Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Gara-gara perda pesta

Oleh John Oriwis
Spirit NTT 3-10 Desember 2007

DEDE Teke nampak murung ngeri. Padahal tadi malam Dede Teke baru saja bikin pesta syukuran atas penerimaan komuni suci pertama, alias sambut werun. Dengan dahi mengerut, Teke menatap penuh bisu semua utas-utas tali yang bergelantungan, terpal yang tersobek, kursi yang patah dan batu-batu yang berserakan di bawah tenda.
"Ini semua gara-gara itu perda. Semua batu akhirnya ada di sini," keluh Teke sendiri sambil menunjuk ke arah batu yang ada di situ.
"Teke, ada apa ini? Kalo mo bangun rumah jangan pake batu yang begini. Harus seragam, kalo mau pake batu bata mera ya bata mera semua. Kalo mau pake kerikil, kerikil semua. Bukan pake batu yang campur aduk begini," tanya Ama Plete dengan sedikit penjelasan.
"Kau punya gigi itu," maki Teke untuk Plete. "Ini batu yang orang pake untuk lempar saya punya rumah. Hanya gara-gara saya taat pada perda ketertiban itu. Begitu kasi mati teip, ini rumah hujan batu. Sekarang sapa yang mau tanggung perbaiki saya punya rumah?" keluh Teke dengan nada sedih.
"Serba salah sudah ini. Taat perda ketertiban umum rumah hujan batu, tidak taat tetangga terganggu. Dan rumah kalo hujan batu, sapa tanggung? Jelasnya kan begitu," sambung Plete lagi.
"Mmakanya kalo bikin pesta, moke jangan kasi keluar semua. Tahan-tahan," Dede Poi mulai sambung.
"He Poi, itu gara-gara kau jual moke. Tadi malam orang datang ke sini sudah mabuk semua. Tanya punya tanya beli di kau punya kios. Kalo mau jual juga ukur-ukur, sekarang kau liat suda semua jadi begini," sambung Juli dari teras rumah.
"Kami ini hidup dari moke, jual moke anak-anak sekolah. Pokonya saya tidak akan berhenti jual moke. Rusak urusan mu, jual moke anak sekolah jalan terus," protes Poi.
"Sebenarnya aparat berwajib, datang jam dua suruh pesta berhenti. Selanjutnya mereka terus berjaga - jaga, jangan sampai rumah pesta kena lemparan," jelas Plete kasih ide.
" Benar harus begitu. Kalo ada aturan berarti harus ada yang awasi keamanan tuan pesta. Berarti harus bikin lagi perda tentang perlindungan terhadap tuan pesta. Setuju ??!! " tanya Juli.
"Mau perda ko, PePe Ko (maksudnya Peraturan Pemerintah), UU ko (maksudnya Undang-Undang) atau apa saja yang buat itu pemerintah. Kita hanya bisa buat, tapi kita taat siapa lindung," Teke mengeluh.
Ini hanya kami punya pengalaman. Benar Perda Ketertiban itu bermanfaat. Bermanfaat tapi jangan sampe ada orang lain lagi yang rugi. Mau pigi lapor sapa yang lempar asal kita tau sapa yang lempar, gelap gulita di. Rumang gete.
Ini semua gara-gara moke ato gara teip mati. Masyarakat ini mau masuk di pab dengan bar tapi hoang. Kita ini ekonomi lemah semua, pesta ini sudah jadi hiburan. Taat perda rumah hancur, orang lempar gara-gara hanya sampe jam dua. Jadi Teke punya rumah rusak ada dua gara - gara. Gara-gara taat perda kasih mati teip dan semua gara-gara minum moke sampe mabuk. Gara-gara ini, semua salah siapa? *

Tidak ada komentar: