Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Merekam jejak Semana Santa di Nagi

Spirit NTT, 24-30 Maret 2008

EMPAT lakademu berjubah putih berjalan tegap. Nyaris seluruh tubuh mereka ditutupi kain putih, menyisakan sedikit celah di bagian mata untuk melihat. Topi kerucut berwarna merah gaya bangsawan Portugis Abad Pertengahan menghiasi kepala mereka.
Dengan langkah seiring-seirama, mereka memanggul sebuah peti yang ditutupi kain hitam dengan ornamen sebuah salib berwarna keemasan. Mereka berjalan di antara ribuan masyarakat yang sedang berprosesi sembari memegang lilin di sepanjang Jalan San Dominggo, Larantuka, pada saat perayaan Jumat Agung. Para lakademu adalah orang-orang yang bernazar.
Ini bukanlah sebentuk unjuk rasa damai antiperang yang marak terjadi di Jakarta baru-baru ini. Ini salah satu rangkaian prosesi Jalan Salib mengenang kisah sengsara Yesus. Masyarakat Katolik Larantuka menyebut ritual ini "Semana Santa".
Ritual "Semana Santa" yang berarti Pekan Suci sudah menjadi kegiatan wajib umat Katolik Larantuka setiap tahun. "Semana Santa" merupakan devosi atau penyerahan diri kepada Tuhan dalam memperingati sengsara Yesus. Walaupun banjir lumpur pernah menghancurkan rumah-rumah di beberapa tempat di kota itu, ribuan umat tetap antusias dalam prosesi dan perayaan Paskah.
Tradisi perayaan Paskah di Larantuka berbeda dengan umat Katolik di belahan nusantara lainnya. Bila umat Katolik di Jakarta atau kota lainnya merayakan tiga hari suci, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Hari Paskah, umat Katolik Larantuka menjalaninya dengan berbagai rangkaian kegiatan yang padat mulai hari Rabu sampai Minggu Paskah.
Semana Santa merupakan tradisi yang diwariskan para paderi (pastor) Portugis. Upacara ini diwarnai dengan tata urutan liturgis dan ornamento (perlengkapan) peninggalan Portugis dari Abad XVI. Umat menjalankan tradisi sebagai sebuah dogma. Bahkan, mereka menganggap tabu untuk mengubah tatanan tradisi yang sudah berlangsung selama beratus-ratus tahun ini.
Agama Katolik di Larantuka dikembangkan oleh para misionaris yang mengikuti para pedagang Portugis Abad XVI. Ekspansi para pengelana Portugis ditandai dengan membangun benteng Lohayong di Pulau Solor sebagai pusat pemerintahan.
Masyarakat Larantuka yang tadinya menganut kepercayaan animisme lambat laun menerima ajaran Katolik. Perkembangan agama itu semakin pesat.
Rangkaian perayaan Paskah di Larantuka dimulai pada hari Rabu sebelum Kamis Putih. Awal perayaan ini berpusat di dua tempat, Kapela Lohayong atau Kapela Tuan Ma dan Kapela Pohon Sirih atau Kapela Tuan Ana. Keduanya berada di Jalan Yos Sudarso, membujur dari selatan ke utara menuju pusat kota. Tuan Ana merupakan sebutan untuk Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Sedangkan Tuan Ma adalah sebutan untuk Maria, ibu Yesus.
Di kedua kapela ini dilakukan upacara "Muda Tuan" di mana pengurus kapela membuka pintu sehingga umat diberi kesempatan untuk berkunjung. Di kapela Tuan Ma tersimpan patung Bunda Maria setinggi dua meter, sedangkan di Kapela Tuan Ana tersimpan sebuah peti berisikan patung Yesus yang terbujur. Tak sembarang orang bisa melihat patung ini. Hanya anggota pasukan hamba Maria (confreria) yang bisa melihat isi peti itu.
Bagi umat Katolik Larantuka dan para peziarah yang datang dari seantero nusantara dan luar negeri, mengikuti perayaan itu merupakan kesempatan berharga untuk memberi penghormatan terhadap Tuan Ana dan Tuan Ma. Selayaknya memasuki tempat suci, umat membuka alas kaki.
Di tengah ruang kapela, terbentang karpet merah dari teras sampai ke depan peti Tuan Ana dan Patung Tuan Ma. Dengan tertib umat berjalan dengan berlutut, tangan terlipat di dada, dengan khusuk mereka menantikan kesempatan.
Sejenak di depan patung dan peti, umat berdoa kemudian bersujud dan mencium bagian kaki dan sisi bawah peti Tuan Ana untuk memberikan penghormatan. Bersujud di depan ornamento bukan merupakan suatu penyembahan terhadap benda mati. Dalam bukunya Prosesi Bersama Tuan Ma dan Tuan Ana, Johan Suban Tukan menepis tudingan bahwa itu merupakan penyembahan benda mati. Umat membutuhkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sementara itu, sebagian besar kaum ibu (mama muji) melantunkan lagu-lagu pujian dalam bahasa Portugis atau Indonesia. Di samping kiri dan kanan Tuan Ma dan Tuan Ana, sebagian umat bertugas memasang lilin dan menjaganya tetap menyala.
Pada hari Kamis Putih, umat masih diberi kesempatan untuk berziarah di kedua kapela. Umat semakin banyak berdatangan ke Larantuka untuk mengikuti prosesi pada Jumat Agung.
Suwandi dan beberapa rekannya dari Jawa Tengah, dengan baju yang masih kusut turut antre untuk bersujud di depan Tuan Ana.
"Saya penasaran Mas, teman saya ini ngajak-ngajak saya terus, kita baru sampai dari Maumere nih, belum masuk hotel," ujarnya sembari memasang sepatu seusai memberi penghormatan kepada Tuan Ana dan Tuan Ma.
Armida
Tidak kalah dengan keramaian di kapela, warga Larantuka sibuk mempersiapkan sejumlah armida (tempat perhentian dalam Jalan Salib) dan turo, semacam pagar dari bambu di sisi kiri dan kanan jalam tempat prosesi akan berlangsung.
Di Jalan San Dominggo, puluhan warga tampak sibuk. Ada yang memotong bambu, ada yang memotong tali pengikat, dan ada yang sedang memasang turo. Anak-anak, remaja sampai orang tua campur baur bergotong royong. "Di atas turo ini torang (kami) akan pasang lilin," kata seorang remaja yang sedang sibuk mengikat rangkaian bambu itu. Sejak hari Senin para pelajar di sekolah-sekolah sudah menjalani libur selama sepekan. Tidak heran mereka ikut membantu mempersiapkan perayaan Paskah.
Sampai hari Kamis Putih para peziarah terus berdatangan melakukan penghormatan ke kapela. Tak henti-hentinya warga hilir mudik di sepanjang Jalan Yos Sudarso yang sudah ditutup oleh petugas Dinas Perhubungan. Kota yang biasanya sepi dipenuhi para peziarah. "Kamar hotel sudah habis dipesan," kata Yanti pengurus Hotel Kartika yang berada di dekat pelabuhan. Tidak hanya hotel, penginapan di biara susteran pun sudah penuh untuk menampung para peziarah. Wartawan sebuah majalah ibukota mengungkapkan ia terpaksa menumpang di rumah penduduk. Tidak ada tarif khusus. Membayar sesuai kerelaan dan selayaknya. Dengan seratus ribu rupiah sehari mereka mendapatkan makan pagi siang dan malam.
Walaupun bangunan Gereja Katedral Reinha Rosari masih dalam taraf renovasi bagian luar, misa Kamis Putih berlangsung khidmat. Tenda telah didirikan untuk menampung jumlah umat yang membludak.
Prosesi awal yang ditunggu umat berlangsung dari siang hari. Pukul satu siang ratusan umat sudah memadati anak tangga di pinggir pantai Pohon Sirih. Umat menunggu datangnya iring-iringan kapal yang membawa salib dari Kapela Tuan Menino (Yesus Kanak-kanak). Tuan Menino disemayamkan di Kapel Kota Rowindo di pinggir kota Larantuka. Merupakan suatu tradisi mengarak salib Tuan Menino melalui Selat Gonsalus antara daratan Flores dan Pulau Adonara dengan menggunakan perahu bercadik. Kapal-kapal lainnya mengiringi dari belakang.
Setelah kotak berisi Salib Tuan Menino diturunkan dari perahu, prosesi mulai berjalan menuju Armida Balela di Jalan San Dominggo. Barisan diawali dengan para confreria berjubah putih dengan kalung bergambar Santo Dominikus, diiringi petugas berpakaian hitam sebagai tanda berkabung. Tuan Menino dibawa dengan cara dijunjung di kepala disertai payung, dan kemudian salib itu ditempatkan di Armida Balela.
Pada prosesi Jalan Salib, patung Tuan Ana dan Tuan Ma diarak oleh umat menuju Gereja Katedral. Petugas tampil dengan genda do (genderang perkabungan), disusul confreria yang membawa panji-panji, lalu salib dan lilin besar.
Anak-anak berjubah hitam sebagai simbol sengsara Yesus menyusul. Mereka membawa palu dan paku besar, 30 keping uang perak sebagai nilai jual Yesus, mahkota duri, tongkat, bunga karang, lembing, dadu dalam piring untuk mengundi jubah Yesus.
Arak-arakan ini diikuti oleh petugas gereja dan promesa (peziarah dengan nazar khusus). Para promesa adalah umat yang mempunyai niat dan pengharapan khusus, kemudian membaktikan diri untuk membantu jalannya prosesi. Mereka telah melewati seleksi ketat untuk menjadi promesa.
Usungan Tuan Ana dan Tuan Ma diangkat oleh lakademu. Kedua simbol sakral ini ditempatkan di dalam katedral. Setelah itu dirayakanlah misa Jumat Agung. Setelah misa itu, diadakan doa di pekuburan yang berada di seberang gereja. Warga Larantuka berdoa dan memasang lilin di pusara sanak-famili. Sedangkan para peziarah melakukannya di depan tugu di tengah pekuburan. Kunjungan ini sebagai lambang pemberian terang kepada roh-roh agar mengikuti jalan terang Yesus dan bangkit bersama-Nya. Nyala lilin menerangi kuburan kala senja turun.
Saat umat berdoa di kuburan, empat lakademu dengan langkah dan jarak yang teratur melakukan "Jalan Kure", yaitu mengelilingi pekuburan. Kemudian mereka kembali memasuki gereja untuk memulai rangkaian prosesi untuk merenungkan sengsara Yesus. Prosesi itu dimulai dari katedral, kemudian keliling kota, lalu berakhir di katedral. Prosesi inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat setempat dan peziarah. Panjang rute prosesi ini empat kilometer.
Prosesi Jumat Agung dimulai dengan menyayikan lagu O Vos Omnes (Keluhan Kristus) oleh sekelompok perempuan yang disebut Ana Muji Confreria. Dengan wajah tertunduk, berpakaian serba hitam, barisan perempuan yang berkerudung kain panjang hitam itu meratap.
Lalu seorang wanita maju ke altar menunjukkan gulungan lukisan wajah Yesus, simbolisasi keberanian Veronika mengusap wajah Yesus yang memanggul salib menuju Bukit Golgota.
Secara perlahan prosesi kemudian keluar dari gereja. Barisan genderang perkabungan membuka jalan. Menyusul dari belakang panji confreria (serdati), lalu anak-anak yang membawa alat-alat sengsara Yesus dan para biarawati. Setelah itu, barisan prosesi diikut oleh imam, para pendamping, lalu para lakademu yang memanggul peti Tuan Ana, para promesa, umat, dan peziarah.
Ribuan umat mengikuti prosesi sambil memegang lilin yang sudah dinyalakan. Sedangkan di sepanjang jalan, turo (pagar) yang dipersiapkan masyarakat memancarkan cahaya lilin di sepanjang rute prosesi.
Masyarakat yang tidak mengikuti prosesi biasanya berdiri di halaman rumah, menunggu barisan prosesi lewat. Mereka menunggu sambil memasang salib Yesus dan menyalakan lilin sebagai devosi dan tanda perkabungan. Perarakan berhenti pada setiap armida.
Ada delapan armida, yaitu Armida Misericordiae yang mengingatkan manusia akan janji kedatangan kembali Yesus Kristus; Armida Tuan Menino sebagai pemenuhan janji Allah terhadap manusia; Armida Balela meneladani karya Yesus untuk menghibur yang kesusahan; Armida Tuan Trewa di mana Yesus rela berkorban demi manusia; Armida Pante Kebis yaitu kesertaan Bunda Maria untuk bersatu dalam penderitaan Yesus, dan Armida Pohon Sirih yang mengingatkan umat akan hukuman mati yang diderita Yesus. Kematian Yesus di kayu salib direnungkan di Armida Kuce dan Armida Tuan Ana sebagai perenungan saat Yesus diturunkan dari kayu salib, lalu dimakamkan. (pembaruan/alex suban)

Tidak ada komentar: