Oleh John Oriwis
Spirit NTT, 14-20 April 2008
DEDE Teke baru saja pulang sekolah. Dengan rasa lapar yang suda memuncak, Teke mule cari tau ke Dede Poi tukang jurkam Paket Buhe Ngang. "Poi, ini hari kampanye di mana?" tanya Teke setenge loyo.
"Ah, jadi ko mau ikut ka? Ini hari di Kecamatan Ngangan Denge," jawab Poi. "Suda mule dartadi ko kawan?" Teke tanya lagi.
"Orang suda dari tadi, mungkin ini mau habis. Kalo ko mau ikut, kita jalan sama-sama sekarang," ajak Poi lagi.
Mereka dua te langsung sakang motor star jalan, belom lima belas menit mereka suda sampe. Pas baru habis kampanye. Dede Teke lantas melompat dari motor langsung masuk arena, sementara Poi masi sibuk parker motor. "Ini ana buru-buru mo buat apa ke dalam," tanya Poi dalam hati.
"Kawan, kampanye ni su habis. Kawan atur dulu, cek acara su mau doa makan ko belom?" suruh Teke.
"Oh, jadi kau ini mau datang hanya makan, bukan dengar isi kampanye. Tadi kalo tau begini kau saya tida ajak," mara Poi.
"Bukan begitu kawan, sekarang ini masa kampanye. Masa kampanye waktu yang tepat untuk gantung periok. Habis setiap kali kampanye mereka potong kurban. Undang masyarakat datang makan minum, bukan datang dengar visi misi. Itu te paling enak, mantapnya paling mantap. Enaknya enak tenan," jelas Teke. Begitu habis ikut makan minum, Teke pulang duluan.
"Teke kau ini makan habis mau pulang duluan, ko mau kemana ka?" tanya Poi heran. "Saya mau ke KPU dan sekertariat parte dan koalisi."
"Aah, ko mo buat apa lagi. Sibuk-sibuk diri saja," marah Poi.
"Mo cek jadwal kampanye, supaya dalam minggu ini gantung periok terus. Ada kesempatan makan, makan. Kapan lagi mo gantung periok. Daripada dengar kampanye yang hanya olok-olok orang, lebi baik urus perut dulu. Karena itu te bukan pendidikan politik untuk masyarakat," jelas Teke. "Lima tahun lagi, baru kau gantung periok," sambung Poi.*
Spirit NTT, 14-20 April 2008
DEDE Teke baru saja pulang sekolah. Dengan rasa lapar yang suda memuncak, Teke mule cari tau ke Dede Poi tukang jurkam Paket Buhe Ngang. "Poi, ini hari kampanye di mana?" tanya Teke setenge loyo.
"Ah, jadi ko mau ikut ka? Ini hari di Kecamatan Ngangan Denge," jawab Poi. "Suda mule dartadi ko kawan?" Teke tanya lagi.
"Orang suda dari tadi, mungkin ini mau habis. Kalo ko mau ikut, kita jalan sama-sama sekarang," ajak Poi lagi.
Mereka dua te langsung sakang motor star jalan, belom lima belas menit mereka suda sampe. Pas baru habis kampanye. Dede Teke lantas melompat dari motor langsung masuk arena, sementara Poi masi sibuk parker motor. "Ini ana buru-buru mo buat apa ke dalam," tanya Poi dalam hati.
"Kawan, kampanye ni su habis. Kawan atur dulu, cek acara su mau doa makan ko belom?" suruh Teke.
"Oh, jadi kau ini mau datang hanya makan, bukan dengar isi kampanye. Tadi kalo tau begini kau saya tida ajak," mara Poi.
"Bukan begitu kawan, sekarang ini masa kampanye. Masa kampanye waktu yang tepat untuk gantung periok. Habis setiap kali kampanye mereka potong kurban. Undang masyarakat datang makan minum, bukan datang dengar visi misi. Itu te paling enak, mantapnya paling mantap. Enaknya enak tenan," jelas Teke. Begitu habis ikut makan minum, Teke pulang duluan.
"Teke kau ini makan habis mau pulang duluan, ko mau kemana ka?" tanya Poi heran. "Saya mau ke KPU dan sekertariat parte dan koalisi."
"Aah, ko mo buat apa lagi. Sibuk-sibuk diri saja," marah Poi.
"Mo cek jadwal kampanye, supaya dalam minggu ini gantung periok terus. Ada kesempatan makan, makan. Kapan lagi mo gantung periok. Daripada dengar kampanye yang hanya olok-olok orang, lebi baik urus perut dulu. Karena itu te bukan pendidikan politik untuk masyarakat," jelas Teke. "Lima tahun lagi, baru kau gantung periok," sambung Poi.*





Tidak ada komentar:
Posting Komentar