SPIRIT NTT/IST
PANSER--Kendaraan hardtop ini dimodifikasi menjadi panser untuk menerebos desa-desa terpencil di Alor.
Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008
PERJALANAN ke wilayah Mataru, Alor, dimulai setelah ada kepastian tentang jadwal penerbangan dari Kupang ke Kalabahi, kota Kabupaten Alor. Wilayah Mataru meliputi sejumlah desa, termasuk tiga desa yang dilanda wabah campak, yakni Taman Mataru, Mataru Timur, dan Mataru Selatan.
Informasi awal bahwa Mataru sulit dijangkau karena harus naik dan turun gunung dengan tingkat kesulitan tinggi, kemiringan medan jalan tajam, memacu keingintahuan ini. Maka, begitu tiba di Bandara Mali, Kalabahi, belum lama ini, langsung menuju ke tiga desa itu tanpa menunda lebih lama.
Setelah mendapat kamar di Hotel Adi Dharma, tepat di dekat dermaga Pelabuhan Kalabahi, memang sempat kesulitan mendapatkan kendaraan ke Mataru. Kendaraan jenis Toyota hardtop, yang telah didesain menjadi angkutan umum dan di Alor disebut panser, hanya beroperasi sekali sebulan ke Mataru. Wah!
Informasi yang diperoleh kemudian menyebutkan, Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta serta empat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Alor dan Propinsi NTT sedang bersiap ke Mataru pagi itu. Tentu saya tidak menyia- nyiakan kesempatan itu untuk bergabung bersama rombongan tadi.
Perjalanan dimulai dari rumah jabatan bupati dengan empat mobil yang mengangkut rombongan itu semua bergardan ganda. Kata Bupati Ans, kendaraan roda empat yang hanya memiliki satu gardan hampir pasti tidak akan bisa menembus jalan menuju Mataru.
Setelah 10 menit ke luar kota Kalabahi, jalan yang dilalui mulai menanjak dan terus menanjak. Tidak cuma itu, badan jalan pun hanya pas dilewati satu mobil dan berkelok-kelok. Kiri dan kanan jalan adalah tebing terjal, kendaraan menyusuri punggung bukit menuju puncak.
Selain kondisinya sulit, di banyak tempat aspal jalan sudah tidak kelihatan kecuali bongkahan batu dan pasir sebagai landasan aspal. Setelah 45 menit berjalan, kami baru mencapai separuh jalan yang terus menanjak itu.
***
SEKITAR 30 menit kemudian, jalan yang dilalui masih sempit, naik dan turun. Dari tempat yang tidak diketahui namanya itu, tidak ada perumahan penduduk kecuali puncak bukit yang tandus dan gersang, kami dapat melihat seluruh wilayah daratan Pulau Alor.
"Nah, dari sini kita bisa melihat Alor. Di sana gunung, di situ gunung, di sini gunung, di mana-mana ada gunung. Nah, itulah Alor," kata Ans Takalapeta ketika tiba di tempat yang agak datar, tempat kami menarik napas sejenak akibat diguncang oleh kondisi jalan buruk.
Dalam perjalanan itu bahkan rombongan belum berpapasan dengan satu pun angkutan pedesaan. Sebuah Toyota hardtop bak terbuka yang sudah didesain khusus untuk menerobos desa-desa di Alor berpapasan 15 menit kemudian, padat penumpang dan barang. "Kendaraan jenis ini disebut panser," kata seorang rekan.
Tidak seberapa lama berjalan, jalan tiba-tiba mulai menurun menuju Mainang, tempat terdapat puskesmas yang melayani beberapa desa di wilayah Mataru. Tampak hijau dan teduh. Perjalanan diteruskan ke Taman Mataru, salah satu dari tiga desa yang terkena wabah campak di wilayah Mataru.
Jalan menurun tajam dan berkelok-kelok membuat jantung berdegup kencang. Menurut Bupati Ans Takalapeta, yang duduk di jok depan mobil, tingkat kemiringan jalan itu 70-80 derajat.
Perjalanan ini bagai telur di ujung tanduk. Sepanjang sembilan kilometer jalan turun menuju posko campak di Taman Mataru dilalui dalam kondisi jalan yang mencemaskan.
Meski jarak dari Kalabahi ke posko itu cuma 47 kilometer, perjalanan memerlukan waktu tepat dua jam 15 menit. Posko campak menempati balai desa yang terletak di Dusun II, Taman Mataru. Jalan dari Kalabahi berakhir di dusun itu. Bahkan, Dusun
II ini juga bukan berada di lembah, tetapi masih bertengger di pertengahan punggung bukit antara puncak dan titik lembahnya. Jalan menuju lembah hanya dilalui dengan berjalan kaki dalam jarak sekitar tiga atau empat kilometer lagi.
Untuk mencapai desa-desa tetangganya, seperti Mataru Timur dan Mataru Selatan, atau Kamaifui, penduduk di Taman Mataru harus berjalan kaki berkilo-kilometer, naik dan turun bukit yang terjal. Lukas A Lauata, ketika ditanya seberapa sering mereka bepergian ke Kalabahi, menjawab, "Sekali setahun."
Lukas menuturkan, tidak ada angkutan pedesaan yang khusus melayani wilayah Mataru ke Kalabahi. Dalam sebulan hanya ada satu buah panser yang datang hingga ke ujung jalan di Dusun II, Taman Mataru, dan itu pun mobil milik pedagang hasil bumi, terutama kemiri.
Akibat isolasi wilayah fisik itu pula, ketika anak-anak di tiga desa di wilayah Mataru terserang campak tidak dapat diinformasikan cepat ke Kalabahi atau ke puskesmas terdekat di Mainang. Oleh karena itu, kata Lukas dalam permintaan kepada bupati, setiap desa sebaiknya diberikan satu unit SSB dan HT.
Lukas, atas nama warga, juga meminta agar di Taman Mataru perlu dibangun satu buah pustu berikut petugas medisnya yang putra daerah agar betah melayani. Isolasi wilayah tidak hanya persoalan membuka jalan raya, tetapi tersedianya angkutan pedesaan yang dikelola pemerintah dan alat komunikasi.
***
ALOR selama ini memang dikenal sebagai salah satu kabupaten atau daerah tertinggal dan terpencil di NTT. Jika NTT saja sudah sejak lama dikenal sebagai daerah tertinggal dan termiskin di negeri ini, bisa diperkirakan seperti apa pula wajah kabupaten dengan 15 pulau itu.
Kalabahi, sebuah kota kabupaten, dapat dijangkau dari Kupang dengan feri, kapal-kapal Pelni, serta dengan pesawat terbang. Kapal laut biasanya menyinggahi kota itu setiap dua minggu sekali, sedangkan feri bisa dua kali seminggu dari Kupang. Bisa pula dengan pesawat Fokker 27, yang baru saja dirintis.
Jika dibandingkan sebelum tahun 2004, sebenarnya kini tidak terlalu sulit mengunjungi Alor. Namun, yang paling sulit adalah mobilitas orang dan barang di dalam wilayah itu sendiri, baik di darat maupun di laut. Laut merupakan moda transportasi utama di daerah ini karena letaknya sebagai wilayah kepulauan.
Transportasi darat yang diandalkan hanya di Pulau Alor dan sedikit di Pantar.
Meski demikian, penduduk desa di Alor lebih sering bepergian dengan berjalan kaki dan itu pun paling jauh hanya menjangkau desa-desa tetangga.
Kegiatan ekonomi masyarakat di kabupaten seluas 2.864,64 kilometer persegi (luas daratan) ini paling dominan masih pada sektor pertanian, sekitar 39-41 persen, diikuti sektor jasa, perdagangan, hotel, dan restoran. Pengangkutan dan komunikasi masih sekitar 4,6 persen.
Jika sektor pengangkutan dan komunikasi masih rendah, bisa pula dibayangkan tentang prasarana dan sarananya. Dalam konteks ini, kita bisa meletakkan dan memahami hambatan-hambatan lapangan dalam pelayanan publik. Dana yang terbatas di tingkat kabupaten sering menjadi penyebab.
Terbatasnya sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi pun menjadi kendala bagi pengembangan sektor pariwisata. Padahal, hal ini merupakan sektor unggulan di kabupaten berpenduduk sekitar 168.000 jiwa itu.
Isolasi wilayah tidak hanya menyebabkan warga desa sulit mengangkut hasil-hasil pertaniannya ke kota. Juga tidak saja membuat mereka seperti "rusa masuk kampung" ketika suatu saat tiba di kota. Tetapi juga membuat mereka tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, contohnya akibat wabah campak. (kcm/cal)
Perjalanan ke Mataru, bagai telur di ujung tanduk
Label:
Alor
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar