kunjungan ini dipimpin Ketua Komisi D DPRD NTT, Markus Hendrik, dan diterima Pelaksana Harian STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang, Rudizon Doko Patty, para pembantu ketua, ketua program studi, dan sejumlah dosen dan karyawan.
Dalam kunjungan ini, katanya, Komisi D DPRD meninjau berbagai sarana- prasarana dan fasilitas yang digunakan di lembaga ini, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang kelas dan sarana-prasarana lainnya.
Selain itu, katanya, Komisi D melakukan tatap muka dengan para mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.
Dikatakannya, setelah meninjau berbagai fasilitas, sarana dan prasarana di lembaga ini, Ketua Komisi D DPRD NTT, Markus Hendrik memberikan apresiasi dan dukungan sepenuhnya terhadap penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di lembaga ini.
Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh harus memenuhi persyaratan, seperti sarana-prasarana yang mendukung KBM, fasilitas informasi, komunikasi dan teknologi (ICT) yang lengkap, para dosen yang memadai dan jam tatap muka yang sesuai standar.
Berdasarkan pantauan ini, katanya, Komisi D mendukung karena lembaga ini memenuhi syarat-syarat yang ditentukan untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh.
Pada kesempatan ini, katanya, Komisi D juga berharap agar lulusan STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang kembali membangun kesehatan di desanya jika sudah selesai kuliah. Menurutnya, saat ini banyak sekali tenaga kesehatan yang menetap di kota setelah selesai kuliah sehingga berdampak pada langkanya tenaga kesehatan di desa-desa.
Ia mengatakan, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di STIKES Surabaya memberikan pendidikan yang terjangkau dan murah kepada mahasiswanya, namun tetap menekankan mutu sesuai dengan standar pendidikan nasional. (*)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar