Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Desa Ole Ate, Juara Lomba Desa Sumteng



SPIRIT NTT/GERARDUS MANYELLA KEBERSAMAAN--Kepala Desa Ole Ate, Melkianus Lende, foto bersama warganya di pintu masuk kantor desa. Gambar diambil pekan lalu.


Spirit NTT, 13-19 April 2009, Laporan Gerardus Manylea

DESA Ole Ate, Kecamatan Mamboro, merupakan desa yang tiga tahun berturut- turut dinobatkan sebagai kampiun (juara I) lomba administrasi desa dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sistem administrasi desa ini memang patut diberi reward dengan berbagai penghargaan.

Semua data potensi di desa ini ditata rapi. Partisipasi masyarakat dalam membangun berbagai macam program desa itu, cukup tinggi, dibuktikan dengan swadaya membangun kantor desa yang lengkap dengan ruang kerja kepala desa, sekretaris, kepala urusan, BPD dan PKK serta sebuah rumah jabatan yang cukup representatif. Siapa saja yang menjabat kepala desa diwajibkan tinggal di rumah dinas itu.


Saat SPIRIT NTT mengunjungi desa itu, pekan lalu, ratusan warga berkumpul di desa itu menunggu kunjungan camat dan anggota DPRD NTT, David Beko.
Penjabat Kepala Desa Ole Ate, Melkianus Lende, saat berbincang-bincang dengan SPIRIT NTT, mengatakan, Desa Ole Ate seluas kurang lebih 30 km2 yang secara geografis beriklim tropis, berbukit-bukit, dan lembah yang sempit. Bukit dan lereng dipergunakan untuk lahan perkebunan dan kehutanan

Desa ini berbatasan dengan Desa Bali Ledo, Kecmaatan Loli, Kabupaten Sumba Barat di wilayah selatan, Desa Wee Luri, Kecamatan Mamboro di sebelah barat, Desa Cendana, Kecamatan Mamboro di sebelah utara dan Desa Pondok, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat di sebelah timur.

Desa berpenduduk 2.053 jiwa ini penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Penghasilan warga desa masih rata-rata hanya cukup untuk makan dan biaya kebutuhan hidup lain, termasuk biaya anak sekolah dan biaya kesehatan. Budaya pesta dan kede diupayakan untuk dikurangi karena dua hal itu yang membelenggu kemiskinan.

Roda pemerintahan dan kemasyarakatan dikendalikan oleh seorang kepala desa, tiga orang kepala urusan, empat orang kepala dusun, delapan orang RW dan 18 orang RT. Untuk keamanan dipercayakan kepada 20 orang anggota linmas.
Untuk urusan kemasyarakatan dan politik dibidangi tujuh orang Badan Perwakilan Desa (BPD). Antara BPD dan pemerintah desa seia sekata, sehati sesuara membangun desa itu sehingga kemajuan cukup terlihat.

Di akhir percakapan dengan SPIRIT NTT , Penjabat Kades, Melkianus Lende, mengatakan, warga desanya sangat kesulitan air bersih. Setiap musim kemarau mereka harus menempuh jalan 2-3 km mencari air bersih. Di mata itu tersebut selalu terjadi antrean. Dia meminta pemerintah kabupaten memberi perhatian khusus terhadap persoalan air bersih yang dihadapi warganya.

Selain itu, masalah listrik dan perhubungan. Jalan yang telah disiapkan warga secara swadaya, belum terlayani angkutan umum. Untuk bepergian ke kota, warga mengandalkan ojek tapi biayanya cukup mahal. Bagi yang tak cukup uangnya, terpaksa jalan kaki. (*)


Tidak ada komentar: