Spirit NTT, 17-23 Maret 2008
KIDUNG suci melantun dari senandung rohani sejumlah jemaat yang memadati sebuah kapel kecil di Larantuka, Flores Timur. Gemanya merasuk dalam kalbu mereka yang tertunduk khusuk. Sudah hampir sepekan, mereka menggelar misa yang disebut sebagai Mengaji Semana. Sebuah tradisi melantunkan kidung pujian bagi Yesus dan Bunda Maria memasuki pekan perayaan Paskah alias pekan Semana Santa.
Sejumlah jemaat tampak berlutut di depan altar sambil menyalakan sebaris lilin. Mereka adalah orang yang disebut mardomu, jemaat Kristus yang berniat menyumbangkan sebagian harta untuk Paskah demi sebuah berkah. Niatan yang diganjar dengan doa khusus dari seluruh jemaat kapel.
Malam itu, kapel-kapel kecil yang tersebar di seluruh Larantuka memang kian disesaki jemaat. Doa pun kian khusyuk. Sebab, pada saat seperti inilah berabad-abad silam Yesus ditangkap lewat pengkhianatan muridnya, Yudas Iskariot. Saat yang mereka sebut dengan Rabu Trewa atau Rabu Terbelenggu. Sebab, Yesus kala itu dibelenggu tentara Romawi untuk diseret mengelilingi Kota Nazareth. Di luar kapel, warga tampak tak sabar menunggu berakhirnya misa Rabu Trewa. Mereka pun siap dengan berbagai peralatan yang dapat menimbulkan bebunyian.
Menurut Alkitab, Yudas membuat Nazareth gempar karena menjadi otak penangkapan Yesus. Dia membunyikan gendang dan logam untuk mengumumkan kepada seluruh penduduk kota dengan penuh rasa bangga bahwa Yesus kini berada dalam genggamannya. Peristiwa ini direkonstruksi kembali oleh warga Larantuka pada malam Rabu Trewa. Suara gaduh pun menggemuruh, menjadi pertanda bahwa saat berduka telah tiba. Artinya, saat kematian Yesus Kristus putra Maria sudah di depan mata.
Pagi telah tiba. Dalam alunan kidung rohani, warga Larantuka menghadiri misa pagi di Gereja Katedral. Misa pengukuhan para imamat di Kamis Putih atau hari penuh duka mengenang penderitaan Yesus di tiang salib. Para imamat gereja ini adalah orang-orang yang sangat dipatuhi. Lewat mereka pula, warga percaya Kristus mengulurkan tangan dengan berbagai mukjizat, seperti keajaiban menyembuhkan penyakit melalui pemberkatan minyak suci. Minyak yang disaring dari buah zaitun asli yang mendapatkan keajaiban kasih Kristus melalui ayat-ayat Alkitab. Hari itu juga menjadi pertanda bagi Arnoldus Yohannes Fernandes Aikoli bahwa kesibukan akan berlipat ganda. Arnoldus adalah Ketua Konfreria, sebuah organisasi religius yang sudah berdiri di abad ke-16 untuk mengawal tradisi keimanan Kristus di Larantuka. Arnoldus telah mempersiapkan sejumlah anggota Konfreria untuk mengikuti upacara Munda Tuan.
***
Munda Tuan, adalah upacara memandikan patung Tuan Ma, patung Bunda Maria yang menjadi sentral perayaan Semana Santa. Saat inilah, orang tertentu akan diliputi keharuan ketika mengenakan opa, jubah putih perlambang kesucian.
Betapa tidak, mereka adalah orang-orang pilihan yang mendapat anugerah untuk memandikan Tuhan. Suatu ritual kuno dalam ruang atau Klausur tertutup yang sudah terjaga kerahasiaannya selama ratusan tahun. Tak sembarang orang juga bisa mengikuti upacara ini. Hanya sosok yang dianggap bijaksana dan pernah terpilih sebagai pengurus Konfreria yang diperkenankan melaksanakannya. Dia pun harus bersaksi di bawah sumpah Kristus untuk merahasiakan pengalaman yang dialami sepanjang ritual. "Kita berjanji demi Allah untuk menaati segala aturan dan kewajiban," kata Arnoldus.
Di dalam ruangan permandian, pengurus Konfreria mempersiapkan arca Tuan Ma untuk dipamerkan kepada umat. Tapi sebelumnya, arca itu tentu sudah didandani atau dalam istilah orang Larantuka disebut mandi gosok abu pakai. "Rambutnya disisir baik-baik, telinganya diberi anting, lehernya diberi kalung, dan lain sebagainya," ungkap Arnoldus. Pendeknya, seperti seorang pengantin wanita pada waktu disiapkan di dalam kamar rias. Dengan demikian, tak semua orang dapat melihat pengantin itu. Hal ini juga seperti seorang putri yang sedang mandi di kamar mandi. Tak ada yang bisa mengetahui perbuatan putri saat itu. Karena itulah, orang Larantuka menyebut prosesi permandian ini dengan Klausur. Artinya, melihat juga tidak, apalagi mengetahui sesuatu yg ada di dalam kamar tersebut.
***
Beralasan jika proses patung Tuan Ma ini menjadi sentral perayaan Semana Santa. Sebab, sesuai dengan falsafah warga Larantuka, Yesus Kristus datang melalui Maria. Dan, patung itulah dipercaya sebagai penjelmaan Bunda Maria yang menampakkan diri di Pantai Larantuka, lima abad silam. Tak heran jika patung Tuan Ma dikeramatkan. Dia hanya dikeluarkan setahun sekali dari Klausur-nya. Itu saat Paskah tiba.
Pihak gereja Katolik juga percaya patung Tuan Ma dihadiahkan Imam Dominikan asal Portugis untuk orang Larantuka yang baru memeluk agama Katolik pada abad ke-16. Patung yang terbuat dari gips ini, menurut uskup Larantuka Mgr. Kopong Kung, dibawa berlayar dari Malaka. Seorang utusan khusus Imam Dominikan asal Larantuka bernama Resiona yang membawa patung itu. Kopong mengakui, sejarah tadi juga tak lepas dari mitologi. Tapi, satu hal yang penting, patung itu ada dan hadir menjadi sebuah sarana prosesi perayaan Paskah. Sejatinya, sebagai sarana bagi umat Kristiani, khususnya Katolik untuk mengungkapkan imannya.
Selain patung Tuan Ma, patung Tuan Ana, perlambang Yesus remaja juga disakralkan warga Larantuka. Patung ini juga hanya dikeluarkan saat Paskah. Suatu kesempatan yang kemudian dimanfaatkan seluruh warga Larantuka untuk menyembah Tuhan sepenuh hati. Bahkan, mereka rela menjalankan ibadah itu hingga dini hari, dengan harapan keajaiban Kristiani datang.
Larantuka disinggahi Portugis sekitar 1521. Sejak itulah, kota kecil ini menjadi satu di antara pusat penyebaran agama Katolik di nusantara. Ketika memperkenalkan ajaran Kristus, para imam Dominikan asal Portugis mengembangkan prosesi Semana Santa. Tujuannya agar masyarakat lebih mudah menerima ajaran Katolik yang mereka sebarkan. Seiring waktu, Semana Santa menjadi sebuah prosesi kolosal yang berkembang hingga ke Adonara, kota kecil di seberang Selat Larantuka. Di sini, mereka menyimpan patung tuan berdiri, satu di antara patung yang menjadi bagian dari prosesi Semana Santa. Patung ini melambangkan Yesus dewasa.
Warga Larantuka mempersiapkan setiap prosesi Paskah dengan sangat teliti. Beberapa hari menjelang perayaan, seluruh kota dipasangi Tikan Turo, kerangka-kerangka kayu atau bambu yang menjadi tempat penyangga lilin. Bagi warga, lilin adalah simbol kehadiran Yesus alias Sang Penerang di antara jemaatnya yang sedang berkumpul dan berdoa. Karena itulah, pada saat Paskah, setiap orang akan menyalakan lilin. Ini pertanda kehadiran Yesus di dalam lubuk hati mereka. Bahkan orang-orang yang tinggal jauh di perantauan yang tak sempat pulang ke Larantuka, akan menitipkan bagian lilinnya pada anggota keluarga untuk dinyalakan saat ritual berlangsung.
Di pagi Jumat Agung atau hari kematian Yesus Kristus, warga mulai berkumpul di Kota Rewido, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Larantuka. Mereka menggelar misa pertama untuk menyembah Tuan Meninu, patung kayu kecil perlambang bayi Yesus yang ditemukan di pantai berabad silam. Lalu, patung itu disemayamkan di sebuah peti mati untuk diarak lewat laut ke pusat Kota Larantuka. Sebuah arakan panjang yang diikuti ratusan orang dalam barisan perahu kayu besar dan kecil, tentunya. Sesampai di pusat Kota Larantuka, patung Tuan Meninu disemayamkan di sebuah Armida, tempat persinggahan patung Yesus Kristus dan Bunda Maria. Armida dibangun di delapan kawasan di Larantuka. Ini sebagai simbol jumlah suku yang sempat berkuasa di kawasan tersebut.
Seolah tak menghiraukan sengatan mentari, warga larut dalam prosesi Jumat Agung. Dengan takzim, mereka berjalan menuju kapel Tuan Ma untuk mengangkat patung Bunda Maria. Patung ini mengawal arakan patung Tuan Ana yang diusung dalam sebuah keranda, pertanda kematian. Kedua patung itu dibawa beriringan menuju Gereja Katedral. Ini sama halnya dengan saat Bunda Maria mengiringi Yesus dalam segenap kedukaan. Setelah Tuan Ma dan Ana bersemayam di Gereja Katedral, warga berduyun-duyun pergi ke kuburan untuk mengenangkan orang tercinta yang telah berada di alam baka. Aneka lilin pun dinyalakan untuk mengundang para arwah menghadiri Semana Santa.
***
Arak-arakan Jumat Agung masih berlanjut hingga batas malam. Puluhan ribu jemaah berbaris seolah lelah tak menjamah. Inilah prosesi yang menggambarkan kekuatan tekad warga Larantuka. Mereka ingin mengulang perjalanan kesengsaraan Yesus menuju kematian. Termasuk mengenangkan Yesus yang dipaku di tiang salib, mengucurkan darah, dan diiringi derai air mata Bunda Maria. Malam itu, ribuan nyala api berkelip di pekatnya kegelapan, seolah bersaing dengan cahaya rembulan. Larantuka pun berubah menjadi samudera lilin. Kumpulan jiwa dalam gelombang semangat kematian dan kebangkitan Kristus, tentunya. (AWD/tim potret/liputan 6.com)
Sejumlah jemaat tampak berlutut di depan altar sambil menyalakan sebaris lilin. Mereka adalah orang yang disebut mardomu, jemaat Kristus yang berniat menyumbangkan sebagian harta untuk Paskah demi sebuah berkah. Niatan yang diganjar dengan doa khusus dari seluruh jemaat kapel.
Malam itu, kapel-kapel kecil yang tersebar di seluruh Larantuka memang kian disesaki jemaat. Doa pun kian khusyuk. Sebab, pada saat seperti inilah berabad-abad silam Yesus ditangkap lewat pengkhianatan muridnya, Yudas Iskariot. Saat yang mereka sebut dengan Rabu Trewa atau Rabu Terbelenggu. Sebab, Yesus kala itu dibelenggu tentara Romawi untuk diseret mengelilingi Kota Nazareth. Di luar kapel, warga tampak tak sabar menunggu berakhirnya misa Rabu Trewa. Mereka pun siap dengan berbagai peralatan yang dapat menimbulkan bebunyian.
Menurut Alkitab, Yudas membuat Nazareth gempar karena menjadi otak penangkapan Yesus. Dia membunyikan gendang dan logam untuk mengumumkan kepada seluruh penduduk kota dengan penuh rasa bangga bahwa Yesus kini berada dalam genggamannya. Peristiwa ini direkonstruksi kembali oleh warga Larantuka pada malam Rabu Trewa. Suara gaduh pun menggemuruh, menjadi pertanda bahwa saat berduka telah tiba. Artinya, saat kematian Yesus Kristus putra Maria sudah di depan mata.
Pagi telah tiba. Dalam alunan kidung rohani, warga Larantuka menghadiri misa pagi di Gereja Katedral. Misa pengukuhan para imamat di Kamis Putih atau hari penuh duka mengenang penderitaan Yesus di tiang salib. Para imamat gereja ini adalah orang-orang yang sangat dipatuhi. Lewat mereka pula, warga percaya Kristus mengulurkan tangan dengan berbagai mukjizat, seperti keajaiban menyembuhkan penyakit melalui pemberkatan minyak suci. Minyak yang disaring dari buah zaitun asli yang mendapatkan keajaiban kasih Kristus melalui ayat-ayat Alkitab. Hari itu juga menjadi pertanda bagi Arnoldus Yohannes Fernandes Aikoli bahwa kesibukan akan berlipat ganda. Arnoldus adalah Ketua Konfreria, sebuah organisasi religius yang sudah berdiri di abad ke-16 untuk mengawal tradisi keimanan Kristus di Larantuka. Arnoldus telah mempersiapkan sejumlah anggota Konfreria untuk mengikuti upacara Munda Tuan.
***
Munda Tuan, adalah upacara memandikan patung Tuan Ma, patung Bunda Maria yang menjadi sentral perayaan Semana Santa. Saat inilah, orang tertentu akan diliputi keharuan ketika mengenakan opa, jubah putih perlambang kesucian.
Betapa tidak, mereka adalah orang-orang pilihan yang mendapat anugerah untuk memandikan Tuhan. Suatu ritual kuno dalam ruang atau Klausur tertutup yang sudah terjaga kerahasiaannya selama ratusan tahun. Tak sembarang orang juga bisa mengikuti upacara ini. Hanya sosok yang dianggap bijaksana dan pernah terpilih sebagai pengurus Konfreria yang diperkenankan melaksanakannya. Dia pun harus bersaksi di bawah sumpah Kristus untuk merahasiakan pengalaman yang dialami sepanjang ritual. "Kita berjanji demi Allah untuk menaati segala aturan dan kewajiban," kata Arnoldus.
Di dalam ruangan permandian, pengurus Konfreria mempersiapkan arca Tuan Ma untuk dipamerkan kepada umat. Tapi sebelumnya, arca itu tentu sudah didandani atau dalam istilah orang Larantuka disebut mandi gosok abu pakai. "Rambutnya disisir baik-baik, telinganya diberi anting, lehernya diberi kalung, dan lain sebagainya," ungkap Arnoldus. Pendeknya, seperti seorang pengantin wanita pada waktu disiapkan di dalam kamar rias. Dengan demikian, tak semua orang dapat melihat pengantin itu. Hal ini juga seperti seorang putri yang sedang mandi di kamar mandi. Tak ada yang bisa mengetahui perbuatan putri saat itu. Karena itulah, orang Larantuka menyebut prosesi permandian ini dengan Klausur. Artinya, melihat juga tidak, apalagi mengetahui sesuatu yg ada di dalam kamar tersebut.
***
Beralasan jika proses patung Tuan Ma ini menjadi sentral perayaan Semana Santa. Sebab, sesuai dengan falsafah warga Larantuka, Yesus Kristus datang melalui Maria. Dan, patung itulah dipercaya sebagai penjelmaan Bunda Maria yang menampakkan diri di Pantai Larantuka, lima abad silam. Tak heran jika patung Tuan Ma dikeramatkan. Dia hanya dikeluarkan setahun sekali dari Klausur-nya. Itu saat Paskah tiba.
Pihak gereja Katolik juga percaya patung Tuan Ma dihadiahkan Imam Dominikan asal Portugis untuk orang Larantuka yang baru memeluk agama Katolik pada abad ke-16. Patung yang terbuat dari gips ini, menurut uskup Larantuka Mgr. Kopong Kung, dibawa berlayar dari Malaka. Seorang utusan khusus Imam Dominikan asal Larantuka bernama Resiona yang membawa patung itu. Kopong mengakui, sejarah tadi juga tak lepas dari mitologi. Tapi, satu hal yang penting, patung itu ada dan hadir menjadi sebuah sarana prosesi perayaan Paskah. Sejatinya, sebagai sarana bagi umat Kristiani, khususnya Katolik untuk mengungkapkan imannya.
Selain patung Tuan Ma, patung Tuan Ana, perlambang Yesus remaja juga disakralkan warga Larantuka. Patung ini juga hanya dikeluarkan saat Paskah. Suatu kesempatan yang kemudian dimanfaatkan seluruh warga Larantuka untuk menyembah Tuhan sepenuh hati. Bahkan, mereka rela menjalankan ibadah itu hingga dini hari, dengan harapan keajaiban Kristiani datang.
Larantuka disinggahi Portugis sekitar 1521. Sejak itulah, kota kecil ini menjadi satu di antara pusat penyebaran agama Katolik di nusantara. Ketika memperkenalkan ajaran Kristus, para imam Dominikan asal Portugis mengembangkan prosesi Semana Santa. Tujuannya agar masyarakat lebih mudah menerima ajaran Katolik yang mereka sebarkan. Seiring waktu, Semana Santa menjadi sebuah prosesi kolosal yang berkembang hingga ke Adonara, kota kecil di seberang Selat Larantuka. Di sini, mereka menyimpan patung tuan berdiri, satu di antara patung yang menjadi bagian dari prosesi Semana Santa. Patung ini melambangkan Yesus dewasa.
Warga Larantuka mempersiapkan setiap prosesi Paskah dengan sangat teliti. Beberapa hari menjelang perayaan, seluruh kota dipasangi Tikan Turo, kerangka-kerangka kayu atau bambu yang menjadi tempat penyangga lilin. Bagi warga, lilin adalah simbol kehadiran Yesus alias Sang Penerang di antara jemaatnya yang sedang berkumpul dan berdoa. Karena itulah, pada saat Paskah, setiap orang akan menyalakan lilin. Ini pertanda kehadiran Yesus di dalam lubuk hati mereka. Bahkan orang-orang yang tinggal jauh di perantauan yang tak sempat pulang ke Larantuka, akan menitipkan bagian lilinnya pada anggota keluarga untuk dinyalakan saat ritual berlangsung.
Di pagi Jumat Agung atau hari kematian Yesus Kristus, warga mulai berkumpul di Kota Rewido, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Larantuka. Mereka menggelar misa pertama untuk menyembah Tuan Meninu, patung kayu kecil perlambang bayi Yesus yang ditemukan di pantai berabad silam. Lalu, patung itu disemayamkan di sebuah peti mati untuk diarak lewat laut ke pusat Kota Larantuka. Sebuah arakan panjang yang diikuti ratusan orang dalam barisan perahu kayu besar dan kecil, tentunya. Sesampai di pusat Kota Larantuka, patung Tuan Meninu disemayamkan di sebuah Armida, tempat persinggahan patung Yesus Kristus dan Bunda Maria. Armida dibangun di delapan kawasan di Larantuka. Ini sebagai simbol jumlah suku yang sempat berkuasa di kawasan tersebut.
Seolah tak menghiraukan sengatan mentari, warga larut dalam prosesi Jumat Agung. Dengan takzim, mereka berjalan menuju kapel Tuan Ma untuk mengangkat patung Bunda Maria. Patung ini mengawal arakan patung Tuan Ana yang diusung dalam sebuah keranda, pertanda kematian. Kedua patung itu dibawa beriringan menuju Gereja Katedral. Ini sama halnya dengan saat Bunda Maria mengiringi Yesus dalam segenap kedukaan. Setelah Tuan Ma dan Ana bersemayam di Gereja Katedral, warga berduyun-duyun pergi ke kuburan untuk mengenangkan orang tercinta yang telah berada di alam baka. Aneka lilin pun dinyalakan untuk mengundang para arwah menghadiri Semana Santa.
***
Arak-arakan Jumat Agung masih berlanjut hingga batas malam. Puluhan ribu jemaah berbaris seolah lelah tak menjamah. Inilah prosesi yang menggambarkan kekuatan tekad warga Larantuka. Mereka ingin mengulang perjalanan kesengsaraan Yesus menuju kematian. Termasuk mengenangkan Yesus yang dipaku di tiang salib, mengucurkan darah, dan diiringi derai air mata Bunda Maria. Malam itu, ribuan nyala api berkelip di pekatnya kegelapan, seolah bersaing dengan cahaya rembulan. Larantuka pun berubah menjadi samudera lilin. Kumpulan jiwa dalam gelombang semangat kematian dan kebangkitan Kristus, tentunya. (AWD/tim potret/liputan 6.com)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar