SPIRIT NTT/ISTIMEWA
BERBURU PAUS--Aksi para nelayan Lamalera ketika memburu ikan paus di lautan lepas menggunakan pledang. Tatkala paus didapat, dagingnya dipotong- potong untuk dibarter dengan hasil pertanian.
Spirit NTT, 26-1 s/d 2-2-2009
SUDAH turun temurun, warga Lamalera di pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai nelayan pemburu koteklema atau paus jenis sperm whale, yang merupakan sumber hidup mereka.
Pekan pertama Mei 2007, warga Lamalera bersuka cita karena nelayan setempat berhasil menangkap tiga koteklema sekaligus. Jumlah tersebut membuat mereka harus bekerja keras untuk segera menjagal dan memrosesnya agar berton-ton daging paus itu terbagi dan tertangani tanpa ada sepotongpun yang tersia-sia. Matahari baru saja muncul ketika para nelayan mulai menguliti dan memotong-motong tubuh koteklema yang ditambatkan di pantai.
Ombak laut yang menghempas mulai bercampur darah yang masih terus mengucur dari tubuh tiga mamalia laut itu yang masing-masing berukuran panjang lebih dari 15 meter.
Senjata yang mereka gunakan berupa pisau bermata satu yang tipis dan panjangnya kira-kira 20-30 cm bertangkai bambu yang disebut duri. Pisau itu mula-mula digunakan untuk membuka kulit tubuh paus yang berlapis lemak tebal.
Kulit luar yang berwarna kelabu muda hingga warna tua dan berlapis lemak berwarna putih itu disayat berbentuk balok-balok untuk kemudian diikat dengan pengait dan tali untuk ditarik menuju pantai berpasir hitam.
Sebidang kulit dan lemak berukuran sekitar satu kali dua meter ditarik oleh 5-7 nelayan, karena bobotnya yang amat berat. "Entah berapa puluh kilo ini, kami tak pernah ukur tapi memang sangat berat," kata Halla, nalayan muda yang ikut menarik.
Setelah beberapa bidang kulit terbuka, para nelayan mulai menyayat bagian dagingnya yang berwarna cerah dan berserat tak ubahnya daging mamalia darat, seperti sapi, kerbau, kambing, kuda atau rusa. Masyarakat Lamalera sudah mempunyai tatanan baku untuk membagi perolehan mereka, yaitu mengutamakan tuan tanah, pemiliki kapal, lamafa, para matros, dan orang-orang yang dianggap terlibat membantu proses penangkapan.
Tubuh koteklema itu sudah mempunyai peta khusus untuk pembagian, misalnya selain daging dan lemaknya, para pemilik kapal berhak mendapatkan bagian dari jantung, sayatan bagian ekor juga diberikan kepada matros yang ikut membunuh paus.
Para neklayan dan keluarganya yang sudah mengetahui hak pembagiannya akan menerima bagian mereka di pantai, kemudian mencucinya dengan air laut dan memasukkannya ke ember, bak, atau wadah-wadah lain.
Bahkan banyak yang membawa jatahnya tanpa wadah, untuk dijunjung di atas kepala dengan beralaskan gulungan kain. Yanti, gadis remaja, membungkus kepalanya dengan tas plastik agar rambutnya tidak terkena tetesan lemak dan darah dari daging koteklema, karena ia harus bolak-balik berjalan dari rumah ke pantai yang berjarak sekitar satu kilometer untuk mengangkut hasil pembagian untuk keluarganya.
"Senang karena mendapat bagian banyak, tetapi capek juga yah..., apalagi setelah ini mesti memotong dan menjemurnya," kata Yanti yang berwajah cerah.
Proses memotong daging paus itu seolah berjalan lamban, karena volume tangkapan yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah orang yang harus menanganinya.
Sampai tengah hari, belum ada seperempat bagian yang sudah terpotong, sementara matahari semakin tinggi dan para pekerja mulai kelelahan. Tapi mereka tidak mempunyai waktu untuk bersantai, karena daging paus harus segera mereka urus.
Di pantai, para nelayan sempat bersitegang ketika melihat rekan mereka duduk minum dan merokok untuk waktu yang menurutnya lama, sementara pekerjaan masih banyak. "Kamu jangan enak-enak saja, ayo kerja!" kata seorang nelayan kepada sesamanya.
Sementara itu kaum perempuan pun juga harus mencuci daging-daging itu, meletakkannya di ember dan bolak-balik membawanya pulang. (maria d andriana/bersambung)
Koteklema sumber hidup warga Lamalera (3)
Label:
Lembata
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar