Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 2-8 Juni 2008
KAERA, SPIRIT-- Stok pangan warga Desa Kaera, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor sudah menipis. Diperkirakan bulan September 2008 mendatang warga desa itu mengalami kelaparan. Kini, warga setempat menjual kemiri untuk membeli raskin (beras miskin).
Hal ini dikatakan Kepala Desa Kaera, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nathan Dolu Serang saat ditemui di Kalabahi, Rabu (28/5/2008).
Menurut Serang, menipisnya stok pangan baik jagung maupun padi karena menurunnya hasil panen tahun ini. Hal ini karena bencana angin dan hama tikus. Ia menjelaskan, selama ini jika stok jagung dan padi terbatas, diganti dengan ubi-ubian sebagai pangan alternatif. Namun, ubi-ubian juga terserang bencana pada musim tanam kali lalu.
"Ubi kayu yang mulai tumbuh bagus disikat angin hingga rusak, begitu juga ubi talas dihantam hama tikus, sehingga tidak ada hasilnya," tandasnya.
Akibatnya, lanjut Serang, kehidupan warga sangat tergantung pada beras untuk rakyat miskin (raskin). Saat ini warganya tertib mengumpulkan uang dari hasil penjualan kemiri untuk membeli raskin. "Apa yang saya sampaikan ini riil yang terjadi di masyarakat. Di sana persediaan bibit musim tanam nanti tidak ada," tambahnya.
Berdasarkan pengalaman tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, kata Serang menipisnya stok pangan terjadi Januari atau Februari, setelah itu stok kembali normal, karena Maret dan April warga sudah panen. Namun tahun ini cukup parah, karena hasil panennya menipis tajam. Ia berharap ada bantuan pemerintah kabupaten dan pihak lainnya. *
KAERA, SPIRIT-- Stok pangan warga Desa Kaera, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor sudah menipis. Diperkirakan bulan September 2008 mendatang warga desa itu mengalami kelaparan. Kini, warga setempat menjual kemiri untuk membeli raskin (beras miskin).
Hal ini dikatakan Kepala Desa Kaera, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nathan Dolu Serang saat ditemui di Kalabahi, Rabu (28/5/2008).
Menurut Serang, menipisnya stok pangan baik jagung maupun padi karena menurunnya hasil panen tahun ini. Hal ini karena bencana angin dan hama tikus. Ia menjelaskan, selama ini jika stok jagung dan padi terbatas, diganti dengan ubi-ubian sebagai pangan alternatif. Namun, ubi-ubian juga terserang bencana pada musim tanam kali lalu.
"Ubi kayu yang mulai tumbuh bagus disikat angin hingga rusak, begitu juga ubi talas dihantam hama tikus, sehingga tidak ada hasilnya," tandasnya.
Akibatnya, lanjut Serang, kehidupan warga sangat tergantung pada beras untuk rakyat miskin (raskin). Saat ini warganya tertib mengumpulkan uang dari hasil penjualan kemiri untuk membeli raskin. "Apa yang saya sampaikan ini riil yang terjadi di masyarakat. Di sana persediaan bibit musim tanam nanti tidak ada," tambahnya.
Berdasarkan pengalaman tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, kata Serang menipisnya stok pangan terjadi Januari atau Februari, setelah itu stok kembali normal, karena Maret dan April warga sudah panen. Namun tahun ini cukup parah, karena hasil panennya menipis tajam. Ia berharap ada bantuan pemerintah kabupaten dan pihak lainnya. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar