Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Memanjakan mata di Taman Nasional Komodo

Spirit NTT, 15-21 September 2008

LABUAN BAJO, Ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Tepatnya kota ini terletak di ujung barat Pulau Flores yang berseberangan langsung dengan Pulau Rinca dan Komodo. Sebuah kota yang bersahaja dan ramah. Sebuah kota yang kurang lebih mengingatkan saya dengan salah satu serial TV "The Nothern Exposure".

Ikan adalah produk utama dari kota dan percaya deh, jikalau melihat jumlah dan ukuran, cukup mencengangkan. Disamping itu potensi pariwisata yang di miliki oleh kota kecil ini sangat mengagumkan. Begitu banyak wisatawan mancanegara yang berdatangan ke kota ini, meski dengan sarana transportasi yang terbatas dan boleh di bilang setengah reguler untuk menikmati pemandangan laut dan melakukan olahraga bawah laut atau yang lebih dikenal dengan diving.

Ada banyak titik lokasi diving yang dapat dinikmati oleh para wisatawan, juga snorkelling dan di beberapa tempat bahkan lebih khusus untuk night dive. Ini jugalah yang pada akhirnya membuatku tertantang untuk mengarungi beberapa dari gugus pulau ini antara lain Pulau Kalong, Pulau Paniarah, Pulau Bidadari hingga Pulau Rinca di mana kami menjumpai beberapa ekor fauna purba nan unik Komodo.

Dengan menumpang "Johannes III", kapal boat yang berukuran kurang lebih 30 GT yang dimodifikasi khusus untuk kebutuhan wisata bahari, pertama-tama kami singgah di sebuah gugus Pulau Paniarah. Di sini terkagum-kagum akan panorama terumbu karang bawah air nan indah. Di beberapa tempat memang ada lubang-lubang bekas aksi pemboman, namun syukurlah kegiatan pemboman ini kini sudah di kategorikan sebagai satu kegiatan illegal. Dapat segera terasa sejuknya suhu air laut yang membuai dan mata kami sangat di puaskan akan keindahan alam bawah laut di kawasan ini. Terkesan warna-warni yang di tampilkan oleh terumbu karang serta fauna laut yang seolah terbang ke sana ke mari begitu memanjakan mata dan pikiran kami semua. Tanpa terasa 30 menit berlalu dan nakhoda kapal memberikan isyarat untuk naik kembali ke kapal dan kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pulau Rinca, melewati gugus-gugus pulau lain.

Di Pulau Rinca, kami merapat di dermaga Loh Buaya, yang juga merupakan dermaga Taman Nasional Komodo. Dari dermaga menuju kantor Pengawas Taman Nasional kami harus berjalan kaki sepanjang kurang lebih 300 meter. Dalam
perjalanan kami sempat berpapasan dengan seekor baby Komodo yang berbaring malas di pinggir jalan dan seolah tak mengacuhkan kami. Setelah yakin situasi aman dan tak ada lagi Komodo lain yang berkeliaran, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor pengawas Taman Nasional.

Di perjalanan kami berpapasan dengan rombongan turis yang kelihatannya sangat kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan kadal-kadal raksasa ini. Kami masih melanjutkan perjalanan dan akhirnya ketika tiba di kompleks Kantor Pengawas Taman Nasional, beberapa dari pemandu yang berada di sana berteriak memanggil untuk mendekat ke arahnya, dan benar saja, ada sekitar lima kadal raksasa sedang berjalan mendekat umpan ayam yang di sembelih (yang seyogyanya di peruntukkan bagi rombongan turis sebelum kami tadi).

Luar biasa, begitu besar dan semakin menyeramkan ketika terdengar desis yang mereka keluarkan. Pantaslah kiranya diberikan julukan lain untuk binatang ini yang lebih dikenal di dunia internasional yaitu Komodo Dragon. Karena raut kepalanya memang seperti inspirasi dari visualisasi dari pada binatang legenda Naga atau Dragon.

Sejenak kami semua terkagum dan terpana akan pemandangan ini, sampai kami tersadarkan bahwa kami tidak bisa tinggal diam di satu tempat saja mengingat binatang-binatang ini sangat dinamis dan berjalan ke sana ke mari.

Seolah sedang melancarkan strategi pengepungan dua dari meraka berjalan ke arah samping kiri dan ke kanan ke arah kami. Sang pawang pun tak kalah pintar mengalihkan perhatian yang satu dengan mengunakan tongkat bercabangnya (yang memang merupakan tongkat pemandu). Melihat temannya sekarang mengejar sang pawang, komodo yang satunya pun akhirnya ikut mengejar sang pawang dan tanpa mereka sadari mereka malah kembali kekerumunan mereka semula.

Gerimis turun, kami pun berteduh di Kantor Pengawas, mengisi buku tamu dan
membayar retribusi Rp 2.000. Melihat-lihat informasi yang terpampang di dinding kantor pengawas serta berbincang-bincang dengan para pemandu yang juga tak kalah menariknya. Mungkin di antara Anda sekalian familiar dengan "wallace line."

Nah, menurut penjelasan bapak pengawas taman nasional, di kawasan inilah letak daripada "wallace line" tersebut. Ciri yang terutama daripada hal tersebut adalah ragam flora dan fauna yang unik yang hidup di kawasan ini. Begitu unik seolah di sini adalah letak pertemuan/percampuran flora dan fauna yang hidup di belahan bumi bagian timur dan barat.

Hujan berhenti, kami pun beranjak kembali ke dermaga. Untuk kembali pulang menuju Labuan Bajo. Dalam perjalanan pulang hujan turun lagi. Cuaca berangin dan lumayan dingin. Menjelang Labuan Bajo kami melewati pulau yang sebenarnya hanyalah gugusan karang yang ditumbuhi hutan mangrove. Orang di sekitar situ menamakan pulau tersebut "Pulau Kalong". Sesuai dengan namanya di pulau tersebut ribuan kalong bersarang dan pada waktu sore terlihat mereka berbaris berbondong-bondong terbang ke arah daratan mencari makan.

Perjalanan pulang kami kebanyakan di isi dengan senda gurau bersama-sama dengan anak buah kapal "Johannes III" ini. Ada si Manto, Pak Ari yang banyak bercerita mengenai obyek-obyek wisata di sekitar Labuhan Bajo, serta ada juga yang bernama Piter. Tanpa terasa beberapa jam berlalu dan dermaga Labuhan Bajo sudah terlihat di depan, lampu-lampu mulai dinyalakan dan kami pun siap merapat. (piter edward)



Tidak ada komentar: