Spirit NTT, 24-30 Maret 2008
ATAMBUA, SPIRIT--Yesus Kristus, Putra Allah, akhirnya mati di kayu salib sebagai bagian penggenapan janji keselamatan Allah Bapa kepada umat-Nya yang percaya dan mengimani Dia. Kayu salib sebagai alat untuk mengakhiri kekaryaan Yesus di dunia merupakan sarana bagi umat untuk mau dan konsisten berbuat adil kepada Tuhan, sesama, dan semesta alam.
Demikian inti pesan Jumat Agung sebagaimana disampaikan Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku Pr, di kawasan Toro --yang situasinya mirip dengan Bukit Golgota tempat asli peristiwa kematian itu terjadi--, di Kota Atambua, Kabupaten Belu, Jumat (21/3/2008).
Mgr. Domi pada Jumat itu, bersama dengan ribuan umat Katholik setempat dan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, beserta para pemimpin formal dan informal setempat menyaksikan peragaan sandiwara (tablo) Jalan Salib Hidup.
Kisah sengsara dan kematian Kristus Penebus dimainkan secara apik oleh para muda-mudi Katholik Paroki Kathedral Atambua, yang berujung pada peristiwa kematian Yesus di kayu salib.
Luka dan derita di sekujur tubuh Kristus Penebus jelas tergambar dan sebanyak 14 perhentian Kristus Penebus, sebagaimana dikatakan dalam berbagai injil Alkitab, diperagakan untuk melukiskan secara hidup penyiksaan, penangkalan, pengakuan, penyerahan, dan iman kepada diri Allah Putera di kawasan bukit berbatu itu.
"Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkan Aku?," sebagaimana ditirukan dari kisah-kisah Alkitab, menjadi kalimat terakhir pemeran Yesus Kristus dari salib kayu, yang tegak ditancap di batu-batu kawasan Toro. Menurut kisah injil-injil Alkitab, tidak lama setelah itu tirai di Bait Suci terkoyak, petir menggelegar di angkasa, dan Yesus Kristus-pun meletakkan kepala-Nya setelah nyawa meninggalkan raganya.
Menurut Mgr. Domi, setelah peragaan Jalan Salib Hidup itu selesai, "Kata-kata itu mengandung makna bahwa manusia harus selalu mau menanggung salibnya masing-masing. Tiap orang menjadi salib untuk dirinya sendiri dan Tuhan Allah pasti adil kepada umat-Nya."
Sosok kayu salib, katanya, bisa dilihat dari berbagai pendekatan. Pendekatan teologi salib menyatakan, salib itu adalah manifestasi misteri Allah yang sulit dientaskan oleh akal pikiran manusia, namun salib itu juga memiliki makna penyelamatan paripurna.
Kayu Salib, katanya, dalam manifestasi imaniah masa saat Yesus melakukan karya keselamatan-Nya, belum dimaknai demikian karena ketidakpahaman umat dan elit penguasa pada masa itu. "Mereka belum paham akan makna kayu salib itu," katanya.
Sedangkan pada masa kini, kata Saku, salib adalah sesuatu anugerah Tuhan yang menegaskan sekaligus mengundang umat yang percaya untuk selalu memperjuangkan dirinya sendiri masing-masing, sekaligus menyelamatkan diri orang lain.
"Rasul Paulus dalam satu suratnya pernah menyatakan bahwa setiap manusia selalu membawa kematian Kristus di dalam dirinya masing-masing. Tubuh kita ini adalah salib itu, dengan begitu maka kita harus memakai daya kita sebagai manusia untuk bisa selalu bersama dengan Allah Bapa," katanya.
Keadilan, katanya, tentu saja kemudian diwujudkan dari sosok salib dan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. "Salah satu dialog sebelum Yesus disalib adalah, kalau Aku salah, buktikan kesalahan-Ku. Namun sesuai dengan nubuat Allah sebelumnya, penyelamatan kepada umat yang percaya itu juga tercipta melalui kayu salib. Yesus sebagai manusia dan Allah, adil dalam hal ini dan Beliau memberikan contoh nyata," katanya.
Akan tetapi, kata Saku, keadilan itu lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan dalam hidup sehari-hari. Menurut dia, Alkitab sendiri memberikan contoh tentang kemampuan itu yang justru dilakukan oleh beberapa rasul-Nya.
"Petrus sendiri tidak mampu berbuat adil dan tidak sanggup melakukan hal yang benar di mata Allah saat itu. Dia menyangkal Kristus sebanyak tiga kali, sesuai nubuat Allah. Justru diri seorang wanita, Bunda Maria, yang bisa melakukan hal-hal benar itu. Bunda Maris konsisten menyatakan kesaksian-Nya bahwa Yesus adalah putera-Nya yang Dia kasihi," kata Saku. (antara)
Demikian inti pesan Jumat Agung sebagaimana disampaikan Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku Pr, di kawasan Toro --yang situasinya mirip dengan Bukit Golgota tempat asli peristiwa kematian itu terjadi--, di Kota Atambua, Kabupaten Belu, Jumat (21/3/2008).
Mgr. Domi pada Jumat itu, bersama dengan ribuan umat Katholik setempat dan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, beserta para pemimpin formal dan informal setempat menyaksikan peragaan sandiwara (tablo) Jalan Salib Hidup.
Kisah sengsara dan kematian Kristus Penebus dimainkan secara apik oleh para muda-mudi Katholik Paroki Kathedral Atambua, yang berujung pada peristiwa kematian Yesus di kayu salib.
Luka dan derita di sekujur tubuh Kristus Penebus jelas tergambar dan sebanyak 14 perhentian Kristus Penebus, sebagaimana dikatakan dalam berbagai injil Alkitab, diperagakan untuk melukiskan secara hidup penyiksaan, penangkalan, pengakuan, penyerahan, dan iman kepada diri Allah Putera di kawasan bukit berbatu itu.
"Allahku... Allahku... mengapa Engkau meninggalkan Aku?," sebagaimana ditirukan dari kisah-kisah Alkitab, menjadi kalimat terakhir pemeran Yesus Kristus dari salib kayu, yang tegak ditancap di batu-batu kawasan Toro. Menurut kisah injil-injil Alkitab, tidak lama setelah itu tirai di Bait Suci terkoyak, petir menggelegar di angkasa, dan Yesus Kristus-pun meletakkan kepala-Nya setelah nyawa meninggalkan raganya.
Menurut Mgr. Domi, setelah peragaan Jalan Salib Hidup itu selesai, "Kata-kata itu mengandung makna bahwa manusia harus selalu mau menanggung salibnya masing-masing. Tiap orang menjadi salib untuk dirinya sendiri dan Tuhan Allah pasti adil kepada umat-Nya."
Sosok kayu salib, katanya, bisa dilihat dari berbagai pendekatan. Pendekatan teologi salib menyatakan, salib itu adalah manifestasi misteri Allah yang sulit dientaskan oleh akal pikiran manusia, namun salib itu juga memiliki makna penyelamatan paripurna.
Kayu Salib, katanya, dalam manifestasi imaniah masa saat Yesus melakukan karya keselamatan-Nya, belum dimaknai demikian karena ketidakpahaman umat dan elit penguasa pada masa itu. "Mereka belum paham akan makna kayu salib itu," katanya.
Sedangkan pada masa kini, kata Saku, salib adalah sesuatu anugerah Tuhan yang menegaskan sekaligus mengundang umat yang percaya untuk selalu memperjuangkan dirinya sendiri masing-masing, sekaligus menyelamatkan diri orang lain.
"Rasul Paulus dalam satu suratnya pernah menyatakan bahwa setiap manusia selalu membawa kematian Kristus di dalam dirinya masing-masing. Tubuh kita ini adalah salib itu, dengan begitu maka kita harus memakai daya kita sebagai manusia untuk bisa selalu bersama dengan Allah Bapa," katanya.
Keadilan, katanya, tentu saja kemudian diwujudkan dari sosok salib dan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. "Salah satu dialog sebelum Yesus disalib adalah, kalau Aku salah, buktikan kesalahan-Ku. Namun sesuai dengan nubuat Allah sebelumnya, penyelamatan kepada umat yang percaya itu juga tercipta melalui kayu salib. Yesus sebagai manusia dan Allah, adil dalam hal ini dan Beliau memberikan contoh nyata," katanya.
Akan tetapi, kata Saku, keadilan itu lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan dalam hidup sehari-hari. Menurut dia, Alkitab sendiri memberikan contoh tentang kemampuan itu yang justru dilakukan oleh beberapa rasul-Nya.
"Petrus sendiri tidak mampu berbuat adil dan tidak sanggup melakukan hal yang benar di mata Allah saat itu. Dia menyangkal Kristus sebanyak tiga kali, sesuai nubuat Allah. Justru diri seorang wanita, Bunda Maria, yang bisa melakukan hal-hal benar itu. Bunda Maris konsisten menyatakan kesaksian-Nya bahwa Yesus adalah putera-Nya yang Dia kasihi," kata Saku. (antara)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar