Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Harmoni hamparan savana

Spirit NTT, 24-30 Maret 2008

BICARA tentang Pulau Sumba, perbukitan dan padang rumput savana yang menghampar akan menjadi bayangan pertama yang melintas di benak kita.
Gambaran itu pun menjelma nyata ketika kita mendarat di Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan di Kabupaten Sumba Barat yang tampak justru hutan dengan pohon-pohon besarnya.
Situasi yang terkesan kontras namun sama-sama menjanjikan kesejukan sebuah pulau yang membersitkan inspirasi bagi para pecinta keindahan. Sampai-sampai sineas sekaliber Garin Nugroho beberapa tahun lalu menggunakan Sumba sebagai setting filmnya yang berjudul, "Angin Rumput Savana."
Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang terdapat di NTT selain Pulau Flores, Timor, Rote dan pulau-pulau kecil lainnya. Pulau ini terdiri Kabupaten Sumba Timur dengan ibu kota Waingapu dan Kabupaten Sumba Barat yang beribu kota Waikabubak. Potensi pariwisata, perdagangan dan kekayaan alam yang berpeluang besar untuk dikembangkan membuat maskapai penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines menjalin kerja sama operasional (KSO) dengan pemkab setempat.
Merpati melayani rute Denpasar-Waingapu dan Denpasar-Tambolaka menggunakan satu unit pesawat jet Fokker 100. Penerbangan perdana ke Waingapu diadakan Kamis (15/2/2007), sedangkan ke Tambolaka, Sumba Barat dilaksanakan mulai Jumat (16/2/2007). Merpati mengundang sejumlah wartawan media cetak dan elektronik di Bali untuk ikut dalam penerbangan perdana itu.
Penerbangan ke Sumba berlangsung sekitar satu jam. Pesawat berangkat dari Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 10.30 wita. Pesawat Fokker 100 yang tergolong cukup besar, berkapasitas 109 orang saat itu terisi sekitar 70 orang. Suasana dalam pesawat cukup nyaman.
Memasuki wilayah Sumba, ketika melongok ke jendela tampak gugusan perbukitan berpadu dengan lautan. Tidak ada hambatan berarti di perjalanan sampai rombongan tiba di Bandara Mau Hau, Waingapu sekitar pukul 11.30 wita. Tiba di sana rombongan disambut Bupati, Muspida setempat serta jajaran Merpati yang dikomandani District Manager Kupang, Priyono.
Waingapu tergolong kota kecil dan tidak terlalu ramai. Angkutan umum tidak banyak terlihat. Diana, rekan wartawati setempat yang juga menjadi pemandu, mengatakan masyarakat setempat cenderung lebih suka naik ojek selain naik kuda. Memang di sepanjang jalan banyak terlihat anak-anak dan orang dewasa naik atau sekadar menuntun kudanya. Kuda itu tampak gagah dan kuat. Bahkan ada lapangan khusus untuk belajar menunggang kuda.
Menurut Diana, kuda-kuda itu menjadi lambang kekuatan dan ketangkasan. Karena itu pula ada budaya "pasola" yang masih terus dilestarikan masyarakat yakni ketangkasan naik kuda sambil melempar bambu atau kayu kepada lawan. Tradisi itu masih dilaksanakan setiap tahun.
Waingapu juga terkenal dengan jagungnya. Jagung itu disebut jagung pulut yang rasanya lengket seperti ketan. Jagung tersebut banyak dijual warga, baik saat masih segar maupun telah direbus. Saat berjalan-jalan ke pasar tradisional, jagung pulut itu banyak ditawarkan kepada pembeli. Satu ikat jagung berisi 5 buah dijual Rp 5.000. Selain itu para pedagang juga menawarkan sayuran khas daerah itu yaitu bunga pepaya.
"Masyarakat sini jarang makan sayur. Mereka lebih banyak makan daging karena penduduk banyak yang hidup dari peternakan sehingga harga daging tidak terlalu mahal," cetus Diana.
Masyarakat setempat juga masih banyak yang suka mengunyah sirih. Hal yang biasanya dilakukan orang-orang tua di Bali. Mengunyah sirih dipercaya memperkuat gigi dan menyehatkan mulut. Tak heran apabila bertemu warga tersenyum ramah memamerkan gigi mereka yang merah karena sirih.
Menyusuri Waikabubak
Setalah beberapa saat menikmati suasana kota yang meredup oleh senja, sekitar pukul 16.00 wita rombongan berangkat ke Waikabubak menggunakan bus. Jalanan sempit dan berkelok-kelok cukup membuat perut mual. Namun kekurangnyamanan itu bisa tergantikan dengan keindahan savana dan hijaunya kebun jagung di sepanjang jalan kawasan Sumba Timur.
Di sela savana menyembul sebuah perusahaan minuman kemasan produksi Waingapu, "Aquamor". Bahan baku air diambil dari mata air Mbata Kapidu. Beristirahat di perbatasan Sumba Timur dan Sumba Barat, kami makan jagung pulut rebus dan sempat terkaget-kaget bertemu pemilik warung yang ternyata orang Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka merantau jauh-jauh ke Sumba mencari penghidupan yang lebih baik. Di sepanjang jalan kami melihat banyak makam tokoh masyarakat yang berukuran besar. Juga rumah-rumah sederhana masyarakat dengan penerangan seadanya. Kami sangat jarang bertemu rumah penduduk. Yang ada hanya pohon-pohon rimbun dan tinggi.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, melihat hamparan savana, kami tiba di kota Waikabubak. Kota ini terkesan lebih ramai ketimbang Waingapu. Bicara soal nama, kami iseng bertanya kepada warga setempat mengenai Waikabubak.
Katanya, "wai" berarti air dan tetesan air terdengar berbunyi "buk bak buk...kabubak" sehingga jadilah nama kota itu. Konon, biasanya hujan lebih rajin bertandang ke kota ini dibandingkan di Waingapu sehingga jadi lebih subur. Namun karena kondisi alam kurang bersahabat saat ini, kekeringan juga mulai melanda ibu kota Sumba Barat itu. Rawan pangan mulai mengancam.
Hal tersebut dikatakan seorang anggota LSM setempat Drs. Melky Data dan dibenarkan Bupati Sumba Barat, Drs. Yulianus Pote Leba. Namun, dia tetap optimis hujan akan turun dan kekhawatiran rawan pangan serta kelaparan tidak terbukti.
Satu hal unik kami temui di Waikabubak. Warga di sana terbiasa menyampirkan parang di pinggangnya. Begitu ada gangguan, parang langsung dicabut dan "bicara". Hal yang kadang membuat bergidik. Kami melihat langsung kebiasaan warga "bersenjata" itu saat menyusuri jalan dalam kota mengendarai sepeda motor sekitar pukul 22.00 wita. Tampak sekelompok pria membawa parang yang disematkan di pinggangnya. Kontan kami cemas dan ingin cepat-cepat sampai ke penginapan.
Keesokan harinya, Jumat (16/2/2007), sekitar pukul 07.00 wita kami berangkat dari Kota Waikabubak menuju Bandara Tambolaka. Menempuh waktu sekitar satu jam melewati jalan yang kondisinya sama, sempit dan banyak pepohonan. Di bandara, seremonial peresmian rute penerbangan juga dilakukan jajaran Merpati dan pemkab setempat. Kami juga disuguhi tarian khas Sumba "Kataga" yang ditarikan lima laki-laki.
Sayangnya, perjalanan ke Pulau Sumba sangat singkat. Tidak banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi. Tapi dari penjelasan warga kami mendapat sedikit informasi bahwa makam raja merupakan salah satu obyek yang ditawarkan kepada wisatawan. Makam raja dibuat berukuran besar. Jenazah raja dimasukkan dengan posisi duduk dengan kaki tertekuk pada tempat tertentu dalam makam, bukan ditelentangkan seperti pemakaman pada umumnya.
Itu merupakan salah satu cara warga menghormati raja. Raja sangat dihormati warga Sumba sehingga kesetiaan pada raja menjadi hal utama, bahkan ketika telah meninggal sekalipun. (ari)

Tidak ada komentar: