Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Petani Solor-Adonara gelar mubes

Laporan Tony Kleden, Spirit NTT, 24-30 Maret 2008

LARANTUKA, SPIRIT--Para petani Solor-Adonara di Kabupaten Flores Timur (Flotim) menggelar musyawarah besar (Mubes) di Desa Lewograrang, Kecamatan Solor Timur, Selasa (18/3/2008) lalu. Mubes itu diselenggarakan atas kerja sama Yayasan Satunama dan pemerintah Kabupaten Flotim.
Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika membuka mubes itu meminta masyarakat NTT tidak malu-malu mengonsumsi makanan lokal. Karena bagaimana pun juga makanan lokal merupakan potensi kekayaan yang perlu dilestarikan.
Menurut Lebu Raya, bahan makanan lokal sebetulnya merupakan potensi, kekayaan lokal yang tidak kalah nilainya. Karena itu dia mengajak masyarakat untuk tidak perlu malu mengonsumsi bahan makanan seperti jagung, ubi atau kacang-kacangan. "Kita tidak perlu malu makan jagung, ubi, kacang-kacangan. Saya sampai sekarang masih makan jagung," kata Lebu Raya.
Mubes dengan tema "Mengembalikan budaya pangan lokal beragam menuju kedaulatan pangan lokal Lamahalot" itu dihadiri para kepala desa di dua kecamatan di Solor, yakni Solor Timur dan Solor Barat, utusan petani dari 29 desa di Adonara, para kepala desa, ketua BPD dan anggota kelompok tani.
Lebu Raya menyambut baik mubes itu. Sebab, katanya, posisi dan peran para petani sangat penting dan besar untuk masyarakat. Apa yang dihasilkan para petani sangat berguna untuk begitu banyak orang. "Petani itu kantornya di kebun. Tiap hari dia ke kebun," kata Lebu Raya.
Lebu Raya menyatakan ketidaksetujuannya jika dikatakan petani itu malas. "Tidak. Mereka tidak malas. Setiap hari dari pagi sampai petang mereka ada di kebun, kerja di kebun. Saya tidak setuju kalau ada yang katakan bahwa petani malas. Mereka tidak malas," tegas anak petani dari Desa Watoone, Adonara, Flores Timur itu.
Untuk mendukung kecintaan terhahap makan lokal, Lebu Raya mengatakan bahwa sejak beberapa waktu lalu, Pemerintah Propinsi NTT sudah mengeluarkan edaran kepada para bupati mengajak masyarakat mengonsumsi makanan lokal satu hari dalam sepekan. Di kantor gubernur, katanya, setiap hari Kamis para pejabat disuguhkan makanan berbahan lokal seperti ubi dan pisang.
Sebagian besar penduduk NTT, kata Lebu Raya, bermata pencaharian sebagai petani. Karena itu sektor pertanian masih akan terus menjadi prioritas pembangunan. "Sektor pertanian menyumbang sekitar 40 persen PDRB (produk domestik regional bruto) kita. Artinya, sektor pertanian masih sangat penting dan besar manfaatnya untuk dikembangkan," katanya.
Terkait dengan itu, kepada para peserta dan penyelenggara, Lebu Raya menyampaikan beberapa pesan. Pertama, pembangunan pertanian harus bertumpuh pada produk lokal. Kedua, perlu penguatan dan pengembangan kelembagaan petani. Ketiga, perlu keterpaduan dan kemitraan di antara semua elemen, sektor dan stakeholder untuk mengembangkan pertanian. Keempat, kelestarian lingkungan. Pembangunan pertanian perlu mendorong lingkungan yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Kelima, penerapan teknologi tepat guna. *

Tidak ada komentar: