Laporan ANTARA, Spirit NTT, 8-15 Oktober 2007
KUPANG, SPIRIT--DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak pemerintah untuk segera mengambail langkah-langkah untuk mengatasi masalah air bersih yang dihadapi warga yang bermukim di sekitar Bendungan Tilong.
"Tindakan darurat pemerintah ini perlu dilakukan secepatnya agar tidak berakibat pada masalah sosial lain yang lebih kompleks," kata anggota DPRD NTT, Nelson Matara, Thom Taebanu dan Adriabus Ndu Ufi di Kupang, Kamis (4/10/2007).
Mereka dihubungi secara terpisah terkait keluhan air bersih yang dihadapi warga yang bermukim di sekitar bendungan Tilong dan ancaman warga untuk membongkar bendungan Tilong karena dinilai tidak memberi manfaat bagi penduduk setempat.
"Kami sudah mengunjungi lokasi dan berdialog dengan warga, banyak keluhan yang kami terima dan kami minta pemerintah segera mengambil langkah penanganan agar tidak menimbulkan masalah baru," kata Nelson Matara dan Thom Taebenu.
Menurut dia, permintaan warga itu dapat dipahami karena mereka telah menyerahkan tanah mereka untuk membangun bendungan Tilong, sementara jutaan meter kubik air yang ada di depan mata tidak dinikamti tetapi justeru dialihkan seluruhnya untuk warga di Kota Kupang.
"Saya kira mereka tidak mengada-ada karena faktanya memang ada banyak sekali air di depan mata mereka, tetapi mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air sekedar untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Siapapun pasti kecewa," katanya.
Langkah penanganan yang dilakukan pemerintah kata dia, bisa dengan mengirim air melalui tanki-tanki air untuk mengisi 11 bak penampung yang tersebar di pemukiman penduduk, jika tidak bisa disuplay dari bendungan Tilong.
"Menurut saya, jalan keluarnya adalah mensuplay air dengan menggunakan tanki air ke bak-bak penampung warga selama air belum bisa disuplay dari bendungan Tilong. Kalau tiap hari 4-5 tanki saja saya kira cukup," katanya.
Warga Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Timur yang bermukim di sekitar Bendungan Tilong, sekitar 20 km arah Timur Kota Kupang, selama beberapa bulan terakhir ini mengalami kesilitan air, baik untuk kebutuhan hidup sehari-hari, pertanian maupun peternakan.
Mereka bahkan mengancam akan merusak bendungan terbesar di NTT yang dibangun dengan dana ratusan miliar itu, karena tidak memberi manfaat apa-apa bagi warga di sekitar bendungan yang sudah merelakan tanah mereka untuk pembangunan bendungan tersebut.
"Kami sudah beri tanah cuma-cuma untuk bangun bendungan begitu megah, tetapi air saja kami tidak bisa minum. Lebih baik bongkar saja bendungan itu," kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, Melianus Toi dan mantan Kepala Desa Penfui, Jopi Taebenu.
Menurut Melianus, jutaan meter kubik air di depan mata tetapi warga harus berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk memperoleh air minum. Air yang ada justeru dialirkan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Kupang.
Karena itu, mereka meminta pemerintah untuk membongkar saja pipa dan bak-bak penampung yang dibangun di kawasan pemukiman, karena tidak ada gunanya lagi dari pada warga marah dan membongkar sendiri.
Kekecewaan yang sama datang dari Ny. Luisa Bana yang mengatakan, kulit badan sudah seperti kerbau karena setiap harus berjalan kaki sepanjang tiga kilo meter untuk mencari air hanya untuk memenuhi kebutuhan minum.
Begitupun dengan anak-anak, mereka harus membantu orang tua berjalan kali mencari air bersih. "Setiap pagi anak-anak ke sekolah juga tidak mandi karena tidak ada air, padahal ada jutaan meter kubik air di depan mata," katanya.
Masalah air bersih yang dihadapi warga di sekitar bendungan Tilong ini sudah disampaikan kepada pemrintah dan juga kepada tim DPRD NTT yang mengunjungi kawasan itu beberapa waktu lalu, tetapi sejauh ini belum ada tindaklanjut. *
"Tindakan darurat pemerintah ini perlu dilakukan secepatnya agar tidak berakibat pada masalah sosial lain yang lebih kompleks," kata anggota DPRD NTT, Nelson Matara, Thom Taebanu dan Adriabus Ndu Ufi di Kupang, Kamis (4/10/2007).
Mereka dihubungi secara terpisah terkait keluhan air bersih yang dihadapi warga yang bermukim di sekitar bendungan Tilong dan ancaman warga untuk membongkar bendungan Tilong karena dinilai tidak memberi manfaat bagi penduduk setempat.
"Kami sudah mengunjungi lokasi dan berdialog dengan warga, banyak keluhan yang kami terima dan kami minta pemerintah segera mengambil langkah penanganan agar tidak menimbulkan masalah baru," kata Nelson Matara dan Thom Taebenu.
Menurut dia, permintaan warga itu dapat dipahami karena mereka telah menyerahkan tanah mereka untuk membangun bendungan Tilong, sementara jutaan meter kubik air yang ada di depan mata tidak dinikamti tetapi justeru dialihkan seluruhnya untuk warga di Kota Kupang.
"Saya kira mereka tidak mengada-ada karena faktanya memang ada banyak sekali air di depan mata mereka, tetapi mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air sekedar untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Siapapun pasti kecewa," katanya.
Langkah penanganan yang dilakukan pemerintah kata dia, bisa dengan mengirim air melalui tanki-tanki air untuk mengisi 11 bak penampung yang tersebar di pemukiman penduduk, jika tidak bisa disuplay dari bendungan Tilong.
"Menurut saya, jalan keluarnya adalah mensuplay air dengan menggunakan tanki air ke bak-bak penampung warga selama air belum bisa disuplay dari bendungan Tilong. Kalau tiap hari 4-5 tanki saja saya kira cukup," katanya.
Warga Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Timur yang bermukim di sekitar Bendungan Tilong, sekitar 20 km arah Timur Kota Kupang, selama beberapa bulan terakhir ini mengalami kesilitan air, baik untuk kebutuhan hidup sehari-hari, pertanian maupun peternakan.
Mereka bahkan mengancam akan merusak bendungan terbesar di NTT yang dibangun dengan dana ratusan miliar itu, karena tidak memberi manfaat apa-apa bagi warga di sekitar bendungan yang sudah merelakan tanah mereka untuk pembangunan bendungan tersebut.
"Kami sudah beri tanah cuma-cuma untuk bangun bendungan begitu megah, tetapi air saja kami tidak bisa minum. Lebih baik bongkar saja bendungan itu," kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, Melianus Toi dan mantan Kepala Desa Penfui, Jopi Taebenu.
Menurut Melianus, jutaan meter kubik air di depan mata tetapi warga harus berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk memperoleh air minum. Air yang ada justeru dialirkan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Kupang.
Karena itu, mereka meminta pemerintah untuk membongkar saja pipa dan bak-bak penampung yang dibangun di kawasan pemukiman, karena tidak ada gunanya lagi dari pada warga marah dan membongkar sendiri.
Kekecewaan yang sama datang dari Ny. Luisa Bana yang mengatakan, kulit badan sudah seperti kerbau karena setiap harus berjalan kaki sepanjang tiga kilo meter untuk mencari air hanya untuk memenuhi kebutuhan minum.
Begitupun dengan anak-anak, mereka harus membantu orang tua berjalan kali mencari air bersih. "Setiap pagi anak-anak ke sekolah juga tidak mandi karena tidak ada air, padahal ada jutaan meter kubik air di depan mata," katanya.
Masalah air bersih yang dihadapi warga di sekitar bendungan Tilong ini sudah disampaikan kepada pemrintah dan juga kepada tim DPRD NTT yang mengunjungi kawasan itu beberapa waktu lalu, tetapi sejauh ini belum ada tindaklanjut. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar