Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Membangun karaker kaum muda

Oleh Mohammad Nasih *
Spirit NTT 3-10 Desember 2007

PEMUDA adalah generasi harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik.Itulah sebabnya Bung Karno pernah mengajukan semacam tantangan: beri aku sepuluh pemuda; akan kuguncangkan dunia. Ini menunjukkan adanya perspektif dan asumsi kuat bahwa pemuda memiliki potensi yang sangat besar untuk menciptakan perubahan.
Sejarah, di mana pun, termasuk di Indonesia, telah menunjukkan bahwa kaum muda selalu memainkan peran signifikan dalam momentum-momentum penting. Kaum muda telah tampil dan membuktikan diri sebagai para pendiri bangsa, menjadi pejuang yang tak hanya hebat, tetapi juga ulet dan teguh pendirian. Karakter yang kuat dalam diri merekalah yang membuat mereka tak bisa didikte oleh bangsa lain sehingga dengan percaya diri merancang masa depan bangsanya sendiri.
Mereka adalah 'generasi emas' yang melakukan perjuangan demi bangsa berdasarkan hati nurani, kecerdasan, dan wawasan yang komprehensif. Mereka cerdas dan berwawasan luas. Faktor pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam melahirkan generasi muda yang berkarakter dan sekaligus mandiri. Tak kurang referensi dan fakta konkret yang mendukung bahwa terdapat korelasi antara pendidikan dan karakter bangsa.
Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat suatu bangsa, maka karakter bangsa tersebut akan semakin terbentuk. Tentu saja pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pendidikan yang didasari nilai-nilai dan semangat nasionalisme.
Bukan pendidikan yang sekadar diorientasikan untuk menciptakan para pekerja yang hanya menjadi robot-robot untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan teknis atau melahirkan kelas buruh yang tak berdaya menghadapi persaingan global yang semakin kejam. Karakter kaum muda perlu dibentuk sejak dini karena mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika kaum muda tak dibangun karakternya, yang akan menjadi pemimpin di masa depan nanti adalah individu-individu yang mudah tunduk kepada kepentingan-kepentingan individu atau kelompok lain yang bisa berakibat negatif dan fatal.
Tentu ketundukan tersebut sangat membahayakan nasib bangsa, negara, dan rakyat secara keseluruhan. Dalam era global ini, rezim neoliberal selalu berusaha mencengkeramkan kekuasaan di seluruh penjuru dunia. Menghadapi upaya hegemoni kaum neolib ini, kaum muda harus melambari diri dengan semangat nasionalisme agar menjadi pribadi-pribadi yang tidak menjadi pragmatis,sehingga mudah tergoda oleh imbalan-imbalan material yang memang secara sekilas sangat menggiurkan.
Kaum muda harus menyadari benar bahwa apa yang dilakukan oleh kaum neolib adalah bentukbentuk upaya untuk melakukan neokolonialisme. Kaum muda sekarang perlu merekontekstualisasi semangat kaum muda tahun dua puluhan sampai masa kemerdekaan yang dilecut oleh realitas penjajahan yang tampak secara kasat mata terjadi di bumi Nusantara. Sekarang, walaupun penjajah dengan senjata perang tersebut sudah tidak ada, bukan berarti bahwa penjajahan sudah tak ada lagi.
Penjajahan dalam format neokolonialisme bahkan bisa berefek jauh lebih besar. Aset-aset negara bisa melayang jika negara ini tidak dikawal dan dikelola mereka yang berkarakter dan memiliki nasionalisme yang kuat. Peran Negara Untuk mendapatkan pendidikan yang memadai, negara harus memberikan jaminan kepada kaum muda.
Mereka harus dipersiapkan dengan memberikan pendidikan dan skill yang cukup sehingga menjadi pribadi-pribadi mandiri yang tidak menggantungkan hidup mereka dari pihak atau individu lain. Dengan demikian, tenaga, pikiran, dan hidup mereka akan didedikasikan secara total kepada negara untuk kehidupan masyarakat masa depan yang lebih baik.
Fasilitas pendidikan harus disediakan secara optimal sehingga setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan menumbuhkan semangat nasionalisme yang kian hari kian mendapatkan tantangan lebih besar.
Dengan kesempatan yang sama yang diberikan,seluruh anak bangsa akan memiliki peluang sama dalam berkompetisi untuk mengoptimalkan sumber-sumber daya yang dimiliki untuk mengabdikan diri kepada negara dengan tujuan besar menyejahterakan rakyat. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah mengupayakan dengan sungguh-sungguh dalam menyegerakan realisasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen sesuai amanat konstitusi Negara Republik Indonesia.
Generasi ijon saat ini terdapat fenomena yang cukup mengkhawatirkan perihal kaum muda yang menempatkan diri sebagai klien kaum tua. Mereka tidak mampu menempatkan diri sebagai sebuah entitas yang seharusnya bersama-sama memikirkan nasib bangsa. Tidak sedikit kaum muda yang telah menjadi obyek 'ijon' kaum tua, sehingga mereka tidak mampu bersikap dan bertindak kritis terhadap sikap dan perilaku kaum tua, karena telah terjadi ketergantungan kaum muda kepada kaum tua. Akibatnya, independensi mereka menjadi rapuh dan bahwa lenyap.
Mereka tak ubahnya wayang yang dimainkan oleh dalang. Seharusnya, kaum muda tampil sebagai entitas yang memiliki perspektif konstruktif baru dalam memandang dunia sehingga mampu berkontribusi signifikan dalam memformat masa depan bangsa dan negara. Biasanya, sebagian kaum muda terjebak dalam perangkap 'sistem ijon' karena terlalu berpikiran pragmatis, terburu-buru,dan tidak tahan bekerja keras.
Pragmatisme telah menjerumuskan mereka ke dalam keterkungkungan dan hegemoni pihak-pihak tertentu yang menginginkan mereka menjadi individu- individu yang tergadai dan tidak memiliki karakter kritis yang kuat. Karena itulah kemudian lahir semacam budaya bahwa kaum muda tidak memiliki hak untuk bicara. Gagasan-gagasan kaum muda sering kali disepelekan dan tidak diperhatikan, dipandang sebelah mata oleh kaum tua.Kalau toh mereka muncul,itu pun hanya menjadi bagian dari setting pihak lain yang ingin mengambil keuntungan atas nama kaum muda.
Tentu ini sangat berbeda dengan fakta bahwa kaum mudalah yang sesungguhnya telah mengambil peran signifikan dalam mendirikan Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat,lepas dari hegemoni dan cengkeraman kaum penjajah. Karena itu,satu hal yang harus dilakukan oleh kaum muda sekarang adalah memerdekakan diri dari segala sesuatu atau hal yang membuat kemerdekaan mereka terampas sehingga menjadi bagian dari entitas masyarakat yang bebas, kritis, dan juga ekspresif. Kalau kaum muda tak mampu melakukannya, sesungguhnya mereka telah kehilangan segalanya.Wallahu a'lam bi al-shawab. (sumber: seputarindonesia.com)
* Penulis, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik UI Presidium Pengurus Pusat MASIKA ICMI

Tidak ada komentar: