Spirit NTT, 16-22 Maret 2009
SEJAK tahun 1958 Lembata merupakan bagian dari Kabupaten Flores Timur dengan ibukotanya Larantuka. Namun pada 12 Oktober 1999, sesuai dengan Undang-undang Nomor 52 Tahun 1999, Lembata atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Lomblen, resmi menjadi kabupaten dengan Ibukotanya adalah Lewoleba.
Kabupaten Lembata secara astronomis berada pada posisi 810 - 811 LS dan 12312 - 12357 BT yang memiliki luas wilayah 1266,48 km atau 126.648 ha. Dengan kepadatan penduduk kurang lebih 116.000 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Flores di bagian utara, selatan berbatasan dengan Laut Sawu, timur dengan Kabupaten Alor sedangkan barat dengan Pulau Solor (Kabupaten Flores Timur).
Secara administratif Kabupaten Lembata terbagi menjadi delapan kecamatan, lima kelurahan, 123 desa dan pada tahun 2006 kabupaten ini mempunyai jumlah penduduk 102.344 jiwa yang terdiri atas 47.492 jiwa pria dan 54.852 jiwa wanita dengan tingkat kepadatan penduduknya sendiri mencapai 80,82 per km2.
Iklim di Lembata tergolong kering dengan curah hujan rata-rata 001,95 mm pertahun atau 230 mm tertinggi pada Bulan Maret dan 14 mm terendah pada bulan Mei. Suhu udara rata-rata 26 C - 29 C dengan suhu minimum dan maksimum berkisar antara 23 C - 30 C. Sedangkan kecepatan angin tergolong rendah rata-rata hanya 8,4 knot/jam.
Kabupaten Lembata memiliki beberapa komoditi unggulan di sektor perkebunan komoditi yang dihasilkannya antara lain kelapa dalam sebesar 2.440 ton, kopi robusta sebesar 1.697 ton dan jambu mete sebesar 85 ton. Dilihat dari segi ekonomi, total nilai PDRB yang dicapai Kabupaten Lembata ini pada tahun 2005 sebesar 120.696.312 (dalam jutaan rupiah), dengan konstribusi terbesar datang dari sektor pertanian sebesar Rp 68.371.564, sektor jasa sebesar Rp 29.622.694 dan sektor perdagangan, hotel, restoran sebesar Rp 9.983.947.
Meskipun Kabupaten Lembata dikenal sebagai daerah yang tandus dan gersang, pertanian tetap menjadi tumpuan kegiatan ekonomi kabupaten dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 dari total niali ekonomi Kabupaten Lembata sebesar Rp 88,7 miliar, pertanian menyumbang hingga 64 persen.
Selain pertanian, perekonomian Kabupaten Lembata ini juga didukung oleh peternakan dan perikanan. Ternak sapi, kambing, dan babi masih dapat dikembangkan, mengingat terdapatnya padang rumput yang luas. Perikanan juga masih menyimpan potensi yang besar karena sebagian 73 persen wilayah Lembata adalah perairan, sumber daya alam terbesar ini belum tergarap profesional. Pemerintah Kabupaten lewat dinas perikanan dan kelautan sedang mensurvai potensi kelautan.
Sebagai kabupaten baru, ada sejumlah persoalan daerah yang menuntut perhatian serius pemerintah bersama masyarakatnya, sebagian besar wilayah daratannya masih terisolasi, kalaupun ada jaringan jalannya tetapi masih sangat menyedihkan. Sejumlah perkampungan pedalaman, kondisinya masih mirip jalan liar, badan jalannya sempit, berlubang-lubang, sehingga menghambat kelancaran lalu lintas terutama untuk transportasi pemasaran hasil produk pertanian akibat kendala jaringan jalan yang belum meluas atau wilayahnya masih terisolasi.
Meski belum cukup menonjol, Lembata memiliki bebarapa kawasan yang diketahui kantung produksinya. Kawasan itu seperti di Kecamatan Nagawuntung, Atadei, Omesuri, dan Buyasuri yang dikenal sebagai penghasil kemiri, kopra, jambu mete, dan juga kopi. Bumi Lembata dilaporkan juga menyimpan potensi pertambangan. Penelitian LPPGI bekerja sama dengan GSJ beberapa waktu lalu, pernah melaporkan Lembata menyimpan kandungan emas sekitar 600 gram per ton batuan.
Selain itu, juga terdapat beberapa pokok persoalan yang menjadi penghambat pembangunan di Bumi Lembata. Antara lainnya adalah kurangnya perhatian pemerintah dalam mengelola sumber daya alam yang sebenarnya kalau diolah secara baik dan benar maka itu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Demikian di bidang pendidikan dan pariwisata serta ketenaga kerjaan. Kurangnya perhatian pemerintah pada meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Lembata tercerimin pada banyaknya masyarakat Lembata yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka di luar daerah. Hal yang juga dialami di bidang tenaga kerja. Masyarakat Lembata lebih memilih untuk menjadi pembantu rumah tangga dan buruh-buruh bangunan di Negeri Jiran Malaysia ketimbang bekerja di tanah sendiri.
Pada awal pembentukkanya, Lembata dipimpin oleh Penjabat Bupati Drs. PB Keraf dan Drs. Andreas D Manuk sebagai Ketua DPRD. Kemudian pada tahun 2001, untuk pertama kali Lembata melaksanakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati oleh 20 Anggota DPRD Lembata yang dimenangkan oleh Drs. Andreas Duli Manuk sebagai bupati terpilih dan Alm. Ir. Felix Kobun, sebagai wakil bupati saat itu.
Hingga kini Lembata telah menjalani dua kali proses pemilihan orang nomor satunya. Untuk yang kedua kalinya Andreas Duli Manuk didampingi Andreas Nula Liliweri terpilih kembali menjadi kepala pemerintahan daerah itu hingga 2011 nanti.
Lembata sendiri mempunyai begitu banyak pesona alam yang bisa kita nikmati, di antaranya adalah pantai wisata pasir putih (Desa Mingar), tradisi penagkapan ikan paus secara tradisional (Desa Lamalera), pesta kacang (Kecamatan Ile Ape) dan masih banyak lagi pesona alam dan budaya yang dapat kita nikmati di Pulau Lembata.
Ada hal lain yang bisa kita nikmati dari Kabupaten Lembata yaitu dari aspek kepariwisataan. Pariwisata yang sangat menonjol dari Lembata adalah tradisi penagkapan ikan paus yang berada dari Desa Lamalera. Selain dari pada itu, juga kita masih bisa menikmati aspek-aspek pariwisata lainnya yang tak kalah menarik dari Kabupaten Lembata. (keraf.info/artikel/lembata.html)
SEJAK tahun 1958 Lembata merupakan bagian dari Kabupaten Flores Timur dengan ibukotanya Larantuka. Namun pada 12 Oktober 1999, sesuai dengan Undang-undang Nomor 52 Tahun 1999, Lembata atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Lomblen, resmi menjadi kabupaten dengan Ibukotanya adalah Lewoleba.
Kabupaten Lembata secara astronomis berada pada posisi 810 - 811 LS dan 12312 - 12357 BT yang memiliki luas wilayah 1266,48 km atau 126.648 ha. Dengan kepadatan penduduk kurang lebih 116.000 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Flores di bagian utara, selatan berbatasan dengan Laut Sawu, timur dengan Kabupaten Alor sedangkan barat dengan Pulau Solor (Kabupaten Flores Timur).
Secara administratif Kabupaten Lembata terbagi menjadi delapan kecamatan, lima kelurahan, 123 desa dan pada tahun 2006 kabupaten ini mempunyai jumlah penduduk 102.344 jiwa yang terdiri atas 47.492 jiwa pria dan 54.852 jiwa wanita dengan tingkat kepadatan penduduknya sendiri mencapai 80,82 per km2.
Iklim di Lembata tergolong kering dengan curah hujan rata-rata 001,95 mm pertahun atau 230 mm tertinggi pada Bulan Maret dan 14 mm terendah pada bulan Mei. Suhu udara rata-rata 26 C - 29 C dengan suhu minimum dan maksimum berkisar antara 23 C - 30 C. Sedangkan kecepatan angin tergolong rendah rata-rata hanya 8,4 knot/jam.
Kabupaten Lembata memiliki beberapa komoditi unggulan di sektor perkebunan komoditi yang dihasilkannya antara lain kelapa dalam sebesar 2.440 ton, kopi robusta sebesar 1.697 ton dan jambu mete sebesar 85 ton. Dilihat dari segi ekonomi, total nilai PDRB yang dicapai Kabupaten Lembata ini pada tahun 2005 sebesar 120.696.312 (dalam jutaan rupiah), dengan konstribusi terbesar datang dari sektor pertanian sebesar Rp 68.371.564, sektor jasa sebesar Rp 29.622.694 dan sektor perdagangan, hotel, restoran sebesar Rp 9.983.947.
Meskipun Kabupaten Lembata dikenal sebagai daerah yang tandus dan gersang, pertanian tetap menjadi tumpuan kegiatan ekonomi kabupaten dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 dari total niali ekonomi Kabupaten Lembata sebesar Rp 88,7 miliar, pertanian menyumbang hingga 64 persen.
Selain pertanian, perekonomian Kabupaten Lembata ini juga didukung oleh peternakan dan perikanan. Ternak sapi, kambing, dan babi masih dapat dikembangkan, mengingat terdapatnya padang rumput yang luas. Perikanan juga masih menyimpan potensi yang besar karena sebagian 73 persen wilayah Lembata adalah perairan, sumber daya alam terbesar ini belum tergarap profesional. Pemerintah Kabupaten lewat dinas perikanan dan kelautan sedang mensurvai potensi kelautan.
Sebagai kabupaten baru, ada sejumlah persoalan daerah yang menuntut perhatian serius pemerintah bersama masyarakatnya, sebagian besar wilayah daratannya masih terisolasi, kalaupun ada jaringan jalannya tetapi masih sangat menyedihkan. Sejumlah perkampungan pedalaman, kondisinya masih mirip jalan liar, badan jalannya sempit, berlubang-lubang, sehingga menghambat kelancaran lalu lintas terutama untuk transportasi pemasaran hasil produk pertanian akibat kendala jaringan jalan yang belum meluas atau wilayahnya masih terisolasi.
Meski belum cukup menonjol, Lembata memiliki bebarapa kawasan yang diketahui kantung produksinya. Kawasan itu seperti di Kecamatan Nagawuntung, Atadei, Omesuri, dan Buyasuri yang dikenal sebagai penghasil kemiri, kopra, jambu mete, dan juga kopi. Bumi Lembata dilaporkan juga menyimpan potensi pertambangan. Penelitian LPPGI bekerja sama dengan GSJ beberapa waktu lalu, pernah melaporkan Lembata menyimpan kandungan emas sekitar 600 gram per ton batuan.
Selain itu, juga terdapat beberapa pokok persoalan yang menjadi penghambat pembangunan di Bumi Lembata. Antara lainnya adalah kurangnya perhatian pemerintah dalam mengelola sumber daya alam yang sebenarnya kalau diolah secara baik dan benar maka itu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Demikian di bidang pendidikan dan pariwisata serta ketenaga kerjaan. Kurangnya perhatian pemerintah pada meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Lembata tercerimin pada banyaknya masyarakat Lembata yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka di luar daerah. Hal yang juga dialami di bidang tenaga kerja. Masyarakat Lembata lebih memilih untuk menjadi pembantu rumah tangga dan buruh-buruh bangunan di Negeri Jiran Malaysia ketimbang bekerja di tanah sendiri.
Pada awal pembentukkanya, Lembata dipimpin oleh Penjabat Bupati Drs. PB Keraf dan Drs. Andreas D Manuk sebagai Ketua DPRD. Kemudian pada tahun 2001, untuk pertama kali Lembata melaksanakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati oleh 20 Anggota DPRD Lembata yang dimenangkan oleh Drs. Andreas Duli Manuk sebagai bupati terpilih dan Alm. Ir. Felix Kobun, sebagai wakil bupati saat itu.
Hingga kini Lembata telah menjalani dua kali proses pemilihan orang nomor satunya. Untuk yang kedua kalinya Andreas Duli Manuk didampingi Andreas Nula Liliweri terpilih kembali menjadi kepala pemerintahan daerah itu hingga 2011 nanti.
Lembata sendiri mempunyai begitu banyak pesona alam yang bisa kita nikmati, di antaranya adalah pantai wisata pasir putih (Desa Mingar), tradisi penagkapan ikan paus secara tradisional (Desa Lamalera), pesta kacang (Kecamatan Ile Ape) dan masih banyak lagi pesona alam dan budaya yang dapat kita nikmati di Pulau Lembata.
Ada hal lain yang bisa kita nikmati dari Kabupaten Lembata yaitu dari aspek kepariwisataan. Pariwisata yang sangat menonjol dari Lembata adalah tradisi penagkapan ikan paus yang berada dari Desa Lamalera. Selain dari pada itu, juga kita masih bisa menikmati aspek-aspek pariwisata lainnya yang tak kalah menarik dari Kabupaten Lembata. (keraf.info/artikel/lembata.html)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar