SPIRIT NTT/HUMAS SIKKA
DI PEMANA--Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, Wakil Bupati Sikka, dr. Wera Damianus, disambut warga Pemana, Kecamatan Alok, ketika berkunjung ke wilayah itu, 8 Juli 2008 lalu.
DI PEMANA--Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, Wakil Bupati Sikka, dr. Wera Damianus, disambut warga Pemana, Kecamatan Alok, ketika berkunjung ke wilayah itu, 8 Juli 2008 lalu.
100 Hari bersama Sosi-Dami (2)
Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008, Oleh Even Edomeko
SENIN 2 Juni 2008. Hari masih pagi, belum jam 7. Matahari Maumere yang kadung-kondang garangnya baru mulai menggeliat di langit Talibura, di Timur. Tapi embun subuh yang menghampar di lapangan rumput depan Kantor (lama) Bupati Sikka di Jalan El Tari-Maumere, nyaris habis. Habis, tidak saja karena menguap dipanggang hawa panas, tapi juga lantaran terinjak oleh puluhan., ratusan., ah, ribuan kaki kaum Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Senin memang hari Apel Kekuatan bagi para pegawai. Tapi, tidak seperti Senin lain yang senyap, Senin 2 Juni 2008 itu amat riuh. Betapa banyak pegawai 'berkenan' ikut apel. Rasanya 2000-an PNS di dan sekitar Kota Maumere (dari 4.000-an PNS Kabupaten Sikka) tumpah ruah di lapangan berumput coklat garing itu. Jangan heran. Hari itulah hari pertama Bupati Sikka ke-8 Drs. Sosimus Mitang dan Wabup Sikka ke-2 dokter Wera Damianus, M.M, mulai bekerja.
Tidak melulu itu. Magi pemikat kehadiran para priyayi (pinjam istilah Umar Kayam) Kabupaten Nyiur Melambai ini adalah rasa ingin tahu: titah pertama apakah yang bakal disabdakan dari podium kekuasaan baru ini? Siapa-siapa yang dicopot jabatannya, dilengser dan digeser ke tepi? Siapa-siapa pula yang dipanggil masuk membentuk kabinet SODA? Mereka tunggu gebrakan Sosi-Dami di ladang penataan birokrasi.
Tapi, ada apa dengan birokrasi?
"Birokrasi itu laksana gurita raksasa. Kala gurita mencengkeram sesuatu, ia rangkul erat lekat sulit lepas. Sebegitulah birokrasi, betapa sulit membenahinya." Begini tulis EP da Gomez, politisi-pemikir yang Wakil Ketua DPRD Sikka kini, dalam bukunya Menantang Badai di Bumi Tsunami (Arnoldus, Ende, 2002). Perkara 'nia ree' 'waen goit' muka buruk birokrasi kiranya telah jadi soal klasik. Dan, klasik jugalah ide untuk mereformasikannya. Tiap datang pemimpin baru, bicaralah ia ihwal membenahi birokrasi. Tapi hingga ia meletakkan mahkota kekuasaan, birokrasi tetap tak bergeming. Dingin dan jelek macam kemarin. Padahal maju atau mundur suatu daerah, sejahtera atau melarat warga sebuah wilayah, tergantung banyak-banyak pada kualitas kinerja dan profesionalitas servis aparaturnya.
Sekarang, lewat 100 hari kepemimpinan Drs. Sosimus Mitang dan dokter Wera Damianus, M.M. Apa yang mereka buat terhadap gurita birokrasi Sikka?
Kaul Reformasi
Sabtu, 28 Maret 2008, di Lepo Kulababong DPRD Sikka, di hadapan 27 pria dan 3 wanita yang mewakili 233.973 rakyat Kabupaten Sikka, dan kepada segenap warga yang mendengarkan langsung lewat radio Suara Sikka, lima paket calon Bupati-Wabup Sikka untuk periode abdi 2008-2013 memaparkan visi-misi-program kerjanya. Dan, Sosi-Dami jadi pembicara pertama yang mengucapkan kaul jika dipercayai rakyat.
Di bawah motto 'Bersama kita membangun Kabupaten Sikka yang adil, sejahtera, sehat, cerdas dan bermartabat,', kedua pria bersahaja ini melambungkan delapan butir simpul pikir MISI. Dan, misi kelima adalah 'Mendorong terwujudnya institusi pemerintah yang bersih, transparan, berakuntabel dan berkarakter.' Idealisme ini diterjemahkan dalam Empat Pokok Program Pembangunan, dengan program keempat: Penataan Kelembagaan dan Reformasi Birokrasi. Dan, di antara 10 butir program aplikasinya, terselip tiga poin berikut. (1) Reorganisasi dan restrukturisasi sesuai kebijakan pemerintah pusat dan kebutuhan daerah. (2) Peningkatan standar kinerja dan mutu pelayanan aparatur. Dan, (3) Penyelenggaraan sistem pemerintahan yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).
Elan vital reformasi birokrasi inilah yang dipaparkan tuntas dan terperinci oleh Bupati Sosi dan Wabup Dami kepada segenap pejabat semua eselon di Aula Setda Sikka, di hari pertama masa bhaktinya, Senin 2 Juni 2008.
"Latar belakang kami berdua adalah juga PNS. Jadi kami tahu betul baik-buruknya birokrasi kita. Untuk yang buruk-buruk, yang kurang terpuji, yang tidak baik, harus kita perbaiki bersama-sama. Dan karena kita adalah pelaku, maka mari kita perbaiki dari diri kita sendiri," ajak Bupati dan Wabup mengawali pertemuan berdurasi dua jam lebih itu.
Lebih lanjut tentang memperbaiki diri kaum birokrat itu, keduanya lantas mengulas Visi-Misi-Program yang berkenaan dengan Penataan Birokrasi. Kata Bupati, "Dalam banyak kesempatan, Rakyat minta agar beberapa dinas yang dilebur agar dibentuk mandiri lagi. Reorganisasi unit-unit dan restrukturisasi kepegawaian ini akan kita pikirkan serius, sesuai dengan peraturan dan perundangan. Namun satu hal yang patut kita tegakkan mulai hari ini adalah meningkatkan standar kinerja kita agar mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu kepada masyarakat kita."
"Dan, langkah pertama perbaikan itu adalah menegakkan kembali disiplin kita yang terlanjur layu," sambung Wabup Dami. "Disiplin ini macam-macam. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin berseragam, dan kami ajak kita semua untuk serius memperhatikan hal ini," ujarnya.
Ajakan kembali ke fitrah tidak cuma diserukan kepada PNS di lingkup setda, tetapi juga semua abdi negara di jalur sipil, termasuk guru dan paramedis. "Bukan cerita baru bahwa bapak ibu guru dan para medis di desa biasa buka kantor atau ke sekolah agak siang. Ada yang bahkan masuk senin-kamis karena tinggal jauh. Untuk ke depan hal ini harus ditinggalkan. Justru karena di desalah kebutuhan akan pelayanan pendidikan dan kesehatan harus lebih digiatkan." Demikian Bupati Sosi dalam pertemuan dengan aparat pemda se-Kecamatan PaluE, di Lei (12/6/2008). Hal senada diserukan pula di Doreng (29/6/2008), Boganatar (14/8/2008), dan dalam aneka kesempatan lain.
Tandak silaturahmi
Hari kedua, ketiga, dan selanjutnya dalam dua minggu pertama, pagi-pagi benar, kedua pemimpin enerjik itu melakukan tandak (tandangan mendadak) ke berbagai unit dan instansi. Hanya ditemani dua pengawal pribadi dari Polres Sikka, kedua beliau, secara terpisah, memilih secara acak kantor untuk ditandangi. "Karena ruang kerja bupati dan wabup tengah dibenahi, maka selama dua minggu ke depan kami akan berkantor di unit-unit. Unit mana yang kami pilih, akan ditentukan dalam perjalanan," kata Bupati Sosimus, ketika melintas di Kantor Bagian Humas, Selasa (3/6/2008).
Tandak ini bagai memeterai imbauan di hari pertama untuk disiplin waktu. Di beberapa unit dan dinas, Bupati-Wabup mendapati kantor yang setengah kosong atau yang belum sempat disapu-rapikan. Jika begitu, biasanya teguran lisan langsung terlontar. Alhasil, hampir semua kantor yang biasa sepi pegawai di jam 7 pagi dan bahkan kerap telat membuka pintunya, beramai-ramai hadir jam 7 pagi.
Tapi, selain alasan disiplin, mengapa harus berkantor pagi-pagi? Pak Wabup punya jawaban. "Kita perlu masuk kerja di pagi hari karena menurut ilmu kesehatan, otak manusia itu bekerja maksimal pada jam 6 pagi hingga pukul 11 siang. Lebih dari itu, seiring dengan banyaknya cairan yang keluar dari tubuh kita, kinerja otak menurun." Demikian penjelasan Wabup Dami. "Sehingga kami maklum jika pada jam itu ada pegawai izin keluar misalnya untuk menjemput anak di sekolah," lanjut Wabup yang sepanjang karir kepegawaiannya belum pernah sekalipun terlambat ngantor itu.
Meski begitu, komentar kritis segelintir orang terdengar: "Wah, Bupati kita suka teror-teror orang ya..."
Padahal, menurut Bupati, itu bukan teror. "Tujuan kunjungan kami adalah berkenalan dengan semua pegawai di tempat tugasnya masing-masing. Juga memperkenalkan diri kami. Ya, semacam silaturahmi. Hanya itu. Jadi, yang merasa diteror itu sebenarnya orang yang suka langgar peraturan." Begitu kata bupati.
Urgensitas disiplin yang diwacanakan ulang oleh duo pemimpin itu lantas disuratkan sebagai aturan baku dalam Surat Edaran Nomor BKD.800/3/5/PM/2008 ditandatangani oleh Sekda Sikka Drs. Sabinus Nabu, yang menegaskan ulang disiplin PNS dan sanksi-sansinya.
Gizi baru
Meski ada satu-dua tanggapan apatis-hopeloss, gebrakan minggu pertama Sosi-Dami disambut sebagai a new hope, naruk modung epan, sebuah preseden apik bagi agioornamento birokrasi Sikka ke depan. Terhadap birokrasi yang Pak EP da Gomez juluki 'Gurita Bandel', jurus pertama Bupati Sosimus yang pamongpraja tulen dan Wabup Damianus yang dokter bagai memberi gizi baru.
Gizi baru itu, selain disiplin waktu, adalah disiplin anggaran. "Banyak staf mengeluh bahwa di unitnya mereka hanya disuruh kerja tetapi tidak pernah diberitahu berapa besaran dananya. Padahal transparansi dalam unit pun harus dijaga agar semua orang merasakan kebersamaan. Baik kebersamaan dalam kerja maupun dalam menerima upah walau kecil.รถ"Demikian Bupati Sosimus dalam rapat bersama para kepala dinas/badan dan camat, di Lantai II Kantor Bupati jalan Ahmad Yani, Senin (9/6/2008).
"Ada pimpinan," lanjut Bupati Sosi, "yang jauh dari staf-staf lain tapi sangat dekat dengan bendaharanya. Keluar berdua, masuk berdua, kemana-mana berdua, dan hanya mereka dua yang tahu tentang uang." Tawa hadirin menyambutnya.
"Itu fakta yang saya lihat. Dan itu tidak benar. Karena, pemimpin itu harus merangkul semua staf, bukan cuma bendahara. Jika cuma bendahara, maka gampang ditebak, semua uang mereka dua yang atur. Di sini korupsi muncul." Papar Bupati. Kali ini tidak ada yang tertawa.
Disiplin anggaran vs pejabat SPPD
Lebih lanjut tentang disiplin anggaran, Bupati dan Wabup meminta agar penggunaan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) harus ditertibkan. SPPD semua pejabat eselon II dan III harus ditandatangani Bupati atau Wakil, sedangkan semua staf dibawahnya oleh Sekda. Mengapa begini, dan untuk apa?
Kata Bupati, "Karena kami perlu tahu kemana staf kami pergi. Lebih dari itu, agar disaring betul-betul apakah kepergiannya itu memang perlu, dan apakah harus dia yang pergi. Dan ini bertujuan mengurangi pengeluaran yang tak perlu."
Seperti tak puas melihat para pimpinan dinas/badan dan camat itu hanya manggut-manggut, Wabup Dami menjelaskan lebih jauh. Selain perkara hemat anggaran, imbauan di atas lahir dari niat menjaga kekompakan dan solidaritas di dalam unit/instansi. "Ada pimpinan unit yang setiap bulan jalan terus. Keluar daerah terus. Semua uang di unit habis dia serap untuk bepergian. Tetapi lalu pulang tanpa hasil, tanpa membawa perubahan sedikit pun. Yang banyak berubah justru kurangnya uang," ungkap Wabup disambut tawa hadirin.
Dan, sambung bupati, "Hal ini yang membuat para staf merasa malas bekerja. Masa kami hanya tau kerja, sementara pemimpinnya enak-enak pesiar.". Bahkan ada staf yang menjuluki pemimpinnya sebagai 'Pejabat SPPD.' Ini yang mulai sekarang harus kita jaga.
Kebijakan kaca bening
Transparansi tak melulu naruk seng-hoang, bukan perkara uang belaka. Keterbukaan kini diperlihatkan saat para pejabat Pemkab Sikka berada di jalanan. Caranya? "Buka semua stiker rayban hitam di semua oto plat merah," seru Bupati, "Dan biarkan kaca aslinya yang bening bersih." Hal ini disampaikan beliau di Aula Setda Jalan El Tari (3/6/2008) dan ditegaskan ulang di Ruang Rapat Bupati (9/6), kepada semua pejabat Eselon II dan III serta 21 camat.
Dan sebelum mengajak para pejabat, duet Sosi-Dami telah menukar kaca hitam Nissan Terano metalic EB 1 B dan EB 5 B yang dulu menggunakan black rayban glass dengan kaca bening. Tapi, untuk apa semua itu? "Sebenarnya ini rakyat yang minta, tapi kita merasakan niat baik yang mereka kehendaki," jelas Bupati Sosi.
Dan, permintaan rakyat tersebut disampaikan ketika perayaan syukur di Hewokloang, Desa Sesusina. Adalah tokoh kecamatan Hewokloang, Alo Gowa, kala memberi kata sambutan dalam acara syukur atas pelantikan Bupati-Wabup, meminta hal ini. "Selama ini kalau oto pejabat lewat di depan rumah kami, kami mau beri lambaian tangan saja bingung. Jangan-jangan pejabatnya tidak ada di dalam oto itu. Padahal kami ingin sekali, selain lambai tangan, juga jika boleh, bisa tahan oto itu dan omong-omong sedikit dengan pejabat itu tentang kami punya kebutuhan, kurang-susar amin. Ya dari pada kami buang uang ke Maumere, sementara pejabat itu mungkin sedang tidak di tempat."
Alasan yang tampak sepele dan main-gila ini sesungguhnya bertaut erat dengan prinsip pelayanan prima: dari dekat, secara cepat, lagi hemat. Karenanya, kebijakan kaca bening sesungguhnya adalah sebuah terobosan di kancah penyelenggaraan pelayanan.
Hangat tahi ayam?
Gagasan baru, sebaik apapun, senantiasa dicurigai, disyak-wasangkai, disepelekan, dimasabodohi, tak dihiraukan. Begitu juga dengan sepak-terjang Sosi-Dami di jagat kecil brokrasi Sikka. Terhadapnya, ada komentar: "Walaaaah, hangat-hangat tahi ayam. Hanya panas sesaat, lantas senyap tanpa aroma dan temperatur."
Menanggapi ini, Wabup Dami tersenyum misterius, berkomentar: "Kita lihat saja." Tapi Bupati Sosimus merasa tertantang. "Orang yang omong itu jangan sampai tidak punya ayam dan belum pernah raba tahi ayam," papar Bupati dalam dialog bersama para pastor se-Keuskupan Maumere yang juga dihadiri oleh Uskup Maumere, Mgr. Kerubim Parera, di Wisma Nazareth Nele (26/7/2008). "Karena yang pasti kami akan berjalan terus, lurus, dan tanpa henti sampai akhir periode abdi kami."
Karena itu, kami mengajak semua aparat untuk bersatu hati, menyamakan persepsi, dan melangkah bersama, membangun Kabupaten Sikka yang adil, sejahtera, sehat, cerdas dan bermartabat. Karena, berpencar kita terkapar, bersatu kita melaju. "Mai mogat hama-hama, mai kita ate lele ha." (bersambung)
Spirit NTT, 13-19 Oktober 2008, Oleh Even Edomeko
SENIN 2 Juni 2008. Hari masih pagi, belum jam 7. Matahari Maumere yang kadung-kondang garangnya baru mulai menggeliat di langit Talibura, di Timur. Tapi embun subuh yang menghampar di lapangan rumput depan Kantor (lama) Bupati Sikka di Jalan El Tari-Maumere, nyaris habis. Habis, tidak saja karena menguap dipanggang hawa panas, tapi juga lantaran terinjak oleh puluhan., ratusan., ah, ribuan kaki kaum Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Senin memang hari Apel Kekuatan bagi para pegawai. Tapi, tidak seperti Senin lain yang senyap, Senin 2 Juni 2008 itu amat riuh. Betapa banyak pegawai 'berkenan' ikut apel. Rasanya 2000-an PNS di dan sekitar Kota Maumere (dari 4.000-an PNS Kabupaten Sikka) tumpah ruah di lapangan berumput coklat garing itu. Jangan heran. Hari itulah hari pertama Bupati Sikka ke-8 Drs. Sosimus Mitang dan Wabup Sikka ke-2 dokter Wera Damianus, M.M, mulai bekerja.
Tidak melulu itu. Magi pemikat kehadiran para priyayi (pinjam istilah Umar Kayam) Kabupaten Nyiur Melambai ini adalah rasa ingin tahu: titah pertama apakah yang bakal disabdakan dari podium kekuasaan baru ini? Siapa-siapa yang dicopot jabatannya, dilengser dan digeser ke tepi? Siapa-siapa pula yang dipanggil masuk membentuk kabinet SODA? Mereka tunggu gebrakan Sosi-Dami di ladang penataan birokrasi.
Tapi, ada apa dengan birokrasi?
"Birokrasi itu laksana gurita raksasa. Kala gurita mencengkeram sesuatu, ia rangkul erat lekat sulit lepas. Sebegitulah birokrasi, betapa sulit membenahinya." Begini tulis EP da Gomez, politisi-pemikir yang Wakil Ketua DPRD Sikka kini, dalam bukunya Menantang Badai di Bumi Tsunami (Arnoldus, Ende, 2002). Perkara 'nia ree' 'waen goit' muka buruk birokrasi kiranya telah jadi soal klasik. Dan, klasik jugalah ide untuk mereformasikannya. Tiap datang pemimpin baru, bicaralah ia ihwal membenahi birokrasi. Tapi hingga ia meletakkan mahkota kekuasaan, birokrasi tetap tak bergeming. Dingin dan jelek macam kemarin. Padahal maju atau mundur suatu daerah, sejahtera atau melarat warga sebuah wilayah, tergantung banyak-banyak pada kualitas kinerja dan profesionalitas servis aparaturnya.
Sekarang, lewat 100 hari kepemimpinan Drs. Sosimus Mitang dan dokter Wera Damianus, M.M. Apa yang mereka buat terhadap gurita birokrasi Sikka?
Kaul Reformasi
Sabtu, 28 Maret 2008, di Lepo Kulababong DPRD Sikka, di hadapan 27 pria dan 3 wanita yang mewakili 233.973 rakyat Kabupaten Sikka, dan kepada segenap warga yang mendengarkan langsung lewat radio Suara Sikka, lima paket calon Bupati-Wabup Sikka untuk periode abdi 2008-2013 memaparkan visi-misi-program kerjanya. Dan, Sosi-Dami jadi pembicara pertama yang mengucapkan kaul jika dipercayai rakyat.
Di bawah motto 'Bersama kita membangun Kabupaten Sikka yang adil, sejahtera, sehat, cerdas dan bermartabat,', kedua pria bersahaja ini melambungkan delapan butir simpul pikir MISI. Dan, misi kelima adalah 'Mendorong terwujudnya institusi pemerintah yang bersih, transparan, berakuntabel dan berkarakter.' Idealisme ini diterjemahkan dalam Empat Pokok Program Pembangunan, dengan program keempat: Penataan Kelembagaan dan Reformasi Birokrasi. Dan, di antara 10 butir program aplikasinya, terselip tiga poin berikut. (1) Reorganisasi dan restrukturisasi sesuai kebijakan pemerintah pusat dan kebutuhan daerah. (2) Peningkatan standar kinerja dan mutu pelayanan aparatur. Dan, (3) Penyelenggaraan sistem pemerintahan yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).
Elan vital reformasi birokrasi inilah yang dipaparkan tuntas dan terperinci oleh Bupati Sosi dan Wabup Dami kepada segenap pejabat semua eselon di Aula Setda Sikka, di hari pertama masa bhaktinya, Senin 2 Juni 2008.
"Latar belakang kami berdua adalah juga PNS. Jadi kami tahu betul baik-buruknya birokrasi kita. Untuk yang buruk-buruk, yang kurang terpuji, yang tidak baik, harus kita perbaiki bersama-sama. Dan karena kita adalah pelaku, maka mari kita perbaiki dari diri kita sendiri," ajak Bupati dan Wabup mengawali pertemuan berdurasi dua jam lebih itu.
Lebih lanjut tentang memperbaiki diri kaum birokrat itu, keduanya lantas mengulas Visi-Misi-Program yang berkenaan dengan Penataan Birokrasi. Kata Bupati, "Dalam banyak kesempatan, Rakyat minta agar beberapa dinas yang dilebur agar dibentuk mandiri lagi. Reorganisasi unit-unit dan restrukturisasi kepegawaian ini akan kita pikirkan serius, sesuai dengan peraturan dan perundangan. Namun satu hal yang patut kita tegakkan mulai hari ini adalah meningkatkan standar kinerja kita agar mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu kepada masyarakat kita."
"Dan, langkah pertama perbaikan itu adalah menegakkan kembali disiplin kita yang terlanjur layu," sambung Wabup Dami. "Disiplin ini macam-macam. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin berseragam, dan kami ajak kita semua untuk serius memperhatikan hal ini," ujarnya.
Ajakan kembali ke fitrah tidak cuma diserukan kepada PNS di lingkup setda, tetapi juga semua abdi negara di jalur sipil, termasuk guru dan paramedis. "Bukan cerita baru bahwa bapak ibu guru dan para medis di desa biasa buka kantor atau ke sekolah agak siang. Ada yang bahkan masuk senin-kamis karena tinggal jauh. Untuk ke depan hal ini harus ditinggalkan. Justru karena di desalah kebutuhan akan pelayanan pendidikan dan kesehatan harus lebih digiatkan." Demikian Bupati Sosi dalam pertemuan dengan aparat pemda se-Kecamatan PaluE, di Lei (12/6/2008). Hal senada diserukan pula di Doreng (29/6/2008), Boganatar (14/8/2008), dan dalam aneka kesempatan lain.
Tandak silaturahmi
Hari kedua, ketiga, dan selanjutnya dalam dua minggu pertama, pagi-pagi benar, kedua pemimpin enerjik itu melakukan tandak (tandangan mendadak) ke berbagai unit dan instansi. Hanya ditemani dua pengawal pribadi dari Polres Sikka, kedua beliau, secara terpisah, memilih secara acak kantor untuk ditandangi. "Karena ruang kerja bupati dan wabup tengah dibenahi, maka selama dua minggu ke depan kami akan berkantor di unit-unit. Unit mana yang kami pilih, akan ditentukan dalam perjalanan," kata Bupati Sosimus, ketika melintas di Kantor Bagian Humas, Selasa (3/6/2008).
Tandak ini bagai memeterai imbauan di hari pertama untuk disiplin waktu. Di beberapa unit dan dinas, Bupati-Wabup mendapati kantor yang setengah kosong atau yang belum sempat disapu-rapikan. Jika begitu, biasanya teguran lisan langsung terlontar. Alhasil, hampir semua kantor yang biasa sepi pegawai di jam 7 pagi dan bahkan kerap telat membuka pintunya, beramai-ramai hadir jam 7 pagi.
Tapi, selain alasan disiplin, mengapa harus berkantor pagi-pagi? Pak Wabup punya jawaban. "Kita perlu masuk kerja di pagi hari karena menurut ilmu kesehatan, otak manusia itu bekerja maksimal pada jam 6 pagi hingga pukul 11 siang. Lebih dari itu, seiring dengan banyaknya cairan yang keluar dari tubuh kita, kinerja otak menurun." Demikian penjelasan Wabup Dami. "Sehingga kami maklum jika pada jam itu ada pegawai izin keluar misalnya untuk menjemput anak di sekolah," lanjut Wabup yang sepanjang karir kepegawaiannya belum pernah sekalipun terlambat ngantor itu.
Meski begitu, komentar kritis segelintir orang terdengar: "Wah, Bupati kita suka teror-teror orang ya..."
Padahal, menurut Bupati, itu bukan teror. "Tujuan kunjungan kami adalah berkenalan dengan semua pegawai di tempat tugasnya masing-masing. Juga memperkenalkan diri kami. Ya, semacam silaturahmi. Hanya itu. Jadi, yang merasa diteror itu sebenarnya orang yang suka langgar peraturan." Begitu kata bupati.
Urgensitas disiplin yang diwacanakan ulang oleh duo pemimpin itu lantas disuratkan sebagai aturan baku dalam Surat Edaran Nomor BKD.800/3/5/PM/2008 ditandatangani oleh Sekda Sikka Drs. Sabinus Nabu, yang menegaskan ulang disiplin PNS dan sanksi-sansinya.
Gizi baru
Meski ada satu-dua tanggapan apatis-hopeloss, gebrakan minggu pertama Sosi-Dami disambut sebagai a new hope, naruk modung epan, sebuah preseden apik bagi agioornamento birokrasi Sikka ke depan. Terhadap birokrasi yang Pak EP da Gomez juluki 'Gurita Bandel', jurus pertama Bupati Sosimus yang pamongpraja tulen dan Wabup Damianus yang dokter bagai memberi gizi baru.
Gizi baru itu, selain disiplin waktu, adalah disiplin anggaran. "Banyak staf mengeluh bahwa di unitnya mereka hanya disuruh kerja tetapi tidak pernah diberitahu berapa besaran dananya. Padahal transparansi dalam unit pun harus dijaga agar semua orang merasakan kebersamaan. Baik kebersamaan dalam kerja maupun dalam menerima upah walau kecil.รถ"Demikian Bupati Sosimus dalam rapat bersama para kepala dinas/badan dan camat, di Lantai II Kantor Bupati jalan Ahmad Yani, Senin (9/6/2008).
"Ada pimpinan," lanjut Bupati Sosi, "yang jauh dari staf-staf lain tapi sangat dekat dengan bendaharanya. Keluar berdua, masuk berdua, kemana-mana berdua, dan hanya mereka dua yang tahu tentang uang." Tawa hadirin menyambutnya.
"Itu fakta yang saya lihat. Dan itu tidak benar. Karena, pemimpin itu harus merangkul semua staf, bukan cuma bendahara. Jika cuma bendahara, maka gampang ditebak, semua uang mereka dua yang atur. Di sini korupsi muncul." Papar Bupati. Kali ini tidak ada yang tertawa.
Disiplin anggaran vs pejabat SPPD
Lebih lanjut tentang disiplin anggaran, Bupati dan Wabup meminta agar penggunaan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) harus ditertibkan. SPPD semua pejabat eselon II dan III harus ditandatangani Bupati atau Wakil, sedangkan semua staf dibawahnya oleh Sekda. Mengapa begini, dan untuk apa?
Kata Bupati, "Karena kami perlu tahu kemana staf kami pergi. Lebih dari itu, agar disaring betul-betul apakah kepergiannya itu memang perlu, dan apakah harus dia yang pergi. Dan ini bertujuan mengurangi pengeluaran yang tak perlu."
Seperti tak puas melihat para pimpinan dinas/badan dan camat itu hanya manggut-manggut, Wabup Dami menjelaskan lebih jauh. Selain perkara hemat anggaran, imbauan di atas lahir dari niat menjaga kekompakan dan solidaritas di dalam unit/instansi. "Ada pimpinan unit yang setiap bulan jalan terus. Keluar daerah terus. Semua uang di unit habis dia serap untuk bepergian. Tetapi lalu pulang tanpa hasil, tanpa membawa perubahan sedikit pun. Yang banyak berubah justru kurangnya uang," ungkap Wabup disambut tawa hadirin.
Dan, sambung bupati, "Hal ini yang membuat para staf merasa malas bekerja. Masa kami hanya tau kerja, sementara pemimpinnya enak-enak pesiar.". Bahkan ada staf yang menjuluki pemimpinnya sebagai 'Pejabat SPPD.' Ini yang mulai sekarang harus kita jaga.
Kebijakan kaca bening
Transparansi tak melulu naruk seng-hoang, bukan perkara uang belaka. Keterbukaan kini diperlihatkan saat para pejabat Pemkab Sikka berada di jalanan. Caranya? "Buka semua stiker rayban hitam di semua oto plat merah," seru Bupati, "Dan biarkan kaca aslinya yang bening bersih." Hal ini disampaikan beliau di Aula Setda Jalan El Tari (3/6/2008) dan ditegaskan ulang di Ruang Rapat Bupati (9/6), kepada semua pejabat Eselon II dan III serta 21 camat.
Dan sebelum mengajak para pejabat, duet Sosi-Dami telah menukar kaca hitam Nissan Terano metalic EB 1 B dan EB 5 B yang dulu menggunakan black rayban glass dengan kaca bening. Tapi, untuk apa semua itu? "Sebenarnya ini rakyat yang minta, tapi kita merasakan niat baik yang mereka kehendaki," jelas Bupati Sosi.
Dan, permintaan rakyat tersebut disampaikan ketika perayaan syukur di Hewokloang, Desa Sesusina. Adalah tokoh kecamatan Hewokloang, Alo Gowa, kala memberi kata sambutan dalam acara syukur atas pelantikan Bupati-Wabup, meminta hal ini. "Selama ini kalau oto pejabat lewat di depan rumah kami, kami mau beri lambaian tangan saja bingung. Jangan-jangan pejabatnya tidak ada di dalam oto itu. Padahal kami ingin sekali, selain lambai tangan, juga jika boleh, bisa tahan oto itu dan omong-omong sedikit dengan pejabat itu tentang kami punya kebutuhan, kurang-susar amin. Ya dari pada kami buang uang ke Maumere, sementara pejabat itu mungkin sedang tidak di tempat."
Alasan yang tampak sepele dan main-gila ini sesungguhnya bertaut erat dengan prinsip pelayanan prima: dari dekat, secara cepat, lagi hemat. Karenanya, kebijakan kaca bening sesungguhnya adalah sebuah terobosan di kancah penyelenggaraan pelayanan.
Hangat tahi ayam?
Gagasan baru, sebaik apapun, senantiasa dicurigai, disyak-wasangkai, disepelekan, dimasabodohi, tak dihiraukan. Begitu juga dengan sepak-terjang Sosi-Dami di jagat kecil brokrasi Sikka. Terhadapnya, ada komentar: "Walaaaah, hangat-hangat tahi ayam. Hanya panas sesaat, lantas senyap tanpa aroma dan temperatur."
Menanggapi ini, Wabup Dami tersenyum misterius, berkomentar: "Kita lihat saja." Tapi Bupati Sosimus merasa tertantang. "Orang yang omong itu jangan sampai tidak punya ayam dan belum pernah raba tahi ayam," papar Bupati dalam dialog bersama para pastor se-Keuskupan Maumere yang juga dihadiri oleh Uskup Maumere, Mgr. Kerubim Parera, di Wisma Nazareth Nele (26/7/2008). "Karena yang pasti kami akan berjalan terus, lurus, dan tanpa henti sampai akhir periode abdi kami."
Karena itu, kami mengajak semua aparat untuk bersatu hati, menyamakan persepsi, dan melangkah bersama, membangun Kabupaten Sikka yang adil, sejahtera, sehat, cerdas dan bermartabat. Karena, berpencar kita terkapar, bersatu kita melaju. "Mai mogat hama-hama, mai kita ate lele ha." (bersambung)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar