Laporan Julianus Akoit, Spirit NTT, 17-23 Maret 2008
KEFAMENANU, SPIRIT -- Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang mengaudit proyek pengaspalan jalan raya (hotmix) dari Amol-Manamas sepanjang 12 kilometer dan ruas jalan Bitauni-Manufui sepanjang 13,7 kilometer senilai Rp 17.985.602.316,00. Pasalnya, proyek ini sejak proses pengerjaannya bulan November 2007 lalu hingga Maret 2008, bermasalah dan belum tuntas dikerjakan.
Proses audit selama 12 hari kerja, mulai Jumat (14/3/2008) pagi. Dua orang auditor, masing-masing Yusuf Partono dan Ronald O Sine telah melaporkan rencana audit ini kepada Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, Rabu (12/3/2008) siang.
"Ya, tadi saya sudah menemani dua auditor dari BPKP Perwakilan NTT untuk menemui dan melaporkan kepada Bupati TTU tentang rencana audit proyek pengaspalan jalan dari Amol ke Manamas dan dari Bitauni-Manufui, yang menelan dana Rp 17 miliar lebih," jelas Kadis Kimpraswil TTU, Drs. Willem Teti ketika ditemui di kantor Bupati TTU, Rabu (12/3/2008).
Audit ini, kata Teti, merupakan yang kedua kali. Pada audit pertama, BPKP NTT menemukan sedikitnya lima item pekerjaan yang melanggar kontrak dan diduga merugikan negara ratusan juta rupiah. "Saya tidak tahu apakah hasil audit pertama telah ditindaklanjuti atau belum. Audit kedua juga dilakukan karena diduga proyek ini bermasalah sejak awal hingga sekarang," jelasnya.
Ia juga mengatakan dalam waktu satu atau dua hari nanti, ia akan membentuk sebuah tim guna melakukan pengecekan dan klarifikasi lapangan terkait dugaan sejumlah peralatan proyek yang dipinjam dari pihak ketiga. "Dalam mengajukan dokumen tender sudah dicantumkan bahwa mereka memiliki peralatan lengkap. Ternyata setelah dicek peralatan diduga dipinjam dari pihak ketiga. Tim pertama yang saya bentuk bulan Desember 2007 lalu kecolongan dan dibohongi. Karena itu saya bentuk lagi tim kedua," jelas Teti.
Sementara Satker proyek, Yani Salem yang ditemui terpisah di Kantor Bupati TTU, kemarin siang, mengaku adanya tim auditor dari BPKP NTT yang ditugaskan untuk mengaudit proyek pengaspalan jalan raya tersebut. "Mereka datang untuk audit proyek yang dikerjakan PT AKAS itu," tukasnya.
Ditanya apa implikasi dari hasil rapat pembuktian hasil pekerjaan tahap 1 yang menyebutkan terjadi minus 15 persen dari realisasi fisik di lapangan, Salem mengatakan PT AKAS berjanji akan mengejar ketertinggalan fisik proyek itu dalam empat pekan ke depan. *
Proses audit selama 12 hari kerja, mulai Jumat (14/3/2008) pagi. Dua orang auditor, masing-masing Yusuf Partono dan Ronald O Sine telah melaporkan rencana audit ini kepada Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si, Rabu (12/3/2008) siang.
"Ya, tadi saya sudah menemani dua auditor dari BPKP Perwakilan NTT untuk menemui dan melaporkan kepada Bupati TTU tentang rencana audit proyek pengaspalan jalan dari Amol ke Manamas dan dari Bitauni-Manufui, yang menelan dana Rp 17 miliar lebih," jelas Kadis Kimpraswil TTU, Drs. Willem Teti ketika ditemui di kantor Bupati TTU, Rabu (12/3/2008).
Audit ini, kata Teti, merupakan yang kedua kali. Pada audit pertama, BPKP NTT menemukan sedikitnya lima item pekerjaan yang melanggar kontrak dan diduga merugikan negara ratusan juta rupiah. "Saya tidak tahu apakah hasil audit pertama telah ditindaklanjuti atau belum. Audit kedua juga dilakukan karena diduga proyek ini bermasalah sejak awal hingga sekarang," jelasnya.
Ia juga mengatakan dalam waktu satu atau dua hari nanti, ia akan membentuk sebuah tim guna melakukan pengecekan dan klarifikasi lapangan terkait dugaan sejumlah peralatan proyek yang dipinjam dari pihak ketiga. "Dalam mengajukan dokumen tender sudah dicantumkan bahwa mereka memiliki peralatan lengkap. Ternyata setelah dicek peralatan diduga dipinjam dari pihak ketiga. Tim pertama yang saya bentuk bulan Desember 2007 lalu kecolongan dan dibohongi. Karena itu saya bentuk lagi tim kedua," jelas Teti.
Sementara Satker proyek, Yani Salem yang ditemui terpisah di Kantor Bupati TTU, kemarin siang, mengaku adanya tim auditor dari BPKP NTT yang ditugaskan untuk mengaudit proyek pengaspalan jalan raya tersebut. "Mereka datang untuk audit proyek yang dikerjakan PT AKAS itu," tukasnya.
Ditanya apa implikasi dari hasil rapat pembuktian hasil pekerjaan tahap 1 yang menyebutkan terjadi minus 15 persen dari realisasi fisik di lapangan, Salem mengatakan PT AKAS berjanji akan mengejar ketertinggalan fisik proyek itu dalam empat pekan ke depan. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar