Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Adinda Lebu Raya Dialog dengan TP PKK Ile Ape

Spirit NTT, 25-31 Mei 2009, Laporan Tony Kleden

ILE APE, SPIRIT
--Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya, berdialog dengan para ibu Ketua Tim Penggerak PKK se-Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata dan warga setempat di Desa Watodiri, Ile Ape, Rabu (13/5/2009).

Dalam dialog itu, Adinda Lebu Raya mengatakan, dirinya tidak mau sekadar mewariskan patung kepada rakyat. Sebaliknya, yang ingin dia wariskan adalah kesadaran para ibu di desa-desa untuk terus bergiat memperbaiki kondisi kesehatan dan kesejahteraan keluarga.



"Saya tidak mau mewariskan patung ini dan itu. Itu tidak banyak gunanya untuk rakyat. Saya ingin wariskan sesuatu yang berguna dan positif bagi kaum perempuan agar bisa meningkatkan taraf kesehatan dan kesejahteraan rakyat," tandasnya.
Kunjungan ke Ile Ape itu merupakan kunjungan perdana Ny. Lusia ke Ile Ape. Ikut serta dalam kunjungan itu, Ny. Welmince Foenay Ndoenboei, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Lembata, Ny. Maria Liliweri Bataona, beberapa anggota Pokja TP PKK NTT. Dialog penuh kekeluargaan itu direspons warga penuh antusias. Banyak pertanyaan diajukan ibu-ibu dan kepala desa tentang program-program pembangunan, terutama program yang bisa dilakukan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat desa.

Ny. Lusia mengemukakan program-program PKK yang ingin dikerjakan saat ini yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan rakyat NTT. Dia melukiskan, saat ini kondisi kesehatan warga NTT di desa-desa belum terlalu baik, sehingga dibutuhkan program-program dan aksi-aksi nyata.

Dia menyebut beberapa aksi nyata yang bisa dilakukan para ibu di desa. Misalnya program gemarikan (gemar makan ikan), asupan gizi anak melalui jalejo (jagung keledai dan kacang ijo). "Jalejo sangat gampang dan membantu meningkatkan berat badan anak-anak. Semua bahan ada pada kita," kata Ny. Lusia. Dia kemudian menunjukkan cara membuat jalejo.

Ny. Lusia juga mengritik bapak-bapak yang terlalu ego membeli rokok ketimbang membeli telur atau susu untuk anak-anak. "Ibu-ibu sekarang lebih mencintai suami daripada anak-anaknya. Kalau bapak minta uang beli rokok, ibu langsung lari mengambil uang. Jarang uang untuk beli susu atau telur untuk anak-anak," kritiknya. Menurut sebuah survai, kata Ny. Lusia, di NTT belanja rumah tangga untuk rokok mencapai 30 persen, sedangkan telur dan susu tidak sampai tujuh persen.

Ibu Camat Ile Ape, Ny. Yustina Peni Langkeru Tukan, menyambut baik dan penuh semangat program-program yang bisa diterapkan para ibu di desa-desa di Ile Ape. Sejauh ini, kata Ny. Yustina, para ibu di desa-desa di Kecamatan Ile Ape telah berusaha keras meningkatkan taraf hidup keluarga. (*)


Bantu Bibit Rami

KEPADA para ibu-ibu di Ile Ape, Ny. Lusia juga memotivasi untuk terus bergiat menghasilkan kain tenun ikat. Ke depan, katanya, Pemda NTT akan sangat serius mengembangkan kain tenun ikat. "Saya akan terus ngotot untuk mengembangkan tenun ikat NTT. Dalam pameran di Jakarta, kain tenun ikat NTT sangat diminati motifnya," kata Ny. Lusia.

Yang kurang dari tenun ikat NTT, kata Ny. Lusia, adalah terlalu tebal kainnya sehingga berat. Karena itu dia mengajak para ibu untuk menggunakan benang yang lebih halus. Salah satu benang yang lebih halus adalah benang yang menggunakan bahan baku serat batang rami.

Tumbuhan rami, kata Ny. Lusia, sangat cocok dengan kondisi alam NTT. Saat ini, katanya, Pemda NTT mencoba menanam rami. Dibandingkan dengan daerah lain, batang rami yang tumbuh di NTT lebih lebar diameternya. "Di daerah lain, diameter rami hanya 1,5 cm, tetapi di NTT lebih besar mencapai 2,5 cm. Saya siap membantu bibit rami untuk Ile Ape," katanya.

Camat Ile Ape, Hyasintus Langkeru, langsung menyambut tawaran bibit rami itu. "Saya dengan senang hati ingin mendapat bibit rami itu," kata Langkeru. (*)

Tidak ada komentar: