Laporan Tony Kleden, Spirit NTT, 24-30 Maret 2008
ADONARA, SPIRIT-- Camat Adonara, Banjir Eke, mengatakan, setelah paskah ini, tim dari geologi akan meneliti fenomena tanah turun di Desa Kolilanang, yang kini semakin meresahkan warga setempat. Dari hari ke hari garis tanah turun makin panjang, lebar dan dalam dan menakutkan.
"Dari hasil penelitian baru bisa diketahui apa yang sesungguhnya terjadi dengan kejadian alam di Kolilanang itu," ujar Banjir di Adonara, Rabu (19/3/2008).
Seperti disaksikan SPIRIT NTT, Rabu (19/3/2008), garis patahan turun semakin parah dan tidak beraturan. Tananam warga seperti kelapa, pinang, kakao dan kopi rusak dan tumbang. Lima rumah warga yang telah rusak terlihat makin turun. Jarak antara rumah dan dapur yang sebelum kejadian rapat, sekarang semakin jauh mencapai lima meter.
Sejumlah warga kepada SPIRIT NTT menuturkan, sejak kejadian Februari lalu mereka semakin resah dan takut. Mereka khawatir tanah itu makin turun dan meminta korban. "Pak lihat sendiri khan? Semakin lebar dan dalam. Kita makin takut dan resah, jangan sampai terjadi sesuatu yang lebih besar lagi. Malam tidak aman lagi," kata Tomas Ola Rotok.
Rotok menjelaskan, kejadian alam itu terjadi pertama kali pada 18 Februari lalu. "Kejadiannya malam hari. Bangun pagi kami lihat tanah terbelah dan retak-retak. Mulanya retakan itu kecil sekitar sepuluh centimeter, tetapi makin lama makin lebar, panjang dan dalam," kata Rotok. Rumah Rotok adalah salah dari lima rumah yang menjadi korban. Kelima rumah itu sekarang terpaksa dibongkar dan diambil material bangunan yang masih bisa dipakai.
Sejak kejadian itu, jelas Rotok, warga yang rumahnya rusak dan jadi korban harus mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga. "Kita harus mengungsi ke rumah Saudara atau tetangga. Tidak ada rumah lagi. Kita bongkar karena tidak bisa dipakai lagi. Makin hari tanah makin turun dan rumah makin rusak," kata Rotok. Rumah Rotok, sebagaimana disaksikan, slof atasnya telah rata dengan permukaan tanah yang tidak turun.
Sumbang beras
Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Rabu (19/3/2008), menyempatkan diri menemui warga Kolilanang. Kepada warga Kolilanang, Lebu Raya membesarkan hati mereka. Frans juga meminta warga coba melihat kejadian itu sebagai bahan refleksi dalam konteks alam dan manusia.
"Ini kejadian alam. Kita tidak mengharapkannya. Tetapi coba refleksikan, apakah kejadian ini karena alam sudah tidak bersahabat lagi dengan kita? Apakah kita juga sudah mulai tidak bersahabat dengan alam? Jangan sampai ini terjadi juga karena perilaku kita sendiri terhadap alam," kata Lebu Raya. Kepada warga Kolilanang, Lebu Raya menyumbang satu ton beras. *
"Dari hasil penelitian baru bisa diketahui apa yang sesungguhnya terjadi dengan kejadian alam di Kolilanang itu," ujar Banjir di Adonara, Rabu (19/3/2008).
Seperti disaksikan SPIRIT NTT, Rabu (19/3/2008), garis patahan turun semakin parah dan tidak beraturan. Tananam warga seperti kelapa, pinang, kakao dan kopi rusak dan tumbang. Lima rumah warga yang telah rusak terlihat makin turun. Jarak antara rumah dan dapur yang sebelum kejadian rapat, sekarang semakin jauh mencapai lima meter.
Sejumlah warga kepada SPIRIT NTT menuturkan, sejak kejadian Februari lalu mereka semakin resah dan takut. Mereka khawatir tanah itu makin turun dan meminta korban. "Pak lihat sendiri khan? Semakin lebar dan dalam. Kita makin takut dan resah, jangan sampai terjadi sesuatu yang lebih besar lagi. Malam tidak aman lagi," kata Tomas Ola Rotok.
Rotok menjelaskan, kejadian alam itu terjadi pertama kali pada 18 Februari lalu. "Kejadiannya malam hari. Bangun pagi kami lihat tanah terbelah dan retak-retak. Mulanya retakan itu kecil sekitar sepuluh centimeter, tetapi makin lama makin lebar, panjang dan dalam," kata Rotok. Rumah Rotok adalah salah dari lima rumah yang menjadi korban. Kelima rumah itu sekarang terpaksa dibongkar dan diambil material bangunan yang masih bisa dipakai.
Sejak kejadian itu, jelas Rotok, warga yang rumahnya rusak dan jadi korban harus mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga. "Kita harus mengungsi ke rumah Saudara atau tetangga. Tidak ada rumah lagi. Kita bongkar karena tidak bisa dipakai lagi. Makin hari tanah makin turun dan rumah makin rusak," kata Rotok. Rumah Rotok, sebagaimana disaksikan, slof atasnya telah rata dengan permukaan tanah yang tidak turun.
Sumbang beras
Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Rabu (19/3/2008), menyempatkan diri menemui warga Kolilanang. Kepada warga Kolilanang, Lebu Raya membesarkan hati mereka. Frans juga meminta warga coba melihat kejadian itu sebagai bahan refleksi dalam konteks alam dan manusia.
"Ini kejadian alam. Kita tidak mengharapkannya. Tetapi coba refleksikan, apakah kejadian ini karena alam sudah tidak bersahabat lagi dengan kita? Apakah kita juga sudah mulai tidak bersahabat dengan alam? Jangan sampai ini terjadi juga karena perilaku kita sendiri terhadap alam," kata Lebu Raya. Kepada warga Kolilanang, Lebu Raya menyumbang satu ton beras. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar