Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT 3-10 Desember 2007
WAINGAPU, SPIRIT -- Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, meminta calon jemaah haji selama berada di tanah suci agar menjaga citra Kabupaten Sumba Timur dan citra bangsa dan negara Indonesia serta mengembangkan nilai-nilai keikhlasan.
Permintaan Mehang ini disampaikannya ketika melepas 15 orang calon jemaah haji asal Sumba Timur menuju Surabaya untuk selanjutnya bertolak ke Mekkah. Acara pelepasan calon jemaah haji ini berlangsung di Halaman Masjid Agung Al-Jihad Waingapu, Sabtu (1/12/2007).
Menurut Mehang, menunaikan haji sesungguhnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan merupakan aktualisasi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Haji, katanya, berimplikasi ganda yaitu hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan manusia. Karena itu, kata Mehang, perjalanan suci dalam melaksanakan ibadah haji disamping melaksanakan rukun Islam sekaligus menjalin interaksi dan membina ukhuwah Islamiah dengan sesama umat Islam dari seluruh dunia.
Dengan demikian, pinta Mehang, para jemaah haji memanfaatkan kesempatan selama berada di tanah suci dengan sebaik-baiknya dalam mengembangkan nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, persaudaraan dan kebersamaan antara sesama jemaah calon haji.
Dikatakan Mehang, ibadah haji merupakan suatu ibadah yang dilaksanakan untuk menjawab panggilan Tuhan tetapi tidak semua umat Islam mendapatkan kesempatan itu. Bagi yang mendapat kesempatan, kata Mehang, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri.
Mehang mengatakan, Tuhan memanggil umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji dengan maksud, pertama mengingatkan kembali hakekat umat sebagai manusia yang jika dibandingkan dengan kekuasaan dan kebesaran Tuhan sesungguhnya manusia itu sangat kecil. Karena itu, manusia tidak pantas untuk sombong. Kedua, mengingatkan manusia agar waspada terhadap godaan setan yang tidak akan berhenti untuk menjerumuskan umat manusia ke lembah dosa baik yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Karenanya, lanjut Mehang, haji bukan sekadar prosesi lahiriah formal belaka melainkan sebuah momen revolusi lahir dan bathin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia, yang pada akhirnya memberikan dampak perubahan perilaku yang lebih baik bagi mereka yang melaksanakannya. *
Permintaan Mehang ini disampaikannya ketika melepas 15 orang calon jemaah haji asal Sumba Timur menuju Surabaya untuk selanjutnya bertolak ke Mekkah. Acara pelepasan calon jemaah haji ini berlangsung di Halaman Masjid Agung Al-Jihad Waingapu, Sabtu (1/12/2007).
Menurut Mehang, menunaikan haji sesungguhnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan merupakan aktualisasi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Haji, katanya, berimplikasi ganda yaitu hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan manusia. Karena itu, kata Mehang, perjalanan suci dalam melaksanakan ibadah haji disamping melaksanakan rukun Islam sekaligus menjalin interaksi dan membina ukhuwah Islamiah dengan sesama umat Islam dari seluruh dunia.
Dengan demikian, pinta Mehang, para jemaah haji memanfaatkan kesempatan selama berada di tanah suci dengan sebaik-baiknya dalam mengembangkan nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, persaudaraan dan kebersamaan antara sesama jemaah calon haji.
Dikatakan Mehang, ibadah haji merupakan suatu ibadah yang dilaksanakan untuk menjawab panggilan Tuhan tetapi tidak semua umat Islam mendapatkan kesempatan itu. Bagi yang mendapat kesempatan, kata Mehang, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri.
Mehang mengatakan, Tuhan memanggil umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji dengan maksud, pertama mengingatkan kembali hakekat umat sebagai manusia yang jika dibandingkan dengan kekuasaan dan kebesaran Tuhan sesungguhnya manusia itu sangat kecil. Karena itu, manusia tidak pantas untuk sombong. Kedua, mengingatkan manusia agar waspada terhadap godaan setan yang tidak akan berhenti untuk menjerumuskan umat manusia ke lembah dosa baik yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Karenanya, lanjut Mehang, haji bukan sekadar prosesi lahiriah formal belaka melainkan sebuah momen revolusi lahir dan bathin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia, yang pada akhirnya memberikan dampak perubahan perilaku yang lebih baik bagi mereka yang melaksanakannya. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar