Spirit NTT, 13-19 April 2009
MBELILING dan Sano Nggoang memiliki sejarah penelitian yang penting dengan banyak informasi dasar mengenai tumbuh-tumbuhan, status dan kelimpahan relatif burung, penelitian malaria, dan pemanfaatan tradisional terhadap tumbuh-tumbuhan.
Beberapa ancaman terhadap hutan adalah rencana konversi dari habitat hutan bertajuk rapat beralih fungsi menjadi Hutan Tanaman Industri, menjadi perkebunan, pembangunan jalan, penebangan kayu liar serta perambahan hutan. Saat ini tidak ada izin pengambilan kayu di kawasan hutan Mbeliling.
Labuan Bajo Aset Pariwisata
Hutan Mbeliling sebagai kawasan lindung dan daerah resapan air memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat sekitar. Labuan Bajo sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai Barat yang berada di lokasi bawah Mbeliling memiliki peran penting bagi pariwisata.
Bagaimana tidak, mayoritas wisatawan baik dari dalam maupun mancanegara yang ingin melihat secara langsung habitat hewan purbakala, komodo biasanya transit di Bandara Komodo dan bermalam di seputar Labuan Bajo. Selain berkunjung ke Pulau Komodo ataupun Pulau Rinca, para wisatawan acapkali juga menikmati keindahan bawah Laut Flores melalui aktivitas olahraga air seperti diving dan snorkling.
Pasokan dan kebutuhan air bersih bagi masyarakat Labuan Bajo, sebagian besar diambil dari hutan Mbeliling. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya roda pariwisata di sana bila hutan Mbeliling dihajar perambahan dan perusakan. Bisa jadi, tempat penginapan yang tumbuh menjamur di pinggir pantai Labuan Bajo akan sepi penghuni.
"Situasi ini seharusnya dipahami masyarakat yang hidup di sekitar hutan Mbeliling. Hutan harus dijaga jangan diekspolitasi terus-menerus dengan menebangi pepohonan. Apa jadinya kalau hutan satu-satunya yang kita miliki ini hancur oleh kelalaian kita sendiri," kata Aktivis Yayasan Komodo untuk Indonesia Lestari (Yakines), Gabriella Uran.
Menurut perempuan yang akrab disapa Ibu Ella itu, seluruh komponen masyarakat di Manggarai Barat harus terlibat dalam perlindungan hutan Mbeliling. Akan sulit terlaksana niatan konservasi, bila elemen masyarakat berjalan sendiri. "Pemerintah, Tua Adat, pemuka agama dan organisasi masyarakat sipil harus bisa bekerja sama untuk menghasilkan satu kesepakatan tentang pengelolaan hutan Mbeliling secara berkelanjutan," katanya.
Misionaris dan Konservasi
Siapa menyangka bila danau terbesar di Kepulauan Flores justru berada dalam wilayah administratif Kabupaten Manggarai Barat. Danau yang dikepung kehijauan hutan Mbeliling ini bernama Sano Nggoang.
Dalam bahasa lokal Sano berarti danau. Sepanjang perjalanan menuju Sano Nggoang, sekali tempo terlihat beberapa ekor burung Srigunting wallacea (Wallacean dronggo) bertengger pada sebuah pohon.
Bila kita telah sampai di Sano Nggoang, dengan mudah akan menjumpai sumber mata air panas alami yang tak pernah berhenti mengalir. Bila sedang beruntung, kedatangan wisatawan ke danau tersebut akan disambut serombongan Itik gunung (Anas superciliosa) yang sedang berenang di pinggiran. Seorang rohaniawan Katholik berkebangsaan Jerman bernama Erwin Schmutz, dari tahun 1963 hingga 1985 pernah tinggal di Dusun Nunang, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang.
Selain sebagai pemuka agama, warga Manggarai Barat juga mengenal sosok Pater Erwin yang mendedikasikan hidupnya bagi konservasi lingkungan hidup Mbeliling. Kenangan membekas nasehat agar selalu menghargai alam itu diakui oleh Servatius Senaman. Bapak lima orang anak dan Kepala Desa Wae Sano itu selama 15 tahun menjadi asisten Pater Erwin.
"Waktu tinggal di sini, Bapak Tua banyak menanam pohon Murbai yang disukai burung karena menjadi sumber pakan. Persis di depan kapel pinggir danau sampai ke rumah saya ini, dahulu tumbuh bermacam bunga-bungaan. Bila pohon Murbai berbuah dan bunga-bunga bermekaran suasananya seperti di surga," kenang Servas yang sejak remaja memanggil Pater Erwin dengan sebutan Bapak Tua.
Apa yang diutarakan Servas bukan isapan jempol belaka. Ketika penulis keluar dari rumahnya dan mengarahkan binokuler ke pucuk pohon murbai, di sana terlihat kurang lebih lima ekor burung tiong emas (Gracula religiosa) sedang mematuk-matuk buah murbai.
Dedikasi Pater Erwin, menurut Servas, terlihat bila sedang mendaki gunung untuk mengumpulkan tumbuhan bahan penelitian. Rohaniawan itu selalu mengingatkan jika berjalan di gunung jangan sampai merusak semak dan pohon.
"Pertengahan tahun delapan puluhan, karena sering sakit Bapak Tua kembali ke Jerman. Sekarang hampir tak ada lagi orang yang begitu besar rasa cintanya kepada lingkungan hidup seperti Bapak Tua," kata Servas.
Servas memang pantas prihatin bila menyaksikan hutan Mbeliling yang perlahan mengalami degradasi. Sepertinya, butuh Bapak Tua-Bapak Tua baru di Manggarai Barat...(praminto moehayat/Burung Indonesia/www.burung.org/habis)
Mbeliling Elok, Terancam Pembabatan Liar (2)
Label:
Manggarai Barat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar