Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

"Kerajaan" Kalong Menyebarkan Aroma Mistik


SPIRIT NTT/IST
PULAU KALONG--
Pesona Pulau Kalong di Komodo, Manggarai Barat. Di pulau ini hidup ribuan koloni kalong bergelantungan di pohon-pohon bakau. Tampak kalong-kalong itu beterbangan menikmati indahnya alam.

Spirit NTT, 6-12 April 2009

KEINDAHAN
Taman Nasional Komodo (TNK) tidak hanya "tersembunyi" di dasar laut. Pesona yang tidak kalah memabukkan juga tersaji di daratan. Kawasan TNK yang memiliki daratan seluas 40.728 hektar 70 persen di antaranya merupakan hamparan padang savana dan sisanya meliputi hutan musim dataran rendah, hutan pegunungan dan bakau. Dibandingkan wilayah lain di Indonesia, keanekaragaman jenis tumbuhan dan stawa liar di daratan TNK relatif kecil. Hanya jenis-jenis yang mampu beradaptasi dengan lingkungan kering dan serba minus yang mampu bertahan hidup.

Kendati begitu, mikroklimat yang serba minus itu tidak membuat daratan TNK "miskin" dari kehadiran satwa liar yang bisa dijadikan daya tarik wisata. Sebagai contoh, di Pulau Komodo, Pulau Rinca dan sekitarnya paling tidak terdapat 111 jenis burung, 34 jenis reptilia, 16 jenis mamalia dan tiga jenis amfibi. Di samping keberadaan biawak komodo yang memang diposisikan sebagai "maskot" pariwisata di TNK, kehadiran seratus lebih jenis burung itu juga menjanjikan atraksi wisata yang menarik bagi para wisatawan.


Apalagi, beberapa jenis burung itu merupakan jenis yang sangat langka seperti Philemon buceroides (koak-kaok), Cacatua sulphurea (kakatua jambul kuning) dan burung gosong yang memiliki keunikan membangun sarangnya di tanah dengan menumpuk rating-ranting kering menjadi gundukan tinggi yang sangat mirip dengan sarang biawak komodo.

Selain biawak komodo, kehadiran seratus lebih jenis burung itu juga banyak menarik perhatian wisatawan. Setelah puas menikmati atraksi komodo, banyak wisatawan yang menyempatkan diri melakukan bird watching di sini. Bagi pencinta burung, jalur Poreng di Pulau Komodo paling ideal untuk kepentingan tersebut.
Di antara 84 pulau kecil yang terdapat di kawasan TNK itu, Pulau Kalong pantas diberikan tempat tersendiri dalam pengembangan sektor kepariwisataan di Manggarai Barat.
Di pulau yang tidak seberapa luas dan menyebarkan "aroma" mistik ini hidup ribuan koloni kalong (kelelawar berukuran besar, Red). Satwa mamalia bersayap ini hidup bergelantungan di pohon-pohon bakau yang hidup subur di pulau itu. Pemandangan yang sangat eksotis akan dijumpai wisatawan jika mengunjungi pulau ini menjelang matahari tenggelam.
Saat itu, ribuan satwa pemakan buah-buahan ini akan beterbangan melintasi lautan luas untuk mencari makan. Konon, jalur migrasi koloni kalong ini mencapai daratan Pulau Flores dan Sumbawa serta pulau-pulau kecil lainnya yang berada di dalam kawasan TNK.

Pulau Kalong ini memang banyak disinggahi wisatawan. Karena tidak ada fasilitas penunjang kepariwisataan di sana, pulau ini hanya dijadikan daerah transit setelah mengunjungi Pulau Komodo atau Pulau Rinca.

Menurut Oman Rohman, seorang petugas di TNK, tarif masuk kawasan TNK dipatok Rp 20.000 untuk wisatawan mancanegara dan Rp 2.000 untuk wisatawan domestik serta asuransi pengunjung Rp 2.000. Biaya itu belum termasuk tarif pemandu Rp 10.000/orang yang diberangkatkan ke lokasi watching area antara 4-10 orang.
Ditambahkan, retribusi yang ditangguk dari kunjungan wisatawan itu 70 persen di antaranya disetorkan ke kas daerah, 15 persen disetorkan ke kas pemerintah pusat dan 15 persen lagi ke kas Departemen Kehutanan.

"Rata-rata wisatawan yang berkunjung di sini merupakan wisatawan yang sudah melewatkan liburannya di Bali . Sangat jarang wisatawan yang tujuan utama liburannya memang ke Pulau Komodo atau Pulau Rinca sehingga lengstay mereka di sini sangat singkat. Persentase yang menginap sangat kecil," katanya lagi.

Karakteristik wisata Komodo, kata dia, adalah wisata petualangan atau avonturir. Pasalnya, wisatawan yang ingin menyaksikan satwa langka ini harus rela berbasah keringat dengan menjelajahi medan yang cukup terjal. Jika tidak memiliki jiwa petualangan, kepuasan yang dicapai jelas tidak optimal karena daerah jelajah biawak komodo umumnya di daerah savana dan hutan musim yang harus "didatangi" langsung oleh wisatawan. "Namun, ada juga beberapa ekor komodo yang terbiasa datang ke penginapan sehingga wisatawan yang malas jalan kaki bisa melihat langsung di sini," katanya sambil menambahkan, wisatawan yang beruntung bisa melihat langsung betapa agresifnya satwa ini menangkap mangsanya seperti rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar, mecabik-cabik daging dengan gigi-giginya yang setajam belati lantas menyantapnya hingga tandas. Namun, peristiwa ini termasuk langka dan tidak semua wisatawan yang berkunjung ke Loh Liang dan Loh Buaya beruntung menikmati atraksi wisata menarik tersebut.

Sepanjang lintasan yang dilalui, rombongan wisatawan juga bisa melihat berbagai jenis burung, rusa, kerbau liar, kuda liar, babi hutan dan kera ekor panjang yang notabene merupakan makanan pokok biawak komodo. Jika ingin menyaksikan "prosesi" perkawinan kadal raksasa ini, wisatawan diharapkan berkunjung sekitar Juli-Agustus dengan meluangkan waktu berhari-hari.
"Di samping punya jiwa avonturir, wisatawan yang ingin mengabadikan peristiwa langka ini harus meluangkan waktu berhari-hari di sini. Terus terang, kawasan TNK ini memang sangat ideal bagi para kaum petualang yang ingin menikmati atraksi wisata yang menantang. Kami sering memandu wisatawan yang punya jiwa petualang seperti itu secara khusus," katanya lagi.

Selain menjadi "surga" para petualang, kata dia, kawasan TNK juga merupakan "laboratorium alam" bagi para peneliti. Menurut Oman Rohman, banyak sekali "rahasia" dari komodo yang belum berhasil diungkap secara ilmiah yang menarik minat para peneliti dunia untuk menggelar penelitian di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Oman Rohman menambahkan, berbagai jenis penelitian itu telah berhasil menyingkap "rahasia" yang menyelimuti kehidupan komodo sedikit demi sedikit. Namun, kata dia, masih teramat banyak "rahasia" lainnya yang belum tersingkap. Salah satunya, berapa umur maksimal komodo di habitat aslinya, belum ada yang berani menentukan secara pasti.
"Banyak hal yang masih bersifat perkiraan semata. Kami berharap akan datang lebih banyak lagi peneliti yang tertantang untuk menyingkap rahasia komodo ini," katanya penuh harap. (w sumatika)


Tidak ada komentar: