Spirit NTT, 2-8 Maret 2009
JAKARTA, SPIRIT--Rendahnya mutu pengajaran merupakan salah satu permasalahan pokok tenaga kependidikan di Tanah Air. Pembenahannya tak cukup melalui penataan pada tataran birokratis, tetapi harus pula diikuti perbaikan kinerja pada lembaga-lembaga operasional penjamin mutu guru. Sudah saatnya penataran guru yang rutin diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional meninggalkan orientasi proyek.
"Jika niatnya meningkatkan kemampuan pembelajaran, sebaiknya penataran terhadap guru diikuti dengan langkah- langkah monitoring di tingkat sekolah. Selama tidak ada mekanisme kontrol, para guru yang usai ditatar tetap saja tidak termotivasi menerapkan bekal keahliannya di depan kelas," ujar Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Z Mawardi MA, di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Mawardi, pusat-pusat penataran guru yang selama ini berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) hendaknya proaktif melakukan pemantauan terhadap kinerja guru-guru yang baru saja ditatar. Cara itu bisa diawali dengan membentuk tim pengawasan mutu proses belajar- mengajar yang beranggotakan unsur balai penataran guru di daerah, pemerintah daerah, dan komite sekolah.
Bila memungkinkan, lanjut Mawardi, guru-guru senior pun dilibatkan. Selanjutnya, tim ini secara berkala memantau kinerja guru di depan kelas. "Penataran guru sudah saatnya tidak mengedepankan formalitas, tetapi benar-benar mengedepankan kualitas. Memantau kinerja guru secara berkelanjutan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pengajaran," katanya.
Mawardi menyadari, akibat terbatasnya anggaran, jumlah guru yang bisa terjangkau layanan pusat-pusat penataran guru tidak sampai 25 persen dari 2,2 juta total guru di Indonesia. Namun, dengan hadirnya tim pemantau proses belajar-mengajar di sekolah, secara tidak langsung akan terjadi transformasi keahlian di kalangan guru.
Guru-guru yang belum sempat ikut penataran bisa meniru metode pembelajaran yang efektif. "Termasuk bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mengasyikkan, dan menantang kreativitas siswa," ujar Mawardi.(kcm)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar