Spirit NTT, 14-20 April 2008
MANGGARAI Barat punya daya tarik wisata, terutama sebagai tempat riset dan rekreasi yang bisa mendatangkan pelancong dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 2002, misalnya, tak kurang dari 3.242 tamu asal mancanegara bertandang ke Kecamatan Komodo. Setahun sebelumnya 11 persen lebih tinggi. Umumnya mereka bermalam di penginapan yang tersedia di sana.
Angka-angka tersebut cukup memberi gambaran peluang usaha yang menguntungkan. Tak hanya pemerintah kabupaten (pemkab) yang mendapat tambahan melalui retribusi, secara langsung TNK turut menggairahkan perekonomian rakyat melalui usaha rumah makan atau hotel yang jumlahnya 23 di Kecamatan Komodo dan satu di Kecamatan Lembor.
Buat para tamu TNK tak hanya disuguhkan ora, sebutan komodo sebagai titipan dunia, tetapi juga babi hutan, anjing hutan, kuda liar, penyu, berbagai macam ular dan burung, lumba-lumba, paus dan rusa yang sekaligus merupakan santapan utama komodo. Wilayah perairan di sekeliling pun tak kalah menarik. Biota laut, termasuk terumbu karang, merupakan pemandangan menarik bagi wisatawan.
Potensi yang tak kalah besar adalah kawasan Hutan Mbeliling, Sano Nggoang, dan Nggorang Bowosie yang membujur dari timur ke selatan mendekati pantai. Di atas areal kurang lebih 184 km2, Mbeliling menjadi suaka yang penting bagi kehidupan liar endemik khas Flores. Lereng dan punggung Gunung Mbeliling ditumbuhi hutan yang merupakan habitat terbaik bagi burung-burung endemik Flores, termasuk kehicap flores, serindit flores, gagak flores, dan kancilan flores. Pergang punggung hitam, sikaton ayun, dan kepodang sungu sumba juga hidup bebas di sana.
Danau Sano Nggoang layak disebut monumen alam. Danau berwarna hijau jernih seluas 3 km2 ini tercatat sebagai danau terbesar di Flores. Kedalamannya 600 meter. Aneka jenis burung, termasuk burung langka, cangak laut, dan burung migran langka undon kacimati, bisa dijumpai di sekitar danau ini.
Manggarai Barat dari segi potensi wisata tidak kekurangan, tetapi fakta mengatakan kabupaten muda ini bukan daerah kaya. Lebih setengah penduduk (60 persen) masuk kategori miskin. Produk domestik regional bruto per kapita kabupaten ini Rp 525.738 di tahun 2001, termasuk rendah di lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sebagian besar (91 persen) masyarakat Manggarai Barat menggantungkan hidup dari hasil alam lewat bertani, berkebun, beternak, maupun menangkap ikan. Padi yang paling banyak diusahakan masyarakat. Dari luas panen 17.815 hektar, diperoleh 77.528 ton padi yang setidaknya menghasilkan 50.394 ton beras.
Di daerah ini air menjadi barang langka. Dengan musim hujan relatif pendek, 3-4 bulan setahun, tidak memungkinkan sawah dan ladang diairi sepanjang waktu. Apalagi dari total sarana irigasi 10.610 hektar, baru 30 persen bersifat teknis.
Tanah di Kecamatan Lembor tercatat paling banyak menghasilkan bulir-bulir padi. Lebih separuh atau 63 persen produksi padi Manggarai Barat dari kecamatan ini. Produktivitasnya 5,8 ton per hektar, mengungguli kecamatan lainnya. Namun, karena kondisi yang berbeda satu sama lain, menyebabkan rata-rata produktivitas padi tingkat kabupaten 3,6 ton per hektar. Kecamatan Komodo dan Kuwus di urutan selanjutnya dengan hasil masing-masing 10.743 ton dan 7.709 ton padi tahun yang sama.
Perkebunan menghasilkan kelapa, kopi, cengkeh, coklat, jambu mete, kemiri, kapuk, pinang, dan vanili. Di antara tanaman keras tersebut, jambu mete menempati lahan terluas, 7.480 hektar. Tumbuhan ini mudah dijumpai di Kecamatan Sano Nggoang dan Lembor karena 66 persen lahannya berada di dua tempat itu. Sayang, secara keseluruhan hasilnya belum memuaskan karena hampir 50 persen terdiri dari tanaman yang belum menghasilkan. Bahkan, seperempatnya tergolong tidak produktif karena sudah berumur dan rusak.
Berdirinya Manggarai Barat menyebabkan Manggarai, kabupaten induk, kehilangan sebagian besar ikan segar. Kontributor terbesar selama ini Kecamatan Komodo yang tahun 2002 menyumbang 61 persen dari 43.828 ton ikan segar yang dihasilkan. Tongkol, tembang, terbang, dan selar adalah jenis ikan paling banyak ditangkap. Produksinya lebih dari 1.200 ton. Bahkan, ikan tongkol menembus angka 1.788 ton.
Manggarai Barat kaya akan hasil alam. Tinggal bagaimana caranya agar potensi tersebut dapat digali. Salah satu jalan yang ditempuh adalah memperbaiki sarana infrastruktur, seperti jalan raya, listrik, dan air bersih. Hal ini penting agar hasil panen mudah dipasarkan.
Kini 75-80 persen jalan masih berupa tanah. Angkutan umum pun masih sederhana. Bus kayu, sebutan untuk minibus berkapasitas maksimum 40 orang, menjadi andalan penduduk setempat untuk bepergian. Itu pun mereka harus rela bersanding dengan karung beras atau bahkan hewan piaraan.
Untuk itu, pemkab menempatkan pembangunan jalan sebagai prioritas. Sekitar 20 persen belanja pembangunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2004 dianggarkan untuk merealisasikan jalan beraspal di sebagian wilayah. (kcm)
MANGGARAI Barat punya daya tarik wisata, terutama sebagai tempat riset dan rekreasi yang bisa mendatangkan pelancong dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 2002, misalnya, tak kurang dari 3.242 tamu asal mancanegara bertandang ke Kecamatan Komodo. Setahun sebelumnya 11 persen lebih tinggi. Umumnya mereka bermalam di penginapan yang tersedia di sana.
Angka-angka tersebut cukup memberi gambaran peluang usaha yang menguntungkan. Tak hanya pemerintah kabupaten (pemkab) yang mendapat tambahan melalui retribusi, secara langsung TNK turut menggairahkan perekonomian rakyat melalui usaha rumah makan atau hotel yang jumlahnya 23 di Kecamatan Komodo dan satu di Kecamatan Lembor.
Buat para tamu TNK tak hanya disuguhkan ora, sebutan komodo sebagai titipan dunia, tetapi juga babi hutan, anjing hutan, kuda liar, penyu, berbagai macam ular dan burung, lumba-lumba, paus dan rusa yang sekaligus merupakan santapan utama komodo. Wilayah perairan di sekeliling pun tak kalah menarik. Biota laut, termasuk terumbu karang, merupakan pemandangan menarik bagi wisatawan.
Potensi yang tak kalah besar adalah kawasan Hutan Mbeliling, Sano Nggoang, dan Nggorang Bowosie yang membujur dari timur ke selatan mendekati pantai. Di atas areal kurang lebih 184 km2, Mbeliling menjadi suaka yang penting bagi kehidupan liar endemik khas Flores. Lereng dan punggung Gunung Mbeliling ditumbuhi hutan yang merupakan habitat terbaik bagi burung-burung endemik Flores, termasuk kehicap flores, serindit flores, gagak flores, dan kancilan flores. Pergang punggung hitam, sikaton ayun, dan kepodang sungu sumba juga hidup bebas di sana.
Danau Sano Nggoang layak disebut monumen alam. Danau berwarna hijau jernih seluas 3 km2 ini tercatat sebagai danau terbesar di Flores. Kedalamannya 600 meter. Aneka jenis burung, termasuk burung langka, cangak laut, dan burung migran langka undon kacimati, bisa dijumpai di sekitar danau ini.
Manggarai Barat dari segi potensi wisata tidak kekurangan, tetapi fakta mengatakan kabupaten muda ini bukan daerah kaya. Lebih setengah penduduk (60 persen) masuk kategori miskin. Produk domestik regional bruto per kapita kabupaten ini Rp 525.738 di tahun 2001, termasuk rendah di lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sebagian besar (91 persen) masyarakat Manggarai Barat menggantungkan hidup dari hasil alam lewat bertani, berkebun, beternak, maupun menangkap ikan. Padi yang paling banyak diusahakan masyarakat. Dari luas panen 17.815 hektar, diperoleh 77.528 ton padi yang setidaknya menghasilkan 50.394 ton beras.
Di daerah ini air menjadi barang langka. Dengan musim hujan relatif pendek, 3-4 bulan setahun, tidak memungkinkan sawah dan ladang diairi sepanjang waktu. Apalagi dari total sarana irigasi 10.610 hektar, baru 30 persen bersifat teknis.
Tanah di Kecamatan Lembor tercatat paling banyak menghasilkan bulir-bulir padi. Lebih separuh atau 63 persen produksi padi Manggarai Barat dari kecamatan ini. Produktivitasnya 5,8 ton per hektar, mengungguli kecamatan lainnya. Namun, karena kondisi yang berbeda satu sama lain, menyebabkan rata-rata produktivitas padi tingkat kabupaten 3,6 ton per hektar. Kecamatan Komodo dan Kuwus di urutan selanjutnya dengan hasil masing-masing 10.743 ton dan 7.709 ton padi tahun yang sama.
Perkebunan menghasilkan kelapa, kopi, cengkeh, coklat, jambu mete, kemiri, kapuk, pinang, dan vanili. Di antara tanaman keras tersebut, jambu mete menempati lahan terluas, 7.480 hektar. Tumbuhan ini mudah dijumpai di Kecamatan Sano Nggoang dan Lembor karena 66 persen lahannya berada di dua tempat itu. Sayang, secara keseluruhan hasilnya belum memuaskan karena hampir 50 persen terdiri dari tanaman yang belum menghasilkan. Bahkan, seperempatnya tergolong tidak produktif karena sudah berumur dan rusak.
Berdirinya Manggarai Barat menyebabkan Manggarai, kabupaten induk, kehilangan sebagian besar ikan segar. Kontributor terbesar selama ini Kecamatan Komodo yang tahun 2002 menyumbang 61 persen dari 43.828 ton ikan segar yang dihasilkan. Tongkol, tembang, terbang, dan selar adalah jenis ikan paling banyak ditangkap. Produksinya lebih dari 1.200 ton. Bahkan, ikan tongkol menembus angka 1.788 ton.
Manggarai Barat kaya akan hasil alam. Tinggal bagaimana caranya agar potensi tersebut dapat digali. Salah satu jalan yang ditempuh adalah memperbaiki sarana infrastruktur, seperti jalan raya, listrik, dan air bersih. Hal ini penting agar hasil panen mudah dipasarkan.
Kini 75-80 persen jalan masih berupa tanah. Angkutan umum pun masih sederhana. Bus kayu, sebutan untuk minibus berkapasitas maksimum 40 orang, menjadi andalan penduduk setempat untuk bepergian. Itu pun mereka harus rela bersanding dengan karung beras atau bahkan hewan piaraan.
Untuk itu, pemkab menempatkan pembangunan jalan sebagai prioritas. Sekitar 20 persen belanja pembangunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2004 dianggarkan untuk merealisasikan jalan beraspal di sebagian wilayah. (kcm)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar