Spirit NTT, 29 September - 5 Oktober 2008
ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, memimpin rapat koordinasi (Rakor) mengevaluasi kondisi ketahanan pangan di ruang kerja bupati setempat, Rabu (18/9/2008). Dalam rakor yang dihadiri Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Hardjokusumo, S.H, itu terungkap produksi pangan di Belu saat ini cukup tersedia. Kondisi ini menunjang kehidupan masyarakat Belu pada musim kemarau saat ini, apalagi bantuan beras raskim 15 kg/RTM dan bantuan langsung tunai (BLT) juga akan dicairkan.
Rakor ini juga dihadiri Kadolog NTT, Kasub Dolog Atambua, Asisten Pembangunan Setda Belu, Kepala Statistik Belu, Kabag Ekonomi, para pimpinan dinas, bagian, badan dan unit lainnya lingkup Setda Belu.
Dalam rakor sehari itu juga terungkap bahwa kebutuhan satu tahun setara beras warga Kabupaten Belu 50.123 ton, prakiraan produksi setara beras 42.903 ton, prakiraan kekurangan 50.123 ton - 42.903 ton = 7.220 ton. Kekurangannya dipasok dari raskin.
Agenda rakor lainnya membahas raskin dengan plafon 7.862,480 kg, sudah dibagikan hingga 17 September 2008 sebanyak 3.835.980 kg (memasuki tahap V). Hingga saat ini masih 11 desa di Belu belum mengambil raskin. Soal BLT, plafonnya Rp 37.956.800,00, jumlah RTM 54.224 KK, realisasi pembayaran tahap pertama Rp 15.278.400.000 untuk 150.928 RTM ( 93,2 persen). Kupon pengganti sebanyak 2.792 lembar belum dikirim dari Jakarta.
Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Harjokusumo, S.H, mengatakan, kondisi pangan di NTT saat ini cukup tersedia dan APBD NTT cukup mendukung untuk mengatasi rawan pangan. "Raskin dan BLT juga akan dicairkan bersamaan. BLT tetap dbayar sambil menanti kartu pengganti BLT dari Jakarta," ujarnya. Usai rakor, Partini meninjau persediaan beras di Dolog Atapupu untuk masyarakat Belu. (humas setda belu)
ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, memimpin rapat koordinasi (Rakor) mengevaluasi kondisi ketahanan pangan di ruang kerja bupati setempat, Rabu (18/9/2008). Dalam rakor yang dihadiri Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Hardjokusumo, S.H, itu terungkap produksi pangan di Belu saat ini cukup tersedia. Kondisi ini menunjang kehidupan masyarakat Belu pada musim kemarau saat ini, apalagi bantuan beras raskim 15 kg/RTM dan bantuan langsung tunai (BLT) juga akan dicairkan.
Rakor ini juga dihadiri Kadolog NTT, Kasub Dolog Atambua, Asisten Pembangunan Setda Belu, Kepala Statistik Belu, Kabag Ekonomi, para pimpinan dinas, bagian, badan dan unit lainnya lingkup Setda Belu.
Dalam rakor sehari itu juga terungkap bahwa kebutuhan satu tahun setara beras warga Kabupaten Belu 50.123 ton, prakiraan produksi setara beras 42.903 ton, prakiraan kekurangan 50.123 ton - 42.903 ton = 7.220 ton. Kekurangannya dipasok dari raskin.
Agenda rakor lainnya membahas raskin dengan plafon 7.862,480 kg, sudah dibagikan hingga 17 September 2008 sebanyak 3.835.980 kg (memasuki tahap V). Hingga saat ini masih 11 desa di Belu belum mengambil raskin. Soal BLT, plafonnya Rp 37.956.800,00, jumlah RTM 54.224 KK, realisasi pembayaran tahap pertama Rp 15.278.400.000 untuk 150.928 RTM ( 93,2 persen). Kupon pengganti sebanyak 2.792 lembar belum dikirim dari Jakarta.
Asisten Pembangunan Setda NTT, Partini Harjokusumo, S.H, mengatakan, kondisi pangan di NTT saat ini cukup tersedia dan APBD NTT cukup mendukung untuk mengatasi rawan pangan. "Raskin dan BLT juga akan dicairkan bersamaan. BLT tetap dbayar sambil menanti kartu pengganti BLT dari Jakarta," ujarnya. Usai rakor, Partini meninjau persediaan beras di Dolog Atapupu untuk masyarakat Belu. (humas setda belu)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar