Laporan John Amsikan/Humas TTU, Spirit NTT 3-10 Desember 2007
KEFAMENANU, SPIRIT--Hingga April 2007, tercatat 12 kasus HIV menyerang warga di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Drs. Gabriel Manek, M.Si, mengingatkan warga setempat agar tidak boleh 'makan' sembarang daging 'burung.'
Data ini dipaparkan Bupati Manek ketika bertindak sebagai pembina upacara memperingati Hari AIDS Sedunia dan Hari Bhakti PU, bertempat di halaman depan Kantor Bupati TTU, Senin (3/12/2007).
Berkaitan dengan AIDS, demikian Bupati Manek, para pakar medis menyatakan bahwa salah satu jenis penyakit yang sejak tahun 1970-an hingga kini mengancam secara serius penduduk dunia adalah AIDS, yang merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
Mengenai AIDS para ahli kesehatan menggambarkannya sebagai keadaan yang berkembang pada diri orang yang terinfeksi virus AIDS yang disebut dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), suatu virus yang menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh yang terdiri dari berbagai sel, terutama sel-T yang berfungsi memerangi kuman dan infeksi, sehingga sistem pertahanan tubuh menjadi lemah dan tidak lagi mampu melindungi diri terhadap berbagai kuman penyakit.
Ketika penyakit AIDS pertama kali ditemukan di Afrika Tengah, ungkap Manek, hal tersebut belum begitu menarik perhatian bangsa Indonesia, bahkan kita beranggapan bahwa negara kita relatif cukup aman dari serangan penyakit ini. Namun rasa aman ini mulai terusik, ketika pada tanggal 16 April 1995, sebuah stasiun televisi swasta meliput seorang perempuan Indonesia yang positif mengidap HIV di Jawa Timur. Sejak saat itu, korban terus berjatuhan (sehingga tidak ada lagi propinsi yang bebas dari HIV/AIDS) dan hingga Maret 2007, secara kumulatif jumlah pengidap HIV/AIDS tercatat sebanyak 14.628 kasus, yang terdiri dari 5.640 kasus HIV dan 8.988 kasus AIDS, dengan pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, yaitu sebanyak 54,34 persen, kemudian disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 27,4 persen.
Sementara itu, data PBB tentang AIDS menunjukkan bahwa hingga akhir paruh pertama tahun 2007 terdapat hampir 50 juta orang terinfeksi HIV, dan sekitar 30-an juta orang di antaranya meninggal karena AIDS, suatu angka yang cukup berarti.
Untuk konteks Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tambah Manek, kasus HIV/AIDS pertama kali terdeteksi pada tahun 1997 dan sampai kini telah terdapat lebih dari 206 kasus. Dan dari 206 kasus tersebut, lebih dari 60 persen dinyatakan positif terinfeksi virus HIV, 25 persen di antaranya dinyatakan sebagai penderita AIDS dan 15 persen di antaranya telah meninggal dunia.
Sementara di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sendiri, hingga awal April 2007 telah terdapat 12 kasus HIV, dengan rincian 6 di Kecamatan Biboki Anleu, 3 di Biboki Utara, dan 3 di Kota Kefamenanu.
Dari data mengenai terus meningkatnya penderita HIV/AIDS, lanjut Manek, maka jelas bahwa penyakit ini tergolong penyakit yang dapat menular. Sebagai penyakit menular, dikatakan bahwa HIV dapat ditularkan melalui tiga cara. Pertama, melalui hubungan seks tanpa perlindungan dengan orang yang sudah terinfeksi. Tentang hal ini, banyak ahli menganjurkan agar hubungan seks tidak boleh dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Dengan demikian, hubungan seks hanya diperbolehkan di antara pasangan yang sudah menikah secara sah. Dalam bahasa humor populer dikatakan bahwa agar tidak terkena virus ganas HIV, maka kita tidak boleh "makan" sembarang daging "burung".
Kedua, melalui darah yang sudah terinfeksi, entah karena memakai jarum suntik secara bergantian, terutama di kalangan pecandu narkoba; atau karena transfusi darah dengan orang yang terinfeksi.
Ketiga, melalui ibu hamil pada bayi yang dikandungnya. Dari cara-cara penularan tersebut tampak bahwa siapa pun orangnya dapat saja terinfeksi virus HIV/AIDS bila tidak berhati-hati.
Di Indonesia, tandas Manek, pemerintah telah menetapkan komitmen politik untuk menanggulangi HIV/ AIDS melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1994. Sedangkan peraturan pelaksanaannya tertuang dalam Keputusan Menkokesra Nomor 9 Tahun 1994 tentang Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS. Di dalam strategi nasional ini, terungkap kerangka acuan atau panduan kerjasama dalam kemitraan yang efektif dari semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, lembaga penelitian, penyandang dana, maupun badan-badan internasional.
Tiga pendekatan
Sementara untuk menanggulangi HIV/AIDS digunakan tiga pendekatan yang saling mengisi, yakni, pertama, pendekatan agama dan budaya, sebab nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia merupakan nilai-nilai utama.
Kedua, pendekatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, sebab data menunjukkan bahwa kebanyakan pria dan wanita yang menderita penyakit ini berasal dari keluarga miskin dan ekonomi lemah.
Ketiga, pendekatan sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat, sebab setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, riskan terhadap penyakit ini.
Sehubungan dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, tampak ada dua tantangan besar yang ada di hadapan kita, yakni: (a) bagaimana mencegah penularan penyakit ini. (b) bagaimana hidup dengan penderita HIV/AIDS. Guna menghadapi tantangan-tantangan tersebut di atas, dalam arti upaya meminimalisasi dan mengurangi sedapat-dapatnya penderitaan yang dialami oleh pengidap AIDS dan keluarganya, diperlukan kerja sama yang erat antara semua komponen yang ada, sebab apabila kita benar-benar mempunyai komitmen untuk mencegah dan mengurangi HIV/AIDS, maka kita harus komprehensif dan integratif dalam kerjasama. Semua pihak terkait perlu dilibatkan karena kita tidak dapat menjadi petarung tunggal menghadapi serangan HIV/AIDS, ungkapnya.
Untuk itu, tambah Manek, peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengambil tema: KEPEMIMPINAN dengan slogan: "STOP AIDS, TEPATI JANJI". Melalui tema dan slogan ini, diharapkan kita dapat menyadari bahwa kepemimpinan yang kuat, tegas, visioner, mampu mengambil keputusan yang tepat, cepat dan akurat di berbagai level (baik pemerintah maupun swasta), merupakan faktor kunci keberhasilan dalam menekan laju pertumbuhan HIV/AIDS. Kita perlu menekan laju pertumbuhan penyakit ini, karena pengidapnya tidak lagi terbatas pada kelompok beresiko tinggi, tetapi juga sudah masuk pada ibu-ibu rumah tangga, anak-anak dan masyarakat luas.
Mungkin di antara kita ada yang merasa dan berpikir bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia belum relevan untuk konteks Kabupaten TTU, sebab penderitanya masih sangat sedikit. Meskipun demikian, Bupati Manek berpendapat bahwa peringatan ini sangat penting dan bermanfaat, paling tidak ibarat "sedia payung sebelum hujan".
Selain itu, dengan memperingati Hari AIDS sedunia ini, kita akan terbantu dalam upaya melindungi diri, keluarga dan masyarakat terhadap AIDS, sebab kata pepatah: "Lebih baik mencegah daripada mengobati". Selain itu, dengan memiliki pemahaman yang memadai mengenai penyakit ini, seseorang dapat menjadi pendamping yang baik bagi mereka-mereka yang menjadi korban penyakit ini. *
Data ini dipaparkan Bupati Manek ketika bertindak sebagai pembina upacara memperingati Hari AIDS Sedunia dan Hari Bhakti PU, bertempat di halaman depan Kantor Bupati TTU, Senin (3/12/2007).
Berkaitan dengan AIDS, demikian Bupati Manek, para pakar medis menyatakan bahwa salah satu jenis penyakit yang sejak tahun 1970-an hingga kini mengancam secara serius penduduk dunia adalah AIDS, yang merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
Mengenai AIDS para ahli kesehatan menggambarkannya sebagai keadaan yang berkembang pada diri orang yang terinfeksi virus AIDS yang disebut dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), suatu virus yang menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh yang terdiri dari berbagai sel, terutama sel-T yang berfungsi memerangi kuman dan infeksi, sehingga sistem pertahanan tubuh menjadi lemah dan tidak lagi mampu melindungi diri terhadap berbagai kuman penyakit.
Ketika penyakit AIDS pertama kali ditemukan di Afrika Tengah, ungkap Manek, hal tersebut belum begitu menarik perhatian bangsa Indonesia, bahkan kita beranggapan bahwa negara kita relatif cukup aman dari serangan penyakit ini. Namun rasa aman ini mulai terusik, ketika pada tanggal 16 April 1995, sebuah stasiun televisi swasta meliput seorang perempuan Indonesia yang positif mengidap HIV di Jawa Timur. Sejak saat itu, korban terus berjatuhan (sehingga tidak ada lagi propinsi yang bebas dari HIV/AIDS) dan hingga Maret 2007, secara kumulatif jumlah pengidap HIV/AIDS tercatat sebanyak 14.628 kasus, yang terdiri dari 5.640 kasus HIV dan 8.988 kasus AIDS, dengan pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, yaitu sebanyak 54,34 persen, kemudian disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 27,4 persen.
Sementara itu, data PBB tentang AIDS menunjukkan bahwa hingga akhir paruh pertama tahun 2007 terdapat hampir 50 juta orang terinfeksi HIV, dan sekitar 30-an juta orang di antaranya meninggal karena AIDS, suatu angka yang cukup berarti.
Untuk konteks Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tambah Manek, kasus HIV/AIDS pertama kali terdeteksi pada tahun 1997 dan sampai kini telah terdapat lebih dari 206 kasus. Dan dari 206 kasus tersebut, lebih dari 60 persen dinyatakan positif terinfeksi virus HIV, 25 persen di antaranya dinyatakan sebagai penderita AIDS dan 15 persen di antaranya telah meninggal dunia.
Sementara di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sendiri, hingga awal April 2007 telah terdapat 12 kasus HIV, dengan rincian 6 di Kecamatan Biboki Anleu, 3 di Biboki Utara, dan 3 di Kota Kefamenanu.
Dari data mengenai terus meningkatnya penderita HIV/AIDS, lanjut Manek, maka jelas bahwa penyakit ini tergolong penyakit yang dapat menular. Sebagai penyakit menular, dikatakan bahwa HIV dapat ditularkan melalui tiga cara. Pertama, melalui hubungan seks tanpa perlindungan dengan orang yang sudah terinfeksi. Tentang hal ini, banyak ahli menganjurkan agar hubungan seks tidak boleh dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Dengan demikian, hubungan seks hanya diperbolehkan di antara pasangan yang sudah menikah secara sah. Dalam bahasa humor populer dikatakan bahwa agar tidak terkena virus ganas HIV, maka kita tidak boleh "makan" sembarang daging "burung".
Kedua, melalui darah yang sudah terinfeksi, entah karena memakai jarum suntik secara bergantian, terutama di kalangan pecandu narkoba; atau karena transfusi darah dengan orang yang terinfeksi.
Ketiga, melalui ibu hamil pada bayi yang dikandungnya. Dari cara-cara penularan tersebut tampak bahwa siapa pun orangnya dapat saja terinfeksi virus HIV/AIDS bila tidak berhati-hati.
Di Indonesia, tandas Manek, pemerintah telah menetapkan komitmen politik untuk menanggulangi HIV/ AIDS melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1994. Sedangkan peraturan pelaksanaannya tertuang dalam Keputusan Menkokesra Nomor 9 Tahun 1994 tentang Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS. Di dalam strategi nasional ini, terungkap kerangka acuan atau panduan kerjasama dalam kemitraan yang efektif dari semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, lembaga penelitian, penyandang dana, maupun badan-badan internasional.
Tiga pendekatan
Sementara untuk menanggulangi HIV/AIDS digunakan tiga pendekatan yang saling mengisi, yakni, pertama, pendekatan agama dan budaya, sebab nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia merupakan nilai-nilai utama.
Kedua, pendekatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, sebab data menunjukkan bahwa kebanyakan pria dan wanita yang menderita penyakit ini berasal dari keluarga miskin dan ekonomi lemah.
Ketiga, pendekatan sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat, sebab setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, riskan terhadap penyakit ini.
Sehubungan dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, tampak ada dua tantangan besar yang ada di hadapan kita, yakni: (a) bagaimana mencegah penularan penyakit ini. (b) bagaimana hidup dengan penderita HIV/AIDS. Guna menghadapi tantangan-tantangan tersebut di atas, dalam arti upaya meminimalisasi dan mengurangi sedapat-dapatnya penderitaan yang dialami oleh pengidap AIDS dan keluarganya, diperlukan kerja sama yang erat antara semua komponen yang ada, sebab apabila kita benar-benar mempunyai komitmen untuk mencegah dan mengurangi HIV/AIDS, maka kita harus komprehensif dan integratif dalam kerjasama. Semua pihak terkait perlu dilibatkan karena kita tidak dapat menjadi petarung tunggal menghadapi serangan HIV/AIDS, ungkapnya.
Untuk itu, tambah Manek, peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengambil tema: KEPEMIMPINAN dengan slogan: "STOP AIDS, TEPATI JANJI". Melalui tema dan slogan ini, diharapkan kita dapat menyadari bahwa kepemimpinan yang kuat, tegas, visioner, mampu mengambil keputusan yang tepat, cepat dan akurat di berbagai level (baik pemerintah maupun swasta), merupakan faktor kunci keberhasilan dalam menekan laju pertumbuhan HIV/AIDS. Kita perlu menekan laju pertumbuhan penyakit ini, karena pengidapnya tidak lagi terbatas pada kelompok beresiko tinggi, tetapi juga sudah masuk pada ibu-ibu rumah tangga, anak-anak dan masyarakat luas.
Mungkin di antara kita ada yang merasa dan berpikir bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia belum relevan untuk konteks Kabupaten TTU, sebab penderitanya masih sangat sedikit. Meskipun demikian, Bupati Manek berpendapat bahwa peringatan ini sangat penting dan bermanfaat, paling tidak ibarat "sedia payung sebelum hujan".
Selain itu, dengan memperingati Hari AIDS sedunia ini, kita akan terbantu dalam upaya melindungi diri, keluarga dan masyarakat terhadap AIDS, sebab kata pepatah: "Lebih baik mencegah daripada mengobati". Selain itu, dengan memiliki pemahaman yang memadai mengenai penyakit ini, seseorang dapat menjadi pendamping yang baik bagi mereka-mereka yang menjadi korban penyakit ini. *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar