Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Gema otda menerobos isolasi wilayah

Laporan KCM, Spirit NTT 3-10 Desember 2007

SAAT ini, seharusnya setiap kabupaten gencar melakukan terobosan guna memandirikan daerahnya sesuai harapan pelaksanaan otonomi daerah. Terobosan itu adalah pemberdayaan ekonomi rakyat sesuai dengan potensi daerahnya. Misalnya, memperbanyak dan memperluas pasar rakyat guna mendekatkan hasil pertanian dengan akses pasar. Mendorong petani mengusahakan rumput laut, membuka pasar hasil kerajinan tenun ikat, menyediakan kemudahan kredit guna menyehatkan usaha kecil, mendorong pola usaha agrobisnis di bidang pertanian atau kelautan dan sejumlah bentuk kegiatan produktif lainnya.
Di Kabupaten Sumba Timur, gema otonomi daerah sudah memberi prioritas pada terobosan seperti dimaksud. Kabupaten seluas 7.000,50 km2 itu hingga sekarang terus berupaya meretas isolasi wilayah.
"Isolasi fisik masih menjadi hambatan serius di Sumba Timur," ucap Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, belum lama ini. Sumba Timur, sebagaimana diakui Umbu Mehang, masih menyisakan banyak kampung termasuk kawasan kantung produksi yang belum tersentuh jaringan jalan atau masih terisolasi. "Juga tidak perlu malu, masih ada warga daerah terpencil di Sumba Timur yang belum pernah melihat mobil atau sepeda motor," tuturnya.
Oleh karena itu, perhatian utama Bupati Mehang selama memimpin Sumba Timur adalah membukaan isolasi wilayah. Dengan dukungan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II ditambah dana Program Pengembangan Kecamatan (PPK), upaya yang dilakukan bukan membenahi atau memperbaiki ruas jalan yang telah ada. Hampir seluruhnya merupakan jalan rintisan awal. Sebagai contoh pembukaan jalan baru menerobos daerah kantung produksi Desa Ngarakawuru di Kecamatan Umalulu, sekitar 14 km. Lainnya, ruas jalan baru antara Harai Kabanda (Kecamatan Wulawaijeka) menuju Paberiwai berjarak sekitar 40 km. Daerah sekitar jalan baru ini dikenal sebagai kawasan penghasil kemiri, berbagai jenis ternak dan tanaman pangan. "Sejauh ini perdagangan di kawasan itu masih dilakukan secara barter. Mereka sulit ke pasar akibat wilayahnya masih sangat terisolasi," tambah Ketua DPRD Sumtim, Palulu Pabunda Ndima.
Tidak hanya itu. Jalan rintisan awal yang juga dibuka adalah ruas Maubakul-Laimbonga sekitar 17 km, Pandawai-Kahaungu Eti (10 km). Di samping itu, Matawai Maringu-Kamanggih (12 km) dan ruas baru lainnya. "Karena medannya sangat berat, perjalanan Matawai Maringu-Kamanggih dulu harus berputar hingga ke arah Kota Waingapu (kota kabupaten). Bepergian dengan berjalan kaki membutuhkan waktu dari pagi hingga petang. Sekarang jaraknya hanya sekitar 10 km, yang kalau berjalan kaki paling lama dua jam atau beberapa menit dengan kendaraan bermotor," sambung Bupati Mehang.
***
SERANGAN hama belalang kembara adalah kendala serius lain yang hingga kini masih mengganjal Sumba Timur. Hama yang melanda sejak tahun 1998 itu sangat ganas menghancurkan hijauan seperti tanaman jagung dan padi. Setelah memusnahkan tanaman pertanian itu, jutaan belalang secara bergerombol memangsa hijauan padang yang diandalkan sebagai pakan ternak. Dampaknya, tidak hanya merosotkan hasil jagung dan padi di kebun petani. Juga menyulitkan hewan piaraan seperti sapi, kuda, kerbau, dan kambing mendapatkan pakan rerumputan hijau.
Menurut peternak, hewaan piaraan enggan merumput hijauan padang yang pernah dimangsa belalang. Padahal, hama itu sulit diberantas tuntas. Populasinya terus berkembang akibat perubahan ekosistem.
Sebagai penghasil ternak terutama sapi dan kuda, hama belalang sangat mengganggu populasi ternak. Tahun 2000 lalu, populasi sapi ongole dan brahman 38.000-40.000 ekor. Padahal, hingga akhir tahun 1970-an, populasi sapi di Sumba Timur mendekati 100.000 ekor," kenang drh. Palulu Pabunda Ndima, mantan Kepala Dinas Peternakan Sumba Timur.
Masyarakat berharap, ternak sapi kembali menjadi primadona Sumba Timur. Namun, kesulitan hijauan tetap menjadi pengganjal karena hama belalang yang juga merumput belum berhasil dihalau. (kcm/ans)

Tidak ada komentar: