Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Produksi kakao Adonara menurun

Laporan Martin Lau Nahak, Spirit NTT 7-13 Januari 2008
LARANTUKA, SPIRIT--Produksi kakao/coklat di Adonara, Kabupaten Flores Timur (Flotim), tahun ini diperkirakan menurun. Hal ini terjadi karena sejak bulan Juli 2007 hingga Januari 2008, ribuan hektar tanaman kakao pada 12 desa di Kecamatan Adonara Tengah, Pulau Adonara, diserang hama yang belum diketahui namanya.
Camat Adonara Tengah, Donatus Kopong Weran, ketika ditemui di ruang Humas Setkab Flotim, Rabu (2/1/2008), mengatakan, akibat serangan hama ini, produksi tanaman kakao menurun. Bahkan tanaman perkebunan yang menjadi penopang utama ekonomi petani terancam mati.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Flotim, jelas Donatus, baru mendeteksi jenis hama ini, dan belum mengetahui nama hama/penyakit tersebut.
Donatus menjelaskan, petani kakao sudah lama mengeluh terkait serangan hama itu. "Serangan penyakit ini mengakibatkan buah kakao yang semula besar menjadi kecil dan warnanya menguning. Daun kakaonya ikut menguning dan perlahan mengering. Ciri ini sudah terjadi pada kakao milik petani di Pulau Adonara, namun lebih banyak terjadi pada petani kakao di 12 desa di Kecamatan Adonara Tengah, bagian dari Kecamatan Adonara Barat," jelas Kopong.
Menurutnya, warga menyebut penyakit busuk akar. Karena warga petani pernah mencari tahu dengan cara menggali akar pohon kakao yang daunnya menguning dan mengering. Saat itu ditemukan akar kakao telah membusuk. "Itu menurut warga petani tapi belum diketahui pasti apa benar penyakit busuk akar atau jenis hama lain. Saya dan camat lainnya di Pulau Adonara sudah menyampaikan hal ini ke Kadishutbun Flotim agar menurunkan tim ke kebun petani kakao untuk melakukan penyelidikan guna memastikan jenis hama atau penyakit yang menyerang kakao petani itu. Sebab, kalau terlambat ditanggulangi, kakao petani di Pulau Adonara bisa habis," tambahnya.
Dia meminta Dishutbun Flotim proaktif menanggulangi hama yang menyerang kakao petani itu. Karena saat ini kualitas kakao di Pulau Adonara mulai menurun akibat serangan hama penyakit itu membuat banyak buah kakao masak/matang sebelum waktunya tapi tetap dipanen petani untuk dijual.
"Saya sudah tugaskan 12 kepala desa di Kecamatan Adonara Tengah untuk mendata semua kakao petani yang terserang hama itu. Selanjutnya data tersebut akan kami laporkan ke Kabupaten Flotim," ujarnya.
Penggerek buah
Terkait serangan hama tanaman kakao tersebut, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Flotim, Rafael Sili, S.H, yang dihubungi SPIRIT NTT di kediamannya, Rabu (2/1/2008) membenarkan telah menerima laporan masyarakat petani dan laporan Camat Adonara Tengah.
"Itu bukan penyakit baru yang menyerang kakao milik petani di 12 desa di Adonara. Petugas dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan sudah turun lapangan menemukan hama penggerek buah kakao. Untuk menanggulanginya, sudah ada obat. Obat ini harus disemprotkan, jika tidak turun hujan beberapa hari. Kalau semprot saat hujan, maka tidak bermanfaat sebab hamanya tidak mati," kata Sili.
Dia mengakui hama penggerek buah kakao lebih aktif pada musim panas/kemarau. Akibatnya pada musim kemarau 2007 lalu banyak kakao milik petani rusak dan mati sehingga mengurangi produksi kakao. *

PENGHASIL KAKAO DI ADONARA TENGAH
Desa Knotan, Desa Lite, Desa Lewopao, Desa Lewo Bele, Desa Koko Tobo, Desa Horowura, Desa Koko Horowura, Desa Wewit, Desa Bidara, Desa Lubalema, Desa Baya, Desa OE Sayang.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

muda2han tdk sampai menyerang smua tanaman.sudah adakah upaya pemerinta mengenai masalah ini?mudahan Uda y?