Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Teke pimpin partai rombengan

Oleh John Oriwis
Spirit NTT, 17-23 Maret 2008

SEBUAH surat dari DPP Partai Rombengan baru saja diterima Dede Teke. Dalam surat yang berlogo gambar baju tersobek itu, intinya berbunyi bahwa Dede Teke diangkat menjadi Ketua dan Dede Poi sebagai Sekertaris DPC Partai Rombengan di Kabupaten Sikka.
"Aduh, ini jabatan baru. Bagemanapun saya harus menjaga nama partai supaya tidak serendah martabat baju rombengan yang ada di Kabupaten Niang Flores ini," ujar Teke.
"Kau punya maksud bagemana?" tanya Poi.
"Biar kita punya partai ini nama rombengan, tapi kita harus terbuka dan tetap kompak. Jaga nama baik, citra dan martabat partai. Jangan sampe stiap kita yang ada di sini berebutan mau jadi ketua, saat pilkada hanya karena uang. Dengan demikian biar partai ini rombengan tapi jangan sampe martabat kita pengurus jadi murah macam rombengan. Yang harus kita urus itu orang banyak, masyarakat akat rumput bukan uang," jelas Teke.
"Benar, kekompakan pengurus harus kita jaga dengan baik, harmonis dan saling percaya satu sama lain," tanggap Poi.
"Eh. Miu baa demen. pertama te kompak, akur baik enak semua. Tapi kalo dengar tawaran uang, telinga berdiri. Biji mata jadi hijau semua," sambungan Ama Plete yang juga ada di situ.
"Hoang baa, te sapa tida mau. kalo saya juga mau. Persetan paket gagal yang penting uang masuk. Pulang pergi Jakarta Maumere seperti Maumere Lokaria, tiga kali satu minggu. Itu kan enak," sambung Juli sang penjual toge.
"Ah Juli, kau jangan omong begitu kah!! Mereka gagal bukan karena kami tida urus. Tapi gagal di verifikasi.." marah Teke. Dia kira kami ini ada hanya untuk uang saja.
"Tapi kenyataannyakan begitu. Semua mau jadi ketua urus eSKa (SK) untuk paket. Sekarang kau mau kasi sala KaPeU (KPU) lagi, hanya gara-gara verifikasi," potong Juli tida mau tau.
"Sekarang jangan sapa kasi sala sapa. Tapi, partae juga sala, paket juga sala dan semua ini kita juga yang sala pilih orang urus partai," sambung Poi tida ada beban. "Jadi, mule hari ini kita harus belajar mana yang sala dan mana yang benar dari pengalaman kemarin," lanjut Poi lagi.
"Tapi ingat, kalo partae pake beli. Pembangunan di Sikka bisa gagal total. Karena uang pembangunan te mereka yang terpilih pake untuk tutup utang," sambung Teke lagi.
"Kita inikan rakyak kecil. Dari pemimpin dulu sampai sekarang kita tetap seperti ini, melarat. Itu pepatah bilang gajah dengan gajah bekelai, akar rumput yang rusak tercabut. Sapa saja pimpin kita tetap begini terus.Jadi di TPS baru kita atur pilih sapa," sambung Inang kecil penjual ikan kering.
Poi omong terakhir itu benar, jangan sapa kasi sala sapa. Kita masyarakat ini yang salah pilih pengurus partae. Jadi ini adalah pengalaman, supaya kali depan tida ada lagi sapa kasi sala sapa.
Inini kulababong di, orang sekarang juga lagi rame omong tentang pengurus partae, paket dan KaPeU. Tapi tetap kita masyarakat yang kecil dan tetap dengan kondisi yang sama dari tahun ke tahun inilah yang menentukan pemimpin yang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat.
Satu lagi, jangan cepat percaya orang omong, kontrol diri dan pake akal sehat. itu saja. *

Tidak ada komentar: