Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Emas hidup itu...

Spirit NTT, 14-20 April 2008

SIANG itu saya dan rombongan menyempatkan diri mengunjungi Taman Nasional Komodo (TNK) di Pulau Rinca. Rinca merupakan pulau terbesar kedua setelah Pulau Komodo di antara 116 gugusan pulau kecil di TNK, habitat biawak raksasa varanus komodoensis (komodo). Selain komodo, bentangan alam di kawasan Manggarai Barat, NTT ini merupakan daya tarik wisata yang amboi indahnya.
Perjalanan menuju Pulau Rinca ditempuh dalam waktu dua jam dari Labuan Bajo. Lautan berubah menjadi danau raksasa, karena nyaris tak ada gelombang sama sekali. Sesekali terlihat ikan lumba-lumba melompat. Di kejauhan aneka jenis burung terbang di angkasa, memparipurnakan kemurahan alam hari itu.
Hans Joseph Paling, pemilik kapal motor Felicia, meyakinkan rombongan bahwa dunia bawa laut Labuan Bajo dan sekitarnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Kalau lagi teduh, memancing (fishing), menyelam (diving) dan snorkling merupakan kegiatan menarik.

Keindahan alam Labuan Bajo yang masih sangat alamiah menjadi kenangan tersendiri. Gugusan pulau yang menyebar seolah memetak laut sehingga dari sudut pandang tertertentu berubah menjadi danau yang tersekat daratan. "Sungguh mengagumkan. Saya sudah keliling Indonesia, namun pemandangan laut di Labuan Bajo terasa sangat istimewa," ujar Lubis.
Tanpa terasa, peserta tur menjejakkan kaki di Pulau Rinca tepatnya di kawasan Loh Buaya. Karena perairan dangkal, kapal Felicia terpaksa berlabuh di tengah laut sekitar sepelemparan batu jaraknya dari "pelabuhan" mini di Loh Buaya. Dengan sampan bermotor, rombongan lantas diantar secara bergrup masing-masing tujuh orang. Perjalanan dari pelabuhan mini itu menuju kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Setelah seluruh peserta rombongan sudah terkumpul dimulailah kisah perburuan binatang langka, reptil raksasa varanus comodoensis. Begitu besar manfaatnya sampai-sampai Wakil Bupati MB Agustinus CH Dula menyapa binatang purba ini sebagai "emas hidup".
Saat populasi komodo di Pulau Rinca berkisar antara 900 - 1.100 ekor. Masa hidup komodo sampai 50 tahun. Seekor induk komodo bisa menghasilkan telur maksimal 40 butir. Musim kawin terjadi sekitar Juli - Agustus. Pada masa itu, Pulau Komodo dan Rinca menjadi lahan pertumpahan darah. Mengapa? Rasio jantan dan betina 4 : 1. Untuk memperebutkan seekor betina, para jantan harus bertarung sampai berdarah-darah. Beberapa ekor di antaranya harus rela cacat seumur hidup.
Cara seekor induk komodo melindungi telur terasa unik. Sebelum bertelur seekor buaya darat akan membuat lubang. Setelah bertelur, lubang itu ditutup dengan sangat rapat, lalu sang induk membuat lubang-lubang lain untuk kamuflase. Tujuannya agar telur-telurnya tidak dimangsa predator lain. Dalam perlindungan yang maksimal selama sembilan bulan, semua telur bisa menetas. Namun, sebagaimana hukum alam yang ganas, hanya sedikit yang bisa bertahan hidup sampai dewasa. Maklum, seekor induk komodo bisa menyantap anak-anaknya sendiri.
Konon, hidung komodo sangat sensitif. Sedikit saja tergores, bisa saja terluka.
Siang itu selain menyaksikan dua ekor komodo yang cacat, beberapa ekor lainnya muncul dari semak. Mungkin mereka terusik menyaksikan banyaknya pengunjung. Ada sekitar empat ekor yang muncul begitu saja. Kadal raksasa berjalan anggun, seolah memperlihatkan kepada pengunjung bahwa merekalah penguasa di pulau berbukit-bukit itu.
Setelah puas menyaksikan komodo dari jarak dekat, rombongan pun sempat menikmati pemandangan (view) dari puncak bukit di Blok Loh Buaya. Pemandangannya sungguh aduhai. Kalau sastrawan bilang, sungguh bagai lukisan alam nan amboi. Karena banyak pulau, laut seolah tersekat sehingga tampak seperti danau ketika dilihat dari puncak bukit. Hamparan lembah yang ditumbuhi hutan kecil makin membuat suasana menawan. (gre)




Tidak ada komentar: