Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Peran Orangtua dalam Belajar Matematika Anak (2)

Spirit NTT, 25-31 Mei 2009

MENURUT
Semiawan Cony dalam buku berjudul 'Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah', buku petunjuk bagi guru dan orang tua, menyatakan: Anak akan merasa aman secara psikologis apabila, pertama, pendidik dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu.

Kedua, pendidik mengusahakan suasana di mana anak tidak merasa 'dinilai' oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Memang kadang-kadaang pemberian penilaian tidak dapat dihindarkan dalam situasi sekolah, tetapi paling tidak harus diusahakan agar penilaian tidak bersifat atau mempunyai dampak mengancam.




Ketiga, pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak merasa aman untuk mengungkapkan kreativitasnya.

Anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila orang tua dan guru memberi kesempatan padanya untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Sebagai makhluk sosial, mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan lingkungan tidakalah dibenarkan. Hidup dalam masyarakat menuntut seseorang untuk mengikuti aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku.

Keempat, ada komunikasi yang dialogis antar orang tua dan anak terkait dengan pelajaran matematika anak. Tidak semua persoalan matematika dapat diselesaikan bersama oleh orang tua dan anak, karena adanya keterbatasan orang tua khususnya. Pada kondisi ini orang tua dan anak dapat meminta bantuan kepada pihak ketiga, mungkin guru matematika di sekolah, tenaga guru atau pembimbing/tentor matematika. Biasanya perhatian orang tua di sini dalam bentuk minta layanan jasa pemberian belajar tambahan atau les matematika kepada anak. Orang tua yang mau melakukan ini biasanya memiliki kemampuan hubungan yang baik dengan guru, pembimbing/tentor yang membimbing anak-anak mereka, sehingga ada saling tukar pendapat, diskusi dan kesepakatan mengenai kiat-kiat atau cara menyukseskan belajar matematika anak.

Kelima, orang tua mau meminta keterangan mengenai perkembangan dan kemajauan belajar matematika anak kepada guru matematika si anak di sekolah khususnya atau kepada pembimbing belajar matematika anak di luar sekolah. Bahkan juga orang tua dapat bertanya kepada teman-teman sekelas anaknya akan tindak tanduk dan kebiasan belajar anak di kelas atau di sekolah. Pada pokoknya orang tua harus memiliki informasi yang lengkap, akurat akan kondisi anaknya dan itu dapat ditempuh dengan berbagai cara, misalnya seperti yang telah dijelaskan atau mungkin ada cara lain lagi, silahkan kembangkan. Bentuk perhatian gigih orang tua semacam ini, secara psikologis diharapkan akan berdampak pada kesungguhan anak untuk berhasil dalam belajar matematika dan yang jelas segala bentuk persoalan terkait dengan belajar anak berpeluang untuk dapat diselesaikan dengan baik karena didukung informasi yang lengkap.

Keenam, orang tua juga bagus sekali seiring-sering bercerita kepada anak-anaknya akan tokoh-tokoh yang berhasil. Menceritakan dan menggarisbawahi bagian-bagian penting dari prinsip-prinsip atau kiat-kiat tokoh tersebut hingga meraih keberhasilan dalam hidupnya. Baik terhadap tokoh yang ada pada era dulu maupun tokoh yang ada pada era sekarang. Selain bisa bertutur langsung dapat juga mengarahkan anak untuk membaca sendiri riwayat-riwayat hidup tokoh-tokoh tersebut, katakan misalanya buku tentang Rasul-rasul, Ibnu Sena, Al Khawarizmi, Albert Einsten, Sir Isaacd Newton, kemudian di era sekarang seperti buku bibiograpy Bung karno, Bung Hatta, Adam Malik dan Pak Habibie.

Ketujuh, para orang tua juga tergabung dalam komunitas komite sekolah. Antar Orang tua baik sekali berdiskusi, saling berbagi dan bertukar pikiran untuk kemajuan putera-puteri mereka. Tidak jarang melalui komunikasi antar orang tua, banyak hal-hal berharga didapatkan dan para orang tua dapat meniru tata cara orang tua lainnya untuk mengarahkan dan mendidik putera-puteri mereka hingga meraih prestasi tinggi.

Kedelapan, seiring dengan kemajuan teknologi, informasi dapat diperoleh dengan banyak cara, mulai dari hal bersifat omong-omong/lisan hingga media cetak seperti buku-buku, majalah-majalah, surat-surat kabar dan brosur-brosur atau selebaran-selebaran, kemudian media elektronika seperti radio, televisi, handphone, hingga komputer dengan internetnya. Bagi para orang tua yang sudah mapan dan maju penguasaan teknologinya, tentunya berkesempatan banyak untuk melakukan browsing di internet. Dengan media ini para orang tua akan dapat menemukan banyak informasi penting dan berharga dalam masalah pembinaan dan mendidik putera-puteri mereka, termasuk tentunya dalam hal matematika.

Kesembilan, bagaimanapun usaha kita, Tuhan jualah yang berkehendak dan berkuasa atas segalanya. Oleh karena itu, menyatakaan kelemahan diri di hadapan-Nya, menyempurnakan ikhtiar dan bertawaqal kepadaNya, semoga Dia berkenan mengabulkan segala hajat, memberikan keberkatan dan keridhaan atas usaha kita.

Demikian sekelumit ulasan mengenai hal-hal yang kiranya bermanfaat bagi masyarakat, para orang tua untuk membantu anak-anak agar berhasil dalam pelajaran, bukan hanya dalam matematika tetapi juga dalam mata pelajaran lainnya. (syaiful yasan/msynaaqinamus's weblog/habis)


Tidak ada komentar: