Ir. Emilianus Pani, anggota DPRD NTT
Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008
KUPANG, SPIRIT--Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD NTT menyatakan keinginan instansi teknis mengajukan program pengadaan benih jagung menjadikan 'NTT Jagung' dinilai tergesa-gesa. Sebab, membangun pertanian tak dapat dilepaspisahkan dari membangun lingkungan strategisnya. Dengan kata lain menjadikan NTT Jagung tidak sama dengan pengadaan benih jagung 'berkualitas' atau menanam jagung.
Penilaian Fraksi Kebangkitan Bangsa disampaikan pada kata akhir terhadap Nota Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTT tahun anggaran 2008 di Gedung DPRD NTT, pekan lalu. Kata akhir fraksi ini ditandatangani Ir. Emilianus Pani, M.Si (ketua) dan Petrus Djeer, B.A (sekretaris).
Menurut Fraksi Kebangkitan Bangsa, ada sejumlah persyaratan teknis yang berkewajiban mengakomodir sejumlah problematik dan masalah sosial, ekonomi, budaya masyarakat dan lingkungan yang pada gilirannya dapat merekomendasikan suatu model/sistem pertanian yang cocok untuk diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah NTT.
Sekadar kembali mengingatkan pemerintah, demikian fraksi ini, bahwa kita pernah memiliki dua model pertanian yang cukup dikenal luas tidak hanya ditingkat nasional tetapi diakui oleh dunia internasional. Model pertanian Amarasi dan Sikka yang dalam dekade terakhir ini seakan-akan ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian pemerintah.
"Sejarah pertanian di NTT sudah membuktikan bahwa kedua model pertanian ini berhasil mendukung pengembangan sejumlah tanaman pangan (jagung) dan ternak paronisasi di daratan Timor, cacao di Flores, mendukung usaha keberlanjutan pertanian dan produktivitas usaha tani menjamin kelestarian potensi sumber daya lingkungan termasuk air dan tanah selama kurun waktu kurang lebih 40 tahun lamanya di daerah ini," tegasnya. (humas dprd ntt)
KUPANG, SPIRIT--Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD NTT menyatakan keinginan instansi teknis mengajukan program pengadaan benih jagung menjadikan 'NTT Jagung' dinilai tergesa-gesa. Sebab, membangun pertanian tak dapat dilepaspisahkan dari membangun lingkungan strategisnya. Dengan kata lain menjadikan NTT Jagung tidak sama dengan pengadaan benih jagung 'berkualitas' atau menanam jagung.
Penilaian Fraksi Kebangkitan Bangsa disampaikan pada kata akhir terhadap Nota Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTT tahun anggaran 2008 di Gedung DPRD NTT, pekan lalu. Kata akhir fraksi ini ditandatangani Ir. Emilianus Pani, M.Si (ketua) dan Petrus Djeer, B.A (sekretaris).
Menurut Fraksi Kebangkitan Bangsa, ada sejumlah persyaratan teknis yang berkewajiban mengakomodir sejumlah problematik dan masalah sosial, ekonomi, budaya masyarakat dan lingkungan yang pada gilirannya dapat merekomendasikan suatu model/sistem pertanian yang cocok untuk diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah NTT.
Sekadar kembali mengingatkan pemerintah, demikian fraksi ini, bahwa kita pernah memiliki dua model pertanian yang cukup dikenal luas tidak hanya ditingkat nasional tetapi diakui oleh dunia internasional. Model pertanian Amarasi dan Sikka yang dalam dekade terakhir ini seakan-akan ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian pemerintah.
"Sejarah pertanian di NTT sudah membuktikan bahwa kedua model pertanian ini berhasil mendukung pengembangan sejumlah tanaman pangan (jagung) dan ternak paronisasi di daratan Timor, cacao di Flores, mendukung usaha keberlanjutan pertanian dan produktivitas usaha tani menjamin kelestarian potensi sumber daya lingkungan termasuk air dan tanah selama kurun waktu kurang lebih 40 tahun lamanya di daerah ini," tegasnya. (humas dprd ntt)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar