Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kerajinan tenun ikat Amarasi jalan di tempat

Spirit NTT, 29 September - 5 Oktober 2008

KUPANG, SPIRIT--Kerajinan tenun ikat yang dilakukan oleh kaum wanita di Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, hanya berjalan di tempat karena kurang promosi.

"Tidak ada media yang bisa kami gunakan untuk mempromosikan hasil kerajinan tenun ikat khas Amarasi. Kami tidak punya dana dan waktu," kata Adolfina Seran, Ketua Kelompok Tenun Ikat Amarasi Barat dalam percakapan dengan wartawan di Amarasi, sekitar 27 kilometer selatan Kupang, Kamis pekan lalu.

Selain tak adanya promosi, kelompok tenun ikat pimpinan Adolfina ini juga sulit untuk memasarkan hasil tenun ikat khas Amarasi ke daerah lain seperti yang dilakukan kelompok tenun ikat lainnya di NTT.

Ia menjelaskan, untuk menghasilkan sehelai kain, diperlukan waktu antara satu sampai tiga tahun karena untuk memprosesnya menjadi kain membutuhkan waktu yang lama pula. "Semuanya kami lakukan secara tradisional," katanya dan menambahkan, proses awal pembuatan kain tradisional terlebih dahulu dengan menyiapkan bahan baku antara lain kapas, daun-daunan serta kayu menggudu.

"Setelah kapas dibersihkan, kami harus pintal dengan memakan waktu sekitar tiga bulan. Setelah selesai dipintal dilanjutkan dengan penggulungan kapas menjadi benang oleh kami ibu-ibu dalam kelompok ini," tambah Mina, seorang anggota penenun.

Untuk menggulung kapas menjadi benang, kata Trida, seorang anggota penenun lainnya, membutuhkan waktu lebih dari dua bulan. Sebelum di tenun, tambahnya, terlebih dahulu dibuatkan motif khas Amarasi dengan memberi pewarna dari bahan baku berupa kayu menggudu dan lumpur danau.

"Selembar kain tenun membutuhkan sekitar 30 gumpalan kapas berdiameter sekitar 10 sentimeter. Jika dihitung dari proses awal sampai menghasilkan selembar kain, dibutuhkan waktu antara satu sampai tiga tahun," ujar Adolfina.

Tenun ikat khas Amarasi merupakan bagian dari budaya asli peninggalan nenek moyang masyarakat setempat, namun karena kurang promosi maka hasil olahan kaum ibu di wilayah itu terkesan hanya berjalan di tempat.

Menurut Adolfina, hampir 50 persen kaum wanita di Amarasi Barat bekerja sebagai penenun, namun tingkat kehidupan mereka masih jauh di bawah meski harga kain tenun ikat dijual dengan harga berkisar antara Rp 500.000-Rp 1 juta/lembar.

"Pemasarannya sangat rendah karena kurang promosi. Hasil tenunan kami banyak yang laku jika ada kunjungan turis asing ke Amarasi Barat," ujarnya. (ant/ntt online)

Tidak ada komentar: