Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tembakan Peringatan

Spirit NTT, 21-27 April 2008

SUATU ketika terjadi tanya jawab dalam sebuah persidangan yang mengadili seorang anggota polisi. Polisi itu didakwa telah melakukan perbuatan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Ia juga didakwa melanggar azas praduga tak bersalah.
"Apakah saudara menyesal atas perbuatan yang telah saudara lakukan?" tanya hakim.
"Ya Pak Hakim. Tapi ada yang lebih saya sesalkan lagi."
"Apa maksud Saudara?"
"Sebetulnya, saya telah mengambil tindakan yang benar, Pak Hakim. Justru tindakan korbanlah yang saya sesalkan. Dia telah melakukan dua kesalahan. Pertama, ketika saya beri tembakan peringatan, korban tetap saja lari. Kedua, pada saat saya membidikkan pistol ke arah kakinya, tiba-tiba saja korban berhenti lari dan jongkok. Akibatnya, peluru saya nyasar ke kepalanya. *

CABUT gigi

SUATU hari, Samijan menderita sakit gigi yang amat sangat menyiksanya. Ia pun datang ke tempat praktek dokter gigi di dekat rumahnya.
Setelah antre satu jam lebih sambil menahan sakit, giliran Samijan pun tiba. Dengan mantap Samijan masuk ke ruang periksa dokter.
Dokter: "Silahkan duduk Pak. Ada keluhan apa?"
Samijan: "Gigi saya sakit sekali dokter"
Dokter: "Oke, mari kita periksa dulu. Tolong buka mulut Anda"
Setelah memeriksa keadaan gigi Samijan, dokter lalu meletakkan peralatannya.
Dokter: "Wah, gigi Anda harus dicabut rupanya."
Samijan : "Sakit nggak dokter?"
Dokter : "Nggak kok. Nanti kan dibius."
Samijan : "Lama nggak dokter?"
Dokter : "Paling-paling cuma lima menit"
Samijan : "Berapa ongkosnya dokter?"
Dokter : "Seratus ribu"
Samijan : "Wah, mahal sekali untuk pekerjaan yang cuma memakan waktu lima menit"
Dokter: "Kalau Anda mau, saya bisa mencabutnya pelan-pelan"
Samijan : ????? (*)


Gila Vs bodoh

SUATU hari, Samijun yang mahasiswa psikologi bersama ketiga temannya datang ke sebuah Rumah Sakit Jiwa untuk mengadakan penelitian kejiwaan di sana. Samijun kebetulan dapat pinjaman mobil mewah baru ayahnya. Dengan bangga ia mengendarai mobil baru bersama teman-temannya.
Sepulang dari penelitian, tiba-tiba ban mobil Samijun kempes tepat di dekat pintu gerbang Rumah Sakit Jiwa. Samijun pun turun sambil memaki-maki dalam hati.
"Sial, sudah seharian ngumpul orang gila, sekarang ban mobil gue kempes lagi," gerutu Samijun.
Samijun lalu turun dari mobil dan mengganti ban mobil yang kempes dengan ban cadangan. Malangnya, saat akan memasang kembali ban mobil, keempat mur jatuh ke dalam lubang saluran air.
"Sial.. sial.. sial...!", maki Samijun.
Giman, Ngaripun, dan Tukul teman Samijun pun hanya bisa mengangkat tangan.
"Terus gimana Jan?," tanya Tukul.
"Ngga tahu, masa kita mesti jalan ke bengkel cari mur?," jawab Samijun.
Tiba-tiba seorang pasien Rumah Sakit Jiwa yang dari tadi mengawasi keempat mahasiswa psikologi itu nyeletuk, "Ambil aja dari masing-masing roda satu mur lalu pasang di situ. Ntar kalau sudah ketemu bengkel baru beli mur lagi."
Samijun dan kawan-kawan tersenyum girang dan mulai melepas satu mur dari masing-masing roda untuk memasang roda yang murnya hilang.
Setelah bersusah payah, akhirnya keempat roda sudah terpasang dan mobil sudah siap jalan lagi. Tiba-tiba terbersit satu pikiran di benak Samijun.
"Loh, bapak tadi bisa ngasih saya ide cemerlang. Lalu kenapa bapak bisa di Rumah Sakit Jiwa?," tanya Samijun.
"Saya di sini karena gila mas. Bukan karena bodoh," jawab si pasien sambil ngeloyor pergi. *


Dokter BARU

DI SEBUAH desa yang terpencil tinggal sepasang suami istri yang hidup dari bertani. Suatu saat, sang istri menderita sakit keras. Berhari-hari sang suami tercinta berusaha mencarikan obat demi kesembuhan sang istri namun sang istri tak juga sembuh.
Dari tetangga rumah, si suami mendengar kabar bahwa di desa sebelah ada seorang dokter muda yang baru datang dari kota. Maka tak menunggu lebih lama lagi, ia pun pergi ke desa sebelah untuk meminta tolong pada dokter tersebut.
Sesampainya di sana, ternyata sang dokter masih sibuk melayani pasien-pasiennya. Baru setelah agak sore si dokter bisa ikut pergi untuk memeriksa istri si pak tani.
Sesampainya di rumah pak tani, si dokter langsung bertanya pada pak tani, "Mana istri Anda yang sakit"?
"Di kamar," jawab pak tani.
"Oke, saya akan memeriksa istri bapak. Tolong jangan diganggu selama saya bekerja," kata si dokter.
Dokter muda itu kemudian masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Lima menit kemudian si dokter keluar sambil bertanya, "Ada obeng?"
"Buat apa dokter?," tanya pak tani.
"Nanti saja saya jelaskan. Cepat carikan obeng," kata si dokter.
Pak tani segera mencarikan obeng dan memberikannya pada si dokter.
Lima menit kemudian si dokter keluar lagi dengan badan bersimbah peluh dan bertanya, "Punya tang?"
Dengan kebingungan pak tani pun mencari tang dan menyerahkannya pada si dokter.
Tak lama kemudian si dokter keluar lagi tanpa mengenakan baju dan wajahnya nampak kusut sekali. Si dokter bertanya, "Punya gergaji?"
Karena tak mampu lagi menahan keheranannya, pak tani pun berteriak, "Dokter apakan istri saya?"
Dengan napas terengah-engah si dokter menjawab, "belum saya apa-apakan, tas saya tidak bisa dibuka." (*)


STAF baru

WAKTU gue baru dua hari kerja di sebuah perusahaan asing, gue sempat menelepon ke bagian dapur sambil berteriak, "Ambilkan gue kopi...cepat!."
Ternyata jawaban dari balik telepon tidak kalah keras dan marahnya. "Hei bodoh... kamu salah pencet extention? Kamu tahu dengan siapa kamu bicara?," gertak dari ujung telepon.
"Tidak...," gue nyahut.
"Saya Direktur Utama di sini, dasar idiot. Saya pecat kamu nanti!," ancam bos gue.
Nggak kalah gertak dan kalah teriak gue balas menyahut, "Dan, bapak tahu siapa saya?"
"Tidak!," jawab boss gue itu.
"Syukurlah kalau gitu," sahut gue cuek sambil menutup telepon. *


Katakan dengan BUNGA

SEORANG pemuda yang tengah diselimuti perasaan cinta, masuk ke sebuah toko bunga. Dalam toko tersebut terpampang tulisan sangat besar yang secara halus memberi ide cemerlang. "KATAKAN DENGAN BUNGA," demikian bunyi tulisan tersebut.
"Tolong bungkuskan satu tangkai bunga mawar," kata pemuda itu kepada si penjaga toko.
"Hanya satu tangkai?" tanya si penjaga toko.
"Ya, hanya satu," kata si pemuda itu. "Karena aku adalah laki-laki yang tidak banyak bicara!" * (kapanlagi)





Tidak ada komentar: