Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Banyak instansi kerja atas dasar ego sektoral

  • Laporan Julianus Akoit, Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

    KEFAMENANU, SPIRIT--Masih banyak instansi, baik sektor pemerintah terkait maupun lembaga peduli HIV/AIDS seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sebagainya, masih bekerja sendiri-sendiri atas dasar semangat ego sektoral tanpa koordinasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten TTU. Dengan demikian penanggulangan HIV/AIDS di TTU belum maksimal.

    Hal ini diungkapkan Wakil Bupati (Wabup) TTU, Raymundus Sau Fernandez, S.Pt, saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten TTU di Gedung Dharma Wanita, Senin (5/5/2008). Rakor dihadiri Sekretaris KPAD, Drs. Asterius da Cunha, para kepala puskesmas, pimpinan LSM, kepala kantor, dinas, badan dan bagian.

    "Kita masih bekerja atas semangat ego sektoral. Koordinasi dengan KPAD belum maksimal, bertumpuknya program kerja beberapa LSM di satu wilayah kerja merupakan contoh kasus kurangnya koordinasi," kata Fernandez.

    Ia mengungkapkan, masih banyak LSM dan organisasi sosial peduli HIV/AIDS belum menganggap KPAD sebagai wadah yang tepat untuk saling tukar informasi dan pengalaman dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten TTU.

    Ia menegaskan, KPAD dibentuk atas komitmen politik berdasarkan Keppres No. 36 Tahun 1994. Dan ditegaskan melalui Keputusan Menko Kesra No. 9 Tahun 1994 tentang Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS.

    Tentang peta penyebaran HIV/AIDS di TTU, Fernandez memaparkan, hingga 1 April 2008 terdapat 12 kasus HIV, dengan rincian enam kasus di Kecamatan Biboki Anleu, tiga kasus di Biboki Utara, serta tiga kasus lainnya di Kota Kefamenanu. Data ini merupakan fenomena gunung es. Di permukaan hanya tampak 12 kasus tapi sebenarnya jumlah kasus sudah masuk angka ratusan orang. *

    TIGA PENDEKATAN ATASI HIV/AIDS

    * Pendekatan agama dan budaya sebab nilai agama dan budaya di TTU merupakan nilai utama sebagai filter dan pagar bagi hubungan sosial yang sehat.
    * Pendekatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga karena data menunjukkan kebanyakan pria dan wanita yang menderita penyakit ini berasal dari keluarga miskin dan ekonomi lemah. * Pendekatan sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat, karena laki-laki maupun perempuan rentan penyakit ini.

Tidak ada komentar: