Laporan Hermina Pello, Spirit NTT, 21-27 April 2008
KUPANG, SPIRIT -- Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia mengucurkan dana penguatan modal (DPM) untuk budidaya rumput laut di NTT sebesar Rp 2 miliar lebih. DPM tahun 2008 ini, bukan dalam bentuk uang, melainkan sarana produksi. Salah satu kabupaten sebagai sasaran budidaya rumput laut itu adalah Sumba Timur (Sumtim).
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi NTT, Ir. Afliana Salean, M.Si melalui Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan Dinas Perikanan dan Kelautan, Rasyid Djamaluddin, mengatakan hal itu saat di ruang kerjanya, Rabu (16/4/2008).
"Dana itu untuk pembudidaya rumput laut di 20 kabupaten/kota, tapi lebih diprioritaskan pada daerah yang potensial. Bantuannya bukan dalam bentuk uang tetapi sarana produksi seperti bibit rumput laut, tali dan lainnya. DKP telah menunjuk pengusaha yang mengadakan bahan yang dibutuhkan, lalu bahan tersebut diberikan kepada petani," jelasnya.
Saat ini, kata Rasyid, kabupaten/kota telah melakukan identifikasi kelompok pembudidaya yang akan menerima bantuan tersebut. Di Kabupaten Lembata dan Sikka, misalnya, pengusaha yang ditunjuk mengatur pengadaan sarana produksi, sudah terjun ke lapangan.
Selain Sumba Timur, daerah lain yang juga menjadi konsentrasi pembudidayaan rumput laut adalah Kabupaten Ende, Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sumba Barat.
Ia menjelaskan, potensi budidaya rumput laut di NTT seluas 51.300 hektar, tetapi yang baru digarap 450 hektar saja. Kendalanya, para pembudidaya kesulitan modal, kelembagaan usaha yang belum mantap, usaha yang masih bersifat subsisten dan belum bankable. "Salah satu upaya adalah melalui penguatan modal dengan menyiapkan sarana produksi. Produksi rumput laut NTT tahun 2006 sebanyak 478.113,5 ton, kata Rasyid.
Menyangkut jatah dari APBD NTT untuk sektor ini, Rasyid menyebutkan, alokasi dana melalui program Gerakan Masuk Laut (Gemala) tahun 2005 senilai Rp 250 juta untuk delapan kabupaten. Tahun 2006 sebesar Rp 250 juta untuk delapan kabupaten.
Mengenai daerah tempat keluarnya rumput laut dari NTT, Rasyid mengungkapkan, ada lima pelabuhan, yakni Tenau untuk ekspor dan domestik. Sedangkan Sikka, Ende, Sumba Timur dan Alor untuk perdagangan domestik. *
KUPANG, SPIRIT -- Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia mengucurkan dana penguatan modal (DPM) untuk budidaya rumput laut di NTT sebesar Rp 2 miliar lebih. DPM tahun 2008 ini, bukan dalam bentuk uang, melainkan sarana produksi. Salah satu kabupaten sebagai sasaran budidaya rumput laut itu adalah Sumba Timur (Sumtim).
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi NTT, Ir. Afliana Salean, M.Si melalui Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan Dinas Perikanan dan Kelautan, Rasyid Djamaluddin, mengatakan hal itu saat di ruang kerjanya, Rabu (16/4/2008).
"Dana itu untuk pembudidaya rumput laut di 20 kabupaten/kota, tapi lebih diprioritaskan pada daerah yang potensial. Bantuannya bukan dalam bentuk uang tetapi sarana produksi seperti bibit rumput laut, tali dan lainnya. DKP telah menunjuk pengusaha yang mengadakan bahan yang dibutuhkan, lalu bahan tersebut diberikan kepada petani," jelasnya.
Saat ini, kata Rasyid, kabupaten/kota telah melakukan identifikasi kelompok pembudidaya yang akan menerima bantuan tersebut. Di Kabupaten Lembata dan Sikka, misalnya, pengusaha yang ditunjuk mengatur pengadaan sarana produksi, sudah terjun ke lapangan.
Selain Sumba Timur, daerah lain yang juga menjadi konsentrasi pembudidayaan rumput laut adalah Kabupaten Ende, Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sumba Barat.
Ia menjelaskan, potensi budidaya rumput laut di NTT seluas 51.300 hektar, tetapi yang baru digarap 450 hektar saja. Kendalanya, para pembudidaya kesulitan modal, kelembagaan usaha yang belum mantap, usaha yang masih bersifat subsisten dan belum bankable. "Salah satu upaya adalah melalui penguatan modal dengan menyiapkan sarana produksi. Produksi rumput laut NTT tahun 2006 sebanyak 478.113,5 ton, kata Rasyid.
Menyangkut jatah dari APBD NTT untuk sektor ini, Rasyid menyebutkan, alokasi dana melalui program Gerakan Masuk Laut (Gemala) tahun 2005 senilai Rp 250 juta untuk delapan kabupaten. Tahun 2006 sebesar Rp 250 juta untuk delapan kabupaten.
Mengenai daerah tempat keluarnya rumput laut dari NTT, Rasyid mengungkapkan, ada lima pelabuhan, yakni Tenau untuk ekspor dan domestik. Sedangkan Sikka, Ende, Sumba Timur dan Alor untuk perdagangan domestik. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar