Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Manggarai Barat dalam lintasan sejarah...

Spirit NTT, 26-1 s/d 2-2-2009

* Jaman pra- sejarah

Berdasarkan penyelidikan para arkeolog dan ethnograf di Manggarai (termasuk Manggarai Barat) telah ditemukan beberapa jejak kehidupan purba, antara lain dapat dilihat dari pola perkampungan masyarakat purba dan penemuan fosil purba di beberapa tempat di Manggarai dan Manggarai Barat.

Pola perkampungan masyarakat purba Manggarai. Dalam perkampungan purba selalu ditemukan unsur zaman batu. Fenomena tehnologi purba, bagaimana orang zaman dahulu kala membangun mosaik hidup dan kehidupannya dengan unsur batu sebagai fondasi pola perkampungan, serta khusus untuk Compang yang dihayati sebagai mesbah persembahan. Dari konstruksi perkampungannya sendiri bisa dilihat, selain 'Compang', 'Natas,' 'Like,' dan 'Porong Telo' misalnya, dibangun dari susunan batu-batu sangat rapih. Bagian yang dibangun agak bertahap adalah bangunan Compang.


Compang merupakan tempat sesajian kepada arwah yang pada umumnya terletak di tengah halaman kampung. Compang berbentuk bundar menyerupai meja persembahan, terbuat dari tumpukan batu. Pada umumnya di tengah Compang tumbuh dadap (kalo), namun di beberapa tempat ditemukan pohon beringin (langke). Bangunan Compang pada saat ini dapat ditemukan di Compang Ruteng Pu'u, Compang Wae Rebo, Compang Cibal, Compang Mano, dan Compang Pacar Pu'u dan masih ada di beberapa tempat yang lain. Sebagian besar Compang terletak di wilayah Kabupaten Manggarai, hanya Compang Pacar Pu'u yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat.

Binatang peninggalan zaman purba. Salah satu bukti prasejarah yang masih ada sampai sekarang di Manggarai Barat adalah satwa Komodo (Varanus komodoensis). Komodo merupakan kadal tertua yang masih hidup. Nenek moyang langsung dari komodo (Famili Varanidae) hidup pada 50 juta tahun yang lalu. Komodo barangkali sudah merupakan keturunan dari kadal yang lebih besar (Megalania presca) dari Jawa atau Australia yang hidup 30.000 tahun yang lalu. Komodo mungkin berasal dari Asia atau Australia. Sebuah teori mengatakan bahwa komodo berpindah dari Pulau Jawa ke Pulau Komodo.

Teori lain mengatakan bahwa komodo berenang dari Australia ke Pulau Timor, selanjutnya berpindah dari pulau ke pulau hingga mencapai Flores. Kira-kira 18.000 tahun lalu tingkat permukaan air diperkirakan lebih rendah 85 meter dibandingkan sekarang. Karena bagian landai yang lebih dangkal dari pulau sering terpapar dan kering, maka komodo dapat dengan mudah berpindah dari Flores ke Rinca dan Komodo. Pada saat ini, Komodo dapat ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan sebagian kecil di utara dan barat Pulau Flores.
***
Manggarai Barat berada di Pulau Flores. Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis 'Copa de Flores' yang berarti 'Tanjung Bunga.' Nama ini diberikan oleh SM Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.

Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:

* Etnis Manggarai - Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);
* Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);
* Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
* Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);
* Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).
Masyarakat Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan di antara keduanya.

Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo'o dan Bajo.

Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya. (manggaraibaratkab.go.id)


Tidak ada komentar: