SPIRIT NTT/OBY LEWANMERU
MULTIKULTURALISME--Bupati Manggarai Barat, Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, ketika memberikan pelajaran umum tentang multikulturalisme di hadapan para siswa SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Selasa (17/3/2009).
Spirit NTT, 30 Maret-5 April 2009, Laporan Oby Lewanmeru
LABUAN BAJO, SPIRIT--Bupati Manggarai Barat, Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, meminta semua komponen di daerah itu termasuk para pelajar agar tidak mempertentang perbedaan seperti ras, agama atau golongan karena dapat memicu perang saudara.
Permintaan Bupati Pranda ini disampaikan ketika memberi pelajaran umum tentang multikulturalisme di Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Selasa (17/3/2009). Turut hadir Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, Pemuda dan Olah raga (PPO), Andreas Ngambut, S.Pd, Kepala Bappeda, Drs. Valentinus Gampur, M.Si, dan para guru sekolah itu.
Fidelis Pranda menguraikan tentang multikulturalisme di Mabar, termasuk tantangan dan peluangnya di era otonomi daerah saat ini. Menurut dia, kehidupan warga yang ada di Mabar cukup kompleks baik dari segi suku, agama, ras dan golongan serta budaya sehingga multikulturalisme itu ada. Namun dengan adanya perbedaan itu, warga sudah saling menghargai satu sama lainnya sehingga tidak menimbulkan hal negatif.
Dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, lanjut Pranda, dapat memberikan beberapa nilai yakni berupa tantangan yang dihadapi dan juga peluang. "Jika kita hidup di era otonomi daerah ini perlu memahami tentang multikulturalisme," kata Pranda.
Dalam kehidupan multikultural, lanjutnya, menampakkan tantangan yang bakal terjadi
di tengah masyarakat, yakni sifat egoisme di antara suku dan ras. Namun sebenarnya tidak perlu dipertentangkan atau dipersoalkan. "Jika kita mulai benturkan hal ini maka akan ada perang saudara atau perang antar sesama. Karena itu tidak perlu dipersolkan tentang kebenaran yang orang lain miliki," katanya.
Menurut dia, tantangan berikut yang bakal terjadi bila warga berada pada kondisi multikulturalisme adalah sifat egoisme sehingga perlu ada pengendalian diri agar terhindar dari sifat egoisme.
Kegiatan pembelajaran ini mendapat sambutan positif dari siswa setempat sehingga dari sesi dialog banyak yang merespon melalui pertanyaan dan saran kepada Bupati Mabar.
Kepala SMAK St. Ignatius Loyola, Pater Yoseph Bala Makin, SVD, mengatakan, kegiatan ini diikuti sekitar 540-an siswa. "Kami libatkan semua siswa kelas I sampai kelas III karena ada satu mata pelajaran yaitu sosiologi yang umumnya mempelajari tentang multikulturalisme. Kami buat dalam bentuk pengajaran umum dibawakan langsung pak bupati," kata Pater Yoseph. (*)
MULTIKULTURALISME--Bupati Manggarai Barat, Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, ketika memberikan pelajaran umum tentang multikulturalisme di hadapan para siswa SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, Selasa (17/3/2009).
Spirit NTT, 30 Maret-5 April 2009, Laporan Oby Lewanmeru
LABUAN BAJO, SPIRIT--Bupati Manggarai Barat, Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, meminta semua komponen di daerah itu termasuk para pelajar agar tidak mempertentang perbedaan seperti ras, agama atau golongan karena dapat memicu perang saudara.
Permintaan Bupati Pranda ini disampaikan ketika memberi pelajaran umum tentang multikulturalisme di Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Selasa (17/3/2009). Turut hadir Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, Pemuda dan Olah raga (PPO), Andreas Ngambut, S.Pd, Kepala Bappeda, Drs. Valentinus Gampur, M.Si, dan para guru sekolah itu.
Fidelis Pranda menguraikan tentang multikulturalisme di Mabar, termasuk tantangan dan peluangnya di era otonomi daerah saat ini. Menurut dia, kehidupan warga yang ada di Mabar cukup kompleks baik dari segi suku, agama, ras dan golongan serta budaya sehingga multikulturalisme itu ada. Namun dengan adanya perbedaan itu, warga sudah saling menghargai satu sama lainnya sehingga tidak menimbulkan hal negatif.
Dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, lanjut Pranda, dapat memberikan beberapa nilai yakni berupa tantangan yang dihadapi dan juga peluang. "Jika kita hidup di era otonomi daerah ini perlu memahami tentang multikulturalisme," kata Pranda.
Dalam kehidupan multikultural, lanjutnya, menampakkan tantangan yang bakal terjadi
di tengah masyarakat, yakni sifat egoisme di antara suku dan ras. Namun sebenarnya tidak perlu dipertentangkan atau dipersoalkan. "Jika kita mulai benturkan hal ini maka akan ada perang saudara atau perang antar sesama. Karena itu tidak perlu dipersolkan tentang kebenaran yang orang lain miliki," katanya.
Menurut dia, tantangan berikut yang bakal terjadi bila warga berada pada kondisi multikulturalisme adalah sifat egoisme sehingga perlu ada pengendalian diri agar terhindar dari sifat egoisme.
Kegiatan pembelajaran ini mendapat sambutan positif dari siswa setempat sehingga dari sesi dialog banyak yang merespon melalui pertanyaan dan saran kepada Bupati Mabar.
Kepala SMAK St. Ignatius Loyola, Pater Yoseph Bala Makin, SVD, mengatakan, kegiatan ini diikuti sekitar 540-an siswa. "Kami libatkan semua siswa kelas I sampai kelas III karena ada satu mata pelajaran yaitu sosiologi yang umumnya mempelajari tentang multikulturalisme. Kami buat dalam bentuk pengajaran umum dibawakan langsung pak bupati," kata Pater Yoseph. (*)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar