Laporan Muhlis al Alawi, Spirit NTT, 17-23 Maret 2008
SOE, SPIRIT -- Sebanyak 29 murid kelas III dan IV Sekolah Dasar (SD) Yaswari Siolais di Desa Oelais, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), terpaksa mengikuti kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di dapur milik warga setempat. Ruang kelas mereka yang sudah reot sudah dibangun yang baru, namun bangunan baru itu pun sudah roboh lantaran kualitas bangunannya rendah.
Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) DPEB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS yang dipimpin Yes Boymau bersama dua anggota tim, Amos Hilakore dan Emy Liufeto sudah meninjau sekolah itu, Rabu (12/3/2008) sore. Di sekolah itu, Tim Monev diterima Wakil Kepala SD setempat, Susana Saluat.
Menurut Susana, kegiatan belajar mengajar di dapur sudah berlangsung sejak awal 2008. Dua puluh sembilan murid itu terbagi menjadi dua kelas yakni kelas III 13 orang dan kelas IV 16 orang.
"Tempatnya juga dibagi menjadi dua. Kelas III berada di dapur rumah mantan Kepsek, Bernadus Baunsele. Sementara kelas IV berada di dapur gereja. Dua kelas itu berada tidak jauh dari gedung sekolah utama," ujar Susana.
Susana menjelaskan, sebelum KBM di dapur, ke-29 siswa itu mengikuti kegiatan belajar di gedung lama yang berisi tiga ruang kelas. Sejak gedung itu dirubuhkan pertengahan Juli 2007 oleh mantan Kepsek, Bernadus Baunsele, para murid sering terlantar sekolahnya.
Dikatakan, pasca gedung lama berkonstruksi semi permanen, itu dirubuhkan siswa kelas III, IV dan I dipindahkan ke los darurat yang berada disamping gedung utama sekolah itu. Namun los itu tidak berlangsung lama lantaran rusak terkena hujan dan angin.
Susana mengatakan, mantan kepsek Bernadus merubuhkan gedung lama dengan maksud membangunnya yang baru menggunakan dana bantuan DBEP 2007 sebesar Rp 54 juta.
Sayangnya, sekitar 3 Januari 2008 gedung baru yang dibangun mantan kepsek itu pun roboh. Dia menduga bangunan itu roboh karena mutunya tidak bagus. Saat pembangunan gedung itu dilaksanakan, komite dan para guru tidak dilibatkan.
"Bila ditanya rencana pengembangan sekolah pun kami tidak tahu. Pasalnya semua uang yang mengelola mantan kepsek. Selain itu sisa dana yang digunakan sampai saat ini tidak ada pengembalikan sepeserpun dari mantan kepsek," jelas Susan.
Pantuan SPIRIT NTT di ruang belajar murid SD Yaswari Siolais yang berada di dapur sangat memprihatinkan. Papan tulis warna hitam yang terbentang tampak digunakan sebagai jemuran empat celana pendek. Begitu juga lima pasang meja dan kursi yang tidak tersusun rapi di dapur milik Bernadus Baunsele.
Ruangan ukuran 4 x 3 meter berlantai tanah yang digunakan sebagai tempat belajar murid SD Yaswari Siolais itu berada di bagian belakang rumah Bernadus Baunsele. Setelah dapur itu dijadikan tempat belajar siswa SD, pemiliknya membuat dapur baru. *
Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) DPEB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS yang dipimpin Yes Boymau bersama dua anggota tim, Amos Hilakore dan Emy Liufeto sudah meninjau sekolah itu, Rabu (12/3/2008) sore. Di sekolah itu, Tim Monev diterima Wakil Kepala SD setempat, Susana Saluat.
Menurut Susana, kegiatan belajar mengajar di dapur sudah berlangsung sejak awal 2008. Dua puluh sembilan murid itu terbagi menjadi dua kelas yakni kelas III 13 orang dan kelas IV 16 orang.
"Tempatnya juga dibagi menjadi dua. Kelas III berada di dapur rumah mantan Kepsek, Bernadus Baunsele. Sementara kelas IV berada di dapur gereja. Dua kelas itu berada tidak jauh dari gedung sekolah utama," ujar Susana.
Susana menjelaskan, sebelum KBM di dapur, ke-29 siswa itu mengikuti kegiatan belajar di gedung lama yang berisi tiga ruang kelas. Sejak gedung itu dirubuhkan pertengahan Juli 2007 oleh mantan Kepsek, Bernadus Baunsele, para murid sering terlantar sekolahnya.
Dikatakan, pasca gedung lama berkonstruksi semi permanen, itu dirubuhkan siswa kelas III, IV dan I dipindahkan ke los darurat yang berada disamping gedung utama sekolah itu. Namun los itu tidak berlangsung lama lantaran rusak terkena hujan dan angin.
Susana mengatakan, mantan kepsek Bernadus merubuhkan gedung lama dengan maksud membangunnya yang baru menggunakan dana bantuan DBEP 2007 sebesar Rp 54 juta.
Sayangnya, sekitar 3 Januari 2008 gedung baru yang dibangun mantan kepsek itu pun roboh. Dia menduga bangunan itu roboh karena mutunya tidak bagus. Saat pembangunan gedung itu dilaksanakan, komite dan para guru tidak dilibatkan.
"Bila ditanya rencana pengembangan sekolah pun kami tidak tahu. Pasalnya semua uang yang mengelola mantan kepsek. Selain itu sisa dana yang digunakan sampai saat ini tidak ada pengembalikan sepeserpun dari mantan kepsek," jelas Susan.
Pantuan SPIRIT NTT di ruang belajar murid SD Yaswari Siolais yang berada di dapur sangat memprihatinkan. Papan tulis warna hitam yang terbentang tampak digunakan sebagai jemuran empat celana pendek. Begitu juga lima pasang meja dan kursi yang tidak tersusun rapi di dapur milik Bernadus Baunsele.
Ruangan ukuran 4 x 3 meter berlantai tanah yang digunakan sebagai tempat belajar murid SD Yaswari Siolais itu berada di bagian belakang rumah Bernadus Baunsele. Setelah dapur itu dijadikan tempat belajar siswa SD, pemiliknya membuat dapur baru. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar