Laporan Julianus Akoit, Spirit NTT, 17-23 Maret 2008
KEFAMENANU, SPIRIT -- Warga di tujuh desa di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) selama dua bulan masih terisolir menyusul putusnya Jembatan Oenenu di desa itu awal bulan Februari 2008 lalu. Sampai sekarang belum ada upaya Pemkab TTU untuk membangun kembali jembatan yang menghubungkan wilayah selatan dengan Kota Kefamenanu itu.
Kadis Kimpraswil TTU, Drs. Willem Teti, mengakui hal itu, ketika dihubungi pada hari Rabu (12/3/2008) siang. "Saya sudah masukkan telaahan kepada bupati tentang rencana membangun kembali jembatan yang putus itu. Ini sangat emergency. Pak bupati bilang sudah mengajukan permohonan dana ke Dewan. Jika DPRD TTU setuju usulan dana yang diminta maka jembatan Oenenu segera dibangun," jelas Teti.
Teti mengaku heran karena sampai saat ini Dewan belum menjawab usulan dana yang diminta itu. Dikatakan, dibutuhkan dana Rp 1.362.220.000,00 untuk membangun kembali jembatan Oenenu yang putus. "Saya bisa perintahkan kontraktor untuk kerja sekarang. Tapi Dewan belum setuju usulan dana yang kami minta. Kalau nanti kontraktor sudah selesai kerja lalu Dewan tidak setuju dana, kami mau bayar pakai uang dari mana?" katanya.
Belum terima surat
Ketua DPRD TTU, Agustinus Talan yang dihubungi lewat ponselnya, Rabu siang, mengatakan belum menerima surat dari Bupati TTU tentang usulan dana untuk membangun kembali Jembatan Oenenu.
Michael Sena, warga Desa Oenenu, yang dihubungi terpisah, mengaku kesulitan karena dua bulan Jembatan Oenenu yang merupakan sarana vital trasnportasi itu belum juga diperbaiki.
"Kalau urus politik pemerintah berani keluarkan uang banyak. Tapi urus kepentingan rakyat, pemerintah enggan. Kami sulit memasarkan hasil pertanian dan ternak kami ke Kota Kefamenanu jika jembatan ini belum dibangun," tukas Sena kesal.
Keluhan senada disampaikan Ny. Maria Seko dan Ny. Matil Atolan, dua pedagang sayur. "Kami harus mengeluarkan ongkos ojek yang mahal dan harus berganti ojek dua kali bila ingin ke Kefamenanu untuk jualan sayur," ujar Maria saat ditemui di Jembatan Oenenu, Rabu pagi.
Jembatan Oenenu di Desa Oenenu, Miomaffo Timur ambruk diterjang banjir bandang, 10 Februari 2008 lalu. Akibatnya tujuh desa di wilayah selatan terisolir karena tidak ada kendaraan yang masuk ke sana. *
Kadis Kimpraswil TTU, Drs. Willem Teti, mengakui hal itu, ketika dihubungi pada hari Rabu (12/3/2008) siang. "Saya sudah masukkan telaahan kepada bupati tentang rencana membangun kembali jembatan yang putus itu. Ini sangat emergency. Pak bupati bilang sudah mengajukan permohonan dana ke Dewan. Jika DPRD TTU setuju usulan dana yang diminta maka jembatan Oenenu segera dibangun," jelas Teti.
Teti mengaku heran karena sampai saat ini Dewan belum menjawab usulan dana yang diminta itu. Dikatakan, dibutuhkan dana Rp 1.362.220.000,00 untuk membangun kembali jembatan Oenenu yang putus. "Saya bisa perintahkan kontraktor untuk kerja sekarang. Tapi Dewan belum setuju usulan dana yang kami minta. Kalau nanti kontraktor sudah selesai kerja lalu Dewan tidak setuju dana, kami mau bayar pakai uang dari mana?" katanya.
Belum terima surat
Ketua DPRD TTU, Agustinus Talan yang dihubungi lewat ponselnya, Rabu siang, mengatakan belum menerima surat dari Bupati TTU tentang usulan dana untuk membangun kembali Jembatan Oenenu.
Michael Sena, warga Desa Oenenu, yang dihubungi terpisah, mengaku kesulitan karena dua bulan Jembatan Oenenu yang merupakan sarana vital trasnportasi itu belum juga diperbaiki.
"Kalau urus politik pemerintah berani keluarkan uang banyak. Tapi urus kepentingan rakyat, pemerintah enggan. Kami sulit memasarkan hasil pertanian dan ternak kami ke Kota Kefamenanu jika jembatan ini belum dibangun," tukas Sena kesal.
Keluhan senada disampaikan Ny. Maria Seko dan Ny. Matil Atolan, dua pedagang sayur. "Kami harus mengeluarkan ongkos ojek yang mahal dan harus berganti ojek dua kali bila ingin ke Kefamenanu untuk jualan sayur," ujar Maria saat ditemui di Jembatan Oenenu, Rabu pagi.
Jembatan Oenenu di Desa Oenenu, Miomaffo Timur ambruk diterjang banjir bandang, 10 Februari 2008 lalu. Akibatnya tujuh desa di wilayah selatan terisolir karena tidak ada kendaraan yang masuk ke sana. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar